
Seluruh siswa pada sibuk beraktivitas. Tepat pukul 9.00 WIB kegiatan itu resmi dibuka, berbagai pertandingan olahraga di tandingkan di sekolah itu. Bastian mencari aman. ia berupaya untuk tetap stay di kelas. Menghindari keributan. Ia tidak mau menjadi sorotan publik.
Ia menarik menjadikan satu kursi yang untuk dapat disejajarkan. Bastian merebahkan dirinya lagi, sambil memainkan game kesukaannya. Aleksa tadi sempat memberikan pesan kepadanya untuk menjaga diri dari kungkungan Tere. Bastian hanya tersenyum membaca pesan itu.
Berbeda halnya dengan Aleksa di luar sana. Ketua OSIS itu memantau berjalannya kegiatan. ia tadi juga sempat bertemu dengan Raka dan mengatakan terima kasih, karena berkat Raka, Bastian berani mengungkapkan perasaannya.
“Bas,’’panggil Shiren kepadanya.
“Hm, kamu dicariin anak-anak.’’ujarnya dengan nafas tersengal-sengal. Sedari tadi Shiren mencarinya kemana-mana.
“Kenapa Ren?’’
“Please bantu tim kita Bas.’’
“Mau ngapai?’’
“Three on three Bas.’’singkatnya sambil menunjuk ke lapangan basket. Di antara teman sekelas laki-lakinya, Bastian cukup bisa diandalkan untuk bermain basket.
“Aku enggak bisa.’’tolak Bastian santai. Namun tanpa disangka teman sekelas Bastian berbondong-bondong menhampiri Bastian. Ia dikelilingi teman-temannya. Sebagian kesal melihat Bastian yang acuh tidak acuh terhadap kegiatan, padahal mereka menginginkan menang.
“Bas, kalau kamu enggak bergerak juga, kami geret.’’ujar salah satu teman perempuannya. “Kita kekurangan pemain Bas, Deren dan Theo jadi wasit Bas. Cuma kamu yang free!’’
“Aku lagi enggak fit.’’bohongnya sambil tersenyum tipis.
“Guys, kayaknya kita harus bawa Bastian ke luar ruangan’’teriak salah satu siswa lagi.
“Gimana Bas?’’
“Aku enggak bawa baju olahraga.’’tolaknya.
Mereka memberikan sepasang jersey kepada Bastian. Setiap penolakan selalu diatasi oleh teman-temannya. Maka mau tidak mau ia bergerak dari kemalasannya. Ikut berbondong-bondong ke lapangan. Entah mengapa, semua meneriaki kehadirannya. Merasa senang Bastian hadir ke lapangan.
Setelah melakukan peregangan, ia memasuki lapangan menggantikan salah satu temannya yang juga terpaksa ikut karena tidak ada orang lain lagi. Teman-temannya yang lain juga mengikuti pertandingan lainnya, sehingga mereka memang kurang pemain.
Bastian cukup kewalahan bergabung dengan tim dadakan ini, ia sangat sulit megikuti permainan mereka. Di beberapa menit kemudian, dengan memberikan isyarat agar mereka bermain secara tim maka Bastian mulai bisa mengikuti.
Ketika teman Bastian melakukan shoot, bolanya mengalami rebound, dengan segera ia mengambil bolanya lagi dan mendribelnya lagi, kemudian ia memasingkan kepada temannya kembali dan shoot. Bola itu masuk, tambahan dua poin untuk tim mereka. Dalam hal ini Bastian tidak mau bermain egois, ia hanya sebagai pelengkap tim itu, murni hanya untuk membantu teman-temannya.
Aleksa keheranan melihat jumlah penonton kian bertambah. Kehebohan penonton basket lebih riuh dibandingkan voli. Gadis itu penasaran dengan apa yang terjadi, ia mencoba membelah penonton dengan kedua tanganya, mencoba memasuki barisan paling depan.
“Ayo Bas, Lay up lagi’’sorak sorai mulai terdengar jelas menyebutkan sosok yang dikenalnya.
“Nih anak, pandai memanjakan mata penonton ya.’’bisik salah satu kakak kelasnya. “Padahal tadi tidak seheboh ini.”
“Mana sih anak itu!’’ujarnya sambil mengamati ke lapangan. Dilihatnya nomor punggung 11 sedang mengoper bola. “Tadi katanya enggak mau main.”gerutu Aleksa kesal. “Nih anak, kalau soal olahraga enggak bisa dipegang. hem.’’Aleksa menjauhi kerumunan.
Wajah gadis itu menunjukkan kekesalan. Ia tidak peduli dengan fansnya Bastian, yang ia khawatirkan hanya dari satu nama yakni Tere. Si gadis yang tidak tahu malu terhadap siapa pun. Aleksa juga tidak ingin hubungannya terlihat muncul di era fans fanatiknya Bastian.
Babak kedua sudah selesai. Tim mereka menang tipis.Bastian menepi di pinggir lapangan. Ia luruskan kakinya.
“Dih, kok menang sih.’’celutuknya ngos-ngosan. Teman-temannya menoleh ke arahnya dengan pandangan menyolot. “Engg, eh,akhirnya kita menang.’’celutuk Bastian lagi.
Dari sudut lapangan, gadis yang baru saja menjadi kekasihnya menatapnya tajam. Disunggingkan lagi bibirnya menandakan mengejek Bastian.
“Bagus.’’celutuknya tanpa suara.
“Handphone kamu mana?’’tanya Aleksa lagi menunjuk ponselnya agar Bastian melihat handphonenya. “Bas, sini bentar.’’ucap Aleksa melalui teleponnya.
