Transfer Student

Transfer Student
POV ALEKSA



Aleksa tertegun seperti biasanya mendapat perlakuan istimewa dari Bastian. Sedari pagi ia membentengi dirinya untuk tidak ikut campur lagi dengan Bastian akhirnya runtuh seketika. Sembari makan, pikirannya jauh melayang ke sosok sebangkunya yang susah ditebak jalan pikirannya. rasa kekhawatiran memuncak ketika ia tahu bahwa ia berkelahi dengan Zacky, si penguasa sekolah, yang tidak senang jika disaingi oleh siapapun. Dia ketua geng Black Moon. Siapapun yang berurusan kepadanya pasti akan berlanjut sampai kapanpun. Apalagi Bastian tadi sempat ngomong sama Fawnia, gebetan Zacky.


‘’Hm, kalau aku khawatir sama kamu berlebihan kayak gini wajar enggak sih? Tapi kamu hanya menganggap aku sebatas sahabat? Kamu anggap apa pengakuanku selama ini Bas? Dan apa maksudnya perlakuan istimewa ini Bas? Kamu menarikku dalam situasi yang berbahaya. Bahaya kalau semakin mencintaimu, sementara cinta ini jelas-jelas bertepuk sebelah tangan.



‘’Udah? Ayok ke kelas.’’ajak Bastian.


Aleksa menurut, mereka pun berjalan beriringan. Semua mata kembali tertuju kepada mereka. Terdengar beberapa celutukan mengarah kepada mereka. Terutama Aleksa si ketuas OSIS. Banyak yang mulai tidak meyukai Aleksa terutama siswa perempuan yang merasa asetnya diambil oleh Aleksa.


“Cih.’’seru dari kejauhan.


“Main lagi nih ya si topeng.’’


‘’Babas, enggak usah mau sama cewek itu. Dia cuma mau ambil kepopuleranmu.’’teriaknya dengan sekuat-kuatnya.


Bastian tidak memperdulikan mereka. Tapi berbeda dengan Aleksa yang langsung mencepatkan jalannya. Bastian sempat kewalahan mengikuti Aleksa.


“Leksa, kamu harus jadi milikku’’teriak salah satu siswa yang menyukai Aleksa.


“Kak Aleksa yang semangat!’’


Mendengar celeutukan itu Bastian merespon positif. Ia melihat ke arah sumber suara dan membuat tanda love dengan kedua tangannya.


“Aku mendukung kalian’’teriak Bastian terkekeh. “Ibu ketua layak dikagumi.’’teriaknya dengan keras.


Aleksa meghentikan langkahnya. Ia berbalik menghadap Bastian. Menatapnya tajam.


“Diem kamu Bas, kamu pikir aku barang?’’


“Kamu asset. Bukan barang. ‘’pujinya sambil meninggalkan Aleksa. “Udah cepetan. Lagian tahan amat sih ngembeknya.’’celutuk Bastian. “Aku enggak peduli kamu mau ngindari aku sampai kapan. Tapi untuk saat ini kamu harus diawasi, aku enggak mau kejadian yang sama terulang kembali.’’


“Hm enggak usah. Aku bisa sendiri.’’


“Iya, aku tahu kamu individualis. Tanpa siapapun bisa. Tapi situasinya sekarang beda.’’ucapnya.


“Urusin aja urusan kamu. Aku bisa jaga diri.’’ucapnya dingin. Ia kembali melangkah menjauhi Bastian.


“Haha oke.’’



Tepat pukul 17.30 WIB Bastian selesai latihan. Terlihat jelas Bastian masih dipenuhi dengan keringat. Ia membuka sepatu bolanya menggantinya dengan sandal yang sengaja ia bawa dari rumah. Tere mendekati dan memberikan minuman air mineral kepadanya. Bastian belum menerimanya karena dia masih sibuk dengan sepatunya.


Tere langsung duduk di bangku panjang yang Bastian duduki. Bastian meliriknya sekilas, kemudian berlanjut melakukan peregangan. Tere mengamati gerak-gerik Bastian dengan senyum manisnya. Ia juga mengabadikan momen itu di handphonenya. Setelah dirasanya selesai Bastian langsung mengambil minuman yang diberikan Tere.


