
Lama sebuah telfon terus menghubungi Tate, kini mulai Tate angkat, sesungguhnya dirinya malas untuk mengangkatnya namun tampaknya telfon tersebut tidak akan berhenti.
"Halo," Tate berujar sedikit malas di ujung sana, sebenarnya Tate penasaran kenapa tiba tiba Arandini atau yang biasa Dini menelfon nya.
Awalnya Tate pikir itu tentang pekerjaan, namun terdengar dari suara lawan bicaranya membuat Tate menjadi khawatir sendiri.
"Kak... Dini ga tau mau curhat sama siapa lagi," ujar Dini sesegukan di ujung sana, membuat Tate cemas. Sebelumnya gadis ceria itu tak pernah terdengar sesedih ini, meskipun ada masalah dirinya akan tetap tersenyum dan tertawa demi menutupi kesedihannya.
"Kamu kenapa?" Tate segera melangkah masuk ke dalam kamar. Melewati Ahmed dan Bilqis yang tengah tertidur di atas sofa. Tate membuka kenop pintu dan menguncinya dari dalam agar tak ada yang mengganggunya. Entah kenapa Tate berfikir sesuatu hal yang buruk terjadi.
"Dini tadi berantem sama papa," suara Dini hampir tak terdengar jelas, semakin membuat Tate khawatir. "Semenjak nenek meninggal sikap mereka berubah."
"Kamu tenang ok," Tate mencoba menenangkan Dini yang sebenarnya menenangkan dirinya juga, entah kenapa mendengar Dini berucap seperti itu, ia ingin segera ke sana memeluk dan menenangkan Dini.
"Mereka jahat, tadi Dini di tampar," adu Dini semakin terdengar sesegukan. "Papa semenjak nikah sama nenek lampir dan punya anak berubah."
"Sabar, sekarang kamu di mana? Masalahnya apa?" Tate semakin perih saja setelah mendengar Dini di tampar. Bagaimana tidak Tate tahu betul bahwa Dini selama ini dijadikan sapi perah oleh keluarganya, hanya neneknya yang selalu melindunginya. Tetapi semenjak neneknya meninggal, sebenarnya Tate dapat melihat perubahan Dini yang semakin murung, terlebih jika itu di lokasi pemotretan mereka yang terakhir.
"Dini mau di jodohin," Dini masih terdengar sesegukan di ujung sana.
"Apa?! Sama siapa?" Tate terkejut bukan main, ada sesuatu yang salah di dalam dirinya ketika mendengar Dini menangis sesegukan di ujung sana, terlebih mendengar Dini akan di jodohkan. Tangan Tate terkepal, panas sungguh panas hatinya.
"Tidak tahu, tapi katanya salah satu teman dini. Dini ga tau gimana nolaknya," Dini terdengar menarik ingusnya. Bukannya jijik Tate justru semakin iba mendengar cerita Dini. "Rencananya minggu depan Dini akan di tunangkan. Dini tadi di tampar gara gara ga mau menerima perjodohan ini, Dini ga cinta kak, Dini juga seperti di jual."
"Apa?" Hati Tate benar benar kacau di buatnya. Tak rela rasanya mendengar wanita itu akan di lamar terlebih akan menikah, suara tangis Dini semakin kencang membuat Tate menutup matanya. "Kamu di jodohin karena apa? Kamu ga laku atau gimana?"
"Buat bayar utang keluarga ke mereka," ujar Dini terdengar semakin menangis. "Aku ga boleh nolak, kalau nolak katanya aku bakal di jual ke om om, atau tidak dini akan di kurung dan di siksa kayak tadi, dini takut kak."
Hati Tate semakin tak karuan mendengarkan nya, tidak ada hal yang bisa Tate lakukan. Tate hanya bisa menggaruk kepalanya frustasi. Tate benar benar bingung saat ini, ingin menolong Dini saat ini juga, ia tak rela jika Dini di jodohkan oleh keluarganya, jika boleh dirinya akan menyembunyikan Dini dari keluarganya. Namun tiba tiba Tate sadar bahwa siapalah dirinya. Dirinya bukan siapa siapa Dini. Dirinya tak bisa berbuat apa apa. Hanya bisa menjambak rambutnya frustasi.
