Transfer Student

Transfer Student
Rumah Tangga Mama



Bastian menghela nafas panjang ketika dugaannya dibenarkan oleh ibunya. Ia tak bisa berkata-kata lagi ketika Diana berbicara jujur tanpa sepatah kata kebohongan. Ibu dan ayahnya sudah lama tak berkomunikasi dengan baik di rumah itu. Status mereka memanglah diikat dalam sebuah akad, tetapi hanya sebuah formalitas tanpa alasan yang jelas.


Kebahagiaan hanyalah sebuah impian yang hanya dapat dilontarkan tanpa harus diwujudkan. Betapa terkejutnya Bastian ketika tahu bahwa begitu sakit yang dirasakan ibunya. Pantas saja semua urusan mengenai keluarganya Diana selalu menghandle, termasuk ketika Bastian mengalami fitnah dari teman-temannya. Tidak ada tanggapan yang keluar dari ayahnya, bahkan cenderung mengabaikan.


Bastian memberikan air hangat untuk ibunya. Ia menghapus air mata di kedua pipi wanita itu. Hatinya sebenarnya berkecamuk pada saat itu, akan tetapi ia tetap berupaya untuk terlihat tenang di hadapan mamanya.


“Mama, tinggal bareng Kakek aja Ma.’’ajak Bastian memberikan solusi. Ia tidak ingin ibunya semakin tersiksa batin tinggal sendirian.


Wanita itu menolak, ia takut dengan ayahnya. Sedari dulu cinta memang tidak pernah mendapat restu dari ayahandanya. Ia takut dimarahi oleh Hamid ayahandanya.


“Biarlah Mama di sini Bas, perusahaan Mama juga sangat membutuhkan Mama.’ujarnya ketika tenang.


Bastian tidak menanggapi, seketika ia tidak bisa berpikir dengan jernih. Ingin rasanya dia menghantam ayahnya sampai babak belur karena menyakiti mamanya sedemikian rupa. Ia merasa bersalah karena tidak mengetahui lebih awal bagaimana yang terjadi pada keluarganya.


“Bas, biar bagaimanapun, besok kamu harus kembali sekolah. Mama enggak mau sekolahmu terbengkalai.’’ujar mamanya.


“Aku ingin memastikan satu hal Ma. Aku ingin tahu. Apa penyebanya Papa melakukan hal ini ke Mama..’’tuturnya sambil menatap mamanya. Ia ingin menjadi anak yang berguna untuk Diana. Namun Diana tetap bersikukuh agar Bastian pulang ke rumah.


“Pikiranku sekarang enggak bisa baik-baik aja Ma. Ini udah terlalu lama Mama tutupi.’’terangnya lagi lebih keras. Lebih kuat dari mamanya.


Diana tak kehabisan ide. Ia langsung menelepon Aleksa sebagai senjata akhir untuk anaknya, yang keras kepalanya seperti dirinya.


“Aleksa, Mama minta tolong laporin nih Tian, besok dia niatnya enggak sekolah lagi.’’ujarnya begitu Aleksa mengangkat teleponnya. Aleksa tak menyahut, ia masih bingung dengan Diana yang tiba-tiba mengatakan hal yang sebenarnya tidak dimengerti. “Kalian masih ada kegiatan Nak?’’


“Besok tinggal pengumuman sih Ma. Kenapa Ma?’’


“Mama, enggak mau Tian lama-lama di sini Leksa, mama enggak mau dia ketinggalan pelajaran.’’terang mamanya.


“Bastian mana Ma? Nanti biar Aleksa bilangin. Seluruh teman Aleksa pada nyariin Ma.’’jelas Aleksa yang lelah mendengar pertanyaan keberadaan Bastian, karena ada beberapa lomba yang mengharapkan Bastian ikut andil di dalamnya.


Diana mengarahkan ponselnya ke arah Bastian. Lelaki itu tidak menyambut ponselnya, tatapannya masih kosong. Ia masih ingin ketemu dengan ayahnya yang menelantarkan ibunya begitu saja. Untungnya ibuhnya masih punya pekerjaan kalau tidak bagaimana jadinya ibunya di sini.


“Bas.’’sapa Aleksa ramah. “Besok udah pengumuman, kamu balik ya.’’Pujuk Aleksa manja. “Lusa kita udah mulai belajar lagi.”