“Thanks.’’ucapnya sambil meneguk minuman itu hingga habis.


‘’Thanks sayang. Gitu dong bilangnya.’’


Bastian menyunggingkan bibirnya, menunjukkan ketidaksukaaan. Tere tertawa kekeh. Ia terpingkal-pingkal melihat ekspresi Bastian yang tidak pernah menunjukkan kesenangan kepada dirinya.


‘’Okeh, aku balik ya Kak.’’ucapnya tak peduli sambil mengemasi barang-barangnya.


Tere tak menyahut. Bastian langsung pergi ke arah parkiran. Namun ia tak bisa menyalakan motornya karena kuncinya tidak kelihatan. ia kembali membongkar tasnya untuk menemukan kuncinya.


“Cari ini?’’tanya Tere sambil mengacungkan kunci motor miliknya. Ada tertera nama Bastian di kunci motor itu.


“Wah iya Kak. Kamu nemuin?’’


“Antar aku, baru kamu aku kembaliin.’’titah Tere.


‘’Jangan cari kerjaan bisa? Lagian ini udah sore, kamu kan bawa mobil sih.’’tolak Bastian, dia menjulurkan tangannya untuk menerima kunci.


‘’Anterin aku Bas, masa kamu tega biarin aku sendiri.’’


“Ck.’’Bastian menggumam tidak senang. “Bikin sengsara.’’celutuknya


Tere tertawa. Ia langsung naik motor sport milik Bastian. Motor itu baru dibelikan mamanya karena Bastian sudah menuruti permintaan mamanya untuk semakin rajin belajar dan tidak hanya fokus kepada hobinya itu. Motor WR 155 R yang impikan sejak lama.


“Yuk.’’


“Hm.’’Bastian mau tak menurut. Motor itu melaju dengan cepatnya. Tere memeluk perut Bastian hangat. “Menjauh dariku Kak.’’ucapnya dengan kasar.


“Dingin Bas.’’ucpanya tak peduli,. Ia justru memeluk erat Bastian.


“Aku baru berkeringat, gerah Kak, lagian apaan sih kayak gitu.’’celutuk Bastian geram. Ia mendorong-dorong tubuh Tere untuk menjauhinya.


‘’Why? Aku aja yang kena keringat kamu enggak keberatan.’’jawab Tere santai.


Bastian meminggirkan motornya. “Ia memberikan batasan dengan ranselnya yang sempat ia letakkan di depan. ‘’Minggir!’’ucap Bastian. “Nih pikirannnya kemana sih. Aku itu laki-laki Tere!’’sentak Bastian kesal.


Tere tertawa mendengar celotehan Bastian.


“Iya, aku tahu kamu laki-laki.’’ucapya tak peduli. “Makanya kamu harus bisa melindungi aku. Lagian kamu udah mulai nakal ya manggil namaku kayak gitu.’’ledeknya tak peduli.


“Hm’’dengus Bastian. Ia kembali melanjutkan perjalanannya.


Sesampainya di rumah Tere. Ia menurunkan Tere. Ditatapnya jam di handphonenya. ‘’Astaga, udah jam segini.’’ujarnya. “Aku pulang Kak. Bye’’ Bastian langsung meninggalkan Tere dan bergegas balik ke rumahnya. Setelah membersihkan diri. Ia rebahkan sebentar tubuhnya di kamar. Ia lihat notifikasi dari Aleksa yang mengingatkannya untuk datang malam ini.


“Shit!’’ucapnya sambil bergerak dari kamarnya. “Konsep-konsep, aku harus dapat konsep yang lebih kompleks.’’ucapnya sambil menscroll handphonenya untuk mencari ide tambahan atas pekerjaannya.


Ia pun segera mengganti pakaiannya. Ia memakai hoodie berwarna hitam dan celana jens. Ia juga membawa perelengkapan untuk kerja kelompok. Sesampainya di rumah Aleksa, ia dipersilakan untuk langsung masuk ke taman belakang rumah Aleksa yang diperuntukkan untuk ruang keluarga sekaligus ruang santai. Langsung berdampingan dengan alam.