"Kak gimana nih? Atau Dini terima aja kali ya? Dini takut," Tate terkejut mendengar pernyataan Dini, bagaiman mungkin Dini menerima perjodohan tersebut. Tate tak bisa menerimanya. Tate tak ingin Dini menerimanya ada sudut hatinya yang menentang itu semua.
"Kamu ngomong apa? Kita pikirin sama sama ok," Tate tanpa sengaja berteriak kesal di ujung sana. Tate tak mampu lagi menahan emosinya.
"Maaf," terdengar suara Dini semakin sesegukan, rasa khawatirnya juga semakin menjalari tubuhnya. Dini takut mendengar bentakan, hal itu sering papanya lakukan kemudian di susul dengan pukulan, belum lagi ancaman dan penghinaan yang papanya lakukan semakin membuat dini tertekan. Dini takut hal tersebut.
Mendengar teriakan Tate semakin membuat Dini sedih dan takut. Bukanya mendapatkan dukungan, justru Tate membentak dirinya. Dini segera mematikan sambungan ponsel secara sepihak. Dan mematikan ponselnya. Dini meraba naklas di samping tempat tidurnya, mengambil beberapa pil obat dan meneguknya, Dini kemudian merebahkan badannya dan tertidur.
Tate yang mendengar sambungan telfon terputus segera melihat ponselnya dengan kesal. Tate terus mencoba menghubungi Dini, namun sekarang telfonnya sudah tidak tersambung. Tate semakin panik, kini berjalan mondar mandir di kamarnya, bingung harus kulakukan apa. Tangan yang berdarah tak ia hiraukan.
Sementara dari arah luar, Juwita dan Brayen masih sedikit ragu hendak mengetuk pintu anaknya. Juwita dan Brayen tadi tak sengaja mendengar teriakan dari Tate, tampaknya Tate tengah berbicara dengan seseorang. Tak pernah sebelumnya Tate semarah itu.
Tok tok tok.
Brayen mengetuk pintu kamar Tate, membuat Tate yang di dalam sana terkejut. Tate membuka pintu dan mengejutkan keduanya, Bagaimana tidak tangan Tate berdarah, Juwita segera menerobos masuk dan melihat pecahan kaca.
"Kamu kenapa?" Juwita segera mencari obat P3K. Tate hanya diam tak tahu harus bagaimana, pikirannya menerawang ke arah Dini, Tate benar benar takut Dini nekat dan melakukan hal yang merugikan diri Dini sendiri.
"Te kamu kenapa? Ada masalah?" Brayen mengusap punggung Tate, mencoba menenangkannya, sembari tangannya terus mengusap tangan Tate, yang terus mengeluarkan darah.
Namun Tate tetap hening, karena Tate hanya memikirkan keadaan Dini dimana dirinya sangat mengkhawatirkan keadaan gadis tersebut.
Juwita datang berbarengan dengan Bilqis yang bersiap akan membersihkan tempat Tate. Juwita duduk di samping Tate dan memberikan kode kepada Brayen agar segera keluar dari kamar Tate. Sementara Bilqis setelah membersihkan semua, dirinya menyusul Brayen.
"Kamu kenapa Te?" Juwita bertanya sembari membungkus pergelangan tangan Tate.
"Dia mau di jodohin mi," ujar Tate kecil.
"Siapa?" Juwita mengusap tangan anaknya yang terluka.
"Dini mi," Tate mengingatkan Juwita tentang gadis yang Tate bawa ke rumahnya kemarin. Juwita masih ingat betul, karena Juwita sebenarnya sedikit tertarik dengan gadis ceria itu.
"Kamu kenapa? Kau mau nolongin?" Juwita berusaha membuat bahasa lain agar Tate tak tersinggung. Sejujurnya Juwita dapat melihat ada rasa yang Tate pancarkan untuk dini, meskipun Tate suka menjahili gadis tersebut.
"Tapi gimana?" Tate memandang maminya.
"Jadi pacar dia."