Transfer Student

Transfer Student
Haters



Pagi ini Bastian duduk di koridor sekolah seperti biasa. Dari kejauhan ia melihat Deren jalan beriringan sambil mengobrol. Mata Bastian tidak berkutat melihat lawan jenis itu menyusuri halaman sekolah.


‘’Hm pantes jutek kayak gitu.’’pikir Bastian sambil memainkan handphonenya.


“Hei Kak?’’sapa Vania menganggu ketentraman.


“Hm’’sahut Bastian. “lah, aku ketularan Aleksa nih.’’ucap Bastian dalam hati.


“Keren kamu kak, trending topik terus.’’pujinya sambil duduk di samping Bastian.


“Itu karena ulahmu dan fanspage yang enggak jelas. Lagian cari berita yang bermanfaat. Banyak kegiatan yang harus diekspos.’’nasihat Bastian.


“Kak, aku mau tanya kepribadianmu sebenarnya lebih ke introvert atau ke esktrovert sih?’’tanya Vania yang mengabaikan nasihat Bastian.


Bastian menghentikan aktivitasnya.


“Kamu itu mau tau aja.’’


“Ya udah kalau enggak mau jawab. Nih’’Vania memberikan bingkisan yang bervariasi. ‘’Dari fans fanatic kamu. Kak Tere juga ada ngasih baju tuh untuk kamu. Katanya sebagai terima kasihnya karena kamu udah mau menuruti permintaanya.’’


“Aku enggak mau. Balikkan semua sama mereka.’’


“Ini Amanah, jadi harus kusampaikan.’’ujar Vania. “Kamu enggak punya teman ya Kak?’’tanya Vania lagi.


‘’Kenapa?’’


“Kamu tipe yang ekstrovert, tapi ke mana-mana sendiri kayak gini. ‘’


“Udah, enggak usah sotoy. ‘’cetusnya sambil meletakkan paper bag di sampingnya. “Coba kamu jelasin sebenarnya di sekolah ini ada apa? Kenapa ada fanspage segala. Aku bukan siapa-siapa di sekolah ini tapi kalian buat aku enggak nyaman.’’


“Udahlah Kak. Enggak usah dibahas. Kak Tere juga pasti nepati janjinya.’’


“Bodoh amatlah.’’ujarnya sambil meninggalkan Vania.


Sementara itu ia pergi ke kantin. ia memesan makanan. Ia sengaja memilih di pojok, untuk menghindari keramaian. Bastian memang selalu sendiri ke mana-mana. Ia lebih menikmati kesendiriannya. Tak lama Tere datang menghampiri.


‘’Eh adik manis.’’sapa Tere dan langsung duduk di sampingnya. Angel dan Clara duduk di hadapan mereka. “Kenapa paper bag nya ditinggalin gitu aja?’’tanyanya.


“Ehm, iya ketinggalan.’’ucapnya sambil menyantap makanannya.


‘’Kamu emang enggak sopan ya Bas ninggalin kami gitu aja.’’tuturnya menceritakan kejadian semalam.


Bastian tak menyahut. Ia mengambil minumnya kemudian meneguknya. Tak lama Deren dan Aleksa juga berbarengan duduk di kantin. Deren menatap Aleksa dengan hangat. Bastian tersenyum tipis.


“Hm, udah datang si ketua OSIS centil.’’celutuk Tere kesal.


“Kamu juga centil Kak. Lagian kamu peduli banget sama Aleksa? Kamu suka?’’tanya Bastian. Ia mencoba mengalihkan. Tak lama Vania ikut bergabung juga, diikuti dengan beberapa teman Vania.


“Eh, Van. Mari kita bicarakan hal yang lebih serius.’’kata Tere dengan semangat.


Bastian tak memperdulikan obrolan mereka yang jelas yang terlihat bahwa saat ini Bastian dikelilingi banyak wanita. Sementara itu Aleksa yang menyadari terlihat kesal. Betapa tidak, Bastian tadi malam dengan gentlenya datang ke rumahnya meminta maaf namun siang ini ia terlihat lupa akan perbuatannya.