Bastian duduk di hadapan Aleksa yang sudah menunggunya dari tadi. Berbeda dengan Bastian yang tampil apa adanya, Aleksa justru sebaliknya. Ia sangat cantik malam ini.


“Kamu terlambat Bas.’’


“Ehm iya, sorry.’’


“Iya, aku tahu. Kamu baru nganterin Tere kan?’’


Bastian tak menyahut. Ia begitu heran mengapa Aleksa bisa mengetahuinya. Ia hanya membisu tak menjawab, yang jelas ia butuh istirahat malam ini.


‘’Ehm.’’Bastian menghela nafas panjang. “Kita mulai dari mana lagi ibu Ketua?’’tanyanya mengabaikan dugaan Aleksa. ‘’Tadi sempat aku cari referensi. Kata-kata kamu juga udah bagus. Cuma butuh karakter dari kalimat penggugah itu.’’jelasnya sambil menyanggah wajahnya dengan satu tangan. Wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu.


‘’Dalam desain poster, kita juga harus memberikan sugesti. Kalimat singkat yang mengandung suges, hm. Apa ya kira-kira?’’sambung Aleksa sambil mengetuk-ngetuk jemari lentiknya.


Bastian juga mencoba mencari referensi gambar yang mendukung untuk poster mereka. Ia ambil kertas yang mereka kerjakan tadi siang, ia terus mencoret-coretkan apa yang terlintas dibenaknya. Sementara itu Aleksa masih terus mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja kaca itu. Saat berpikir Aleksa memang tidak bisa meninggalkan kebiasaannya itu.


“Hm.’’Bastian menggenggam tangan Aleksa dengan tangan kirinya. Menghentikan ketukan jemarinya. “Diem dulu, aku lagi gambar, enggak bisa fokus kalau kamu terus melakukan itu.’’ucapnya dengan santai. Namun matanya tetap fokus kepada gambar yang ia kerjakan.


Aleksa tertegun. Hatinya berdebar kencang. Wajahnya memerah. Hangatnya tangan Bastian menggetarkan seluruh tubuhnya. Bastian masih belum menyadari. Ia masih menggenggam tangan Aleksa erat.


Gadis itu malah mengamati Bastian dengan hangatnya. Ia memangku wajahnya dengan tangan kanannya. Sesekali terlihat lengkungan senyumnya ia terbitkan. Aleksa mengangkasa malam ini. Detakan jantungnya tak bisa ia kendalikan.


“Bas, gini terus’’ucapnya dalam hati. “Kamu yang buat aku kesal kamu juga yang ngobati.’’sambungnya sambil tetap menikmati malam yang sedikit dingin.


Hembusan angin juga memainkan rambut Bastian ke sana kemari. Rambutnya setengah basah, sudah hampir mengering. “Gimana mereka enggak tergila-gila sama kamu Bas, kamu itu memang luar biasa kerennya.’’puji Aleksa. “Aku aja hampir tidak bisa menguasai diriku.’’


Cukup lama Bastian fokus dengan apa yang ia kerjakan. Sehingga ia baru sadar akan perbuatannya. Ia melihat Aleksa yang merona.


“Engg, maaf Leks. Aku enggak sengaja’’ucapnya sambil melepaskan genggamannya.


“Ehm iya, aku tahu. Kamu kalau fokus memang enggak bisa diganggu.’’tutur Aleksa sambil tersenyum. Akhirnya ia benar-benar merusak pertahanannya untuk membatasi diri dengan Bastian.


“Nah, gitu dong.’’puji Bastian sambil mengetuk dahi Aleksa pelan. “Jangan sedingin es lagi. ‘’celutuknya sambil tersenyum.


‘’Hm, habisnya aku kesel tau enggak sama kamu.’’adu Aleksa manja. ‘’Kamu jahat tau Bas.’’sambungnya lagi.


“Iya-iya. Aku jahat.’’akunya. Ia meletakkan pensilnya. “Aku minta maaf ya Leks. Aku memang salah.’’sesalnya lagi.


“Uluh-uluh.’’Bastian mengelus pucuk kepala Aleksa. ‘’Udah ya ngambeknya. Capek aku, kamu bentak terus.’’


“Hm.’’gumamnya. “Ada syaratnya?’’


