
Pagi ini matahari enggan bersinar. Ia kerap bersembunyi diperadabannya. Bersembunyi dibalik awan. Langit mendung seperti akan turun hujan. Bastian masih betah berada di parkiran menyaksikan segala aktivitas siswa-siswi yang berlalu lalang dengan kesibukannya sendiri.
Tak lama segerombolan motor datang memasuki gerbang sekolah. Mereka memainkan gas motor di tengah siswa yang berjalan kaki. Siapa lagi kalau bukan Zacky dengan kawan-kawannya si penguasa sekolah setelah gengnya Tere.
Bastian beranjak dari kenyamanannya. Ia tidak mau ributdengan sekawanan yang sama sekali tidak dikenalnya. Namun Zacky sengaja mengelilingkan motornya, menghalangi Bastian dengan keangkuhannya.
“Wop anak baru, cupu, di sini.’’
Bastian mengabaikan celutukan Zacky. Ia mencari celah untuk melanjutkan langkahnya ke ruang kelas.
“Si cupu mah takut.’’celutuk Zacky lagi memancing emosi Bastian.
Bastian menghentikan langkahnya. Ia menatap tajam Zacky. Alis kirinya naik menantang Zacky.
“Kenapa? Kamu kesal nerima kenyataannya?’’ledek Zacky lagi.
Seluruh mata kini tertuju kepada mereka. Bastian tak peduli, tapi yang jelas Zacky sangat mengganggunya saat ini.
‘’Jangan sampai aku mempermalukanmu sampai dua kali.’’ancam Bastian membuka suara.
‘’Aku tantang kamu untuk main basket!.’’
“Aku enggak tertarik.’’tolak Bastian. ia melangkahkan kakinya kembali. Namun Zacky tetap menghalangi.
“Kenapa? Takut?’’
“Aku enggak mau berurusan sama orang yang enggak kukenal kayak kamu.’’celutuknya sambil meninggalkan Zacky.
“Tunggu!’’Zacky menarik seragam Bastian. ‘’Aku belum selesai.’’
“Lepasin Bastian Zack!’’perintah Tere yang seketika datang karena menerima laporan dari anggota klubnya.
“Eh, kakak cantik.’’seketika nada bicara Zacky berubah. Ia melepaskan seragam Bastian dari tangannya.
“Kamu pergi dari sini.’’titahnya lagi. “Dia milikku!’’bela Tere.
Bastian terbelalak mendengar ucapan itu. Ia tidak mau mendengarkan perdebatan mereka lebih lanjut.
“Kalian semua enggak waras!’’sarkasnya sambil berlalu.
Jam pertama pun dimulai. Saat ini jam pelajaran olahraga, jam kesenangan para siswa. Semua tidak boleh di dalam ruangan dan harus beraktivitas di luar. Seusai mengganti pakaian, semua siswa keluar. Pak Jogi mengumpulkan mereka di tengah lapangan. Ada beberapa kelas juga yang mengikuti kegiatan olahraga.
“Kita hari ini akan melakukan jogging keluar sekolah. Jadi bapak berharap jangan ada yang terpencar atau sengaja belok ke tempat yang lain. Ketua kelas bantu bapak untuk pantau teman-teman kamu.’’titah Jogi setelah meberikan pemanasan kepada mereka. “Deren kamu juga bantu Aleksa untuk mengarahkan teman-teman kamu.’’
“Baik Pak.’’jawab mereka serempak.
Mereka pun berlari beriringan. Jogi juga mengikuti dari belakang. Bastian berlari di baris depan bersama yang lain. Deren dan Aleksa beriringan. Hal itu menyenangkan bagi Deren. Jantungnya berdegup lebih kencang. Ia tidak henti-hentinya mengawasi setiap Gerakan Aleksa. Sementara itu, justru aleksa sebaliknya. Ia mengamati teman sebangkunya. Matanya terus menatap punggung jangkung itu yang tak menoleh sedikitpun ke belakang.
Bastian menikmati udara pagi yang sejuk. Menghilangkan sedikit stresnya terhadap kejadian di dekat gerbang tadi. Sepanjang perjalanan ia hanya tersenyum tanpa sebab karena sangat menikmatinya.
