Transfer Student

Transfer Student
Terkuak



Malam harinya, Aleksa mengajak Bastian untuk menemaninya membeli beberapa perlengkapan untuk kegiatan besok. Mereka mengitari supermarket, belanja untuk kegiatan olahraga, dan bazar yang akan diadakan sekolah.


Cukup lama mereka mengelilingi rak-rak perlengkapan. Aleksa terlihat selektif dalam memilih barang yang akan digunakannya. Sesekali ia menggandeng tangan Bastian lembut. Selesai berbelanja, mereka pergi menikmati live music di salah satu kafe dekat rumah Aleksa.


Bastian duduk berdampingan dengan Aleksa. Gadis yang menggunakan setelan berwarna pink itu terlihat imut yang membuat Bastian gemes. Tak henti-hentinya Bastian melirik ke arah Aleksa.


“Kenapa Bas?’’tanya Aleksa yang menyadari kekasihnya mencuri-curi pandang kepadanya.


“Hm, enggak apa-apa.’’jawabnya lembut. Ia menyeruput minumnya.


“Ada yang aneh?’’Aleksa melihat dirinya ke kanan kiri.


“Dih, enggak. Kamu cantik.’’puji Bastian ia membelai lembut surai Aleksa diwajahnya. Aleksa tersenyum.


“Hm, gombal”ujarnya mengalihkan pandangannya ia tersipu malu. Bastian menggenggam erat tangan Aleksa. Seketika gadis itu kikuk, jantungnya berdebar tak karuan. Aleksa mencoba menutupi kegugupannya sambil menikmati musik yang mengiringi. Anggota band itu membawakan lagu Mahalini yang berjudul Kisah Sempurna.


“Bas, kamu enggak seperti kisah di lagu ini kan?’’bisiknya lembut.


“Kenapa nanyanya gitu?’’


“Hm, aku harap kamu enggak ngecewain aku Bas.’’ujarnya lirih.


“Lah, bukannya semua kisah, seperti itu Al? Orang yang buat kita terluka, biasanya juga itu yang nyembuhin.’’terang Bastian sembari tersenyum. “Kalau kamu bilang aku enggak ngecewain, aku enggak yakin bisa. Karena manusia itu seringnya enggak sesuai harapan, makanya ngecewain.’’jelasnya tenang.


“Jadi kamu ada niat?’’


“Enggak ada loh sayang.’’ujar Bastian tenang. “Cuma ke depannya aku enggak tahu. Ntah sikapku, atau perkataanku mungkin bisa saja ngecewain.’’Bastian menghentikan omongannya. “Makanya izinin aku untuk lebih kenal kamu’’


“Hm,”Aleksa tersenyum.


“Al, boleh enggak aku meminta sesuatu darimu.’’ucap Bastian mulai serius. Aleksa bergidik kaget melihat Bastian.


“Jangan aneh-aneh Bas, macam-macam kamu sama aku, kuhajar!’’Aleksa melepas genggaman Bastian. Ia menjauh dari Bastian.


Bastian tertawa. Tingkahnya itu menunjukkan bahwa Aleksa berpikir ke arah yang negatif. Ia takut Bastian meminta yang tidak-tidak.


“Dih, langsung dilepas. Ngeri banget’’protes Bastian.


“Awas kalau kamu macam-macam’’Aleksa semakin menjauh.


“Kebiasaan! Nyimpulin sesuatu seenak jidat.’’keluh Bastian sambil meneguk jus miliknya. “Aku belum siap ngomong loh Leks.’’Bastian sedikit menekan.


“Ya, pula muka kamu aneh Bas.’’


“Hm, ya udah enggak jadi.’’


Aleksa tertawa. “Cepet bilang Bas.”


“Nanti kamu mikirnya aneh-aneh lagi.’’


“Enggak. Cepetan.’’


Bastian ingin Aleksa berhenti mengikuti tim cheersnya. Ia tak ingin Aleksa bergumul di eskul itu secara berlebihan. Ia tidak menyukai Aleksa menggunakan pakaian seksi, ditambah lagi ada beberapa teknik yang harus ditumpu dengan teman laki-laki Aleksa. Sedikit banyaknya, mereka dengan leluasa memegangi Aleksa.


Gadis itu tersenyum mendengar penjelasan Bastian. Sudah lama ia ingin meninggalkan chers itu. Mama dan papanya juga sudah menyuruhnya untuk keluar. Namun kali ini larangan Bastian memperkuat tekadnya untuk meninggalkan tim itu.


“Tapi itupun terserah kamu sih Leks. Cuma aku enggak suka aja, si Roni nyuri-nyuri kesempatan sama kamu.’’ujarnya dengan datar, ia mengalihkan pandangannya. Sering sekali Roni, salah satu personal mereka melama-lamakan adegan itu.


“Dia enggak kayak gitu Bas.’’


“Dih, jelas banget loh Al, kelihatan modusnya.’’ucapnya kesal.


Aleksa tertawa, baru kali ini dia melihat Bastian benar-benar menunjukkan perasaannya. Lelaki itu mengalihkan pandangannya. Wajahnya menunjukkan ketidaksukaan terhadap isi ucapannya. Aleksa menikmati itu, jarang-jarang ia melihat langsung momen ini. Wajahnya terlihat menggemaskan.


“Kenapa lagi kamu senyum-senyum kayak gitu Al?’’tegurnya. “Kamu mikirin apa?’’


“Enggak ada sih Bas, aku enggak nyangka aja. Cowok yang aku cintai, ternyata bisa se-cute ini, hm, enggak nyangka aja kamu suka samaku. Aku kirain, kamu enggak normal tahu enggak.’’celutuknya kesal.


