Travelove

Travelove
Dini sadar



Sementara di tempat lain Shela sibuk menelepon musuh bebuyutannya, mantan Ahmed Santi. Shela akan menyusun semua rencananya, dan rela bekerja sama demi merebut kekasih hatinya.


"Aku akan mendapatkan Atlas, dan untuk Bilqis yang menyebalkan, aku akan membuat dirimu lebih sakit dari yang aku rasakan."


...........


Santi yang tengah patah hati atau lebih tepatnya patah ATM berjalannya, kini tengah bersedih. Ia tak bisa lagi membeli barang yang ia inginkan. Sementara laki laki yang kemarin bersamanya benar benar hanya memanfaatkan dirinya. Bahkan kini telah berbaikan kembali dengan Ahmed.


"Agh.... Bre*ng*sek..." Santi berteriak kesal melempar bantal yang ada di pangkuannya, masa ia harus open B*O lagi sih? Ia sudah malas melayani om om hidung belang.


Tiba tiba ponselnya berbunyi menmpakkan nama musuh bebuyutannya. "Mau apa lagi nih makhluk prasasti nelfon gue," kesal Santi menggambarkan si penelfon.


Namun telfonnya tak berhenti, akhirnya Santi menyerah dan mengangkat telfon tersebut. "Ha apa lo nelfon gue? Gue lagi ga minat mau berantem sekarang," kesal Santi segera membuka Ipad-nya untuk melihat beberapa lelaki hidung belang yang pesannya sejak kemarin ia abaikan.


"Lo lagi galaukan gara gara Ahmed milih cewek lain?" Shela terdengar mengejek di ujung sana.


"Dan lo lagi galau kan gara gara Atlas udah nikah sama sekertarisnya?" Santi ikut mengejek Shela.


Duo S ini saling mengejek satu sama lain, mereka tamak begitu saling membenci.


"Da ah mau apa lo? Mau minjam uang? Ga gue malas minumin lo. Omongan lo g ada yang bisa di percaya," sarkas Santi membuat Santi semakin kesal.


"Enak aja lo, lo pikir gue semiskin lo? Ga lah ya, gue gal level minjam uang sam lo," balas Shela kesal sendiri. Shela mulai melupakan tujuan awalnya. Ia sudah terlanjur kesal dengan omongan calon patner dalam menghancurkan hubungan orang lain.


"Enak aja lo, lo lebih miskin dari gue. Lihat apartemen gue aja lebih bagus dari ada lo," ejek Santi tak terima di hina lebih miskin dari ada Shela.


"Gila lo ya, lo itu cuman simpanan asal lo tau ya," geram Shela segera mematikan sambungannya. "Eh lagian ngapain ya gue tadi nelfon dia? Ah tau ah."


.........


Sementara di tempat lain, Tate tengah menunggui dini untuk sadar kembali. Laki laki itu juga tengah mengerjakan pekerjaan kantornya dari rumah sakit. Hingga akhirnya Tate mendengar lenguhan dari arah bangker.


"Dini?" Tate memanggil Dini dan mulai mendekatinya. Saat telah berada di samping bangker Dini. Tate melihat dini telah membuka matanya. "Dini..."


Tate segera menekan tombol darurat memanggil dokter jaga. Tak lama kemudian beberapa suster datang dan mulai memeriksa keadaan dini.


"Tolong keluar dulu biarkan kami yang memeriksanya lebih lanjut," ujar dokter muda tersebut.


"Tapi kan..."


"Keluar ga lo, gue panggilin pengawal lo, jadi orang kok keras kepala, mau gue adu dengan tembok tu kepala keras?"


"Cih berisik lo, mentang mentang jadi dokter lo sekarang," kesal Tate kepada dokter tersebut, yang tampaknya tak ada takut takutnya kepada dirinya.


Dini hanya tersenyum kecil dengan pandangan kosong, tampaknya wanita itu masih bingung dengan keberadaan dirinya di rumah sakit. Seingatnya ia melompat dari jendela kamarnya saat hendak di jual oleh keluarganya sendiri.


Setelah selesai pemeriksan dokter muda itu segera keluar dari ruangan Dini.


"Bagaimana dok? Dini baik baik saja kan?" Tate tak sabaran menunggu jawaban dari dokter tersebut.


"Secara keseluruhan tidak baik baik saja, lihat kan banyak gipsumnya," ejek dokter muda tersebut.


"Gue tampol lo pakai gipsum, maksud gue bukan gitu, mentang mentang dokter lo," germ Tate melihat dokter yang ternyata adalah temannya saat SMA.


"Lah lo nanya keadaan," cibir dokter tersebut.


"Rom gue tampol lo, serius nih," kesal Tate.


"Iya dia baik baik saja, hanya saja tampaknya masih menyisakan trauma, terus beberapa luka dan kita harus ngajarin dia cara berjalan kembali nantinya," ujar dokter laki laki yang bernama Romy tersebut.


"Nah gitu dong jawabannya lugas dan tepat," ujar Tate meninggalkan Romy.


"Woy makasih kek, lo kira gue Mading?" Romy meneriaki Tate yang masuk ke dalam bangker Dini.


"Din lo ga papa kan? Lo ga lupa ingatan kan? Nama gue siapa?" Tate membrondong Dini dengan pertanyaan yang masuk kedalam kategori easy.


Dini menganggukkan kepalanya menandakan dia masih mengingat Tate, namun Tate yang tak mengerti maksud Dini.


"Lo lupa nama gue?" Tate tampak panik, tadi dokter Romy tak memberitahukan pasal hilang ingatan, apa dokter itu sengaja?


"Tate..." satu kata keluar dari bibir Dini, membuat Tate tersenyum lega.


"Nah kan enak, ga perlu perkenalan dulu kita," ujar Tate membuat lelucon di hadapan pasien yang baru bangun dari koma. "Ini berapa?" Tate menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah kepada Dini.


"Du...a," Dini menjawabnya dengan kesulitan.


"Nah harus di biasakan ngomong, latihan bicara kamu ya," ujar Tate tersenyum bangga ke arah Dini.


Namun Dini menggelengkan kepalanya. "Bu...kan, ta...pi ja...lan," ujar Dini terbata bata.


"Ha... oh ya jalan, lupa aku Din," ujar Tate menggaruk kepalanya sangking senangnya ia lupa apa yang di instruksi kan dokter. "Mau makan apa? Seblak, sate, atau yang lain?"


"Dia mau makan ciki boncave tat, orang baru sadar mana boleh makan begituan," geram dokter Romy yang kembali masuk ke dalam kamar rawat Dini. "Ini obat kamu nanti di minum kalau makanan sudah datang. Ingat makan bubur ya, jangan seblak, sate ataupun yang lainnya," ujar Romy meletakkan obat tersebut di atas naklas. "Gila ni orang udah ga ngambil obat, malah nawari yang aneh aneh."