“Cowok brengsek!’’makinya dalam hati.


Deren yang memperhatikan kekesalan Aleksa, mengenggam tangan Aleksa dengan lembut. Ia mengetuknya sebanyak dua kali.,


‘’Enggak usah dipikirin.’’ujarnya lembut. “Kamu juga berhak Bahagia. Aku siap bahagiain kamu tiap hari.’’tuturnya memanjakan Aleksa.


“Apaan sih?’’Aleksa menarik tangannya.


“Aku cuma enggak mau kamu sakit sendirian Leksa.’’jawabnya dengan tenang.


Seusai makan, bastian hendak beranjak dari bangkunya namun dengan cepat Tere menarik tangannya.’’Mau ke mana?’’tanya ingin tahu.


“Mau ke toilet. Mau ikut?’’jawabnya jutek.


Bastian pergi meninggalkan mereka. Namun tak sengaja bahu Bastian bersenggolan dengan bahunya Fawnia adik kelasnya sehingga ia hamper terjatuh. Bastian cepat menarik tangannya.


“Maaf..’’ucap Bastian. ‘’Kamu enggak apa-apa’?tanyanya memastikan.


“Enggak apa-apa Kak.’’


“Eh, Fawnia kan?’’lagi-lagi Bastian memastikan.’’Faw, kamu sekolah di sini?’’


“Ehm iya kak Bas. ‘’jawabnya sambil tersenyum. ‘’Kamu masih ngenalin aku?’’tanyanyatak percaya.


“Ingatlah. Kamu pikir usiaku udah lanjut banget ya?’’ujarnya sambil menarik Fawnia ke bangku sekolah dekat lapangan basket. “Kamu udah tau aku pindah di sini? Kenapa enggak pernah nyapa aku?’’


“Takut kena serang fans kamu Kak.’’


“Dih, ngomong apaan sih? Siniin handphone kamu.’’ujarnya sambil menarik handphone Fawnia. ‘’Chat aku.’’ujarnya.


“Mau ngapai?’’


“Mau nyulik kamu.’’


“Kamu memang enggak pernah berubah. Udah ah Kak. Aku takut di serang gengnya mak lampir.’’ucapnya sambil berlalu. ‘’Bye.’’


Sementara itu tim basket putra yang menyaksikan Tindakan Bastian merasa Bastian terus mengambil kesempatan untuk dekat-dekat gadis di sekolah mereka. Salah satu pemain mereka dengan sengaja melemparkan bola ke arahnya. Namun refleks Bastian lebih cepat dari yang mereka sangka. Bastian bisa menangkap bola itu dengan cepat. Dan


Shutttt


Bola tersebut langsung masuk ke ring. Lagi-lagi Bastian mencuri perhatian. Zacky yang tak terima dengan Bastian langsung mendekati dan mendorong bahu Bastian.


“Eh cupu, enggak usah cari perhatian terus bisa!’’ucapnya dengan kasar.


“Ehm’’Bastian menaikkan alis kirinya. ‘’Lah, kamu siapa?’’tanya Bastian yang memancing Zacky semakin memanas.


“Songong amat nih anak baru. Ngerasa okey di situ?’’tantang Zacky kesal.


“Masalahmu apa samaku?’’tanya Bastian yang masih tidak mengerti.


“Beneran songong nih anak!’ia menarik kerah baju Bastian, namun Bastian segera mengehempaskannya.


Bastian memijat tengkuknya yang tak sakit. Mencoba menenangkan diri. Ia menatap Zacky yang tingginya beda tiga centi darinya.


“Tanganmu mengotori seragamku.’’ucap Bastian kesal. ‘’Kalau mau main ayo aku jabanin. Ngerasa hebat karena kamu tuan rumah sekolah ini! Kenapa emangnya sama anak baru? Kalian selalu mengganggap asing, padahal di adminstrasi sejak aku datang ke sekolah ini, aku juga siswa di sini. Ada yang rusak dari cara pikirmu!’’bentak Bastian sambil meninggalkan Zacky. Ia tak mau menambah keributan lagi.


