
Tepat pukul 13.21, Bastian terbangun dari tidurnya. Dilihatnya jam dinding yang terpampang di kamarnya. Ia cukup lama mengistirahatkan tubuhnya. Matanya masih terasa berat. Lagi-lagi ponselnya masih berdering. Sudah banyak panggilan yang tertera di sana. Bastian mengabaikannya. Ia menarik nafas dalam. Jarak lima belas menit Reyfan menelponnya. Bastian menjawab teleponnya.
“Bang, di mana?’’tanya Reyfan dari sebrang sana.
“Kenapa Rey?’’jawab Bastian dengan suara parau. Ia masih menelentangkan tubuhnya keletihan.
“Enggak di rumah kamu Bang? Dih, padahal aku mau main.’’
“Enggak Rey.”
Aleksa langsung menyerobot handphone Reyfan tanpa persetujuan, dan menjauh dari adiknya agar Reyfan tidak mendegar pembicaraannya.
“Tega banget sih Bas, enggak jawab telepon aku.’’keluhnya kesal. “Di mana kamu yang?’’tanyanya mencoba menetralisir dirinya. Sebenarnya ia sudah ingin marah kepada Bastian.Ia sudah menghubungi Astri tadi pagi tapi wanita itu menegaskan Bastian tidak ada sejak ia datang untuk membersihkan rumah itu.
“Hm, di rumah.’’
“Dih, bohong! Di mana yang? Jujurlah ’’tanyanya sekali lagi. Ia ingin sekali meluapkan emosinya saat ini.
“Emang kalau aku udah bicara jujur, kamu mau dengarin aku? Percaya samaku?’’ujarnya dengan tenang. Bastian menyindir Aleksa yang tak mau mendengarkan dirinya.
“Maaf sayang. Aku minta maaf ya Sayang.’’sesal Aleksa. Ia menarik nafas dalam. “Maafin aku Bas.’’ucapnya sekali lagi. Aleksa menahan tangis dari sebrang sana.
“Hm’’gumam Bastian.
“Aku kangen sama kamu.’’cuitnya dari sana. “Please stop silent treatmentnya Bas.’’
Bastian menghela nafas panjang. Pernyataan terakhir menunjukkan kerendahan hati Aleksa. Ia tersenyum tipis mendengarnya.
“Nyalain videonya Bas? Aku pengen tahu kamu di mana.’’
“Di rumah Al.’’tolaknya. Bastian menelungkupkan tubuhnya. Ia buat mode speaker.
“Nyalain.’’titahnya. “Kamu belum maafin aku ya Bas, hmm?’’rengeknya manja. “Tadi pagi aku hampir terlambat nungguin kamu.’’
“Astaga’’pekiknya. Ia lupa mengabari Aleksa, bahwa ia tidak bisa pergi bersamanya. “Aduh Al, aku minta maaf. Aku beneran lupa ngabarin kamu.’’ujarnya memecah kekesalannya. Seketika lelaki yang lagi mode dingin itu merubah nada bicara. “Maafin aku.’’
Aleksa tersenyum dari sebrang sana. Akhirnya ia bisa mencari topik yang tepat untuk meruntuhkan hati kekasihnya.
“Nyalain videonya Bas, biar aku maafin.”
Bastian menurut. Ia membuka videonya, Aleksa masih mengenakan seragam sekolah dari balik sana. Ia menggembungkan kedua pipinya. Mengernyitkan kedua alisnya.
“Di mana Bas? Hm?’’tanyanya curiga. Ia mendekatkan wajahnya ke kamera. “Ini di mana?’’
“Di rumah Mama.’’
“Lah, kamu ke sana?”
Bastian mengganggukkan kepalanya. Ia duduk menghadap kamera dengan bersila.
“Kapan pulang?’’
Bastian menaikkan pundaknya menandakan tidak tahu kapan pulang.