“Kenapa Bas?’’tanya salah satu temannya.
“Engg-gak apa-apa.’’jawabnya dengan ngos-ngosan.
Mereka pun sampai di sekolah. Teman-teman Bastian belum pada sampai. Ia megistirahatkan kakinya, meluruskan kakinya di pinggir lapangan. Tere yang juga ada jam olahraga pada waktu itu mendekati Bastian dan memberikan minumannya.
“Minum?’’ujar Tere yang turut duduk dekat Bastian.
“Thanks.’’ucapnya sambil langsung meneguknya. “Kalian materi senam Kak?’’
“Iya. Jadi kami enggak keluar kayak kalian.’’ucapnya. “Jadi, di gerbang tadi kenapa kamu langsung kabur?’’tanyanya mengintimidasi.
“Udah bel.’’jawab Bastian singkat.
“Jadi secara enggak langsung kamu mengiyakan kalau kamu milikku?’’tantang Tere sambil tersenyum.
“Lah, sejak kapan?’’
“Sejak tadi pagi.’’
“Ehm. Pagi-pagi udah nyeleneh. Kamu sakit Kak?’’
“Iya sakau. Sakit karena engkau.’’
‘’Huft.’’Bastian menarik nafas dalam.
Tak lama rombongan teman-teman Bastian. Deren memapah Aleksa karena kelelahan. Fisik Aleksa memang tidak terbiasa untuk lari sejauh itu. Deren dan Theo membawanya ke UKS. Sementara yang lainnya kembali ke lapangan.
‘’Semuanya berkumpul.’’titah Jogi. “Silakan istirahat. Lima belas menit lagi kita akan kumpul di tempat ini lagi.’’
“Baik Pak.’’jawab mereka serempak.
Geng Demon Chaser kembali mendekati Bastian yang sedang istirahat. Bastian mengamati teman-temannya yang sedang asyik beolahraga. Pandangan ini merupakan kesukaannya.
“Bas?’’sapa Tere lagi.
“Apaan? Ganggu aja.’’celutuk Bastian kesal. Ia menggeser duduknya menjauhi mereka.
“Hm iya emang.’’cetus Bastian.
“Kelanjutan yang tadi…’’ucap Tere.
‘’Apa lagi?’’
‘’Kamu milikku.’’tegas Tere.
“Gelo.’’
Bastian melirik ke arah Tere yang memainkan rambutnya. Ia tak peduli dengan tanggapan Bastian.
“Selama kamu samaku, Zacky enggak akan ganggu kamu.’’
“Aku bukan anak kecil. Aku bisa jaga diriku sendiri.’’
“Dih Bas, terima aja kenapa sih.’’celutuk Clara menimpali. “Yakin deh, kamu aman sama kami.’’
“Aku yang enggak ngerasa aman sama kalian.’’
“Kita enggak ngapai-ngapai kamu kok. Kita cuma mau ngelindungi kamu.’’
“Kalian emangg gelo Kak. Aku cowok enggak perlu kalian lindungi.’’
“Bas, kamu memang enggak bisa peka dikit aja ya?’’cetus Tere kesal.
“Kak Ngel, lebih baik, bawa nih ketua kamu ke UKS, udah mulai enggak waras’’saran Bastian. “Ya udah ya, aku mau kumpul lagi disuruh Pak Jogi.’’ucap Bastian sambil meninggalkannya.
Ada waktu dua les lagi untuk mereka habiskan khusus jam olahraga. Jogi menyuruh mereka bermain dengan kelas lain yang sedang olahraga. Mereka melakukan pertandingan sepak bola putra. Kelas Bastian tanding dengan kelasnya Tere, sehingga kakak kelas itu semakin semangat menyaksikan Bastian dari pinggir lapangan.
‘’Siap.’’