Blup


Zacky melempar bola basket sekuatnya dan sengaja mengarah ke punggung Bastian yang selalu membalik arah. Dengan sekejap mata kaki Bastian langsung menendang kepala Zacky hingga tersungkur. Lagi-lagi semua mata menuju ke arahnya. Termasuk Leksa dan Tere serta teman-teman yang ikut menyaksikan kejadian itu.


Seisi sekolah bersorak sorai memanggil nama Bastian.


“Wah keren banget kamu Bas.’’salah satu teriakan terdengar jelas.


‘’Aduh ayang aku.’’


‘’Bas. I love you.’’


Bersahutan teriakan mereka terdengar namun Bastian tak memperdulikannya. Di depan kelas Tere. Bastian langsung di tarik Tere ke kelasnya. Ia memegangi kedua pipi Bastian. Mengecek setiap inci tubuh Bastian.


“Kamu enggak apa?’’tanyanya yang khawatir.


“Enggak Tere.’’ucap Bastian kesal.


Mendengar celutukan Bastian Tere. Degupan Tere tak menentu. Bastian yang memanggil namanya itu mampu membuatnya salting.


‘’Jangan berantem gitu dong Bas. Kamu itu asset.’’ucapnya menahan kekhawatiran.


“Apaan sih.’’Bastian menjauhinya. ‘’Aku laki enggak perlu berlebihan khawatirin aku.’’ujarnya sambil meninggalkan Tere. “Bye.’’


Bastian berjalan menuju kelasnya. Ia lihat Aleksa sempat melirik ke arahnya. Namun tak satu kata pun keluar dari mulutnya. Bastian langsung duduk di samping Aleksa.


“Bas, kamu enggak apa-apa?’’tanya Shiren yang juga khawatir melihat Bastian berkelahi tadi.


“Enggak apa-apa kok Ren.’’jawabnya singkat. ‘’Thanks’’ucapnya. Ia mendekati Aleksa. “Kamu enggak nanyain aku Leks?tanya Bastian.


“Bodo amat.’’ujarnya sambil mengeluarkan alat tulisnya.


“Bastian Surendra, kelas XI PIS 2, silakan ke kantor kepala sekolah sekarang.’’ucap guru BK mengumumkan dari speaker sekolah.


Bastian tertawa,”Dih, ngumumin pakai mic,’’ledeknya sambil keluar dari kelas. Kembali lagi perhatian menuju ke Bastian. Ia memasuki ruang kepala sekolah.


“Permisi Bu.’’sapanya ramah.


“Duduk’’perintahnya.


“Kenapa kamu tending Zakcy?’’tanyanya tanpa basa-basi.


Zacky yang masih meringis kesakitan terus memegang kepalanya. Bastian tak menjawab.


“Ini bukan pasar, yang bisa diselesaikan dengan perkelahian.’’


“Maaf Bu, saya tidak kenal dia.’’tunjuk Bastian ke arah Zacky. ‘’Setelah saya memasukkan bola yang dilempar dengan sengaja ke arah saya langsung ke ring. DIa langsung mendorong bahu saya.’’jelas Bastian mengenai kronologi yang terjadi. Ia menerangkan secara detail. Kepala Sekolah juga menanyakan dengan Zacky hal yang sama.


“Kalian berdua sama-sama salah.’’cetus ibu Ifa. “Sebagai hukumannya silakan bersihkan kamar mandi siswa.’’perintah Ifa kepada anak didiknya. ‘’Kamu Zacky harusnya sebagai kapten pakai dong pikiran kamu.’’


Zacky tak menyahut. Wajahnya masih terlihat kesal dan ingin memangsa Bastian dengan hebatnya.


“Kamu Bas, bersihkan ruang OSIS.’’perintah Ifa.


