Transfer Student

Transfer Student
POV Reyfan



Reyfan menemui keluarganya di ruang televisi. Mamanya duduk di sana sedang memakan bolen sambil menonton televisi. Sedangkan ayahnya di ruang kerja menyelesaikan tugasnya. Reyfan langsung duduk tak jauh dari mamanya.


“Dari mana Rey?’’tanya mamanya ingin tahu.


“Abis main sama bang Bastian Ma.”jawab Reyfan sambil tersenyum.


“Di mana?’’


“Itulah ma, kafe De Javu yang dekat sama sekolahku. Di sana banyak orang main Ma.’’terangnya menggebu-gebu. “Tadi aku disuruh bang Bastian bawa motornya.’’


Aleksa mendekati mereka. Ia duduk di samping Reyfan menyimak obrolan mama dan adiknya.


“Emang kamu bisa bawanya.’’


“Sempat lupa Ma, bahkan tadi sempat motronya nyendat-nyendat aku bawa Ma. Hehe.’’


“Dih, kamu ngerusain motor orang!’’sela Aleksa sambil menyuapkan bolen dengan variasi keju dan coklat kesukaannya.


“Hm, itulah bedanya kak Aleksa dengan bang Bastian. Ma, abang itu enggak marah Ma. Malah ngasih kesempatan buat Rey untuk belajar Ma. Enggak kayak kak Aleksa yang langsung menjudge Rey.’’terangnya sambil mengambil bolen yang terletak di meja. Aleksa langsung menariknya menjauhi Reyfan.


“Enggak boleh.’’ledek Aleksa.


“Al, Reyfan masih cerita.’’tegur mamanya.Reyfan menjulurkan lidahnya mengejek Aleksa. Ia kemudian mengambil bolennya.


“Terus kalian ngapain aja di sana?’’


“Cuma mabar sih Ma. Tapi Ma, tadi sempat ada yang gangguin Reyfan. Mereka geng Omorfos Ma. Geng yang terkenal Bengal itu Ma. Tapi pas Bang Bastian datang mereka enggak berkutik.’’terangnya menggebu-gebu. Ia menyuapkan bolen yang di tangannya.


“Kamu serius?’’tanya Aleksa. “Bastian kok bisa kenal mereka?’’


“Enggak tahu. Tapi waktu bang Bas, ngomong, jangan kalian ganggu adikku.’’ujar Reyfan menirukan gaya Bastian tadi tanpa beda sedikitpun. ‘’Mereka langsung diam Ma.’’


“What? Reyfan diakuinya adiknya? Ehm, Bas, aku makin cinta sama kamu.’’bisiknya dalam hati. Ia terlihat senyum-senyum mendengarkan cerita Reyfan. Bahkan setiap tutur kata yang diucapkan membuat Aleksa senyum-senyum tak jelas.


“Al, berati Bastian teman yang baik untukmu.’’puji mama Aleksa. “Jadi Rey? Kamu ngerasa dapat pengaruh buruk atau baik?’’tanya mamanya.


“Menurutku baik sih Ma.’’ucap Reyfan cepat.


Aleksa hanya tersenyum melihat respon mama dan adiknya. Dari awal pertemuan Bastian dengan Aleksa, ia sudah merasa yakin bahwa Bastian memang baik. Bastian sering sekali memberikan perhatian-perhatian kecil yang berbeda dengan lelaki lainnya. Bahkan dengan mudahnya Bastian membuat gadis-gadis di sekolahnya terpikat kepadanya. Wajahnya yang tampan, tidak menjadikannya sombong, bahkan terkesan humble.


“Huft.’’Aleksa menarik nafas dalam. Pikirannya jauh melayang. “Sial, aku semakin cinta sama kamu Bas. Bagaimana bisa aku mengendalikan perasaanku di hadapanmu Bas? Sepandai-pandainya aku mengendalikan diri, akan ada tibanya aku di luar kendaliku Bas.’’ucapnya dalam hati.


“Cerita apa itu Ma?’’tegur papanya yang telah menyelesaikan pekerjaan. “Kayaknya serius banget.’’ucap papanya Aleksa sambil memakan bolen yang ada di meja.


“Teman Aleksa Pa.’’jawab Mamanya.


“Siapa? Bastian?’’duga Papanya. Sebenarnya samar-samar ia sudah mendengarkan cerita keluarga kecilnya.


“Lah, papa kok bisa tahu?’’tanya Aleksa heran.


“Siapa lagi teman laki-lakimu yang berani ke sini selain dia?’’tutur papanya. Lelaki itu meyilangkan kakinya.


“Engg.’’Aleksa tak bisa menjawab. “Terus papa kenapa welcome-welcome aja sama dia?’’


“Anak itu tahu bertamu yang baik, dan bagaimana bersikap dengan tuan rumahnya.’’ucap lelaki berkumis itu. “Tapi bukan berarti Papa izinin kamu pacaran ya.’’larang papanya.


“Kenapa Pap?’’tanya Aleksa tak terima dengan larangan ayahnya.


“Enggak ada yang namanya pacaran’’tegas Papanya lagi. “Fokus sekolah dulu. Lagian kamu ketua OSIS. Harusnya ngasih contoh yang baik ke teman-teman kamu.’’nasihat papanya sambil menyantap bolen itu dengan lahapnya.


Aleksa menarik nafas panjang. Larangan ayahnya menjadi beban di pundaknya. Nafasnya terasa berat.