“Jadi kamu mau biarin aku sendiri sampai kapan Bas?’’tanyanya lagi ingin tahu. “Enggak pamit. Aku nyariin kayak orang gila Bas.’’
Bastian tersenyum. “Iya Maaf. Mungkin beberapa hari di sini.’’
“Tian, makan dulu.’’ucap ibu Diana yang membuka kamar anaknya. Dilihatnya ia sedang confference dengan Aleksa. Diana langsung mengambil ponsel anaknya. “Hai sayang, apa kabar?’’
Aleksa kikuk, karena berhadapan dengan ibunda Bastian. “Kabar baik Tan.’’
“Loh, Mama bukan Tante”ujarnya ramah. “Hm, makasih kamu udah jagain Tian di sana ya Nak. Nih anak sudah ditebak jalan pikiranya Leksa.’’adu Diana sambil tersenyum.
“Hm, kalau itu Aleksa setuju Ma. Tiba-tiba udah sampai sana, enggak ngerti Ma.”timpanya sambil tersenyum.”
Bastian merebahkan tubuhnya kembali. Ia meringkuk, tak mempedulikan mereka. Diana dengan asyiknya menceritakan mengapa Bastian bisa sampai di sana, begitu juga dengan Aleksa yang juga menceritakan bagaimana ia tidak tahu bahwa Bastian sudah sampai di sana padahal masih hari sekolah.
Tak lama dia meneriaki Bastian. “Tian, ini siapa Tere? Nelponin terus. Ganggu Mama ngobrol.’’keluhnya kesal.
“Udah biarin aja Ma.’’teriak Bastian dari kamar.
Raut wajah Aleksa berubah. Diana menyadari akan hal itu. Ia mengalihkan pembicaraannya membalikkan kembali mood gadis itu. Bastian keluar dari kamarnya dengan rambut acak-acakan. Ia lihat Mamanya sibuk dengan pekerjaannya sebagai desainer clothing line. Sembari mengobrol ia juga menggambar.
Bastian duduk di samping wanita itu. “Mama udah makan?’’tanyanya heran. Aleksa juga mendengar perhatian itu dalam bentuk pertanyaan. Wanita itu mengoyangkan tangannya menandakan belum. “Aku ambilin ya Ma.’’ujarnya sambil ke dapur. Aleksa tersenyum, karena lelaki itu perhatian kepada mamanya.
“Enggak usah kagum gitu Aleksa. Tian memang gitu.’’ucapnya sambil tertawa.
“Ehm, iya Ma, cuma jarang aja lihat anak laki-laki kayak gitu Ma.’’
Diana tersenyum. Aleksa sangat santun kepadanya. Bahkan dengan dia mengbrol dengan gadis itu, wanita itu bisa tahu bagaimana tingkah laku anaknya di sekolah.
“Makan dulu Ma.’’Bastian memberikan sepiring nasi beserta lauk pauknya. Ia juga menyodorkan sebotol minum. “Dimakan dulu Ma.’’Bastian mengambil handphonenya, dan duduk di ruang tv.
“Aku enggak diambilin makannya Bas?’’tanyanya meledek manja.
“Rey, ambilin tuh makanan kakak pertama.’’teriaknya sambil tersenyum. Lagi-lagi Tere melakukan panggilan kepada Bastian, tetapi Bastian tetap mengabaikannya. Ia mendengus kesal. “Ya udah ya Al, nanti disambung lagi.’’ujarnya langsung memutuskan sambungannya tanpa pamit dari Aleksa.
Diana menyelesaikan makannya, dan menemui Bastian. Ia sudah berpakaian rapi. “Tian, ayo temani Mama keluar.’’ajak Diana tanpa memberitahukan tujuannya. Bastian mengikuti. Mereka pergi ke mall bertemu dengan client mamanya.
Di sebuah restoran mereka berinteraksi. Bastian sengaja memilih meja yang berbeda dengannya agar ia tidak mengganggu ibunya. Ia menambil handphonenya lagi menelpon Aleksa sesuai dengan janjinya.
