
Sepulang sekolah, dengan cepat Aleksa mengikuti langkah Bastian. Ia takut Bastian meninggalkan dirinya, karena pertemuan yang dia tak ketahui. Begitu sampai parkiran, tanpa basa-basi Aleksa menaiki motornya sehingga membuat Bastian terkejut. Bastian menoleh ke arah gadis itu dengan tatapan heran.
“Udah ayo jalan.’’titah Aleksa. Ia menatap Bastian dengan berbagai campur aduk. “Kenapa? Enggak suka samaku ya?hm?’’
“Ngomong apa sih Al.’’tanyanya heran. “Aku cuma terkejut loh Al, tiba-tiba langsung naik gitu.’’
Aleksa tak menyahut, ia masih menunjukkan kekesalan. “Udah cepetan jalan Bas.’’
Motor pun melaju, Aleksa masih tidak membuka suara. Begitu juga dengan Bastian, mereka mengitari perkotaan di terik siang. Hingga di pusat kota Bastian menghentikan motornya, dan mengajak Aleksa masuk di sebuah kafe tongkrongan anak muda. Di meja nomor 12 sudah ada wanita yang menanti kehadiran mereka. Wanita itu menyapa dengan ramah.
“Hei Bas.’’gadis itu langsung memeluk Bastian tanpa memperdulikan apapun. Ia juga memperlakukan hal yang sama kepada Aleksa.
“Hem, siapa lagi gadis ini. Orang yang berbeda dengan yang video call tadi.’’gumam Aleksa kesal. Ada rasa yang berbeda bersarang di hatinya ketika Bastian memiliki teman wanita di luar sekolahnya, sehingga ia tidak bisa memastikan siapa gadis-gadis yang mendekatinya.
“Mbak, enggak tahu kesukaan kalian apa. Tadi main pesan aja biar cepat. ‘’terangnya menjelaskan sebab banyaknya makanan di meja.
“Ehm, maaf kalau buat Mbak lama menunggu.”
“Disambil ya Bas, siapa teman kamu namanya?’’
“Aleksa Mbak.’’jawab Bastian sambil tersenyum. Ia menyodorkan makanan kesukaan Aleksa ke hadapannya. Aleksa memakannya.
“Kita to the point ya Bas. Hasil pekerjaan yang kamu buat belakangan ini bagus. Tapi Mbak butuh saran cerita nih.’’terangnya sambil menikmati makanan yang dipesannya. Aleksa turut menyimak gadis yang Bernama Casandra itu. Penampilannya sungguh menarik, tutur katanya lembut, tidak seperti gadis yang di telepn tadi.
“Hm, aku juga lagi buntu sih Mbak, tapi nanti aku usahain.’’sambung Bastian sembari berpikir. Terlihat jelas pikirannya jauh melayang memikirkan maksud dari Casandra.
“Saran kamu yang terakhir kali kita bertemu, Mbak ingin kita ngelanjutin cerita itu. Bas, cerita si anak bola yang jatuh cinta sama ketua OSIS Bas.’’
Degg
Mendengar penjelasan Casandra, Aleksa langsung menendang kaki Bastian sekuatnya, hingga Bastian hampir terjatuh.
“Kenapa Bas?’’
“Eng-enggak apa-apa Mbak, cuma ada yang lewat tadi Mbak, mungkin kucing kali.’’elak Bastian sambil melirik Aleksa yang menanti penjelasannya.
“Oh kirain, gimana Bas? bisa ngasih garis besarnya kan?’’tanya Casandra antusias, karena ia penulis yang mencintai cerita remaja. Ia sering meminta inspirasi kepada Bastian mengenai kehidupan remaja.
“Biar kucoba kirim nanti ya Mbak.’’ujar Bastian sembari berupaya untuk memberikan yang terbaik. Casandra adalah partner Bastian yang kedua setelah pekerjaannya yang pertama membuat komik. Bastian mendapat tawaran bekerja sama dikarenakan mereka pernah bertemu dalam event menulis, dan Bastian menjadi juara pertama dalam menulis. Casandra adalah salah satu juri saat itu, ia suka dengan kisah yang disajikan Bastian, bukan karena kisahnya yang unik, melainkan cara penyajian Bastian dalam menyampaikan narasinya.
Casandra banyak memberi arahan kepada Bastian, ia juga mengarahkan Bastian untuk mengirim tulisannya ke beberapa platform novel online agar ia mendapat penghasilan. Dan hal itu ia lakukan, banyak fans yang menyukainya ceritanya.
