Transfer Student

Transfer Student
Hujan



“Helm kamu ketinggalan.’’ujar Tere menyerahkan helm kepada Bastian.


“Iya tahu. Udah cepat naik.’’titah Bastian.


Tere menurut. Kali ini ia duduk menghadap depan. Motor pun melaju. Mereka janjian untuk pergi bersama bukan karena janji bersama melainkan titah sepihak.Tere beralasan dengan masih kurang fit karena terkena bola dari Bastian kemarin. Bastian yang sepenuhnya juga tidak merasa benar, akhirnya hanya menurut.


Ketika di tengah perjalanan, hujan pun turun dengan derasnya, sehingga Bastian menepikan motornya di emperan toko.


“Gila deras banget hujannya. Hm. Kan bener mending aku di rumah aja tadi.’’keluh Bastian sambil memperhatikan jalanan yang basah.


“Dih, niatnya tadi memang enggak mau ke sekolah?’’tanya Tere ingin tahu.


Bastian mengangguk.”Lagi kurang fit sih. Cuma karena ada bocil bolak-balik nelponin, chat, pagi-pagi. Jadi enggak bisa tidur lagi. Hm.’’sindir Bastian sambil melirik Tere kesal, karena sedari pukul enam lewat dia terus menghubungi Bastian untuk menjemputnya.


“Haha. Ya maaf. Soalnya aku takut, kamu lari dari tanggung jawab.’’


“Kamu bukan hamil Tereee! Cuma kena bola!’’cetus Bastian. Ia mengerutkan bibirnya kesal.


Lagi-lagi Tere tertawa mendengar celutukan Bastian. Ia berhasil dekat dengan Bastian walau hanya selangkah.


“Dih, jangan nyolot gitu dong. Aku kan lagi enggak sehat sih Bas. ‘’


“Hm. Gimana nih ? Mau diterobos?’’tanyanya sambil memperhatikan jalanan.


“Kamu bawa jas hujan?’’


“Iya.’’Bastian mengeluarkan jas hujannya. Kemudian memberikannya kepada Tere. “Makanya nona, jangan ribet. Udah bagusan naik mobil, diantar supir. Sok-sokan naik motor.’’gerutu Bastian sambil memakai jas hujannya.


“Hm, kan mau ngerasakan sensasi yang beda sih Bas.’’jawabnya tenang.


“Iya, kamu juga emang beda.’’


Tere tersenyum,’’Iya dong beda. Makanya kamu suka kan?’’


“Huft.’’Bastian menghela nafas panjang. Lagi-lagi Tere tertawa melihat ekspresi Bastian. “Udah yuk. Berangkat.’’


Sesampainya di sekolah, sekolah sepi tidak seperti biasanya. Hujan mampu menertibkan siswa yang berkeliaran. Hanya terlihat orang-orang yang baru sampai saja di parkiran, sembari mengeringkan tubuh mereka dengan handuk.


“Thanks Bas!’’ucap Tere ketika Bastian memberikan handuk kecilnya. Bastian memang selalu membawa handuk kecil di tasnya.


“Okeh Bocil.’’ledek Bastian. Diperhatikannya beberapa titik seragam Tere agak sedikit basah. ia memakaikan jaketnya di bahu Bastian. “Nih, pakai jaketku. Biar enggak nerawang!’’saran Bastian.


“Dih, jadi kamu ngelihat…’’Tere tak melanjutkan ucapannya. Ia segera menutupi seluruh tubuhnya dengan tangannya.


“Dih, gelo kamu. Kamu piikir aku cowok apaan?’’dengus Bastian kesal. “Makanya nona, kalau enggak terbiasa naik motor enggak usah coba-coba. Dasar Bocil!’’hardik Bastian sambil meningagalkannya.


“Ya ellah. Sayang.’’ledek Tere senang. Ia merasa bahagia karena mendapat perhatian lebih. Beberapa anggotanya tadi sempat menyaksikan kemesraan mereka. Namun Bastian menganggap hal itu, hal yang wajar. Ia menganggap semua hanya sebatas teman yang perlu mendapat perlakuan yang sama.


