Travelove

Travelove
Gangguan mantan



Baru saja Atlas membuka kancing pertama blues yabg di kenakan oleh Anisa, tiba tiba terdengar ketukan dari arah luar. Anisa berusaha mendorong tubuh Atlas, sungguh Atlas sangat kesal di buatnya.


"Ck mengganggu saja," Atlas segera bangkit dan memperbaiki baju yang di kenakan oleh istrinya, Anisa hanya mampu memejamkan matanya karena malu. "Aku akan menagih hutang ini nanti malam."


Atlas berdiri meninggalakan Anisa setelah meninggalkan kecupan manis di bibir istrinya. Atlas berjalan mendekati pintu. "Iya ada apa?" kesal Atlas ketika membuka pintu ruangannya.


"Maaf bos ada yang ingin bertemu," ujar asisten Ar tersenyum mengejek ke arah Atlas, dirinya tahu apa yang baru saja di lakukan oleh bosnya itu.


"Suruh dia menunggu sampai jam istirahat selesai, pesankan makanan untuk ku dan istri ku," ujar Atlas malas membalas tatapan mengejek sahabat sekaligus asisten kepercayaan.


"Hati hati bos itu mantan bos yang datang," bisik asisten Ar tersenyum.


"Suruh Iqis kesini sekalian, setelah makanan datang kami makan bertiga di sini, suruh dia masuk dan aku akan memperkenalkan istri ku, agar dia tidak terus mengejar ku," ujar Atlas tersenyum kemenangan.


Asisten Ar tersenyum melihat sikap bos nya, asisten Ar segera menelfon Bilqis, namun anehnya bukan Bilqis yang mengangkatnya.


"Halo, kenapa kamu menelfon calon istri saya?" terdengar suara Ahmed dari ujung sana.


"Iya bos hanya ingin makan bersama Iqis dan jadi saya ingin menanyakan Iqis mau makan apa," ujar asisten Ar jengah dengan sikap posesif Ahmed.


"Wah sopan sekali kamu memanggil calon istri saya dengan nama saja," ujar Ahmed dari ujung sana.


Asisten Ar menghela nafas kasarnya. "Pertama jika di kantor Iqis itu masih bawahan saya, ingat saya ini orang kepercayaan dari CEO di sini, kedua Iqis itu jauh lebih muda dari saya, ketiga saya memang sudah menganggap Iqis itu sebagai adik saya. Jadi kamu seharusnya sebagai calon suami harus hormat kepada saya, jika tak ingin saya hadirkan mantan kamu atau mantan Iqis," tegas asisten Ar dengan sedikit senyum yang melengkung di wajah tampannya.


"Cih sok berkuasa," ujar Ahmed di ujung sana.


"Ada apa sih kak?" Bilqis terdengar bingung. "Halo kak Ar?"


"Iya Iqis di suruh ke kantor pak bos, untuk makan siang. Soalnya ada mantan kekasih pak bos, sepertinya pak bos butuh bantuan Iqis deh," ujar asisten Ar menjelaskan. "Iqis mau mesan apa? Ah sama calon suami kamu yang positif nya setengah kehidupan."


"Ah iya kak, pesan nasi Padang aja, sama kayak dia," ujar Bilqis membuat Ahmed menutup panggilan nya.


Asisten Ar hanya menggeleng melihat ke arah ponselnya, asisten Ar segera berjalan ke arah ruangan dimana mantan kekasih bosnya telah menunggu.


"Shel bos sudah menunggu mu di ruangannya, tapi kamu harus bersabar kamu harus menunggu bos makan siang di sana," ujar asisten Ar mengangkat alisnya, menahan senyum mengejek ke arah wanita yang ada di hadapannya.


"Ok makasih Ar, aku yakin kok kalau Atlas pasti masih punya perasaan kepada ku," ujar Shela percaya diri.


"Cih, manusia kepedean. Padahal di sana hanya dijadikan kambing conge saja," ujar asisten Ar pelan. Setelah melihat bayangan Shela menghilang dari pandangannya, barulah asisten Ar tersenyum misterius, membuat Suci salah satu wanita uang menyukai asisten Ar semakin terpesona.