“Bastian? Penulis sekaligus komikus? Seriusan? Aku enggak tahu apa-apa tentang nih anak.’’gumam Aleksa. “Bas, pinjam ponselmu.’’bisik Aleksa kepada Basitian yang masih asyik mengobrol dengan Casandra.
Aleksa membuka ponsel Bastian, ia kotak-katik ponsel Bastian dengan lincahnya. Selama ini ia hanya membuka aplikasi hijau,biru, dan aplikasi yang umumnya digunakan untuk mengepos foto dan video. Ia tidak pernah membuka aplikasi lainya. Aleksa mulai mengklik salah satu aplikasi baca kemudian menginterogasi menu aplikasi itu satu per satu. Pada akhirnya ia hanya terfokus pada pesan masuk, ada ribuan bukan lagi ratusan yang membuat Aleksa terbelalak menyaksikan itu.
Ia baca sebuah cuplikan kisah yang ditulis oleh lelaki itu dengan sederhanya. Dalam tulisan dari sudut pandang orang pertama itu, ia mengisahkan bahwa seorang gadis yang ia cintai bermutu mata lentik dengan pesona wajah yang luar biasa dengan lesung pipi menghiasi kedua pipinya. Gadis itu mampu mengalihkan dunianya dan memberikan keleluasaan.
“Ya udah kalau gitu, kami balik dulu ya Mbak.’’ujarnya setelah mereka selesai membahas topik pembelajarn mereka. Batsian menarik tangan Aleksa membimbingnya keluar. Aleksa tersenyum tipis menyaksikan hal itu. Lelaki itu menggenggam tangannya dan meluluhkan kecemburuan yang sempat terbenam di hatinya.
“Haaaciim”Aleksa bersin seketika ia menghentikan langkah Bastian. Lelaki itu menatap ke arahnya dan memegang kepala Aleksa memastikan. “Kamu sakit Al?’’tanyanya khawatir karena pagi tadi Aleksa sempat terkena hujan. “Badan kamu hangat, kita pulang.’’ujarya memutuskan perjalanan selanjutnya.
“Enggak mau, aku masih mau sama kamu Bas.’’tolaknya sambil menggandeng tangan Bastian menuju parkiran.
“Kita pulang Al, kamu itu kecapean.”ucapnya memberikan perhatian.
“Enggak mau Bas. Aku masih kangen.’’tolaknya lagi dengan tatapan sendu yang meggungah Bastian untuk menuruti apa kata mau gadis itu.
Bastian membelai lembut pipi Aleksa lembut. Sebenarya ia juga merasakan yang sama. Gadis yang selalu ada di sampingnya walaupun terkadang Batsian tidak bisa memperlakukan hal yang sama kepada Aleksa.
Mereka pun melaju dengan kencang. Bastian tidak mau Aleksa semakin parah. Walaupun ia masih ingin bersama gadis itu, namun Aleksa diantarnya pulang.
Di rumahnya Reyfan menyambut dengan kepolosannya. Aleksa terdiam karena wajah adiknya tidak seperti biasanya menatapnya. Walaupun gadis itu sempat kesal dengan perlakuan Bastian yang langsung mengantarkannya ke rumah, akhirnya ia tetap pasrah.
“Bang, si Leksa kenapa?’’tanya Reyfan ketika ditemuinya Bastian masuk ke dalam rumahnya.
“Mau kerkom Bang.’’ucapnya sambil tersenyum. Diambilaknnya minuman untuk Bastian sementara itu Aleksa ganti baju di kamar. Bastian duduk di ruang tamu. Ia ambil kompres Pereda deman yang ia beli tadi di apotek.
“Minum Bang.’’ujar Reyfan sambil tersenyum. “Bang’’ia menunjuk jersey yang ada nama Bastian di dadanya. “Kupakai’’
“Wih, keren. Sabar ya Rey, jersey kita yang barengan masih proses.’’cetus Bastian mengingat janjinya kepada Reyfan.
“Haha, aman Bang.’’jawab Reyfan tenang. Ia duduk di samping Bastian. Menunjukkan handphonenya. Ia menunjukkan isi chatnya. Bastian mengambil handphone, ia baca sau per satu isi chat bersama gebetennya.
“Jadi kamu mau jumpain ini?’’
