Transfer Student

Transfer Student
Si Paling Cari Perhatian



Pagi ini Matahari enggan bersinar, berselimut di balik gumpalan berwana keabu-abuan. Tak berani menampakkan diri, awan kelabu mendominasi terlalu dalam. Suara Guntur mulai terdengar bekejar-kejaran. Percikan cahaya juga berlari beriringan menambah keutuhan gejala hujan akan turun.


Seluruh siswa tampak ragu untuk bermain di lapangan. Bastian juga sudah menyiapkan pakaian olahraganya. Ia tidak mau meminjam lagi punya orang lain. Ia duduk di sudut lapangan. Dilihatnya meja panitia dipenuhi pemain yang hendak bertanding. Ia yakin Aleksa pasti dikerumuni para lelaki di sana.


Terlihat jelas gadis itu kewalahan menanggapi satu per satu komentar mereka. Bastian segera menuju ke Aleksa. Ia menggeserkan kerumunan itu untuk mengetahui apa yang terjadi. Di sana ada Zacky juga yang menggurui Aleksa sok tahu.


Lelaki itu menggubrak meja sekuatnya sehingga Aleksa terpekik ketakutan. Bagaimana tidak, ia dikerumuni teman laki-laki yang tak setuju atas keputusan panitia untuk tetap melanjutkan permainan walaupun cuaca mendukung.


Bastian mendorong Zacky dan teman-temannya menjauhi meja Aleksa. Zacky terlihat semakin emosi dengan kehadiran Bastian.


“Kalian kalau mau protes jangan sama Aleksa. Protes sana sama pembina OSIS.’’tutur Bastian tenang. “Ini keputusan pembina bukan ketua.’’terang Bastian lagi. Ia lihat gadisnya terkulai lemas di bangkunya.


“Enggak usah ikut campur kamu Bas!”


“Noh! Itu Pak Jogi, protes aja sana. Lagian kalian di sini kalian membuang waktu. Kalau tadi kalian main, harusnya kan sudah hampir selesai.’’nasihatnya tenang.


“Banyak bacot kamu Bas,’’hardik Zacky menarik kerah baju Bastian.


Bastian membalasnya. Ia menarik kerah baju Zacky dengan kedua tangannya. “Enggak tahu malu banget ya. Udah kalah, songong lagi.’’pancing Bastian. Ia menghentakkan tubuh Zacky ke dinding dengan keras. “Jangan pikir aku sudah memaafkan ulahmu kemarin!’’sentaknya. Bastian kembali menghentakkan Zacky ke dinding dengan tenaga kuatnya. “Berani kali kamu bentak-bentak perempuan! Salah Aleksa apa memangnya?’’


“Udah Bas!’’lerai salah satu temannya.


“Nih anak harus dikasih pelajaran. Masih punya jabatan sebagai kapten tim aja belagu!’’oceh Bastian kesal.


“Bas!’’Raka menarik Bastian menjauhi Zacky. “Kalian bubar, atau tidak boleh melanjutkan pertandingan lagi.”


Aleksa masih berdiam diri di sana. Ia masih kesal dengan Zacky. Namun ia tetap seolah-olah professional dengan tingkah mereka. Ingin sekali rasanya ia meminta Bastian untuk menemaninya menghadapi kelas-kelas lainnya. Namun tidak mungkin, karena Aleksa tidak mau hubungan mereka terlalu mencolok di hadapan publik.


Bastian menyadari bahwa Aleksa sudah pada titik jenuhnya. Masih lekat di pikirannya, bahwa Aleksa mati-matian menyiapkan untuk hari ini. Ia rela membagi waktu luang dan pikirannya untuk acara hari ini.


Raka menyuruh panitia lain untuk menggantikan Aleksa. Raka menyarankan untuk melihat bazar, dan melakukan observasi di sana, memilih kelas siapa yang terbaik dalam menyajikan tema yang ditentukan. Bersama dengan temannya yang lain Aleksa menyetujui, sementara itu Bastian kembali ke lapangan. Mata Zacky masih terlihat sangar ingin memangsa Bastian. Namun ia tidak peduli.


Mereka bertanding, kali ini pertandingan futsal. Bastian masih ogah-ogahan untuk berpartisipasi, rasanya ia ingin sekali merebahkan dirinya. Beberapa hari ini ia kurang istirahat. Dilihatnya Theo dan Deren sibuk meniup peluit sana-sini.


“Gara-gara dua bocah ini, aku jadi kerepotan.’’gerutunya kesal. “Aleksa aman enggak sih di sana? Tere kan sibuk bazar. Hem, apa aku jumpai aja ya?’’gumam Bastian dalam hati.


Ada keraguan menemui Aleksa di tempat seperti ini. Ia juga tidak mau mengganggu tugas gadisnya. Akhirnya Bastian berdiam diri di tempat menyaksikan pertandingan. Suara riuh terus terdengar di sana sini, saling bersahutan mendukung banyak pemain.