Bastian bergegas bergerak langsung ke arah Aleksa walaupun tadi ia sempat di cegat teman-temannya untuk tidak pergi ke mana-mana. Namun ia beralasan mau beli minum sebentar.
Bastian mendekati Aleksa yang duduk di sudut lapangan. Ia bertugas menjaga meja panitia. Mencatat siapa yang menang dan kalah, serta pendaftaran ulang.
“Selamat siang ibu cantik.’’ledek Bastian yang berdiri di hadapannya.
“Katanya enggak mau main, taunya main. Hem.’’ujarnya sambil menatap Bastian.
“Dih, kamu enggak tahu betapa anarkisnya teman-teman kamu ingin menang?’’tutur Bastian. Keringatnya ke mana-mana. Seluruh tubuhnya dibaluri keringat. Aleksa berdiri mengambil tisu, kemudian menyeka keringat di wajah kekasihnya.
Ia menepuk-nepuk lembut wajah Bastian dengan tisu. Aleksa tersenyum. “Siniin ponselmu Bas, biar aku pegang.’’ujarnya. Tanpa pemberontakan, Bastian menyerahkan ponselnya.
Aleksa membuka kunci ponsel Bastian tanpa kode keamanan apapun. Aleksa menggeleng keheranan. Biasanya untuk remaja seperti mereka kode keamanan sangat penting untuk menjaga privasi. Aleksa menscroll handphone Bastian. Lelaki itu tidak keberatan ponselnya dibuka oleh Aleksa, karena tidak ada rahasia apapapun.
Bastian pamit, ia menemui teman-temannya yang lain. Pertandingan berikutnya, Bastian tidak mengikuti, ia malas untuk berinteraksi dengan Zacky. Si kapten basket, dan si pencari ribut terbesar. Bastian menepi. Ia duduk di samping teman-teman lainnya.
“Hm, nih anak, kelewat apatis, enggak ada satupun nomor sekelas yang disimpannya.’’gerutu Aleksa. Bastian juga jarang memberikan pesan, bahkan di riwayat panggilan kosong. Mata Aleksa terfokus pada nama adiknya Reyfan. Bastian dengan Reyfan sering memberikan pesan satu sama lain.
Reyfan sering mengajak untuk main bareng, nanya tugas, minta dibuatin akun, dan hal-hal lain tanpa sepengetahuan Aleksa. Ia lihat lagi ke pesan berikutnya. Ada yang menarik lagi, pesan dari Ola, ia bacain satu per satu. Ternyata benar apa yang dikatakan Ola, Bastian selalu menceritakan tentang dirinya kepada Ola.
Ia senyum-senyum membaca pesan itu. Ia tidak menyangka dari sifat Bastian yang diduganya tidak peka, ternyata sebaliknya. Keasyikan membaca pesan Bastian, ia tidak menyadari bahwa Bastian di bawah teriknya matahari sedang menahan amarahnya untuk tidak terpancing dengan segala ucapan Zacky kepadanya.
Bastian menggaruk dagunya yang tak gatal. Matanya tak lepas dari Zacky yang terus menggodanya. Skor teman Bastian juga lumayan tertinggal. Bastian dipaksa masuk lagi oleh teman-temannya.
Mau tak mau Bastian menyetujui. Zacky semakin menunjukkan kekuatannya di lapangan. Ia yang merasa posisinya direbut oleh Bastian sengaja menunjukkan kemahirannya.
Bastian tertawa. “Dasar tolol. Buang-buang tenaga mainnya.’’gerutunya kesal.
Zacky mendorong tubuh Bastian hingga terjatuh. Tubuhnya lumayan tercampak jauh. Wasit tidak meniup peluit, baginya itu bukan sebuah pelanggaran. Penonton menyoraki Zacky.
“Si lemah!’’hardiknya.
Bukannya merasa bersalah, Zacky malah melemparkan bola basket yang di tangannya ke wajah Bastian dengan kuat. Bastian sempat terhuyung ke belakang, namun dengan sigap ia merespon bola itu. Wajahnya memerah, bekas bola jelas telihat di wajahnya.
Bastian tersenyum sinis. Wasit masih belum meniupkan peluitnya. Penonton mulai ricuh.
“Curang woi!! Zacky!’’teriak teman-teman sekelas Bastian.
“Wasit! Oii!”teriaknya mereka lagi.
Zacky tertawa senang, melihat Bastian mendapatkan balasannya. Beberapa teman laki-laki Bastian mulai masuk ke lapangan. Mendorong Zacky. Bastian melerainya.
“Udah oi, biarin aja.’’teriak Bastian tenang. Cukup lama ia menenangkan teman-temannya. Hingga Jogi guru olaharaga mereka datang menghampiri, barulah seluruh siswa tertib kembali.
Pertandingan dilanjutkan. Bastian terus menghindari Zacky, ia masih mau cari aman. Tidak mau menimbulkan keributan lebih lanjut. Tim Bastian menang satu poin dari tim Zacky. Lelaki itu semakin kesal karena ia sang kapten dikalahkan oleh pemain amatir seperti Bastian.
Pertandingn selesai bersamaan dengan jam pelajaran berakhir. Bastian mengemasi barang-barangnya. Masih tampak jelas bekas bola yang dilemparkan Zacky tadi kepadanya. Sepulang sekolah,. Bastian menunggu Aleksa di parkiran.
Sepuluh menit kemudian, motor pun melaju. Tak banyak kata yang keluar dari mulut Bastian, begitu juga dengan Aleksa. Gadis itu masih menikmati dan mengingat-ingat isi pesan dari Bastian kepada Ola.