“Makanya, kalau punya perasaan diungkapin.”


Lelaki itu tak menyahut, ia mengabaikan ucapan Aleksa. Sedari awal memang ia tidak ada niat untuk melepaskan Aleksa untuk siapapun. Ia sengaja membuat Aleksa bergantung kepadanya, membuatnya semakin penasaran dengan Bastian walaupun terkesan cuek, namun Bastian berhasil melakukannya.


“Woi Bas.’’sapa Ola santai.


“Ola?’’Aleksa tersenyum bahagia. Ia sangat suka berteman denga Ola yang sefrekuensi dengannya.


“Kalian di sini? Berduaan mulu?’’Ola cipika-cipiki dengan Aleksa, kemudian duduk di hadapan mereka.


“Kamu sama siapa La?’’tanyanya kembali.


“Tuh, bareng temanku.’’


“Dih, temen, pacarmu yang mana lagi itu La?’’tanya Bastian yang langsung menebak sahabatnya yang tidak tahan dengan satu lelaki. Ola adalah temannya yang cukup mahir meluluhlantakkan hati lelaki. Cuma Bastian saja yang tidak masuk ke perangkapnya.


“Buka kartu aja kerjaanmu Bas.’’ujarnya kesal. Ia mengambil potongan roti bakar dari piring Bastian, kemudian memasukkan ke dalam mulutnya.


“Kalau kamu enggak heran!’’


“Jadi gimana? Udah jadian kamu?


Bastian tak menyahut. Ia mengalihkan pandangannya. Namun berbeda dengan Aleksa yang memasang telinga dan matanya ke hadapan Ola. Ia ingin lebih lanjut mendengar obrolan yang tidak diketahuinya.


“Emang Bastian cerita sama kamu?’’


“Dih, kamu tahu Leksa. Nih anak, nyeret aku waktu kita pertama kali nonton. Biar dia enggak caanggung sama kamu.”


Bastian mengambil sepotong roti lagi kemudian menyuapkan ke mulut Ola lagi.


“La, makan lagi rotinya ya.’’ujarnya. “Mulut kamu bocor banget sih!’’Bastian berpindah tempat. Aleksa semakin curiga dengan tingkah laku Bastian.


“Nih anak, suka sama kamu Leksa, tiap hari cerita samaku. Sampai bosan dengarnya.’’


“Kamu serius La?’’Aleksa terkejut mendengar hal itu.


“Ehm, kamu hauskan La?’’Bastian menyodorkan minumannya ke mulut Ola lagi agar berhenti membicarakannya. Aleksa yang menyadari Bastian ingin menutupi ceritanya, Aleksa bergerak maju, mendorong Bastian menjauh dari Ola. Aleksa menarik tangan Ola, kemudian setengah memeluk.


“Jahat banget kamu Bas.’’celutuknya. Ola merengek dipelukan Aleksa.


“Tolongin aku Leks. ‘’rengeknya manja. Ola merengek seperti anak kecil. Bastian kesal.


“Diem kamu La.’’ancam Bastian, agar ia tidak melanjutkan ceritanya.


Selama ini, Bastian sering menceritakan Aleksa kepadanya. Ia selalu meminta pendapat kepada Ola agar bisa mendapatkan hati Aleksa. Bastian tipe lelaki yang sulit sekali mengungkapkan perasaan. Ia harus dipaksa, baru mengerti. Ola juga sempat buntu, dan malas menasihatinya lagi sehingga suatu waktu, mereka pernah ketemu dengan Raka.


Saat mereka nongkrong bersama, Raka dilihatnya orang yang tepat untuk membantu sahabatnya itu untuk mengungkapkan perasaannya. Raka juga mendukung Bastian dengan Aleksa untuk bersama.


Aleksa mendengar penjelasan Ola. Ia tersenyum puas, setidaknya ia semakin yakin bahwa Bastian orang yang tepat untuknya. Walaupun Bastian tidak mengungkapkan secara langsung, namun dengan pengakuan Ola, sudah membuktikan bahwa Bastian layak untuknya.


Bastian malu setengah mati. Ia tutup wajahnya dengan hoodie, membiarkan Ola merenggut rahasianya. Tiba-tiba runtuh seketika harga dirinya.


“Haha, Bas, aku pergi dulu ya.’’ucap Ola setelah menyelesaikan misinya. Tanpa rasa beralah, Ola meninggalkan mereka ke dalam kecanggungan.


Bastian pura-pura menikmati musik yang bersenandung. Begitu riuhnya suasananya, karena banda tersebut membawakan lagu yang mengundang pengunjung untuk teriak-teriak. Aleksa masih mengamati Bastian, ia tersenyum melihat tingkah kekasihnya yang mati kutu.


“Bas”panggil Aleksa lembut. Lelaki itu menoleh ke arahnya dengan ekspresi datar.“Aku sayang kamu.’’ucapnya tanpa suara.


“Apaan?’’tanyanya malu. Aleksa tertawa. Ia membentuk kesepuluh jarinya membentuk lengkungan cinta. Ia letakkan sepuluh jari yang terbentuk love itu dadanya.


Bastian tersenyum malu. “Pulang yuk.’’ajak Bastian ketika waktu sudah menunjukkan pukul 21.37 WIB.


Lelaki itu mengantar Aleksa ke rumahnya. Ia sempat membelikan makanan kesukaan Reyfan. Setelah dirasa sudah aman. Bastian pun izin pamit pulang.