Transfer Student

Transfer Student
Kompetisi



Suara sorak sorai mulai terdengar dalam gedung seni yang terletak pada pusat kota. Seluruh perwakilan siswa dari setiap sekolah sudah ada di sana bersama guru pembimbing mereka masing-masing. Gebyar Seni dan Bahasa dilaksanakan mulai hari ini hingga lusa. Banyak pertandingan dilombakan di sana mulai permainan gitar klasik, baca puisi, tari, teater, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan seni dan bahasa.


Siska hanya mengikuti satu mata lomba saja dikarenakan keterbatasan waktu untuk membimbing siswa lainnya. Sehingga mau tidak mau ia hanya melihat yang paling berpeluang untuk menang. Namun di gedung yang besar itu, sungguh mereka serasa paling minus di antaranya. Hanya ada Aleksa dan Bastian yang mewakili sekolahnya, tidak ada pendukung sama sekali karena guru mereka, Siska paling tidak suka kehebohan sehingga ia hanya membawa peserta saja.


Aleksa terlihat gelisah karena ia merasa terdiskriminasi dengan para pendukung sekolah lain. Ia tidak terlihat tak tenang, Siska menyadari akan hal itu. Ia merangkul Aleksa menenangkan. Gadis itu tersenyum. Mereka yang duduk berdampingan dan hanya terlihat sedikit membuatnya gugup tak terkira.


Ia melirik Bastian yang terlihat tenang, bahkan sesekali ia seperti menikmati keriuhan sana-sini para pendukung peserta lomba. Siska pamit sebentar karena harus daftar ulang para peserta.


“Ibu daftar ulang dulu ya. “pamitnya sambil meninggalkan mereka.


“Nih!”Bastian memberikan sebatang coklat.


Aleksa tak menyahut. Ia menerima saja, kemudian dibukanya coklat tersebut dan dilahapnya. Ia tersenyum.


“Mood booster ini.’’ucapnya. Seketika moodnya berubah. Ia mulai tenang.


“Hm, tapi enggak berantakan juga makannya.”Bastian menyeka ujung bibir Aleksa yang terdapat coklat dengan jarinya.


Gadis itu termangu, menyaksikan aksi Bastian yang selalu bisa membuatnya terdiam seribu bahasa.


Sorak sorai terdengar lagi menyelimuti gedung megah itu. Mereka semakin terbiasa, dengan hal itu. Ia duduk dengan santai. Tak lama segerombolan sekolah lain datang duduk dekat mereka. Para gadis yang mendukung sekolah Tunas Bangsa. Sekolah Ola sahabatnya. Bastian mengalihkan pandangannya ke gerombolan itu. Ia mencari sosok sahabatnya, bisanya juga kalau ada kehebohan seperti ini ia maju paling depan.


“Kak, Ola ikutan enggak?’’tanya Bastian tanpa basa-basi ke salah seorang siswi Tunas Bangsa itu.


“Tuh!’’tunjuknya ke arah dua bangku di belakang mereka.


“Ola!’’teriaknya tak peduli. “La!”Bastian melambaikan tangannya.


“Oii Bas?’’Ola langsung mendekati. Ia pindah bangku menyamai Bastian. “Kamu ikut lomba apa?”tanyanya sambil menyuruh temannya bergeser.


“Desain poster, nih bareng Aleksa.’’tunjuknya ke arah Aleksa yang tersenyum hangat.


“Leksa?’’Ola menyuruh Bastian pindah tempat. “Kalian cuma berdua?’’tanyanya setelah mereka cipika-cipiki.


“Iya La, kamu ngapain di sini?’’


“Dukung teman aku.’’


“Rame banget kalian La, ‘’celutuk Aleksa yang mengamati teman-teman Ola. “Mau tawuran?’’candanya sambil melahap coklatnya. “Nih mau?’’Aleksa memberikan coklatnya.


“Wah, mood booster banget Sa, tau aja kamu kalau kita butuh ginian.’’


Aleksa tertawa kecil, kehadiran Ola semakin mengurangi gugupnya. Ola mengikat rambutnya, sesekali ia ikut menyorain para peserta.


“Eh La, ini bukan pertandingan olahraga. Kamu buat mental mereka down aja!’’nasihat Bastian kepadanya.


“Biarin Bas, biar sekolah kami yang menang.”


“Dih, enggak sportif itu namanya La.’’


“Ya kan, coba cetak peluang.’’