Mereka pun menurut. Bastian mengambil sapu dan mulai melakukan kebersihan. Ia membersihkan satu per satu meja. Ada beberapa sisa minuman gelas di sana dan berupa plastik bekas makanan. Ia tahu bahwa ia tidak salah, tapi mau bagaimanapun ia harus ikhlas menerima hukuman itu.


Aleksa masuk ke ruang OSIS. Betapa kagetnya ia Bastian berdiri di sana dengan memegang sapu beserta alat kebersihan lainnya. Ia terpekik kaget setengah mati dan beneran tak menyangka Bastian di ruangan kerjanya. Bastian terpingkal melhat wajah Aleksa yang terkejut.


“Diem kamu Bas.’’ancam Aleksa.


Bastian menghentikan tawanya. Ia melanjutkan pekerjaannya. Aleksa membuka catatannya, sambil menunggu anggota lainnya hadir. Tak lama Raka datang bergabung.


“Kamu di sini Bas?’’sapa Raka ramah.


‘’Iya kak.’’


‘’Perekrutan anggota baru Leksa?’’tanya ke Aleksa.


“Enggak Kak.’’jawab Aleksa cuek.


“Mau rapat ya Kak?’’tanya Bastian ingin tahu.


“Iya. Jangan bilang kamu kena hukum karena masalah tadi?’’


Bastian mengangguk. Ia menggaruk kepalanya tak gatal. “Aku keluar dulu ya Kak. Udah bersih ruangannya.’’tuturnya sambil keluar ruangan. Namun ia kembali lagi menjumpai Aleksa. “Hm, cuma kasih saran, kalau siap rapat, please sampahnya suruh bawa masing-masing. Biar ruangannya enggak kotor kayak gini.’’ujarnya sambil meninggalkan Leksa yang masih terpelongo dengan penjelasan Bastian.


Setelah itu ia lapor lagi ke ibu Ifa, kemudian berlanjut ke kantin. Hari ini cukup melelahkan baginya, karena harus menghadapi orang-orang aneh yang nongol di hadapannya.


Bastian memesan minuman dingin. Ia ambil tisu untuk mengelap keringatnya. Tere kembali mendekati.


“Bas.’’


Bastian tak menyahut. Matanya maih jauh menatap ke area kelas yang mendapat jam kosong karena tidak ada Gurunya.


“Kamu capek?’’tanyanya basa-basi.


Lagi-lagi Bastian tak menyahut. ‘’Tadi semua menyaksikanmu di lapangan, dalam sekejap berita udah ke mana-mana.’’


“Udah biasa jadi tokoh utama dalam berita miring.’’cetusnya jutek. ‘’Sejak ada fanspage, privasiku hilang.’’ucapnya lagi.


“Kamu jangan gitu. Harusnya kamu bersyukur banyak yang suka sama kamu.’’


Bastian tak menyahut. Ia memijit tengkuknya yang tak sakit. Kemudian memutar-mutarnya lagi. ‘’Kamu mau apa?’’


“Jumpa fans’’


“Dihh, gelo. ‘’


“Kita adain jumpa pers, untuk bersihkan nama kamu.’’ucap Tere penuh yakin.


“Ogah. Aku enggak peduli orang nganggap aku apa.’’sahutnya sambil merapikan rambutnya.


“Sekali aja kamu nurut Bas.’’


“Aku bukan kucing yang harus nurut sama majikan.’’


Tere tertawa.”Iya, kamu bukan kucing., Tapi harimau, yang lagi pengen kujinakkin.’’


“Noh, jinakin tuh si penyebar gossip biar enggak ekspos hal yang enggak berguna.’’ucapnya. “Udahlah ya aku mau pulang dulu.’’


“Ehm, kamu memang pantas jadi idola Bas, selain jago main bola, kamu juga jago olahraga lainnya dan sifatmu yang dingin dan tegas buat aku semakin ingin dekat-dekat kamu.’’ucap Tere sembari meneguk minuman Bastian yang sengaja ia tinggalkan.