Reyfan mengangguk, ia tersenyum malu-malu. Tak lama Aleksa datang, Bastian gugup. Ia segera mengembalikan ponsel kepada Reyfan dengan buru-buru. Ia takut Aleksa mengetahui, karena Reyfan tidak ingin mengetahui hal itu. Jika gadis itu tahu, semua bakalan selesai.
“Apaan itu!’’sentak Aleksa mengintimidasi. Ia mendekati kedua lelaki itu. “Apa yang kalian rahasiakan ?”tanyanya mengintimidasi.
“Enggak apa-apa Al. Tadi lihat akun game nya Reyfan.’’bohongnya menyelamtkan adik Aleksa.
“Jadi kenapa gugup gitu?’’
Bastian tak menyahut. Ia geser tubuhnya mendekati Reyfan. “Rey, kalau mau jumpai gebetan, jangan pakai jersey gitu dong.’’sarannya setengah berbisik.
Reyfan tersenyum. “Enggak apa-apa Bang, mau lihat respon dia dulu gimana.’’sambung Reyfan lagi setengah berbisik.
Aleksa semakin curiga dengan kedua laki-laki yang di hadapannya. ‘’Kalian ngapai? Hem? Apa lagi yang kalian rencanain?’’telisik Aleksa mendekati. Ia duduk di samping Bastian.
Bastian merangkul Reyfan, dan agak menjauh dari Aleksa. “Kalian ketemu di mana?’’
“Kafe yang kemarin itu Bang.’’jawabnya setengah berbisik.”Aku pergi dulu ya Bang.’’pamitnya kepada Aleksa dan juga Bastian.
“Kamu mau ke mana?’’tanya Aleksa heran. Reyfan menjelaskan bahwa dirinya mau bertemu dengan teman-temannya. Gadis itu sempat melarang Reyfan, karena ia tidak ingin adiknya terlalu bebas di luar sana.
“Kalau kamu ragu sama Reyfan, ya udah biar aku yang nemenin dia.’’tantang Bastian kepada kekasihnya.
“Dih, kamu kok jadi belain Reyfan?’’
“Lah, kamu aja yang terlalu berlebihan Al.’’cetus Bastian. Sementara itu Reyfan pergi berlalu meninggalkan kedua kakaknnya.
“Iya, kan karena aku sayang, hem.’’rengek Aleksa manja. Ia menggandeng tangan Bastian, dan bersandar di pundaknya.
“Iya, kamu sayang, tapi jadiin Reyfan tukang bohong karena kamu terlalu ngekang dial oh Al.’’nasihatnya sambil membelai rambut Aleksa. “Badan kamu panas banget Al.’’Bastian membuka kompres yang ia beli tadi, kemudian tanpa banyak kata ia langsung menempelkan di kening kekasihnya.
Aleksa hanya diam menurut, ia sempat tertawa kecil karena yang ia gunakan untuk balita. Namun ia juga menyadari bahwa hal itu efektif untuk orang dewasa juga.
“Bas, kepalaku pusing.’’keluhnya dengan setengah berbisik.
“Ya udah, kamu istirahat gih, biar aku pulang’’
“Enggak mau, aku masih mau sama kamu.’’rengeknya.
“Tan… Om… lihat nih Aleksa enggak mau istirahat.’’teriaknya. Aleksa langsung menutup mulut Bastian dengan tangannya.
“Mama sama Papa lagi keluar Bas.”
“Loh iya?”Bastian menarik nafas dalam. Ia sangat takut dengan situasi seperti ini berdua dengan anak gadis orang. Untuk seusianya hal ini merupakan hal yang tak seharusnya. “Al, aku balik ya.’’ujar Bastian
“Dih, tega banget sih Bas? Aku lagi sakit kamu tinggalin kayak gini hem.’’rengeknya manja. Aleksa merebahkan di sofa panjangnya. Ia terlihat lemas, wajahnya pucat.
“Minum obat Al.’’Bastian memberikan kompres dan obat yang dibelinya tadi. Ia memberikannya kepada gadis itu.
“Thanks Bas.’’Aleksa tersenyum tipis. “Jangan pulang dulu ya Bas.’’
“Hem.’’Bastian mengambil selimut yang terletak di samping Aleksa, kemudian mengembangkannya menutupi sebagian tubuh Aleksa.
Gadis itu memejamkan matanya, beristirahat, tubuhnya sangat letih, karena kegiatan yang diikutinya cukup menguras energi dan pikiran.