
Kabar dari sosial media memang akan cepat tersebar, terlebih adanya lambe lambean, dan sistem viral sekarang. Membuat semua wartawan hendak berlari mencari informasi ke rumah sakit tersebut. Namun Wira yang paham akan keterangan kedua orang itu segera meminta anak buahnya menghalangi para wartawan. Sementara Aliya, Chandra, Angel, dan Daniel terus menghubungi Juwita dan Brayen. Mereka ingin memastikan kabar tersebut.
Beredar banyak dugaan di luar sana, membuat mereka penasaran. Bahkan beberapa akun mengatakan mungkin mereka bertengkar, dan membuat Dini ingin bunuh diri. Ada juga yang menyatakan kecelakaan, dan sebagainya. Mereka belum mau mengklarifikasi kejadian tersebut.
Juwita dan yang lain telah sampai di ibu kota, mereka memang keluarga yang kompak. Jika satu orang yang batal karena musibah, maka semua batal. Ahmed tentu saja mengekor di keluarga mereka. Ahmed hanya mengerjakan tugas dari jarak jauh.
Mereka segera menuju rumah sakit, sementara koper mereka di titipkan agar segera di bawa ke rumah mereka. Tampak banyak wartawan yang hendak mengerumuni mereka. Ingin meminta keterangan, namun semua diam. Menggandeng pasangan masing masing.
Hal itu juga menarik perhatian para wartawan. Yang membuat mereka semakin tertarik dengan keluarga yang terkenal akan kekayaan dan ketenaran yang di mulai dari Juwita sebagai selebgram hingga sekarang, menurun kepada anak anaknya.
"Mami naik ke atas dulu, nanti kami menyusul kami harus membeli beberapa makanan, agar kita tak kelaparan," Ahmed segera menarik Bilqis menuju ke kantin. Ahmed memang sengaja ia ingin di sorot lebih lama, karena harus menyatakan pada dunia bahwa Bilqis adalah miliknya.
Mereka berjalan ke arah kantin, dan sesuai dengan perkiraan Ahmed beberapa wartawan mengikutinya secara diam diam. Ini adalah kesempatan dalam kesempitan yang di sengaja.
"Kak kita memang mau mesan apa?" Bilqis memandang bingung ke arah Ahmed ketika mereka telah sampai di kantin, dan siap memilah makanan yang katanya ringan.
Ahmed mengusap kepala Bilqis. "Terserah kamu, kan aku ikut kamu aja mau mesan pelaminan pun ok," Ahmed berbisik dan melirik ke arah wartawan yang membidik mereka.
"Apaan sih kak," Bilqis malu sendiri mendengar ucapan Ahmed, wajahnya merah bak kepiting rebus.
"Ih seriusan loh," Ahmed bahkan memeluk pinggang Bilqis dan mengecup singkat pipi Bilqis.
"Ih ga tau malu," desis Bilqis salah tingkah.
Ahmed tertawa mendengarnya, ia sadar betul beberapa orang memandang ke arah nya. "Iya iya, ayo pilih mereka nungguin kita. Camer udah kelaparan mungkin."
Bilqis yang antara salah tingkah dan malu dengan tingkah Ahmed kini malas untuk berdebat, Bilqis segera memilih makanan ringan,untuk mereka bawa ke ruangan rawat inap Dini, yang saat ini masih belum sadarkan diri. Setelah membayar Ahmed dan Bilqis kemudian segera berangkat ke kamar Dini.
Bilqis sungguh sedih melihat keadaan kakaknya yang berantakan, meski sudah berganti pakaian. Bilqis berjalan ke arah kakaknya namun kakinya tanpa sengaja menendang sebuah paper bag, di mana isinya adalah baju bekas yang tadi telah di pakai oleh Tate. Bilqis melihat darah di baju tersebut semakin bergidik, Bilqis mengalihkan pandangannya ke arah pasien yang terlihat begitu rapuh, dengan gipsum di beberapa bagian tubuhnya.
Pastinya itu sangat sakit, Bilqis tak dapat membayangkannya. Mungkin butuh beberapa bulan untuk sembuh sepenuhnya. Bilqis meneruskan langkahnya memeluk Tate dari belakang. Tate merespon, balas memeluk Bilqis dengan erat.
Air mata Tate memang tak turun, namun mata Tate mengisyaratkan luka yang sangat dalam. Bilqis sedih Tate terluka, pasalnya meskipun Tate suka menjahilinya, namun Bilqis tak pernah melihat Tate sesedih ini sebelumnya.
