
Ahmed masuk dengan langkah gontai ke dalam rumahnya, tak ada semangat lagi, entah kemana semangatnya. Chandra kasihan sendiri melihat anaknya. Chandra menjadi teringat perjuangannya mendapatkan hati Aliya, dan bagaimana gelisah ya dirinya saat Aliya meninggalkannya. Bahkan Chandra rela menginap di rumah sakit hanya untuk menemani Aliya yang tengah di rawat.
Chandra segera mendekati anaknya, dan menepuk punggungnya. "Nanti temui papa di taman belakang, ada yang harus papa bicarakan," ujar Chandra memandang lekat anaknya. Ahmed hanya mengangguk kemudian berjalan dengan gontai ke tangga menuju kamarnya.
Perasaan gelisah Ahmed terus menghampiri, membuatnya tak tenang terus memikirkan Bilqis. Di mana saat ini gadis itu berada? Bagaimana keadaannya? Kemana ia pergi? Atau hanya sekedar menanyakan kabarnya. Ahmed memiliki banyak pertanyaan di kepalanya, namun entah kepada siapa ia harus bertanya.
Kepalanya rasanya berat, ada sesuatu dari dalam dirinya tak dapat ia jelaskan. Ahmed mengerti ini adalah rasa kehilangan. Tapi Ahmed bingung atas dasar apa? Apa rasa bersalah ketika melihat Bilqis menangis tadi? Atau rasa kehilangan karena tak ada lagi orang yang bisa ia jahili? Atau mungkin rasa sayang terhadap adiknya? Atau rasa cinta yang kini mulai tumbuh? Ahmed masih menerkanya, kemana arah rasa yang ia miliki untuk Bilqis.
"Iqis..." gumam Ahmed di kala dirinya tengah membasahi kepalanya dengan air dingin, kepalanya rasanya ingin meledak ketika memikirkan tentang Bilqis. Ahmed menengadahkan kepalanya hanya agar menghilangkan bayangan Bilqis di pelupuk matanya ketika tengah terpejam. Entah harus apa ia sekarang.
Lama Ahmed mandi Ahmed keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk kecil, berjalan ke arah lemari mengambil pakaiannya dengan tidak bersemangat. Ahmed mengusap wajahnya berkali kali. Ia memandang ke arah cermin untuk melihat suramnya wajahnya. Ahmed menghela nafas, sebegini besarkah dampak dari kepergian Bilqis? Pikir Ahmed.
Ahmed tiba tiba teringat pesan sang papa, Chandra ingin Ahmed segera menemuinya di bawah. Ahmed segera bergegas turun ke lantai bawah dan menemui Chandra, tampak Chandra tengah duduk manis dengan mengenakan pakaian santai, membaca sebuah koran dan secangkir teh hangat miliknya.
Entah kemana istrinya, mungkin saja tengah kelelahan karena sesuatu? Ah, pikiran Ahmed masih saja sempat berkeliaran kemana mana, saat dirinya sedang bersedih hati.
Ahmed mendekati sang papa, kemudian duduk di sampingnya. Chandra memandang sekilas ke arah Ahmed, kemudian kembali melanjutkan bacaannya. Lama Ahmed menunggu, namun tak ada pembicaraan di antara mereka. Akhirnya Ahmed hendak berdiri dan meninggalkan Chandra, namun Chandra malah menghentikannya.
"Mau kemana?" Chandra membuat Ahmed menghentikan langkahnya, dan kembali menoleh kepadanya.
"Lagian papa ngajak ngobrol tapi anaknya di anggurin, malah asyik dengan koran," ujar Ahmed kesal, rasanya ia sangat ingin membuang koran tersebut.
"Iya iya, papa tadi menyelesaikan bacaan dulu, tanggung," ujar Chandra sama sekali tak merasa bersalah.
"Terus papa sekarang mau ngomong apa? Ahmed mau istirahat pa," ujar Ahmed cemberut ke arah papanya, jujur saja Ahmed gengsi harus mengakui bahwa dirinya sedang gelisah hanya karena jodoh pilihan papanya.
"Kamu gini karena Iqis kan?" Chandra seketika membuat Ahmed terkejut. Bagaimana bisa papanya mengetahui? Ah Ahmed seketika mendapat jawaban, pasti tadi karena calon mertuanya menghubungi pembatalan pernikahannya dengan Bilqis. Semakin kalut saja perasaan Ahmed yang gagal menikah hanya karena masalah yang sebenarnya bisa di selesaikan. Namun karena situasi dan keadaan membuatnya terlihat sangat rumit.
"Pah bagaimana ini?" Ahmed menundukkan kepalanya, rasa sedihnya kembali memenuhi hatinya, rasa gelisah kembali bersemayam di sanubarinya.
"Bagaimana rasa kamu untuk Iqis?" Chandra memandang lekat ke arah anaknya berharap mendapatkan jawaban.
"Entah, baru dari tahap belajar mencintai," ujar Ahmed memejamkan matanya.
"Kalau begitu bagaimana jika melepaskan Iqis, dan membiarkan Iqis bersama yang lain. Papa dengan ada laki laki yang juga hendak melamar Iqis, jika hanya tahap belajar mencintai maka kamu bisa menguburkannya," ujar Chandra mengalihkan pandangannya ke arah bunga bunga yang di ditanam istrinya.
"Pah..." Ahmed memandang tidak percaya kepada papanya.