"Cie senyum, makin ganteng aja kalau senyum. Senyumin adek dong," goda Suci membuat senyum asisten Ar buyar seketika.


"Suci kerja sana, sebelum saya pecat kamu dari asisten saya," ujar asisten Ar, membuat Suci cekikikan.


"Cie perhatian, ok deh kalau abang yang minta adek rela," ujar suci mencubit dagu asisten Ar dengan berani.


Tak kalah terkejutnya, semua orang juga terkejut melihat asisten bos mereka di goda seperti itu. Jika Suci bersikap bar bar itu sudah biasa namun mereka juga tak menyangka Suci berani melakukan hal tersebut.


"Wah ci hebat kamu," ujar Mariati salah satu sahabat Suci.


"Berani lah orang calon suami sendiri kok," ucap Suci bangga.


"Gendeng, lama lama ku rukiah kamu, biar berhenti berkhayal terlalu tinggi, tidur mu terlalu miring, kau mencoreng nama mu yang Suci itu, kini tak lagi suci," ujar Imah menggeleng melihat kelakuan sahabatnya.


"Untung sahabat kalau tidak aku tendang kamu ke planet mars," gumam Rani pusing melihat tingkah Suci.


Sementara di ruangan Bilqis Ahmed tampak mengerucutkan bibirnya, ia merasa Bilqis lebih membela asisten Ar dari pada dirinya.


"Ih kakak ngapain sih? Jelek sumpah kalau gitu," ujar Bilqis bingung.


"Kamu kenapa sih belain dia?" Ahmed segera menarik Bilqis untuk duduk di sampingnya.


"Bukan Iqis belain dia, nih ya restu tergantung kak Ar, soalnya kalau kak Ar bilang kamu ga baik untuk Iqis, dan masih menjalani hubungan dengan mantan kamu, otomatis kita tidak akan di restui. Kak Ar itu sangat bisa di andalkan, dan sangat teliti jadi keluarga Iqis otomatis akan lebih percaya dengan kak Ar," ujar Bilqis meyakinkan membuat Ahmed terkejut mendengarnya.


"Seriusan kamu Qis?" Ahmed memandang lekat wajah Bilqis.


Hampir saja Bilqis meledakkan tawanya ketika mendengar penuturan dari Ahmed, namum ia menahannya. "Lah buat apa Iqis bohong."


Ahmed mulai merasakan gelisah, kini mendekat ke arah Bilqis. Laki laki itu takut jikalau asisten Ar membuat dirinya kembali gagal menikahi calon istrinya. "Qis gimana ni? Tadi kakak marahi dia," ujar Ahmed membuat Bilqis menahan tawanya.


"Ya udah makanya jangan gitu lagi sama kak Ar," ujar Bilqis membuat Ahmed mengangguk pasrah.


Bilqis segera berjalan menuju ruangan Atlas di ikuti oleh Ahmed dari belakang, Ahmed memperlebar langkahnya, karena merasa lebih seperti asisten Bilqis. Ahmed segera meraih tangan Bilqis dan menyamakan langkah mereka.


^^^...Nah ini baru seperti pasangan sesungguhnya. Ahmed....^^^


Tampa mengetuk mereka segera masuk ke dalam ruangan Atlas yang sudah terdapat Shela mantan kekasih Atlas yang duduk di hadapan Atlas yang tengah bermesraan dengan Anisa. Bilqis terkekeh melihat adegan tersebut.


"Itu mantan kak Atlas," bisik Bilqis kepada Ahmed.


"Wah mau buat pertunjukan dong," ujar Ahmed ikut terkekeh.


Shela terus saja memperhatikan penampilan Anisa yang lebih tertutup dari sekertaris lainnya, Shela bingung apa yang membuat Atlas jatuh cinta kepada wanita yang tengah duduk di samping Atlas.


"Kamu beneran cinta sama dia?" Anisa terkejut mendengar pertanyaan dari mantan kekasih suaminya.


"Lalu kira kira untuk apa kakak menikah dengan kak Anisa? Untuk harta? Tidak mungkinlah," ujar Bilqis menjawab pertanyaan dari Shela.