Travelove

Travelove
perdebatan ayah dan anak



Malam yang panjang dan memberikan gelisah bagi Ahmed. Laki laki itu tak dapat tidur, ia terus membolak balikan badannya, tak puas ia bahkan mengganti gaya tidurnya. tak puas sampai di situ ia pindah berbaring di sofa, membuka pintu balkonnya, memandang ke arah luar dengan di taburi bintang bintang.


Malam semakin larut, semakin tak tenang pula perasaan Ahmed. Ahmed meraih ponselnya berharap nomor Bilqis aktif atau hanya sekedar tersambung meskipun tidak di angkat.


Tulalit, tulalit, tulalit.


Anggap saja bunyi ponsel yang tak tersambung, Ahmed semakin gelisah, Ahmed segera turun ke lantai bawah, namun sesuatu membuat telinganya panas. Ternyata kedua orang tuanya sedang bertarung, dengan suara yang membuat Ahmed panas dalam.


"Dasar orang tua tidak ada akhlak, memangnya mereka masih bisa buat anak apa? Buat badan capek aja mereka," Ahmed mengoceh melepaskan sambungan telfon rumah dari kabel utama, dan membawanya ke kamar miliknya.


Ahmed kembali menyambungkannya, dan mulai menelfon Bilqis, ternyata nomor gadis itu aktif. Ahmed mendesah kesal karena ternyata nomornya di blokir oleh Bilqis. Namun kali ini telfonnya tak di angkat. Lama Ahmed menelfon dan telfonnya tiba tiba di angkat oleh Bilqis.


"Hm... halo..." Bilqis tampaknya baru bangun, pasalnya suara Bilqis masih terdengar serak.


"Selamat siang," Ahmed mulai menurunkan suara costemer device, dengan merubah suaranya sebisa mungkin.


"Iya, ini dari Indonesia kan?" Bilqis mengerutkan keningnya melihat ponselnya. Ternyata di sudah jam sembilan malam waktu Dubai, itu berarti di Indonesia jam dua belas malam.


Ahmed tersenyum ia sudah memiliki titik terang, ternyata Bilqis bukan berada di Indonesia, terdengar dari nada bicara. "Iya, selamat malam dengan mba Bilqis Aimara Amira?"


Mendengar nama panjangnya di sebut, Bilqis seketika terbangun dari tempat tidurnya. Pikirannya mulai kemana mana, membuatnya panik sendiri. Ia sudah membayangkan ada apa apa yang terjadi pada keluarganya, jika seperti ini bagaimana ia bisa kembali ke Indonesia dengan cepat.


"Iya ada apa?" Bilqis menggigit jarinya takut takut dengan apa yang selanjutnya akan di sampaikan penelfon terse.


"Hm, saat ini boleh saya tahu anda berada di mana?" Ahmed menahan senyumnya ketika mengatakan hal tersebut.


"Di Dubai saya sedang di Dubai, ada apa?" Bilqis panik sendiri di buatnya.


"Tidak apa apa, saya hanya ingin menyampaikan bahwa tuan Ahmed akan menyusul anda," ujar Ahmed tersenyum bahagia.


Bilqis baru nyadari suara itu ternyata milik Ahmed, lelaki yang membuatnya kecewa dan memilih untuk berangkat liburan terlebih dahulu. "Kak Ahmed apa apaan sih," Bilqis segera mematikan sambungan telfonnya, dan kembali ke tempat tidur dengan menghentakkan kakinya.


Sementara Ahmed senangnya bukan main pasalnya telah mengetahui keberadaan Bilqis, kini tinggal menunggu pagi dan dirinya akan segera berangkat. Namun Ahmed kembali membuka matanya kala ponselnya berbunyi, ternyata itu adalah laki laki yang ia cap sebagai mantan sahabatnya.


"Halo," Ahmed ketus mengangkat telfon tersebut.


"Santai bro, ini cuman mau ngasih tahu kalau Iqis tengah berada di Underwater Suite, Atlantis The Palm. Berada di salah satu kamar hotel yang berada di bawah laut, di sana cuman ada dua, jadi mudah menemukannya. Sarannya sih berangkat besok pagi, agar cepat sampai di sana, kalau bisa tidur satu kamar aja," otak setan Tom bangkit, dan memberi saran menyesatkan kepada Ahmed.