Permainan pun dimulai. Seluruh siswi tidak ada yang boleh bergerak selain di daerah pinggiran lapangan. Jadi mau tidak mau mereka harus menyaksikan teman mereka untuk bermain. Maka sorak sorai terdengar luar biasa pagi itu. Banyak juga yang mengabadikan momen teman-teman mereka. Tere yang paling antusias akan hal itu. Di pinggir lapangan ia berfose dengan berbagai gaya untuk memposting di akun miliknya.
“Ter, awas bola.’’ujar Angel mengingatkan. Belum siap Angel ngomong.
Bugg
Tendangan keras dari Bastian tak sengaja mengenai Tere tepat di kepalanya. Dengan spontan pula ia terkulai lemas dan terjatuh. Seketika seluruh siswa mendekati Tere. Begitu juga dengan Bastian si penyebab masalah.
“Minggir.’’ucap Bastian kepada mereka. “Lah beneran pingsan kamu Ka?’’ujarnya tak percaya.
“Bastian! Segera bawa Tere ke UKS. Yang lain beri jalan untuk Bastian.’’titah Jogi. ‘’Ini enggak parah, nanti biar UKS yang ngurus! ‘’sambungnya lagi sembari membubarkan keramaian.
Bastian pun menggendong Tere dengan gaya Bridal Style.
’’Busyet berat banget.’’keluh Bastian. Setelah ia berhasil mengangkat Tere. Ia pun berlari kecil menuju UKS diiringi Angel dan Clara.
Jogi menyuruh siswa yang berada di lapangan untuk bermain kembali. Seluruh siswa heboh dengan kejadian ini. Sempat terdengar celutukan-celutukan yang menurut Bastian tak masuk akal.
“Wih, kesempatan dalam kesempitan terus!’’teriak siswa laki-laki yang tak menyukai Bastian.
“Menang banyak kamu Bas!’’
“Menang banyak jidatmu!’’balas Bastian kesal. ‘’Nyawa anak orang uda ntah ke mana kamu sempat pula bilang kayak gitu!’’ketus Bastian kesal
“Kak Bas, aku juga mau digendong kayak gitu!’’teriak siswi yang mengagumi.
“Bas, abis itu aku ya! Aku mau pingsan juga nih!’’
“Gelo!’’sarkas Bastian makin menjadi. Ia semakin mempercepat langkahnya. “Sadar Ter!’’ucapnya di antara omongannya. “Serius kamu berat banget!’’celutuknya lagi.
Sesampainya di UKS. Ia lihat di salah satu tempat tidurnya Aleksa juga terbaring lemah. Didampingi Deren di sampingnya. Mata Bastian dan Aleksa sempat beradu. Namun dengan segera mata Bastian beralih mencari penjaga UKS. Angel dan Clara nunggu di luar karena ruangan itu cukup sempit.
‘’Bu, tolong teman saya.’’ucapnya setelah meletakkan Tere di ranjang UKS.
“Kenapa?’’
“Enggak sengaja kena bola.’’jawabnya ngos-ngosan.
Tere masih terkulai lemas. Wanita itu segera melonggarkan ikat pinggang Tere dan membuka sedikit kerah bajunya.
“Tolong buka sepatunya.’’titah Ibu Laila kepadanya.
Bastian mengikuti. Ia membuka kedua sepatu Tere.
Laila memeriksa denyut nadi Tere. Ia juga memberikan minyak kayu putih di hidung Tere agar cepat sadar. Deren dan Aleksa menyaksikan kesibukan mereka dalam menolong pasien itu. Api cemburu meledak-ledak menyerang Aleksa. Wajahnya merah padam. Tatapannya sangat tajam. Ia bernafas lebih cepat dari sebelumnya.
‘’Tega banget kamu Bas, aku sakit enggak ada kamu jengukin. Tapi sama Tere kamu peduli banget. Sedikitpun enggak ada kamu tanyai tentang aku.’’batinnya dalam hati. Matanya berkaca menahahan tangis. Ia langsung memunggungi mereka dan menarik selimut yang ia kenakan langsung menutup ke sekujur tubuhnya.
‘’Aku di mana?’’tanya Tere yang sudah mulai sadar. Namun ia masih terlihat pucat.
“Menurut kamu di mana’’tanya Bastian balik.