Bastian tidak langsung masuk ke kelas. Ia membelok ke ruang UKS. Hujan masih turun dengan derasnya, ia berinisiatif untuk istirahat di kelas. Jika hujan seperti ini guru-guru mereka pun pastinya terlambat. Ia langsung mengambil ranjang yang di pojok agar tidak terganggu. Kebetulan penjaga UKS juga terlambat. Bastian pun dengan segera merebahkan tubuhnya di sana. Menyelimuti dirinya dengan sehelai selimut.


Benar saja hujan semakin deras, keputusan yang tepat istirahat di sana. Bastian akhirnya tertidur. Sementara itu Aleksa menantikan kehadiran Bastian. Kepergian Bastian dengan adiknya Reyfan memberikan pertanyan besar di kepalanya. Tadi malam, setelah Reyfan memberikan tugas mereka kepada Aleksa, tak sedikitpun keluar dari mulut Reyfan apa yang mereka lakukan di luar.


Suasana riuh masih menggeluti ruang kelas. Kegelisahan di hati Aleksa semakin menjadi. Ia terus menatap ke arah pintu kelas. Menanti sosok yang dikagumi. Ternyata Bastian tak juga menampakkan dirinya di sekolah. Aleksa gelisah, namun ia tak berani menanyakan kabarnya.


“Aleksa, Bastian silakan ke ruang guru.’’pusat informasi memanggil nama itu untuk kedua kalinya.


Dengan malas-malasan Aleksa keluar kelas menuju ruang guru. Hujan yang tak kunjung berhenti membuat seluruh siswa malas keluar kelas. Mereka sibuk sendiri di kelas dengan berbagai aktivitas. Aleksa memasuki kantor guru. Didapatinya ibu Siska sudah menantinya di sana.


“Mana Bastian?’’tanya Siska ingin tahu.


“Kayakny Bastian enggak hadir Bu.’’jawab Aleksa.


“Tadi ibu lihat dia ada di parkiran.’’jelas Siska memberikan informasi. “Di kelas enggak ada?’’


Aleksa menggeleng.


“Sebentar, biar ibu suruh Tere ke sini.’’


Degg


“Apa hubungannya sama Tere?’’gumam Aleksa dalam hati.


“Ada apa ya Bu?’’tanya Tere ketika ia berhadapan langsung dengan Siska. Kelas Tere cukup dekat denga ruang guru, sehingga dalam waktu yang singkat ia sudah dapat sampai di ruang guru dengan cepat.


“Tadi kamu lihat Bastiankan?’’tanya Siska to the point.


“Iya Bu. Bastian tadi pergi bareng aku.’’ucap Tere jujur memancing emosi Aleksa.


“Nah, kan berarti ibu enggak salah. Sekarang dia di mana?’’l


“Bukannya di kelas Bu?’’tanya Tere balik.


“Enggak ada.’’jawab Aleksa singkat.


“Hm’’Tere berdeham. Ia mengambil ponselnya. Kemudian mengetik perintah di grup chat.


Bebs, temukan Bastian sekarang!!


Titahnya tanpa basa-basi. “Bentar ya Bu, biar Tere coba tanya ke teman-teman.’’ucapnya sambil terus memainkan jemarinya di ponsel pintar miliknya.


Aleksa terlihat acuh tak acuh, tetapi sebenarnya ia menahan kecemburuan yang luar biasa di dalam sana. Sedikit pun ia tak mau melihat ke arah Tere. Bukan karena takut, tetapi malas ribut. Apalagi di depan guru favoritnya.


“Ehm, sabar ya Bu.’’ucap Tere lagi.


Sementara itu, Clara dan Angel menyisiri daerah UKS yang cukup jauh dari kelas mereka. Angel mengintip sekilas ruang UKS, seperti tidak ada orang hingga didapatinya seseorang tidur dengan lelapnya dengan kedua tangan sebagai penopang kepalanya. Wajahnya terlihat sangat letih.


Clara sempat mengabadikan wajah polos itu yang lagi melepaskan kepenatannya. Wajahnya terlihat lugu tidak seperti biasanya yang selalu nyolot di hadapan mereka.


“Bas,’’Angel mencoba membangunkan. “Bangun.’’


Dengan seketika Bastian terbangun dari tidurnya. Ia membuka matanya perlahan, menatap kedua gadis yang sedang mengamatinya sekarang.


“Apaan sih Kak? Ganggu aja.’’keluhnya sambil mengucek kedua bola matanya. Ia kembali menutup matanya.