“Tapi Pa, Reyfan pengen punya abang kayak Bastian.’’cekutuknya spontan.


Aleksa tersenyum sumringah. “Nih anak, nyelamatin aku. Akhirnya berguna juga jadi adik.’’bisiknya pelan.


“Pa, bang Bas. Keren kali loh Pa.’’rengeknya.


“Dih, kamu suka sama Bastian?’’Aleksa memastikan. “Sebagai apa?’’tanya Aleksa.


“Enggak kamu dengar. Aku pengen punya abang kayak dia.’’ujar Reyfan sedikit menekan.


“Reyfan! Aleksa! udah. Bahas yang lain aja.’’ujar lelaki berkumis itu. “Kalian bahas enggak jelas. ‘’


“Huh,’’seru Aleksa. Aleksa menarik Reyfan ke menjauhi ruangan televisi. Ia menarik Reyfan ke lantai dua. Mereka duduk di ruang santai depan kamar mereka.


“Kenapa tiba-tiba kamu sok kenal banget sama Bastian?’’tanya Aleksa ingin tahu. Aleksa masih heran asupan apa yang disajikan Bastian kepada adiknya sehingga Reyfan bisa berubah seperti ini.


“Bukan sok kenal. Kan memang kenal.’’jawab Reyfan singkat. Ia merapikan rambutnya yang berantakan. “Bang Bas itu asyik. Dewasa, dan yang jelas cuma dia yang bisa bungkam kamu kak Al.’’


“Shit! Bagus kamu kalau ngomong Rey.’’


“Noh kan. Dia nanya, aku udah jawab kamu malah gitu.’’


“Jadi kamu sama Bastian ada cerita apa aja Rey? Dia ada nanyain aku?’’


“Enggak. Sama sekali. Enggak usah kegeeran.’’ujar Reyfan tanpa memikirkan perasaan Aleksa. “Dia itu cowok normal, enggak mungkin suka sama cewek nyebelin kayak kamu kak Al.’’Reyfan nyolot.


“Kamu yang nyebelin. Bukan aku. Bisa enggak kamu belain aku sedikit aja. Biar ada nilai jualku di mata Bastian.’’ujarnya blak-blakan.


“Ogah. Aku enggak mau.’’ tolak Reyfan. “Kamu enggak laku kalau dijual sama bang Bas.’’


“Jangan bilang kamu enggak normal Rey. Kamu suka sama Bastian?’’Aleksa mengintimidasi. Tatapannya mengandung kecurigaan yang dalam.


“Gila kamu ya Kak? Dia itu pengen kujadiin abangku! Serius!’’Reyfan menghentikan ucapannya. “Dia itu baik ke semua orang.’’sambungnya lagi.


“Hm.’’Aleksa bergumam. Ia menatap adiknya.”Terus menurut kamu, Bastian suka enggak ya samaku?’’


“Tau ah gelap. Lagian enggak usah kegeeran .’’ungkapnya jujur. Reyfan tak ingin kakaknya merasa dicintai Bastian. “Kalaupun sendainya bang Bas, udah mulai suka samamu. Aku komporin dia biar enggak suka sama kamu.’’ledeknya sambil memayunkan bibirnya.


“Kamu jahat Rey. Harusnya kamu dukung aku.’’omelnya kesal. Aleksa memainkan rambutnya. Pikirannya jauh melayang.


“Kamu harusnya mikir Kak, daripada jadi pacarnya kan lebih bagus jadi sahabatnya. Pacar itu bisa putus, sedangkan sahabat itu selamanya. Enggak ada mantan sahabat.’’nasihat adiknya. Ia tersenyum.


“Dih, sotoy nih anak. ‘’


“Kak, kamu tuh terus nganggap aku enggak tau apa-apa. Perasaan nih!’’


“Ih. Kita enggak akan tau kalau enggak kita coba.’’ucap Aleksa santai.


“Ehm, kan lebih bagus sahabat rasa pacar, dari pada pacar rasa sahabat.’’tuturnya sambil memainkan handphonenya. Kemudian ia langsung memvideo call Bastian tanpa sepengetahuan Aleksa. Bastian terlihat sedang mengganti mengelap wajahnya pakai handuk.


“Woi Bang, udah nyampe?’’sapa Reyfan sambil melirik Aleksa yang terkejut melihat tingkah adiknya.


“Udah dari tadi. Napa?’’tanya Bastian mendekatkan dirinya ke kamera. “Kamu diomelin Aleksa?’’tanya ingin tahu.


“Enggak Bang. Bang, kamu enggak suka sama Aleksa kan?’’tanya Reyfan to the point. Reyfan ingin Aleksa sadar dan tidak terlalu percaya diri.


“Dih, kamu kenapa nanya gitu?’’


Aleksa melempar bantal ke wajah adiknya. Hingga handphonenya terjatuh ke lantai. Aleksa segera mematikan handphonenya. Ia memukul sekali lagi adik semata wayangnya itu dengan bantal.


“Kamu memang gila Rey!’’


Reyfan tertawa terkekeh-kekeh. “Rasain! Makanya enggak usah ngeremehin aku. Aku cuma mau buktiin aja kalau omongan ku benar.’’ledeknya sambil meninggalkan Aleksa dan memasuki kamarnya.


“Reyfan gilaaaa!!!!!!!’’teriaknya keras.