“Itu curang!’’cetus Bastian lagi. “Kamu enggak tahu apa yang ia korbankan untuk berani tampil di depan banyak orang kayak gini.’’nasihat Bastian. Ola menghentikan teriakannya. Ola diam sejenak, menyetujui pernyataan Bastian.


“Udah ah Bas, kamu sekarang yang buat mentalku down!’’


“Hehe, kalau Bastian kan memang sering buat orang kayak gitu.’’sambung Aleksa.


“Ehm, Leks, kamu betah berteman sama nih anak?’’


“Ya gitu. Si paling ngeselin.’’katanya sambil tersenyum. “Si paling susah ditebak.’’


Ola merangkul leher Bastian. Hingga Bastian mengikut dekat Ola. Kepala mereka saling berlaga. Bastian meronta-ronta melakukan perlawanan ke Olea


“Bas, kamu enggak berubah ya, enggak pernah terus terang! Sikapmu itu bisa buat orang salah arti!’’


“Huh.”Bastian menarik nafas dalam, setelah ia bisa lepas dari cengkraman Ola. “Kamu apaan sih La!”


“Kamu itu kurang peka terhadap perasaan orang lain!”


“Noh, mewakili kali kamu La!’’ujar Aleksa mendukung Ola.


Bastian menatap kedua gadis di sampingnya kesal, karena saat ini Bastian serasa dipojokkan dengan tinggkah yang menurutnya normal.


“Kalian bersekutu nyerang aku ya?’’Bastian beranjak dari kursinnya memisahkan kedua gadis itu. Ia duduk di tengah mereka. “Udah skip, bahas yang lain aja.’’


“Kamu apaan sih Bas? Minggir!’’sarkas Ola keras. Bastian mengetuk dahi Ola. “Kamu itu yang enggak pernah berubah.”


Aleksa tertawa melihat tingkah mereka berdua, setidaknya kehadiran Ola dapat mengusir kegelisahannya.


Siska datang menghampiri, ia tersneyum melihat Bastian dan Aleksa masih di tempat, setidaknya siswa yang ia bawa tidak memalukan dirinya dan bisa diatur.


“Maaf ibu lama ya.’’ucapnya sambil duduk di samping Aleksa. “Leks, sepertinya kamu udah mulai menyesuaikan ya.’’pujinya, karena Aleksa terlihat santai saat ini.


“Hehe iya Bu, karena Ola di sini Bu.’’ucapnya sambil memperkenalkan. Ola memahami isyarat yang diberikan Aleksa kepadanya. Ola menyalam Siska dan memperkenalkan diri.


“Teman kamu Leksa?’’


“Iya bu, saya teman Aleksa dan Bastian.’’jawabnya ramah.


“Nomor urut kalian cukup jauh Bas.’’ucapnya sambil tertawa kecil, karena ia sempat mencabut nomor tadi. “Besok kalian baru tampil. Jadi kita tunggu aja sampai sesiapnya.”


“Hehe, ya udah Bu enggak apa-apa.’’


Mereka kembali menyaksikan kemeriahan di atas panggung. Aksi teater sedang ditunjukkan di sana. Seluruh adegan dimainkan secara sempurna sehingga memikau hati penonton.


“Bas, kemarin kulihat ada seorang gadis menunggumu di depan rumah. Pakai setelan berwarna coklat.’’


“Iya,. teman aku.”


“Teman kok rela nunggu kayak gitu?”


Aleksa memasang kuping mendengar percakapan itu. Samar-samar terdengar apa yang mereka perbincangkan.


“Iya, kalau kurang kerjaan kan emang gitu!’’celutuknya.


“Siapa Bas?’’sambung Aleksa ingin tahu. Ia sangat ingin tahu dan tidak bisa mengendalikan jadi pendengar yang baik.


“Dih, kalian ini pada kepo semua!”


“Hm, Tere ya?’’tebak Aleksa kepadanya.


Bastian tak menyahut. Ia fokus menatap ke depan. Mengabaikan kedua gadis itu. Sementara itu Siska guru mereka berpindah tempat dikarenakan ia bertemu dengan teman lamanya. Sementara itu Ola asyik dengan teman-temannya. Mereka berpindah tempat karena guru mereka menyuruh untuk menyatukan diri dengan yang lain, sehingga tinggallah mereka berdua di kursi panjang itu.


“Bas, libur kemarin kamu bareng Tere ya?”tanya Aleksa ingin tahu.


Bastian mengernyitkan alisnya. Pandanganya beralih kepada Aleksa yang menanti jawabannya.


