
Pagi menjelang, kedua anak manusia yang berbeda jenis masih berpelukan kini mulai membuka matanya, ketika mendengar ketukan di pintunya. Atlas terkejut namun masih enggan membuka matanya. Rasanya terlalu nyaman saat ini, sangat hangat bahkan ia merasakan sebuah nafas teratur menerpa lehernya. Atlas sedikit membuka matanya mengintip Anisa yang nasib terlelap. Tampaknya gadis itu tak dapat tidur nyenyak tadi malam, pasal gangguan yang tentu saja membuat gadis itu sangat ketakutan.
^^^Lucu sekali dia ini, lihat wajahnya kalau sedang terlelap. Atlas.^^^
Tok tok tok.
Bunyi pintu yang di ketuk terus bersahut sahutan, hingga membuat Anisa terbangun, sementara Atlas kembali menutup matanya pura pura terlalap.
Anisa yang terkejut melihat posisinya dengan Atlas sungguh membuat dirinya sangat malu, Anisa mencoba mengingat kejadian tadi malam, kemudian pandangannya ia lemparkan ke arah kaca jendela, sungguh kembali membuatnya merinding.
Tok tok tok.
Suara ketukan kembali mengejutkan Anisa. Lamunannya di bubarkan secara paksa. Anisa segera memandang ke arah Atlas yang terlelap.
"Untung ganteng," gumam Anisa mencoba melepaskan pelukan Atlas dari punggungnya. Atlas sedikit menyunggingkan senyum samar, bahkan Anisa pun tak menyadarinya. Tentu saja Atlas mendengarkan pasalnya Atlas saat ini sudah terbangun sejak tadi.
Setelah Anisa terbebas dari Atlas, tiba tiba pintu kamar terbuka sendiri, dan seketika menampakkan segerombolan orang yang masuk ke dalam kamar tersebut. Anisa menegang seketika, entah kemana tulang tulang kokoh yang menjadi penopang tubuhnya. Semua seketika runtuh, wajah Anisa pias, ia sudah tahu apa yang mereka pikirkan, pasti mereka di kira kumpul kebo. Padahal semalam jika saja para makhluk itu tidak menakutinya pasti dirinya tidak berada di sini.
"Maaf kami tak melakukan apa apa, kalian harus tahu, bahwa saya dan pak Atlas hanya berpelukan saja, tidak lebih," Anisa sungguh ketakutan.
"kalian tidak mau tahu, kalian sudah menodai tempat kami, kalian harus memilih antara dua, ayo bangunkan laki laki nya," ujar salah satu di antara mereka, yang Anisa yakini adalah pemimpin mereka.
"Pak, pak bangun pak," ujar Anisa membuat Atlas membuka matanya perlahan.
"Hm Nis?" Atlas berpura pura tak tahu apa apa.
"Pak ini pak," Anisa menunjuk ke arah para gerombolan pria tersebut.
Atlas memandang seketika orang orang tersebut. "Ada apa?"
"Kalian kedapatan melakukan hal asusila di daerah kami, dengan tidur bersama dengan lawan jenis yang bukan siapa siapanya."
"Tapi pak..." Atlas berusaha mencairkan suasana.
"Tidak ada tapi tapian, pilihan kalian cuman ada dua, menikah sekarang atau di arak keliling kampung?"
"Jangan pak, baikan kami akan menikah," ujar Atlas cepat, jelas dirinya tak ingin nama baiknya tercoreng hanya karena tidur berdua dengan kondisi ketakutan.
"Tapi pak..." Anisa mulai menangis terkejut dengan kenyataan yang ada, bahwa dirinya harus menikah dengan pria yang tidak ia cintai, hanya karena insiden ini.
"Tidak ada, sekali saya bilang tidak ada tapi tapian maka tidak ada," ujar salah satu di antara mereka.
"Ayo sekarang kalian ke penghulu," salah satu di antaranya mengatakan hal tersebut.
"Pantas kalian memesan connecting room ya, sudah biasa seperti ini. Kami tak mau tempat kami menjadi tempat zinah."
"Kami tidak melakukan apa apa, jelaskan dong pak," ujar Anisa memandang ke arah Atlas.
"Kakak saya bagaimana pak," ujar Anisa sesegukan.