"Papa cuman bisa mempertahankan hubungan kalian, yang menjalani kalian. Jika saat di sana ada laki laki yang mampu menghibur Iqis, dan mampu membuat Iqis mencintai sepenuhnya, maka bisa jadi Iqis akan memilihnya," ujar Chandra kembali tak perduli dengan Ahmed yang tidak menerima ucapannya.
"Pah kami sudah berjanji akan saling mencintai," ujar Ahmed masih tak terima dengan ucapan papanya.
"Ketika kalian akan menikah, sementara Iqis telah membatalkan pernikahan kalian," Chandra menghela nafasnya kasar.
"Pah..." Ahmed berkata lirih, pikirannya membenarkan namun keinginannya membantahnya.
"Papa rasa kamu tidak akan apa apa untuk hal tersebut, papa tak akan menghalangi kamu asal kamu mendapatkan wanita yang baik baik," Chandra menyesap tehnya, menikmati aroma teh dan aroma penderitaan anaknya, kasihan tapi juga ingin tertawa.
"Banyak hal yang bisa terjadi, mungkin ini bertanda kalian tidak berjodoh. Bayangkan wajah bahagia Iqis ketika menemukan laki laki yang mencintainya dengan tulus," Chandra kembali mengatakan sesuatu yang sukses membuat hati Ahmed tiba tiba mendiri. Bahkan ketika mendengar hal tersebut Ahmed sangat kesal, untung saja yang mengatakan itu papa nya, jika orang lain pasti akan ia pukul.
"Pah mami Juwita masih setuju dengan Ahmed," ujar Ahmed percaya diri.
"Dan mereka tidak akan melarang Iqis jika menemukan laki laki yang tepat," bantah Chandra terkekeh, menertawakan kepercayaan diri anaknya.
"Pah, papa itu mendukung Ahmed atau engga sih?" Ahmed kesal bukan main.
"Med, papa tak mau membuat Iqis menunggu hati kamu benar benar mencintai Iqis. Gadis itu cantik, pasti banyak yang mau padanya," Chandra mengalihkan pandangannya ke arah Ahmed.
"Pah ga bisa gitu dong," ujar Ahmed kesal.
"Kalau gitu kamu cinta ga dengan Iqis?" Chandra kembali menanyakan isi hati anaknya. "Tidak bisa menjawab?" Chandra menghela nafas beratnya. "Papa akan menghubungi papi kamu untuk membatalkan perjodohan kalian,"
"Pa... Ahmed mohon jangan pa," Ahmed kembali memohon, entah bagaimana perasaannya kepada Bilqis itu tidak lah penting menurutnya, tapi Ahmed tidak rela jika pernikahan mereka di batalkan, apalagi jika Bilqis bersama dengan orang lain.
"Kenapa? Kamu belum mencintai nya kan?" Chandra terkekeh mengatakannya, Chandra sebenarnya saya dah tahu jawabannya, hanya saja Ahmed belum menyadarinya.
"Ahmed belum tahu," ujar Ahmed semakin lesi.
"Kalau begitu coba kamu bayangkan Bilqis menikah dengan orang lain? Dan tersenyum begitu bahagia," Chandra kembali memancing imajinasi anaknya yang tentu saja membuat anaknya sangat kesal,.
"Engga pa, jangan ngomong gitu. Ahmed akan hancurkan pernikahan mereka," ujar Ahmed berapi api. Membayangkannya saja membuat darah Ahmed mendidih apalagi jika itu kenyataan.
"Kenapa?" Chandra menggeelng melihat tingkah anaknya.
"Ahmed ga mau, Ahmed maunya Iqis dengan Ahmed," ujar Ahmed mengeluarkan sisi egoisnya.
"Kalau begitu kamu mencintai Iqis?" Chandra kembali mengulang pertanyaan yang sebenarnya ia tahu jawabannya.
"Hm... Iqis di mana pa?" Ahmed tak ingin kembali membahas pertanyaan papanya segera bertanya posisi Bilqis, ia ingin segera ke sana.
"Papa ga tahu, coba kamu cari tahu, minta bantuan dengan Tom," ujar Chandra menaikkan alisnya. Ia tahu anaknya memiliki Maslah kepada Tom, namun Chandra juga tahu siapa Tom, kelakuannya memang bejat, namun ia merupakan sahabat terbaik untuk Ahmed. Terlepas Tom telah membuat Ahmed putus dengan mantan kekasih Ahmed.
"Ga... Ahmed ga mau dia, dia itu bukan siapa siapa lagi bagi Ahmed," ujar Ahmed mendengus kesal.
"Tom itu teman kamu, sahabat kamu yang dulu selalu menolong kamu, jangan karena perempuan kalian bertengkar," Chandra menggeleng melihat tingkah anaknya.
"Dia bisa jadi akan mengulanginya dengan Iqis," itu yang di takutkan oleh Ahmed, terlebih Ahmed tahu bahwa Tom mengagumi Bilqis.
"Apa Iqis sama seperti mantan mu?" Chandra menggeleng melihat tingkah posesif anaknya, ini yang di bilang masih belajar mencintai? "Kau harus tahu, menurut penyelidikan mama dan papa, mantan mu yang menggoda Tom, kau tahu sendiri bagaiman Tom."
"Tapi pah," Ahmed masih tak setuju.
"Tak ada cara kamu harus meminta bantuan pada Tom," ujar Chandra.