"Kakak sabar ya, kita sama sama menghadapinya. Kita di sini untuk kakak semua," ujar Bilqis di tengah pelukan mereka, Tate mengangguk mengerti.
Cukup lama mereka berpelukan kemudian Tate melepaskannya, dan mengecup puncak kepala Bilqis. Ia mengusap lembut kepala Bilqis, berharap kejadian yang sama tak terulang kepada Bilqis. Tate tak akan sanggup, hatinya lembut tak mungkin mampu melihat kerang orang tersayangnya terluka lagi. Cukup Dini dan merupakan orang terakhir yang mengalami hal tersebut.
"Sudah makan?" Tate justru menanyai urusan perut Bilqis.
"Kirain kakak kamu yang mau pergi rupanya order juga," Tate sedikit terhibur dengan kehadiran Bilqis di sisinya.
"Ya ga mungkin kan, di bawah banyak wartawan," ujar Bilqis membuat Tate menggeleng. "Kakak mau makan apa hayo." Bilqis mengeluarkan ponselnya membuat Tate tersenyum melihat tingkah adiknya.
"Ga usah, kakak makan yang ada di meja saja," ujar Tate, segera berdiri dan berjalan di samping Bilqis.
"Ih sweet banget mereka, ga biasanya loh kakak adik itu se_akur itu bikin iri deh," Wira sengaja menggoda Ahmed yang sejak tadi memperhatikan tingkah Tate dan Bilqis. Wira bahkan dengan sengaja merebahkan kepalanya ke arah Ahmed membuat laki laki itu semakin kesal.
Ahmed iri tak pernah diperlakukan seperti itu oleh Bilqis, ia ingin di perlakukan seperti itu. Ingin berpura pura sakit namun ini di rumah sakit, akan mudah ketahuan jika dirinya berbohong.
"Apa sih Wir, jauh jauh ah, masih normal nih. Sana jijik deh, Iqis susuk sini sayang," ujar Ahmed membuat semua memandang lucu ke arah Ahmed.
Setelah Tate makan Juwita mengusap punggung anak keduanya. "Bagaimana keadaan Dini saat ini nak?"
Tate menghela nafas kasar, Tate kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Dini yang terbaring lemah. "Hm, tadi mi kami datang sudah ribut ribut, Dini tampaknya habis di pukuli lagi. Setelah itu dini kabur mau ke kamarnya, namun mama tirinya meminta anak buahnya agar dini di kejar. Dini akan dijadikan pekerja se*s mereka, dengan bayaran sepuluh juta satu malam, karena menolak perjodohannya," bukan Tate yang menjawab namun Wira yang menjawabnya.
Semua orang terkejut mendengarnya, Tate menunduk merasa campur aduk di dalam hatinya, antara penyesalan, kesal, kasihan dan amarah. Entah kenapa semua itu menyerangnya, terlebih ketika melihat dini yang tak sadarkan diri.
"Tadi juga mereka telah di bawa ke kantor polisi, dan mereka juga telah di interogasi. Menurut pengakuan mereka mereka kesal karena jika Dini tak mau di jodohkan, maka mereka tidak akan mampu membayar hutang tersebut, maka dari itu mereka memaksa Dini untuk menjadi pekerja se*s. Sementara dari anak buah yang mengejar Dini ke kamarnya, menyatakan dini melompat sendiri dari jendela. Dini juga akan di periksa, apakah selama ini ada kekerasan dalam rumah tangga atau tidak, tapi menurut video tadi besar kemungkinan ada, bahkan sebelum kita datang, atau hari hari sebelumnya," jelas Wira membuat Tate mengepalkan tangannya.
Sementara yang lain menganga gak percaya dengan apa yang di dengarnya, mereka tak menyangka bahwa gadis itu mengalami penyiksaan sedalam itu di rumahnya sendiri.
"Padahal selama ini Dini yang menyokong hidup mereka, bahkan dijadikan sapi perah mereka," gumam Tate membuat yang lain tak dapat berkata apa apa.
"Kita perbesar hukuman mereka," ujar Brayen membuat mereka terkejut. "Jangan biarkan mereka lolos begitu saja, terus selidiki kejahatan mereka sebelumnya, jika dengan keluarga sendiri mereka tega melakukannya. Terlebih dengan orang lain.
.
.
.
.
Hai jangan lupa jempolnya dan komentarnya ya para pembaca tercinta ku...