"Oh ya, OMG... Thanks bro.." Ahmed berlonjak dari tempat tidurnya.


"Jet gue ready, besok pagi jam lima berangkat," ujar Tom dari luar sana.


"Oh thanks, gue packing dulu," ujar Ahmed segera berjalan ke arah lemari.


"Ok gue udah di maafin kan? Secara kan info sepenting ini," ujar Tom dari seberang sana.


"Ah... ketemu juga besok," ujar Ahmed segera memasukkan semua pakaiannya ke adakan koper. Setelah selesai Ahmed segera masuk ke kamar mandi demi untuk menyegarkan tubuhnya. Ahmed segera memakai pakaian santainya, dan bersiap untuk turun ke bawah. Ahmed kembali meraih tas miliknya dan melihat jam akurat yang tertera di ponselnya. "Agh, masih jam satu berarti dua... tiga... empat... lima... au ah, turun aja, tidur di pesawat atau di kamar Iqis kan bisa."


Ahmed segera menggeret kopernya ke lantai satu, dan membawanya ke ruang tengah. Ahmed membangunkan salah satu asisten rumah tangga untuk mempersiapkannya nasi goreng darurat. Dengan terpaksa maid tersebut menyiapkan nasi goreng la kadarnya.


Chandra terbangun kala selesai dengan aktivitas perangnya bersama sang istri, ia harus dan segera mengambil air minum di dapur. Namun terkejut kala melihat Ahmed yang terlihat segar dengan pakaian santai. Chandra melirik jam tangannya masih jam satu lewat.


"Jam satu, itu anak ngigau atau bagaimana sih? Lagi setres kali ya? Gara gara di tinggal Iqis, atau aku panggil kan ambulan biar di suntik rabies tu anak?" Chandra bergumam sambil memperhatikan wajah Ahmed yang tengah memainkan ponselnya. "Hm..." Ahmed mendongak ke arah Chandra.


"Pah, si curut sudah selesai acara meet and great dengan kancil?" Ahmed segera meledek sang papa.


"Cih, masih mau lanjut, mau dengar?" Chandra seketika kesal melihat putra sulungnya.


"Ah, ah, ah gitu ya pah keluar dari mulut mama," ujar Ahmed menggoda papanya.


"Kamu nguping?" Chandra kesal sendiri di buatnya.


"Ga kok, orang konsernya terdengar sampai di luar Jabodetabek kok," ujar Ahmed terkekeh. Nasi goreng Ahmed telah jadi, dan Ahmed segera menyendoknya. "Mantap suaranya."


"Besok papa kasih peredam suara biar kamu yang masih belum waktunya jangan di dengar," ujar Chandra berjalan ke arah kulkas.


"Nah bagus tu pah. Tapi papa jangan iri ya kalau dengar suara Iqis lebih uhuy," ujar Ahmed penuh kemenangan.


"Idih kayak Iqis mau aja sama kamu," ujar Chandra mencibir. Padahal dalam hatinya sungguh senang, ketika anaknya telah menerima perjodohan ini, dan kini tampaknya mencintai Bilqis sepenuhnya.


"Mau lah, nih mau di susulin biar kata film film tu romantis," ujar Ahmed sombong.


"Paling di usir," ejek Chandra, memang kau tau di mana Iqis?" Chandra memandang anaknya dengan penuh tanda tanya.


"Tau lah, sekarang itu tinggal di susulin," ujar Ahmed penuh kesombongan.


"Paling dari Tom, emang mau dia sama kamu?" Chandra kembali mencibir anaknya.


"Mau lah, asal papa tau kami sudah punya nama khusu, si oyen dan si utih," ujar Ahmed penuh kemenangan, baginya itu lebih keren daripada panggilan kancil dan curut. "Kancil sama curut mah lewat."


"Cih belum tentu, walaupun tua kami lebih pengalaman," ujar Chandra tak ingin kalah.


"Tua ya tua aja, jangan pakai sok pengalaman," ejek Ahmed.


"Kita buktikan nanti," Chandra dasarnya yang memang tidak mau kalau kini mulai menantang anaknya dengan hal yang tidak seharusnya ia lakukan sebagai seorang ayah.


"Ahmed lebih per*kasa, Iqis nanti teriaknya syahdu," Ahmed juga sama seperti papanya tak ingin kalah.