“Kamu dicariin sama ibu Siska.”terang Angel singkat.


“Hm.’’Bastian mendeham. Ia meregangkan ototnya yang kaku.


“Bangun Bas,’’pinta Clara. “Cepetan yuk cuci mukanya.’’ajak Clara.


Bastian menurut. Ia mencuci mukanya dan membasahi rambutnya, kemudian ia duduk kembali. “Bentar, aku masih ngumpulin nyawa.’’ujarnya sambil meleok-leokkan lehernya.


“Nih anak gemesin banget sih.”keluh Angel dalam hati. Auranya enggak bisa redup bentar aja.”Hm.’’dengusnya kesal.


“Ngapain lihatin aku kayak gitu Kak?’’tanya Bastian sambil menggendong tas ranselnya keluar. “Makasih infonya. Ibu itu di mana?’’teriaknya.


“Ruang guru.’’jawab mereka serempak. Clara pun memberitahkan kepada Tere bahwa Bastian sudah menuju ke sana.


“Bastian sedang kemari Bu.’’ujar Tere sembari tersenyum.


“Hehe iya Bu. Kami maklum. Bahkan dengan senang hati berharap hujannya enggak reda.’’celutuk Tere sambil merapikan rambutnya.


“Maaf Bu. ‘’ucap Bastian yang langsung duduk di hadapan bu Siska tanpa menyapa dua gadis yang ada di sekitarnya.


“Dari mana Bas?’’


‘’UKS Bu.’’terang Bastian singkat.


“Kamu sakit?’’tanya Siska lagi.


“Enggak Bu, cuma istirahat aja.’’ucap Bastian sambil tersenyum tipis.


“Bu, saya permisi ya.’’ucap Tere sambil bergegas keluar.


Sementara itu seperti biasa Bastian tetap bermain di atas roda putar yang ia duduki. Bastian mengamati ibu Siska yang memberikan pengarahan kepada mereka. Siska akan mengirimkan karya tersebut hari ini.


“Baiklah ibu rasa kalian sudah bisa kembali ke kelas. Persiapkan diri kalian ya. Usahakan jaga kesehatan.’’nasihat ibu Siska.


“Baik Bu.’’ucap mereka serempak.


Bastian pun mengikuti langkah Aleksa yang berjalan keluar. Bastian berusaha untuk menjaga jarak dengan Aleksa. Kata ‘brengsek’ masih terngiang-ngiang di kepalanya. Ada perasaan kesal yang ia rasakan. Walaupun pada dasarnya ia sering dijuluki seperti itu.


“Hm, “Aleksa bergumam. Tepat di tengah koridor sekolah ia langsung membalikkan badan sehingga langkah Bastian spontan berhenti.


Bastian menatapnya heran.


“Tadi malam kenapa kamu bisa pergi bareng Reyfan?’’tanya Aleksa ingin tahu.


“Ya mana aku tahu.’’jawab Bastian singkat.


“Hm. Kok bisa?’’tanyanya lagi.


“Ntah kok bisa.’’ucap Bastian sambil mengulang ucapan Aleksa.


“Enggak lucu Bas.’’


“Emang. ‘’Jawab Bastian singkat. Ia meninggalkan Aleksa.


Aleksa menyelaraskan langkah dengan Bastian. “Ehm, kayaknya kamu punya hobi baru ya Bas.’’ucap Aleksa lagi. Bastian tidak menanggapi. “Hm,’’dengus Aleksa kesal.”Hobi kamu luar biasa.’’celutuknya lagi.


“Hm.’’


“Sombong banget sih.’’celutuk Aleksa kesal.


“Iya, sombong dan brengsek!’’tutur Bastian sambil menahan senyum. “Selain sombong apalagi?’’tantang Bastian sambil menghentikan langkahnya. “Mau ngelabelin apa lagi?’’


“Dih, galak banget sih Bas.’’


“Label apa lagi yang mau kamu berikan?’’tanyanya lagi. “Leksa, jangan kebiasaan menyimpulkan sesuatu itu dari sudut pandang kamu aja.’’ucapnya kesal. “Ngatain orang brengsek, sombong, hm. Labelnya enggak ada yang bagus.’’dengus Bastian sambil meninggalkan gadis berlesung pipi itu.


