Travelove

Travelove
Mimpi buruk



"Papa..." Ahmed protes kesal ke arah Chandra, semkin membuat teling Chandra sakit.


"Ahmed jangan seperti Tarzan ya, mau kamu papa kutuk jadi Tarzan Ben*Cong?" Chandra kembali mengancam Ahmed.


"Hem Nola itu siapa ya?" Paman Dini terlihat begitu penasaran dengan siapa sebenarnya Nola itu.


"Oh jadi begini ceritanya," Ahmed tampak begitu serius ingin membicarakan siapa Nola tersebut. "Nola itu hanya nama samaran saja. Sebenarnya namanya Norman Latif."


"Jadi Nola itu singkatan dari Norman Latif?" paman Dini terperangah mendengar ucapan Ahmed.


"Yap tepat sekali Norman Latif di KTP," ujar Ahmed. "Kemarin dia pakai hijab saat berdiri di pos satpam, terus Ahmed sapa. Eh Nola ya? Terus dia tersenyum memandang ke arah Ahmed. Eh iya mas memed, Alhamdulillah sudah hijrah."


Semua orang terperangah mendengar penuturan Ahmed terutama Bilqis yang mendengar bahwa ada laki laki yang lebih solehah darinya.


"Wah lebih solehah dari calon istri saya ya, padahal Nola nya berjakun loh. Nola justru tersenyum mendengar ucapan dari Ahmed. Iya sayang mas memed sudah punya calon istri, eh pak ustadz gantengnya kalau Nola gombalin malah ketawa terus bilang astagfirullah. Ya iyalah, memangnya pak ustadz mau yang bentukan jin tomang?" Ahmed terkekeh menceritakannya.


Semua orang ikut terkekeh mendengar cerita Ahmed, bahkan Dini yang ikut menyaksikan hal tersebut sedikit tersenyum melihat pertengkaran aneh para penjenguknya. Terlebih perdebatan mereka sebenarnya tidak perlu di perdebatkan.


"Keluarga kamu saling menyayangi semua ya," Dini tersenyum dengan sedikit aneh melihat tingkah keluarga Tate yang bahkan terlihat tak pernah membedakan kasta antara keluarganya. Padahal jika dari harta benda keluarga Tate lebih terbilang cukup kaya. "Beda sama keluarga aku."


"Jangan begitu nak ku," Tante Seba menggeleng mengusap kepala Dina yang tampak bersedih.


"Iya jangan gitu, kami semua akan menjadi keluarga mu, kami semua yang akan melindungi mu," Tate menggenggam kedua tangan Dini. Tate tampak sangat perhatian keada Dini.


"Bagaimana? Papa pasti akan memukuli ku..." tiba tiba saja bayangan pak Herman memukulinya kembali terlintas. Dini seketika ketakutan, wanita cantik itu panik bukan main. ia bahkan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. "Tolong... aku takut, nenek tolong..."


Seketika semua orang terdiam dan memandang ke arah banker, di mana Dini tengah berbaring. Juwita segera berdiri berjalan ke arah Dini. Juwita akan mencoba keahliannya untuk membantu keadaan jiwa Dini yang tengah terguncang.


"Dini... Dini sadar, di sini semua aman," ujar Tate panik memeluk tubuh Dini yang terus memberontak. Bahkan kini selang infusnya telah dimasuki oleh darah Dini.


"Dini, Dini tarik nafas kamu dalam dalam," Juwita datang memberikan perintah, sebelum dokter datang menenangkan Dini. Juwita yakin Dini tidak lah mudah tenangkan. "Dini dengar mami nak, di sini tidak akan ada yang menyakiti kamu, di sini kita semua akan menjaga kamu."


Dokter datang disertai dengan suara yang sedikit ribut, mereka segera keluar ternyata itu adalah wajah pak Herman. Laki laki itu mencoba menerobos masuk ke dalam.


"Tolong tenang, pasien harus di tenangkan," ujar dokter tersebut.


"Langsung saja dok, itu bapaknya biar di urusi sama yang lain," ujar Juwita semakin panik karena darahnya semakin naik.


"Lihat... lihat anak mu..." teriak paman Dini yang telah terbawa emosi, terlebih Dini yang semakin ketakutan setelah melihatnya. Sebegitu kejam kah ayahnya memperlakukan Dini? sehingga keponakannya sangat trauma melihat ayahnya sendiri? "Jangan datang lagi melihat Dini, kau orang tua yang kejam!"


"Ambo sudah ambo..." kakak sepupu Dini menghentikan ayahnya. "Biar saja dia, asalkan dia jangan dekat dekat Dini lagi. Orang seperti dia tidak akan ada hati nurani untuk anaknya sendiri."