“Tidur Al?’’tanyanya sambil menyuapkan makanannya.
“Al, untuk sementara pergi bareng Reyfan lagi ya.’’ucapnya sambil tersenyum.
“Iyalah, kamu kan udah lupain aku.’’
“Gimana caranya aku bisa lupa kamu, passwordku aja nama kamu. Hm, gimana caranya coba. Udah jauh aku pergi ke sini Al, enggak bisa lupa juga.’’ujarnya sambil tersenyum. “Apa yang udah kamu buat samaku Al?’’
Aleksa tertawa mendengar ocehan Bastian.
“Kangen tahu enggak”
“Bastian?’’sapa seorang gadis yang langsung memeluknya dari belakang. Aleksa langsung terdiam menyaksikan itu. Lelaki itu menoleh ke arahnya, dan mengelak. Aleksa menonaktifkan panggilan videonya.
“Kamu kok di sini Bas?’’tanyanya lagi sambil duduk di samping Bastian. “Sendiri aja?’’
“Ehm, aku sama Mama.”jawabnya canggung. Aleksa menaruh curiga, jarang-jarang Bastian canggung dengan orang lain. Gadis itu memberanikan diri. Menyalakan videonya lagi.
“Siapa yang?’’Aleksa membuka suara.
“Temen Al.’’jawabnya singkat.
“Loh lagi callingan.”serunya sambil merebut langsung handphone Bastian yang langsung menahannya.
“Maaf Cay, ini handphoneku. Aku punya privasi.’’larang Bastian. Aleksa tersenyum.
“Enggak pernah berubah, mulai pacaran sampai putus. Handphone kamu enggak bisa dipegang.’’cetusnya sinis. Aleksa menarik kesimpulan bahwa gadis itu mantannya Bastian.
“Al, jangan putusin sambungannya ya.’’ujarnya mengabaikan celotehan itu.
“Tumben kamu bucin banget sama cewek Bas’’sewotnya. “Apa yang dilakuin cewek itu sampai kamu segininya?’’
“Apa urusanmu!’’ketus Bastian kesal. “Cay, kita enggak punya hubungan apa-apa lagi. Enggak usah bahas masa lalu di sini.
“Loh, aku cuma heran aja sih Bas.’’cetusnya lagi. “Ehm, enggak biasanya juga kamu.’’
“Gimana aku, itu tergantung ketemu siapa. Itulah bedanya kamu sama dia. Al, berani meminta maaf, bahkan walaupun itu bukan salahnya, tahu kenapa aku kekgini? Karena kami saling mengisi satu sama lain. Enggak kayak kamu yang pengennya cuma mau popularkan?’’telisiknya kesal. Aleksa masih menyimak dengan baik percakapan mereka. Ia bisa menyimpulkan bagaimana hubungan mereka di masa lalu, dan sepertinya Bastian tetap pada pihaknya seperti biasa.
“Ehm, ya udah deh aku pergi dulu.’’gadis itu meninggalkan Bastian dengan wajah yang berbeda pada saat sebelumnya.
“Emang aku gimana Bas?’’tanyanya semakin ingin tahu.
“Ngeselin.’’jawabnya singkat.
“Kan, ih, kenapa Bas?’’
“Enggak ada yang perlu disampein.’’ucap Bastian simple. “Enggak ada alasannya aku suka sama kamu, yang jelas pertama kali ketemu aku suka sama kamu.’’
Aleksa mengukir lengkungan senyum di wajahnya. Sambungan mereka terputus. Ada yang menarik hati Bastian saat itu. Ia lihat papanya di luar restoran sedang menggandeng perempuan selain ibunya. Ia lihat Diana masih membahas bisnisnya. Dengan segera Bastian keluar dari restoran, dan mengikuti arah papanya pergi tadi.
