Transfer Student

Transfer Student
Menang



Di hari berikutnya, kompetisi terus berlanjut, hari ini mata lomba baca puisi dan desain poster. Peserta yang masuk ke dalam lima besar, harus memperesentasikan karyanya dan dapat menjawab segala pertanyaan juri. Tak disangka tim Aleksa, masuk nominasi, belum diketahui mereka nantinya dapat peringkat ke berapa.


Sekarang giliran mereka yang presentasi. Aleksa gugupnya luar biasa, karena dia harus berbicara di depan banyak orang yang tidak dikenalnya. Bastian mencoba menenangkan. Ia sebenarnya juga gugup, namun untuk tampil di depan orang yang tidak dikenalnya itu bukan masalah baginya.


Mereka pun memulai presentasinya, secara bergantian mereka menjelaskan hasil karyanya. Dewan juri juga sempat melontarkan beberapa pertanyaan untuk mereka. Dua siswa itu menjawabnya sesuai dengan konsep mereka.


Akhirnya kesempatan mereka pun berakhir. Pertandingan itu langsung diumumkan tiga puluh menit setelahnya. Mereka memperoleh juara 2. Cukup membanggakan, walaupun Aleksa masih kecewa karena tidak mendapat juara 1. Siska sangat bangga kepada mereka karena anak didiknya mendapat nomor.


“Selamat ya Leksa, Bastian, kalian tim yang hebat.”


“Terima kasih Bu, tapi ini semua berkat ibu.”ucap Aleksa sambil menyalam gurunya, diikuti Bastian di belakangnya.


“Bukan kami Bu, tapi kita Bu.”Bastian merevisi kalimatnya. “Terima kasih ibu cantik.”pujinya sambil menyalam tangan Siska.


“Ya udah, kalau gitu kita makan dulu yuk.’’ajak Siska.


“Enggak usah Bu, di rumah aja.”tolak Aleksa.


“Yuk, Bu. “Bastian menyetujui


Siska tertawa, sementara itu Aleksa mencubit lengan Bastian memberikan isyarat untuk tidak menyetujui hal itu. Bastian tak berkomentar. Siska hanya mendengarkan Bastian, sehingga mereka pergi makan bersama.


Guru muda ini sangat memahami murid-muridnya, dan ia tahu bagaimana cara memanusiakan manusia. Kasih sayangnya tulus kepada siswanya, ia juga rela membagi waktunya untuk anak-anak yang ingin berdiskusi kepadanya.


“Leksa, makan yang banyak.’’ujar Siska sambil memberikan lauk-pauknya ke arah Aleksa.


“Makasih Bu.”


“Hm, hajar terus, ini reward dari ibu pribadi, karena kalian sudah capek mempersiapkan untuk hari ini.”ujar wanita itu sambil tersenyum. Ia melirik ke Bastian yang bersikap santai saja di depannya, tidak seperti Aleksa yang merasa canggung untuk melahap apa yang ia sajikan.


“Jangan malu-malu ya.’’tutur Siska lagi. Ia meneguk minumnya. Tak ada satu pun keluar dari mulut Bastian.


Aleksa masih terlihat kikuk, ia begitu segan dengan wanita yang di hadapannya. Sekalipun ini berupa reward, tapi bagi Aleksa ini terlalu berlebihan, karena apa yang mereka kerjakan juga untuk mereka sendiri.


“Bas, sertifikat dan pialanya cuma satu, nanti ibu duplicate kan lagi ya.’’ujarnya untuk berlaku adil bagi kedua siswanya.


“Enggak usah Bu, biar sama Aleksa aja.’’tolak Bastian. Ia tahu, bahwa untuk urusan seperti ini, pasti Siska lagi yang bekerja untuk dirinya. Ia tidak mau merepotkan wanita muda itu.


Aleksa menoleh ke arah Bastian. Ia menahan suapan di tangannya. Hingga menggantunglah suapan itu di depan bibirnya. Bastian tersenyum, ia mendorong tangan Aleksa untuk meneruskan suapannya yang hanya menurut saja diperlakukan seperti itu. Bastian tertawa.