“Kamu di UKS.’’jawab Laila. “Kepalanya sakit? Apa yang kamu rasakan?’’tanya Laila bertubi-tubi.
“Cuma pusing Bu.’’jawabnya singkat. Tere melirik Deren yang juga di dekatnya. Ia tidak terlalu mengenal Deren. Namun ia tahu siapa yang saat ini terbaring di samping laki-laki itu.
“Ya udah, istirahat dulu.’’ucap ibu Laila.
“Bu, kalau gitu saya sudah bisa balikkan?’’tanya Bastian yang hendak meninggalkan Tere.
“Kamu jaga dulu teman kamu ini. Saya mau keluar sebentar. Lagian udah tahu temannya masih sakit kenapa kamu tinggalin,. Nanti kalau udah enakan siapa yang mau ngantar dia?’’ucap Laila sambil meninggalkan mereka.
‘’Sini kamu Bas.’’perintah Tere untuk duduk di kursi sejajar dengan kepalanya.
“Huft.’’Bastian mendengus kesal.
“Tanggung jawab! Kamu yang buat aku pingsan! Seumur-umur aku di sekolah ini. Baru kali ini aku kamu permalukan.’’cetusnya walaupun ia masih terlihat lemah.
“Aku minta maaf. Enggak sengaja tadi. Lagian udah tau orang main, kakak sengaja membelakangi lapangan. Salah siapa?’’tantang Bastian. Namun sejujurnya ia masih merasa bersalah dengan yang baru saja terjadi.
“Dih, minta maafnya enggak tulus banget. Intinya tanggung jawab.’’ucapnya sambil tersenyum.
‘’Aku udah bertanggungjawab. Makanya aku masih di sini.’’ucapnya sambil mengambilkan air hangat untuk Tere. ‘’Nih minum.’’
“Bantuin.’’pinta Tere manja.
Bastian membantu Tere mengangkat kepalanya. Tere meminum air hangatnya dengan perlahan.
‘’Intinya kamu harus bertanggungjawab sampai aku pulih.’’titahnya lagi.
Bastian merotasikan matanya, sebagai bentuk tidak setuju. Ia menaikkan alisnya, memprotes celutukan Tere.
“Aku enggak mau tau.’’
“Hm’’gumam Bastian mengiyakan biar cepat.
“Udah enakan Leks?’’tanya Deren kepada Leksa, sehingga Tere menghentikan celotehannya. Bastian juga menutup mulutnya.
“Udah lumayan.’’jawab Aleksa dengan nada lemah. “Kayaknya aku juga udah bisa ke kelas Ren.’’
“Yakin udah kuat?’’tanya Deren tak percaya.
“Iya.’’
“Ya udah, kita ke kelas ya.’’Deren membantu Aleksa bergerak dari ranjangnya. Ia mengambil sepatu Aleksa dan membantunya untuk mengenakannya. Setelah bertegur sapa sebentar mereka pun pamit ke ruangan.
“Hati-hati Ren.’’ucap Bastian mengingatkan. ‘’Semoga cepat sembuh Leks.’’
Aleksa tak menyahut. Namun Tere menatap Bastian hangat.’’Samaku enggak dibilangin?’’goda Tere.
“DIh, itu kan karena ulahmu.’’cetus Bastian. “Bas, pulang nanti kamu harus antar aku.’’
“Lah, biasa juga supirmu antar jemput.’’
“Hm, kan tadi kubilang kamu harus apa.’’
“Iya-iya. Ya udah ya Kak, aku masuk kelas dulu. Setelah ini pelajaran seni. Aku enggak mau ngelewatin pelajaran ini.’’
‘’Hm, ya udah. Aku juga mau masuk. Anterin aku ke kelas.’’pintanya lagi. Tere bangkit dari pembaringannya. Dibantu oleh Bastian. Ia juga membantu Tere memakaikan sepatunya.
Mereka pun berjalan beriringan menuju kelas Tere. Lagi-lagi Bastian risih dengan pandangan yang tertuju kepadanya. Setelah memastikan Tere baik-baik saja. Ia pun masuk ke kelas.