
Tate dan Wira telah sampai di rumah Dini, kini mereka akan bersiap menyelamatkan gadis itu dari kekejaman keluarganya. Wira dan Tate di temani oleh dua puluh pengawal telah memadati kediaman keluarga Dini.
"Ingat tugas mu mengambil si Dina," ujar Wira menjelaskan rencananya.
"Dini Wir," tegur Tate.
"Ha iya, Dini. Nah lima pengawal jagain kalian, sisanya biar aku, lagian di sini kayaknya sepi deh, ga ada apa apa," ujar Wira mengedarkan pandangannya.
"Eh ketuk dulu," ujar Tate mengingatkan ketika Wira meraih knop pintu.
"Kita mau ngrebek ya, ingat cara Vikey Pras Tio mengrebek istrinya. Kita kamera standby ya," Wira memandang ke arah lima kameraman yang membawa kamera digital maupun kamera ponsel. Kelimanya mengangkat tangan dengan kamera dalam bentuk perekam video.
Baru saja Wira membuka pintu, tiba tiba sebuah suara yang terdengar dari dalam. "Ampun, ampun, auh sakit ma."
"Gara gara kamu semalam kita hampir malu di depan keluarga mereka tahu," suara wanita menggelegar dari ruang keluarga.
Seketika mata Tate membulat, itu adalah suara gadis yang akan mereka selamatkan. Tate ingin segera masuk namun di tahan oleh Wira. "Kita harus mendapat bukti kuat, agar ketika mereka menuntut kita punya bukti."
Tate mengangguk meski hatinya menentang, Tate akhirnya jalan mengendap endap ke arah ruang keluarga.
"Sudahlah om, ambil saja tu. Dapat sepuluh juta sekali pakai," ujar wanita yang lebih muda dari Dini. Dini tahu betul maksud dari wanita itu. Dini yang ketakutan segera berlari ke kamarnya, namun dikejar orang orang dari mama tirinya, di susul dengan lelaki gendut, hampir seumuran dengan Brayen papi Tate.
Tate yang melihat hal tersebut segera menerobos di ikuti Wira. "Berhenti, jika tidak video ini akan viral," teriak Tate membuat semua orang terkejut.
Sama halnya dengan wanita muda yang berdiri di samping Sisil. "Ma ganteng banget, itu teman si Upik abu kan?"
"Diam lah Aura!" Sisil memperingati Aura adik dari Dini. "Kalian hentikan mereka! Jika kalian berani mendekat saya akan lapor polisi."
"Lapor saja biar kamu sekalian masuk penjara," ujar Wira balik mengancam. "Kalian cepat, lima orang lindungi Tate."
Baru saja Tate menaiki tangga ketiga tiba tiba suara teriakan dari belakang arah kolam berenang terdengar teriakan.
"Aaaaa nona, nyonya tolong nona!!!"
Suara gaduh segera membuat Tate mengurungkan niatnya dan berlari ke arah kolam berenang. Alangkah terkejutnya Tate melihat Dini telah melompat dari lantai dua dengan sekujur luka di tubuhnya, serta kepala yang sudah berlimpah darah. "Dini!!!"
Tate sehera menggendong Dini melangkah keluar dari rumah tersebut, beberapa anak buah dari Wira dan Tate menahan semua orang yang ada di dalam hingga polisi datang, tak akan ada yang bisa kabur dari tempat tersebut.
Tate dengan panik segera membawa Dini ke dalam mobil. Tate sudah tak tahu lagi apa yang terjadi, yang jelas dirinya saat ini sangat panik. "Dini, Din bangun bangun Dini," bisik Tate panik.
"Tate kita sudah sampai," ujar Wira segera keluar dari mobil. Wira segera memanggil seorang suster dan meminta banker. Tate keluar dengan tubuh penuh darah, semua orang heboh, beberapa mengeluarkan ponselnya, heboh dengan dua selebgram yang dikabarkan memiliki kedekatan khusus.