“Kamu kemarin naik mobilnya Tere kan Bas?”lanjutnya lagi. Bastian masih tak menyahut. “Dih, kenapa kutanyakan langsung. Hm ini pasti karena suges dari Reyfan. Bastian marah enggak ya kalau kutanya kayak gini.“ucapnya dalam hati.


“Lah, kok bisa tahu?’’tanya Bastian balik.


“Aku enggak sengaja lihat kemarin.”Aleksa tersenyum tipis, wajahnya menunjukkan kekecewaan. “Enak banget ya jadi Tere.’’ia melanjtkan lagi omongannya.


Plok


Bastian mengetuk jidat Aleksa. Ia kesal karena Aleksa banyak Tanya.


‘’Jidat kamu ada nyamuk.”Bastian mengalihkan. “Noh, jadi tato nyamuk.’’Bastian mengambil nyamuk dan melekatannya di pipi Aleksa. “Jadi banyakkan. Heheh.’’


“Kamu rese Bas.’’ucapnya sambil menghapus di pipi dan keningnya. Bastian tertawa. “Leksa, ikutan teriak yuk!.”ajaknya mengikuti pendukung yang lain meneriaki teman-temannya untuk dukung.


“Kita enggak ada yang dukung, dan mau dukung siapa?’’Aleksa menahan senyum.


“Walaupun kita cuma berdua, kita jangan mau kalah.”ucapnya


“Dih, “


“Bas, ih.’’Aleksa menutup mulut Bastian. “Diem malu!’’ucapnya manja.


“Haha, pula kamu kaku kali hari ini Leks. Hm enggak semua harus dipikirin. “ucapnya setelah menyingkirkan tangan Aleksa dari mulutnya.


“Hm, ya kamu yang buat aku over thingking.’’terangnya.


Bastian pura-pura tak mendengar. “Giliran kita masih lama, keluar dulu yuk.”


“Mau ngapain?”


“Mainlah, ngapai juga kita di sini.”


“Motor-motoran aku jenuh di sini.”ucapnya.


“Nanti ibu Siska marah?”


“Enggak, giliran kita besok.’’Bastian bergerak dari bangkunya. Ia berjalan ke arah Siska, sempat ia berbisik untuk izin pulang.


“Iya udah, besok kita ke sini lagi ya Bas. Kalian enggak usah ke sekolah lagi.”


“Siap Bu.”


“Anterin Aleksa, kasian dia sendiri.”


“Baik Bu.”pamitnya. Ia langsung menggandeng tangan Aleksa, membimbingnya keluar dari gedung seni.


“Ini enggak apa-apa?’’


“Dih, ditanya lagi. Kayaknya kamu sekarang dalam mode lemot.’’Bastian memutar telinga Aleksa, menjadikannya kunci pergantian mode. “Oke, sekarang kamu di mode pintar, cerna sendiri.”ucapnnya sambil menaiki motor sportnya. “Naik”Bastian membuka footstep sisi kanan kirinya.


Aleksa memegang pundak Bastian. Dengan setengah melompat ia naiki motor sport itu. Bastian pun melaju. Menyisiri pusat kota, mencari jalan potongan untuk mencapai kafe bernuansa sungai. Kafe itu berada di pinggiran sungai dengan berbagai pemandangan yang disajikan.


Di depan kafe itu sudah disajikan pemandangan sawah yang hijau, pada sisi kanan dan kiri. Begitu masuk, kafe itu menyajikan ornamen-ornamen pedesaan. Suasananya juga sejuk dan nyaman. Mereka duduk berdampingan dengan kolam ikan hias.


“Bas, keren banget.’’pujinya sambil mendekati kolam ikan yang terletak di samping mejanya.


“Dih, sini dulu Leks, pesan makanannya.”titahnya sambil membuka menu makanan. Dengan cepat ia langsung memutuskan menu makanannya. Sementara Aleksa masih bingung memilih makanannya.


“Ehm, bingung. Udah ah, sama aja.’’ucapnya sambil tersenyum.


“Enggak jelas.’’ledek Bastian.


Aleksa menjulurkan lidahnya, mengejek Bastian. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke kolam ikan hias itu.


“Keren banget tempatnya Bas.”


Bastian tersenyum mengiyakan. “Kita juga boleh ngasih makan ikannya.”


“Serius, emang apa makanannya?”tanya Aleksa serius.


“K a m u !!”ledeknya sambil tertawa. “Kalau kamu nyebur di sana, ikannya pasti makan.”ujarnya sambil tertawa.


“Ih, jahat banget sih kamu Bas.”Aleksa mencubit tangan Bastian.