Bastian masih tak menyahut. Ia menatap mamanya hangat. Sedari kecil ibunya lah banyak memberikan asupan kepadanya, baik asupan lahir maupun batin Bastian. Ia masih tidak menanggapi Aleksa. Matanya masih tertuju kepada ibunya.


Raut wajah Bastian seketika berubah.


“Kalau mama pengen aku pulang, malam ini juga, aku bisa pulang Ma.’’ujar Bastian setengah mengancam. “Tapi aku enggak jamin besok aku masuk sekolah, begitu juga dengan seterusnya.’’


Diana membisukan panggilannya. Ia memarahi anaknya, hal itu terlihat jelas dari eksperesi Diana. Akan tetapi Bastian terlihat tenang. Sepertinya ia terlihat pasrah. Lelaki itu seperti sengaja ingin dimarahi ibunya. Aleksa yang menyaksikan hal itu bingung harus berkata apa. Ia lihat Bastian memang sengaja memancing ibunya untuk meluapkan emosi tanpa terkira.


Bukannya marah balik, Bastian justru memeluk ibunya dengan hangat. Ia menepuk punggung Diana yang meneteskan air mata lagi. Entah mengapa, walaupun Aleksa tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, gadis itu ikut menangis dengan apa yang ia saksikan.


Terlihat jelas, Bastian tersenyum getir ketika ia memeluk ibunya. Ada beberapa kata yang terucap dari bibir Bastian yang tak terdengar sedikitpun. Ketika mamanya sudah tenang, Bastian mengambil ponsel mamanya dan menonaktifkan pembisuan pada layar ponselnya.


“Maaf ya Al, kamu harus menyaksikan yang enggak perlu kamu saksikan.’’ujarnya sambil tersenyum tipis.


“Kenapa Bas? Cerita!’’ucapnya manja.


Bastian menjauhi mamanya yang masih terduduk termenung di sana. Ia berjalan ke dapur untuk mengambilkan minuman ibunya.


“Engggak apa-apa, kayaknya lusa aja aku baru balik Al.’’


“Ih, kok gitu Bas? Kamu mau biarin aku lama-lama kangen sama kamu?’’jelasnya manja. “Aku kangen kamu loh Yang. Ih, enggak ngerti banget sih.”


“Ada yang harus ku pastikan dulu di sini Al.’’ujarnya singkat sambil tersenyum. Ia mencoba menutupi apa yang sedang menjadi fokusnya saat ini.


“Kalau kamu belum siap berbagi, enggak apa-apa Yang. Tetap jaga kesehatanmu di sana ya Bas.’’nasihat Aleksa.


“Siap Nona, kamu juga jangan capek-capek ya Al. Ingat, sekolah itu enggak punya kamu aja.’’ujarnya sambil tersenyum. “Nanti lagi ya Al. Udah malam gih bobok.’’ucapnya sambil memutuskan sambungannya.


Bastian dengan segera mengotak-atik ponsel mamanya, untuk mengetahui sejauh mana obrolan papa dan mamanya. Namun ia tidak menemukan apa-apa di sana. Ia sudah tidak kepikiran lagi, mengapa ibunya bisa mendapatkan nomor gadisnya, karena baginya kalau wanita stalking pasti selalu melebihi detektif detailnya, yang jadi masalah, ibunya tidak saling mengirim pesan sehingga ia tidak dapat menemukan solusinya.


“Ini minum Ma.’’ucapnya sambil memberikan minuman hangat yang ia bawa. Dipijatnya pundak ibunya perlahan. “Mulai sekarang kalau ada apa-apa cerita sama Bastian ya Ma.’’ujarnya lembut.


“Fokus aja sama sekolah kamu Nak, biar ini jadi urusan Mama.’’larang Diana, ia takut anarkisnya Bastian kembali seperti dulu. Sulit mendidik Bastian menjadi anak yang seperti saat ini. Masih teringat jelas di benaknya, Bastian anaknya memukuli tetangganya hanya dikarenakan Diana tidak sengaja lalai menjaga anaknya. Bastian tak peduli dengan siapa ia berhadapan, ayah dari anak itu dihajarnya habis-habisan.


Cukup lama Diana memberikan keyakinan, memberikan pengertian untuk Bastian, bahwa tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan perkelahian. Belakangan ini Bastian menyadari itu, akan tetapi Diana takut hal yang sama terjadi lagi kepadanya, sehingga untuk saat ini Diana ingin Bastian tidak turut campur dalam urusan rumah tangganya.