Bastian langsung duduk di bangkunya. Ia ambil handphonenya kemudian memainkan gamenya. Bertepatan dengan itu Reyfan juga dalam permainan yang sama sehingga mereka bermain bersama. Reyfan mengajak Bastian untuk main lagi nanti malam di luar. Bastian setuju. Mereka berjanji untuk nongkrong di tempat yang sama. Aleksa mendekatkan bangkunya ke arah Bastian.


“Jadi kamu marah nih ceritanya Bas?”


“Kesal, bukan marah. Marah itu definisi yang berbeda Aleksa. Kamu itu kebiasaan melabeli orang dengan kata-kata enggak baik.’’


“Apa karena kata brengsek?’’ledek Aleksa sembari merapatkan wajahnya. Ia menahan senyumnya.


“Hm, diulangi lagi. Kamu itu ketua osis, ketua kelas. Ngomongnya ngasal aja. Tau definisi brengsek apa?’’Bastian menghentikan permainan yang ada di tangannya. Dia log out gitu aja. Kemudian menatap Aleksa tajam.


Aleksa tersenyum manis.


“Emang apa?’’


Plok


Bastian mengetuk jidat Aleksa. “Aduh sakit Bas.’’Aleksa mengelus jidatnya.


“Yang pertama, brengsek itu definisinya tidak becus.’’


Plok


Bastian kembali mengetuk jidat Aleksa.


“Yang kedua, kacau, kurang tertib!’’terangnya dengan serius. “Kamu melabeli aku dengan kata itu. Emang aku terlihat seperti itu Leksa?’’


Aleksa tertawa. Ia tak mampu menahan dirinya melihat tingkah Bastian yang dirasanya lucu tak terkira. “Oh, jadi karena itu kamu cuekin aku?’’ledeknya lagi.


“Dih, bukan nyuekin, ngehindari kamu.’’


“Hm, tega banget sih!’’


“Iya, sampai kamu ngerti atas kesalahan kamu.’’tuturnya.


“Harusnya kalau salah dikasih tau, jangan dihindarin.’’nasihat Aleksa sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.


“Hm. Ini kan udah dikasih tau. Yang kamu bilang benar. Lagian kalau kamu dihindarin emang bisa? Secara kita teman sebangku.’’ucap Bastian sambil mengalihkan pandangannya. Tak sengaja matanya beradu dengan Deren, sehingga ia menjauhkan dirinya dengan Aleksa, takut Deren beranggapan berbeda dengannya. Sejenak ia kikuk, lupa, bahwa Deren sedari tadi memperhatikan mereka.


“Teman sebangku? Dih, jadi karena teman sebangku makanya kamu enggak bisa neghindarin?’’tanya Aleksa lagi ingin tahu jawaban Bastian.


“Skip aja Leksa. Bawel banget sih!’’


‘’Hm.’’


Bel pun berbunyi, menandakan pulang sekolah. Bastian mengemasi barangnya kemudian meninggalkan kelas secepat mungkin. Ia setengah berlari menuju ke parkiran untuk menghindari Tere. Nyatanya Tere lebih cerdik dari yang ia kira. Tere sudah duluan di sana.


“Huft, nih anak di mana-mana ada ya.’’cetusnya kesal.


“Ayok pulang Bas.’’


Bastian menggaruk kepalanya tak gatal. Ia terlihat kesal dengan Tere yang terus menghantuinya. Sementara itu justru Tere sebaliknya, semakin ia melihat Batsian menunjukkan ekspresi seperti itu, semakin menyukainya.


Bastian menstarter motornya. Dengan sigap Tere langsung naik ke motor Bastian. Ia melajukan motornya. Hujan yang sempat mengguyur tanpa henti, membuat jalanan becek, sehingga Bastian harus hati-hati.


“Makan dulu yuk Bas,’’ajak Tere di tengah perjalanan.


“Aku udah kenyang.’’


“Kalau gitu temenin aku makan yuk.’’pinta Tere tak menyerah.


“Ogah.’’


“Hm, yuklah Bas, aku traktir.’’


“Enggak. Aku mau cepat. Sore latihan lagi. Biar sempat istirahat.’’


Tere terlhat kesal karena Bastian menolak ajakannya. Mereka pun sampai, Bastian langsung pamit balik.