Bastian berlari dengan sekuat tenaganya, agar dapat menyaksikan secara langsung apa yang tidak ingin dilihatnya.
“Beneran papa enggak sih?”gumamnya dalam hati. “Semoga aku salah lihat.’’Bastian mengikuti sampai ke parkiran. Ternyata benar, itu nopol ayahnya. Mobil berwarna hitam pekat, dengan liris merah di samping bodynya.
Ia menelepon papanya, menanyakan keberadaan lelaki itu. Ia menjawabnya bahwa dirinya di kantor. Bastian terlihat gelisah. Ia kembali menemui ibundanya, yang kebetulan juga selesai mendiskusikan bisnisnya.
“Dari mana kamu sayang?’’
“Toilet Ma.’’bohongnya.
“Hm, enggak mungkin dari toilet, tapi ngos-ngosan kayak gini.’’duga mamanya. “Ada yang menarik hati kamu Tian?’’
Bastian mengangguk. Wanita itu tersenyum tipis, sepertinya juga sudah mengetahui apa yang dilihat anaknya. Wanita itu tak melanjutkan pertanyaannya. Ia mengajak Bastian pulang.
Sesampainya di rumah, mereka duduk di ruang keluarga. Wanita itu terlihat tenang, namun tidak dengan Bastian.
“Ma, apa mama percaya Papa?’’
“Kenapa kamu menanyakan itu sayang?’’tanyanya heran.
“Enggak apa-apa sih Ma, papa kan sering keluar kota ya.’’ujarnya. “Apa mama enggak kesepian?’’
“Sudah biasa Tian, mama dan papamu hanya dipertemukan dalam suatu momen tertentu saja.’’
Bastian tidak melanjutkan pertanyaannya, ia tidak mau merusak momen dengan mamanya. Bastian mendekati Diana, kemudian meletakkan kepalanya di paha mamanya. Ia menatap mamanya dari bawah.
“Enggak ada yang mau mama ceritain samaku Ma?’’tanya Bastian sembari tersenyum tipis.
Diana membelai rambut tebal anaknya. Wanita itu tidak menjawab pertanyaan anaknya. Diana tahu bahwa anaknya pasti melihat sesuatu yang sama dengannya.
“Hm, tadi mama lihat Caya bersama kamu. Masih sama dia?’’tanya Diana mengalihkan.
“Enggak Ma.”Bastian menjawab dengan singkat,. Ia tengadahkan wajahnya menghadap wanita pertamanya. “Pasti ada yang mama tutupin dari aku kan.’’tebak Bastian langsung tanpa basa-basi.
Wanita itu menghentikan belaian kepada rambut anaknya. Tatapannya melayang jauh. Ia menatap ke deretan foto-foto keluarganya. Terlihat jelas bahwa mata ibunya sedang menahan deraian air mata. Bastian bangkit dari rebahannya , kemudian memeluk ibunya dengan hangat.
“Ma, enggak usah ditutupin lagi. Aku udah gede Ma, enggak layak Mama tanggung sendirian.’’ujarnya dengan tenang mengundang tangis dari ibunya.
Wanita itu menangis senggugukan di pundak Bastian. Ia memeluk putranya, bersenandung mengucapkan segala keluh kesahnya. Hampir setahun terakhir rumah tangga ibunya tidak berjalan mulus seperti sebelumnya. Bongkahan batu kasar mulai menghakimi satu per satu. Sejak ayahnya memperoleh jabatan yang lebih tinggi, lelaki itu jarang pulang dan sering berlaku sarkas kepada ibunya.
Sudah cukup lama Diana menutupi hal ini kepada anaknya. Sebisa mungkin ia tidak memberi tahu Bastian, tetapi hari ini Diana juga tidak sanggup menutupi dari anak lajangnya. Diana sudah tak mampu bersandiwara lagi dari Bastian. Bukan karena ia tak mau, tetapi karena suaminya lah yang menunjukkan tingkah busuknya kepada anaknya sendiri.