“Apa?’’


“Jauhi Tere.’’pintanya serius.


Bastian tertawa. “Eh,’’


“Kan, enggak bisa?’’


“Aku deketin Tere biar dia enggak ganggui kamu.,’’terang Bastian. ‘’Udah, kalau dia pasti bisa aku kendalikan.’’


“Hm’’gumam Aleksa raut wajahnya berubah. “Buat apa kamu ngelakuin itu?’’


“Nih anak kebanyakan mikir, tadi kamu enggak dengar aku bilang apa?’’


“Iya tapi kan?’’tolak Aleksa masih tidak menyetujui.


“Aku masih coba membumihanguskan fanspage yang enggak jelas.’’


Aleksa menarik nafas dalam. Ia tahu ke arah mana omongan Bastian. Sebenarnya dari fanspage itu ia juga bisa mengetahui aktivitas Bastian seutuhnya. Seperti saat dia berantem, di perpustakaan bahkan sore tadi. Seluruh kegiatannya terekspos tanpa satu pun yang tertinggal. Tetapi di satu sisi, itu menghilangkan privasi Bastian sebagai orang siswa di sekolah itu.


“Apa enggak ada cara lain?’’


“Masih bereksperimen sih dengan berbagai cara. Hehe.’’


“Huft.’’


“Ehm, kamu di sekolah tetap jutek ya Leks,’’pinta Bastian. “Walaupun kadang aku kesal juga ngadepin kamu yang kayak gitu. Tapi efeknya cukup bagus. Mereka agak reda.’’


“Hm’’gumamnya lagi. “Terserah deh.’’


“Hehe’’Bastian mengelus pucuk rambut Aleksa lagi. “Ya udah kita lanjut lagi.’’ucapnya sambil menggambar kembali. Ia mengambil pensilnya lagi.Kemudian memutar-mutarkan pensil itu sambil menunggu ide yang muncul. Sementara itu Aleksa masih terus mengamatinya.


“Bang!’’panggil Reyfan menghampiri mereka.


“Wop, uda selesai main?’’jawab Bastian sambil menatap Reyfan.


“Cepetan napa kerkompnya. Aku udah enggak sabar mabar sama kamu.’’


“Diem kamu Rey. Gih sana belajar. Ganggu aja.’’cetus Aleksa.


“Yey, tugasku da siap. Cepetanlah Bang!’’pintanya lagi.


Bastian tertawa.’’Kamu makan dulu, tuh aku bawain martabak kesukaanmu. Nanti setelah ini kita main ya.’’pujuk Reyfan


‘’Lagian betah banget sama kak Aleksa. Perempuan bawel ini.’’


“Hehe. Iya. Aleksa memang bawel tapi karena sayang sama kamu.’’bela Bastian.


Aleksa merasa senang.


“Tuh dengar, lagian Kamu itu yang bawel. Sanggupnya kamu jelek-jelekin aku. Aku hitung nih ya! Kalau enggak pergi kamu, aku laporin ke papa.’’


“Huft. Iyey.’’ucapnya sambil berlalu.


‘’Kamu bawain makanan kesukaan Reyfan, tapi enggak bawa apa-apa untukku. Sanggup gitu ya?’’celutuk Aleksa kesal.


Bastian tertawa. ‘’Lain kali aku bawain, Bollen kan?’’


“Nah tuh tau!’’


‘’Iya, nantilah kapan main ke sini lagi. Aku bawain.’’ucapnya sambil mengamati pekerjaannya. “Ehm, abis ini kita warnai nih poster. Kamu ada catnyakan?’’


Aleksa menggeleng.


“Ya udah, ntar lagi kubeli.’’


“Ikut.’’pintanya manja.


“Udah kamu di sini aja, pikirin kalimat sugesnya.’’


“Aku lagi enggak bisa mikir. Lagian butuh udara malam.’’Aleksa mencoba meyakinkan.


‘’Okeh. Bentar’’


Setelah pamit, mereka pun berangkat. Sebenarnya waktu sudah menujukkan kekuasaannya, sudah pukul 21.37 WIB. Aleksa memeluk Bastian, harumnya parfum Bastian semakin mendekatkan hidungnya ke bahu Bastian. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Bastian. Ia melajukan motornya cukup kencang. Sesampainya di supermarket. Aleksa turun dari motornya menunggu Bastian memarkirkan motornya.