“Au.’’pekiknya kesakitan. “Noh kan, berubah jadi kucing.”ledeknya lagi.


“Kamu jahat tahu enggak Bas.”


“Iya, tahu. Semua juga bilang gitu.”


“Bas…”Aleksa mengambil handphonenya. “Kita foto yuk?’’ajaknya sambil mengklik kamera miliknya.


“Ogah.”


“Enggak aku publish, serius. Konsumsi pribadi. Untu kenang-kenangan.”katanya dengan raut wajah sedih. “Sekalian, aku mau kirim ke Reyfan, biar dia iri. Hahah”kekehnya


“Dih, kamu jadi kakak rese banget ya!”


“Cepetlah Bas.”Aleksa mengarahkan kameranya ke arah mereka berdua. “Ck, angelnya kurang cantik. Geser Bas.”Aleksa duduk di samping Bastian. Ia naikkan kameranya lagi. “Lihat kamera Bas!”


Bastian menurut. Ia tatap kameranya dengan tajam. “Senyum Bas!”


Ia menaikkan kameranya, dan mengklik beberapa kali, dengan berbagai pose. “Gantian dong Bas, kamu yang pegang kameranya.


Bastian menurut. Bastian mengulurkan tangan kirinya, kali ini Aleksa menyajikan berbagai gaya. “Hm, udah, aku capek. Otot wajahku pegal kamu suruh senyum terus.”ujarnya sambil meletakkan handphonenya di atas meja. Aleksa kembali duduk di hadapannya. Ia mengirimkan foto mereka ke Reyfan.


“Kapan-kapan kita ke sini lagi ya Bas?”


“Kalau kamu udah tinggi, kita ke sini lagi.’’ledeknya sambil melahap makanan yang sudah datang di meja mereka.


“Kan, body shaming.”Aleksa memanyunkan bibirnya seolah-olah ngambek.


“Hehe, udah gih makan.’’perintahnya sambil meneguk minumannya.


“Bas, coba baca menu dalam bahasa Inggris.’’suruhnya sambil tersenyum. Ia menyuap makanannya


“Menu”tutur Bastian biasa


“Salah, coba ulangi.”


“Menu.”


“Bukan Bas, salah.’’


“Jadi apa?”


“Me n U”ejanya.


“Maksudnya Leks?”Bastian menghentikan makananya.


“ME and YOU”Aleksa mengulangi ucapannya. “Aku dan kamu loh Bas, connect dikit napa.”


“Oh, hehe, “


“Gitu aja?”Aleksa kesal.


“Iya aku baru tahu.”


“Bas, ini tuh sejenis gombalan loh ih, responnya gitu amat.”


Bastian tertawa mendengar penjelasan Aleksa. “Yey, aku digombalin”tuturnya.


“Ih, ngapresiasi kayak gitu, “


“Salah lagi.”Bastian menyeka rambut Aleksa yang menggannggu ia makan. “Dari tadi kamu makan ribet amat sih Leks.


“Ya, apa gunanya kamu di situ?’’candanya sambil tersenyum, menutupi groginya. Ia tersipu dengan act to service Bastian.


“Hm.”Bastian meneguk air minumnya. Handphonenya berdering. Panggilan video dari Aleksa. “Nih, akibat tingkah jahil kamu!’’ia menunjukkan ponsel ke arah Aleksa yang langsung tertawa.


Bastian mengangkat teleponnya, terlihat jelas reyfan siap-siap menyerang Aleksa dengan kata-kata sarkasnya. Ia masih berada di sekolah, dan seprtinya masih di jam istirahat. Aleksa hanya tertawa saja ketika ia berhasil memancing Reyfan untuk julid.


Reyfan semakin menjadi mengolok-olok Aleksa. Ia tidak peduli betapa sudah memerahnya wajah Aleksa di depan Bastian.


“Enggak ngotak kamu Rey!’’Aleksa langsung memutuskan sambungan.


“Kamu pula ngajak perang sama Reyfan, ya jelas kamu yang kalah.’’


“Terus aja kamu belain dia. Pantes dia makin jianak sama kamu.’’ucapnya sambil menyeruput minuman miliknya.


Bastian menyugingkan bibrnya, ia hanya tersenyum melihat celotehan gadis itu. Terlihat jelas bahwa dirinya terlalu kesal kepada adiknya.


“Kita pulang yuk.”ajak Bastian yang mengabaikan cuitan Aleksa. DIlihatnya kafe dan resto itu semakin ramai pengunjungnya, ditambah lagi kebetulan waktu sudah menunjukkan waktu makan siang.