Banyak yang mengabadikan para pemain, dan menandai di media sosial OSIS. Apalagi ketika Bastian bermain, mereka berlomba-lomba memvideokan permainan Bastian dan mentag ke ig nya OSIS. Bukan permainan Bastian yang mereka perhatikan melainkan pesona Bastian yang dapat mendebarkan jantung siswi di sekolahnya.


Bastian, pria yang humble, bahkan ketika ia sudah tahu bahwa banyak yang mengagumi dirinya, ia tetap biasa saja. Cenderung tidak peduli, tetapi tetap ramah kepada semua orang.


Aleksa membuka media sosial OSIS, dilihatnya banyak pesan masuk yang menandai akun itu. Hampir semua isinya tentang Bastian. Berbagai pose saat main futsal, pose saat dia duduk termenung, bahkan saat dia tadi membela Aleksa pun terpampang di sana. Dengan sabar Aleksa merepost segala bentuk pesan itu, walau terlintas rasa jengkel di dadanya. Tetapi entah mengapa, ia tak tertarik sedikit pun untuk melihat Bastian bermain bola, karena memang sedari awal Aleksa tidak menyukai permainan itu.


“Kita ke stand kak Tere aja ya guys, kalau kita belanja di sana kita dapat gratisan foto bareng baner Bastian di sana.’’celutuk salah satu siswa yang lewat dari hadapannya. “Kita tag aja Bastian, biar nanti dia follow kita balik.’’ujarnya dengan semangat.


Perkataan itu membuat Aleksa mencari-cari stand Tere dengan cepatnya. Benar kata mereka, bahwa ia memasang baner yang berisi foto Bastian di sana. Tere juga mencantumkan alamat ig Bastian di sana, sedangkan dirinya tidak tahu bahwa Bastian memiliki Instagram. Dengan mengepitkan kedua matanya, ia mencoba mengunjungi alamat akun itu mencari tahu. Ternyata benar ada nama Bastian di sana, dan postingan-postingan foto dirinya. Ia menscroll sampai postingan terakhir, memastikan kebenaran akun itu dengan perasaan yang campur aduk.


“Setahu aku, nih anak enggak punya akun media sosial, hm,selain aplikasi pengirim pesan, atau aku yang enggak tahu ya?’’gumamnya sambil mengetuk-ngetuk jemarinya di pahanya. Ia terlihat antusias mencari tahu akun itu. “Hm, aku mau tanya langsung sama Bastian.’’ujarnya tak sabaran.


Aleksa pun bergegas mencari sosok yang ia harapkan kepastiannya. Namun ia tak lagi menemukan Bastian di tengah lapangan. Tim selanjutnya yang bermain di sana.


“Nih anak ke mana sih?’’gerutunya lagi. Aleksa menghubungi lelaki itu, tetapi tak satu pun teleponnya tersambung ke sana.


“Kenapa Al?’’Bastian mengagetkannya dari belakang. Ia membawa dua minuman dingin di tangannya.


“Ke mana aja sih Bas? Ponsel kamu mana?’’pekik Aleksa. Ia menepi dari keramaian. Bastian mengikuti. Mereka duduk di emperan kelas.


“Ganti baju Al.’’Bastian menyodorkan minumannya botol yang telah dibukanya.


Gadis itu menerimanya. Ia mulai membasahi tenggorokannya. Ia tersenyum kecut.


“Bas, kamu udah lihat stand Tere?’’


“Belum.’’jawab Bastian singkat. Matanya masih tertuju ke arah lapangan.


“Dia buat baner fotomu.’’cuitnya dengan raut wajah sedih.


“Dih, enggak waras. Aku harus minta bagianku, karena dia udah jual wajahku.’’


Aleksa menoleh ke arah Bastian.’’Jadi kamu mau jumpai Tere?’’


“Ya enggaklah, malas cari masalah sama bocah.’’Bastian tersenyum. Ia menjaga perasaan Aleksa. Sebenarnya, sejak pagi tadi Bastian sudah mengetahui bahwa di salah satu stand terpampang wajahnya. Bahkan media sosialnya juga tercantum di sana.


“Ini akun kamu Bas?’’tanya Aleksa menyerahkan ponselnya.


“Aku cuma punya akun game Al. Selebihnya enggak punya.’’jawabnya menenangkan hati Aleksa. “Nih, kalaupun ada aku pakai akun fake.’’Bastian menunjukkan nama akunnya yang benama Wolf. Tanpa foto profil.


“Hm.’’Aleksa tersenyum. “Jadi dia buat akun untukmu?’’


“Ya mana aku tahu Al.”


Bel sekolah pun berbunyi. Mereka bergegas meninggalkan sekolah lebih cepat. Setelah mengantar Aleksa, Bastian pun pamit pulang. Hari ini ia ingin mengistirahatkan diri lebih cepat.