“Kamu mau masuk dengan helm itu?’’tanya Bastian kekeh.


“Eh, iya. Aku lupa.’’Aleksa mencoba membuka helmnya. Ia cukup kesulitan mencari switch helm yang berada di bawah dagunya. Bastian menghampiri, ia dekatkan wajahnya mencoba membantu. Tinggi Aleksa yang sedadanya membuat Bastian kewalahan untuk mencari switchnya. Ia menundukkan kepalanya mengacu kepada dagu Aleksa yang langsung menutup matanya.


“Eng, kamu kenapa?’’tanya Bastian heran.


“Enggak apa-apa.’’jawabnya gugup.


“Iya udah, yuk masuk.’’ajak Bastian setelah berhasil melepaskan helm Aleksa.


POV ALEKSA


“Aaaaah, Babas sayang, ini kencankah namanya? Malam ini act service kamu buat aku enggak bisaberkata-kata. Aku enggak mau melewati malam ini. Bisa enggak kuhentikan waktu ini.’’ujarnya dalam hati. Sepanjang jalan ia menikmati aroma Aigner Blue yang gentle dan khas. Akhirnya ia bisa bergoncengan dengan Bastian.


‘’Eh, Leks kok diem aja?’’tanya Bastian membuyarkan lamunanannya. “Aku udah dapat kebutuhan kita. Kamu ada lagi yang mau dicari enggak?’’tanyanya ketika sampai di kasir.


“Hm, enggak Bas. ‘’jawabnya.


“Okeh, kita langsung pulang ya.’’


Sesampainya di rumah mereka kembali lagi melanjutkan pekerjaannya. Bastian meletakkan kedua dagunya di atas kedua tangannya. ia masih menyesuaikan warna yang tepat untuk karya mereka. Aleksa masih mengamati Bastian dengan hangat. Ia masih tidak ingin malam ini cepat berlalu.


‘’Ini lebih rumit dari yang kukira.’’ucapnya sambil mengucek-ngucek kepalanya yang tak gatal. “Aku lebih baik latihan satu harian di lapangan daripada disuruh yang beginian.’’keluhnya.


“Hm,. jadi kamu enggak senang ngerjai tugas ini?’’tanya Aleksa menginterogasi,


“Bukan enggak suka, tapi kalau disuruh milih, aku lebih baik seharian di lapangan.’’ulangnya lagi.


“Huft.’’Aleksa menarik nafas dalam. “Tambah lagi air minumnya?’’


Bastian mengangguk. “Tolong ya Leks. Udah buntu.’’


Aleksa memasuki rumahnya. Bastian menghela nafas kasar, hari ini ia belum bisa istirahat dengan baik malam ini. Diletakkan kepalanya di atas meja. Ia kelelahan. Hingga akhirnya ia ketiduran kembali seperti di perpustakaan sebelumnya. Wajahnya menunjukkan kelelahan yang cukup panjang.


Aleksa sengaja tak membangunkan Bastian. Ia justru menarik kertas itu kembali ke arahnya. Ia amati beberapa coretan tinta berwarna. Warnanya cukup sesuai dengan apa yang ada di pikirannya. Aleksa melanjutkan pekerjaan Bastian. Kalau hanya sekadar mewarnai, Aleksa cukup bisa untuk menyeimbangi.


Tak lama, Bastian terbangun, ia memegangi tengkuknya, kemudian memutar-mutar lehernya agar tak sakit. Matanya masih terpejam. Ia mengadahkan lehernya ke atas. Secara perlahan ia buka matanya.


“Hm, aku ketiduran.’’ucapnya pendek. Bastian menggaruk kepalanya. ‘’Kamu enggak bangunin aku.’’


Aleksa tersenyum. “Iya, karena kayaknya kamu kecapean. Lagian kerjaannya udah kulanjutin.’’


“Dari tadi kek. Biar aku bisa balik. Hm udah jam 11. Aku balik ya Leks.’’


“Cuci muka dulu baru pulang.’’titahnya.


“Ok sipp.’’