Ada rasa teriris ketika melihat mata dini yang terlihat amat ketakutan melihat wajahnya, sebagi ayah ia merasa sesak di dadanya. Jika dahulu pak Herman ingin anaknya selalu takut dan menurutinya, kini ia sedikit merasa sesak dengan pandangan takut anaknya sendiri.


Herman keluar dari rumah sakit tersebut justru dalam keadaan wajah lebam akibat bogem mentah dari kakak sepupunya sendiri. Herman dan ibu Dini dulu memanglah di jodohkan, mereka memang keluarga jauh, jadi masih sah untuk menikah.


Namun ketika ingatannya tertuju kepada istrinya, ia lebih sakit lagi. Wanita yang di cintainya saat ini tengah meringkuk di dalam sel tahanan nan dingin, pak Herman lebih tidak tega lagi. Laki laki itu kini kembali ke rumahnya, yang tak berpenghuni. Hanya dirinya seorang, beberapa asisten rumah tangga telah ia pecat dan beberapa mengundurkan diri. Terlebih ia tak memiliki uang untuk membayarkannya.


Bahkan beberapa perabotan telah ia jual demi membayar hutangnya, rumah berlantai dua itu saat ini kini tampak begitu hampa, hiasan mahal dan guci antik telah terjual demi membayar hutangnya.


Laki laki itu bingung ingin mencari bantuan kemana lagi, jelas keluarganya tidak akan membantunya. Rumah tak bisa ia jual, sertifikat tak ada padanya. Pak Herman segera membuka lemari pakaiannya, ia melihat kotak perhiasan istrinya. Inilah satu satunya jalan ia harus mengenakannya untuk biaya selama ia masih belum memiliki pekerjaan, biaya untuk anak istrinya di dalam penjara.


Lama laki laki itu termenung melihat sekelilingnya. Air matanya terjatuh entah kenapa rasnya semua hancur sehancur hancurnya. Seolah semua menunjuk dirinya sebagai orang tua yang tak bertanggung jawab, ayah yang melalaikan putrinya. Memang benar adanya, namun tetap saja ia merasa sakit.


Teringat kembali pandangan Dini saat melihatnya, di sisa kesadaran putri sulungnya itu. Ada rasa sesak di sana, yang kini menyiksa dadanya memaksa air matanya untuk terjatuh.


Pak Herman memilih untuk berbaring di atas temat tidur empuk miliknya, tak terasa kantuk menyerangnya. Matanya terpejam hingga lelap.


Entah ia bingung sendiri dirinya seolah berada di temat yabg asing, ia ingin memasuki tempat tersebut, namun terdapat dua jalur, pak Herman bingung.


Namun saat ia memperhatikannya ia melihat satu tempat itu terdapat bara api yang amat panas, dan siap untuk melahap semua penghuninya. Sementara yang di sebelahnya terdapat sebuah taman yang amat indah nan sejuk. Mereka tampak begitu berbeda.


Tentu saja pak Herman melangkah menuju tempat yang sejuk, namun entah kenapa sesuatu menghalangi jalannya. Seolah ia dibatasi oleh sebuah sekat kaca tebal, sehingga ia tak dapat mendengar suasana di dalam, bahkan ia saat ia berteriak orang orang yang berada di dalam sana tak mendengarkannya sama sekali.


Namun hal aneh terjadi, tiba tiba ia di tarik paksa dan di tempatkan dalam bara api yang sangat amat panas, kakinya terbakar. Pak Herman tak dapat menahannya. Sebuah cambuk melilit di kakinya, entah mengapa ia teringat bagaimana ia mencambuk Dini. Bagaimana setiap air mata itu turun kini seolah menjadi rasa sakit di sekitar tubuhnya yang tercambuk, terbakar.


Pak Herman berusaha melarikan diri sekuat tenaga. Ia sangat amat ketakutan. Bahkan di tambah dengan suara suara Dini yang menggema di telinganya seolah meminta untuk berhenti. Bunyi cambuk bersahut sahutan, ia kesakitan.


Suara yang amat mengerikan terdengar, namun ia mengenalinya, itu seperti suara ibunya. "Kau adalah orang yang bertanggung jawab atas setiap kejahatan yang kau lakukan di atas dunia ini, bahkan kau juga bertanggung jawab atas segala derita yang di alami oleh orang lain karena mu, atas kesengajaan mu!"


"Aaaaaa....."


Pak Herman terbangun dari mimpinya yang terasa nyata. Kakinya rasanya masih perih panas. Ia kesakitan kakinya seperti terbakar, dan seperti baru saja di cambuk. Laki laki itu memberikan diri melihat kaki tersebut, alangkah terkejutnya ketika melihat kakinya seperti terbakar dan di pergelangan kakinya seperti terdapat sebuah lilitan. "Apa ini? Tidak mungkin!"