"Sudah saya akan memikirkan kakak mu nanti beserta sahabat mu," ujar Atlas menenangkan Anisa.
"Tapi saya ga punya wali pak, kakak saya di Jakarta," kembali lagi Anisa berucap membuat Atlas sedikit gemas.
"Hm, kakak kamu itu bukan kakak kandung kan? Ya sudah pakai perwalian lain saja," ujar Atlas tak ingin mendengar penjelasan dari Anisa.
Akhirnya setelah akad dadakan terjadi, mereka segera pulang ke Jakarta, Anisa yang terus menangis membuat Atlas segera membawa ke pelukannya. "Kamu punya kekasih?"
"Tidak pak," Anisa menggeleng di dalam pelukan lelaki yang saat ini menjadi suami akad dadakannya.
"Kalau tidak punya terus kenapa hm?" Atlas memandang lekat istri.
"Saya takut, tidak di terima keluarga bapak, karena insiden ini, saya juga takut kalau terjadi gosip di luaran sana," ujar Anisa mengeratkan pelukannya. Bohong jika dirinya merasa tidak nyaman dalam pelukan laki laki berotot ini, namun tetap saja banyak kerisauannya. Antara tidak di terima karena bukan dari kalangan berada dan jika mengetahui kondisi sang kakak maka dirinya akan di anggap hanya memanfaatkan Atlas. Atau bahkan di anggap wanita tidak benar karena menggoda bosnya sendiri. Masih banyak sesuatu hal yang mengkecamuk pamikira nya.
"Kamu belum mengenal keluarga saya," ujar Atlas. "Di sana kita akan mengadakan akad ulang, saya sudah meminta seseorang untuk menyampaikan pesan kepada keluarga kamu, dan nanti kita akan langsung mengesahkannya dengan agama dan negara."
"Tapi pak..."
"Hust jangan panggil saya bapak, saya sekarang suami mu," ujar Atlas mengusap lembut kepala istrinya.
"Bapak kan tidak cinta dengan saya," Anisa melepaskan pelukannya.
Atlas segera menggenggam erat bahu Anisa. "Mari kita berpacaran, kata orang lebih indah kalau kita membangun cinta dari pada jatuh cinta."
"Jatuh itu sakit bangun itu semangat," ujar Anisa di angguki oleh Atlas. "Itu lagu pak."
"Kan di bilang jangan di panggil pak, memang ada suami atau pacar di panggil pak?" protes Atlas.
"Iya m...ma...mas," ujar Anisa terbata bata.
"Nah begitu, kan enak juga di dengarnya, ayo sebentar lagi kita sampai," Atlas mengusap lembut kepala Anisa.
Sesampainya mereka di bandara, mereka segera di jemput oleh supir, dan di antar ke rumah besar keluar Lyansi. Sungguh Anisa merasa gugup, terlebih tampaknya di sana sudah cukup ramai. Mereka segera masuk, Atala tersenyum ke arah, saat ini Atala dalam keadaan baik, tampak meminum obat dengan baik. Dosis Atala memang telah berangsur angsur di turunkan, karena semakin membaik. Tampak di samping Atala Linda tersenyum ke arahnya, wanita itu menitikan air matanya. Linda tak menyangka sahabat akan menikah.
"Wah... mami papi, lihat kakak ipar dan kakak sudah pulang. Siapa yang foto prawedding siapa yang nikah duluan, lihat tada..." Tate memperlihatkan foto prewedding Bilqis dan Ahmed yang telah di edit di gantikan dengan wajah Atlas dan Anisa. Tate membuatnya dalam bentuk banner.
"Apaan sih Tate," Atlas bingung sendiri melihat tingkah Tate. Adiknya itu memang suka berbuat sesuka hatinya, bahkan saat ini membuat banner dengan hal serandom itu.
^^^Entah lah orang kaya memang aneh, bisa membuat banner secepat itu. Anisa.^^^
"Hadiah kak, kan dadakan. Sudah seperti tahu dadakan saja kalian berdua," ujar Tate membuat yang lain terkekeh. "Ayo silahkan ke kamar rias kalian, Bilqis minta di tunggu tadi, jadi masih ada waktu beberapa delapan belas jam lagi untuk menunggu mereka, kalian sudah di penghulu kan di sana."
"Tate..." Atlas semakin malu saja di buat Tate.