Bahkan Tate terlihat sangat panik, dengan darah di penuhi darah dini. Setelah Tate meletakkan Dini di atas bangker rumah sakit, beberapa suster segera mendorong banker tersebut ke ruang UGD, dokter harus melakukan tindakan cepat, demi mencegah darah semakin banyak keluar dari tubuh.
"Tolong tunggu di luar tuan," ujar dokter tersebut. Tate terduduk di lantai melihat ke arah pintu. Tate terus mengusap wajahnya kasar, demi mencegah air matanya keluar.
"Te aku nelfon anak buah ku dulu, kau tunggu di sini," Wira segera keluar dan menelfon seseorang di ujung sana. "Iya teruskan, kita sekalian akan melakukan visum di tubuh gadis itu, jangan sampai mereka bebas dengan sangat mudah. Jangan lupa bila ke sini beli baju kaus empat ya."
Wira kemudian menelfon Juwita yang mungkin saja menunggu sejak tadi. "Halo mi."
"Halo bagaimana? Perasaan Tante ga enak, kalian ga apa apa kan?" Juwita memberikan pertanyaan beruntun.
"Kami tidak apa apa mi, tapi Dini..." ucapan Wira terjeda ketika mendengar kepanikan dari Juwita.
"Dini kenapa? Dia baik baik saja kan?" Juwita panik bukan main.
"Dia tadi jatuh dari lantai dua, dan sekarang sedang di rumah sakit. Kami tengah menunggu dokter mami, Tante tolong do'akan ya," ujar Wira membuat Juwita terdiam. "Udah dulu mi, kasian Tate di dalam kayaknya dia syok banget, assalamualaikum."
Wira hendak mendekati Tate, namun mengurungkannya, karena terlihat Tate tengah menutup matanya dengan tangannya, sementara tubuhnya terguncang. Tampaknya Tate tengah menangis. Meskipun tanpa suara, namun Wira tahu jelas bahwa Tate tengah nangis saat ini. Wira tahu Tate tak ingin menunjukkan nya di hadapan dirinya karena itu Wira memilih menjauh sebentar.
Tampak pintu segera terbuka, Tate segera mengusap air matanya, sementara Wira segera mendekat. "Bagaimana dok, bagaiman keadaan Dini?"
"Hem begini pasien tidak apa apa, kami sudah melakukan penanganan terhadap pasien, tulangnya ada beberapa yang patah, pasien akan membutuhkan waktu beberapa bulan untuk sembuh. Dan sekarang sebentar lagi akan kami pindahkan, silahkan mengisi administrasinya," ujar dokter tersebut kembali ke dalam ruangan tersebut.
"Tate biar aku ngisi administrasinya, sekarang kau ikuti dokter dan tunggui Dini," ujar Wira segera meninggalakan Tate yang hanya menanggapinya dengan anggukan.
Tate segera mengikuti langkah dokter yang akan membawa Dini ke ruang rawat. Tate melihat wajah pucat dini, di mana tangan kaki dan lehernya terdapat gipsum. Tate benar benar syok melihat keadaan Dini. Tate menyesali keterlambatannya. Namun Tate juga sadar ini merupakan takdir.
"Nanti sekitar jam satu siang seorang dokter akan mengecek perkembangan dari pasien," ujar dokter tersebut setelah memastikan alat terpasang dengan baik. Dokter tersebut segera keluar dari kamar tersebut tinggalah Tate di dalamnya.
Tate terus menggenggam tangan Dini, mengecupnya lebih dalam. "Dini jangan begini lagi. Setelah ini ku pastikan kau tak akan melakukannya lagi, jangan tinggalkan aku," gumam Tate terus mengusap lembut tangan Dini. "Maaf seandainya semalam aku tak membentak mu."
Wira yang melihat dari luar kembali menunda masuk ke dalam. Wira ingin memberi kebebasan terhadap sepupunya dan Dini mungkin akan menjadi calon istri dari sepupunya. Jika si lihat dari tingkah sepupunya.
"Cih aku juga akan segera menyusul dengan kekasih ku."