“Enggak usah ngerasa bersalah. Kan dari awal kamu yang pengen dapat sertifikat untuk portofolio. Aku enggak terlalu butuh.”ucapnya sambil meminum air mineral miliknya.


Siska tertawa melihat kedua siswanya.”Kamu yakin Bas?’’tanyanya lagi.


“Iya Bu. Yakin. Sertifikat saya udah berlimpah.’’bohongnya. Ia berdiri menuju westafel. Mencuci tangannya.


“Ehm. Kamu merasa nyaman bersama Bastian, Leks?”


“Eng, iya Bu, nyaman sekali.”jawabnya jujur. Ia belum menyelesaikan makanannya.


“Sepertinya kalau dia partner kamu ke mana-mana, kalian bakalan lebih berkembang. Kolaborasi kalian saling melengkapi. Udah nemu chemistry-nya.”ucapnya sambil mengelap bibirnya dengan tisu.


Aleksa tak menjawab, namun Bastian mendengar, karena ia sudah selesai mencuci tangannya.


“Apalagi kalau ibu yang membimbing kami.’’sambung Bastian sambil becanda. Ia kembali duduk. Kemudian mengelap jemarinya dengan tisu.


“Ehm, makasih ya Bu, udah membimbing kami, udah meluangkan waktu untuk mengarahkan kami.’’ujar Aleksa menghentikan makannya. Akhirnya ia bisa menghabiskan suapan terakhirnya.


“Kallian hebat.”pujinya singkat agar tidak terjadi suasana melankolis di tempat makan itu. “Bas, nanti antar Aleksa ya. Ibu harus pamit duluan ini, karena ada pekerjaan lagi yang harus ibu selesaikan.”ujarnya sambil membayar makanan mereka ke kasir.


“Baik Bu. Makasih Ibu. Hati-hati ya ibu cantik.’’ujar Bastian. “Yuk, pulang Leksa, kamu udah siapkan?’’


“Bentar lagi ya Bas, aku masih baru siap.’’


“Hm.”Bastian menscroll handphone-nya. Ia selancarkan jemarinya mencari kesibukan, menunggu Aleksa yang masih meregangkan otot perutnya karena masih kekenyangan.


Aleksa mengamati tingkah Bastian yang sok sibuk. Sempat dilihatnya bahwa setiap aplikasi chat yang dibukanya, banyak pesan masuk, tapi tak satu pun yang dibukanya, dan ia tidak menyimpan kontak-kontak itu.


“Kamu jahat ya Bas.’’ucap Aleksa sambil tersenyum.


“Kenapa?’’tanyanya heran.


“Enggak kamu bukain chat itu.”


“Oh ini?’’Bastian membuka aplikasinya kemudian menunjukkan ke arah Aleksa. “Kalau kamu jadi aku, kamu balas enggak chat dari nomor enggak dikenal kayak gini?’’tunjuknya ke nomor-nomor baru yang memberi pesan kepadanya. Aleksa mengambil handphone Bastian, kemudian mengecek satu per satu pesan yang masuk dari nomor yang tidak dikenal. Ada yang ngajak ketemuan, ada yang nyemangatin, ngajak makan malam. Tetapi dari pesan-pesan itu ia tertarik dengan nama Tere di kolom chat itu. Sama seperti yang lain, Bastian juga tidak menggubris pesan itu. Notifikasinya sebanyak belasan, tapi satu pun ta kia buka.


Aleksa tersenyum puas dengan sikap Bastian terhadap hal itu. Bastian yang melihat tingkah Aleksa menatapnya heran.


“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?’’


“Lah, ini lihat pesanmu sebanyak ini, ternyata beneran jahat kamu ya Bas.’’


“Aku jarang buka chat Leksa. Kalaupun megang handphone ya memang bukan untuk balas chat. Yang memang pengen megang dan main yang lain.”


“Hm, tapi kenapa chatku kamu read dan balas?’’


“Ya elah, pakai nanya. Kita sekelas, lagian memangnya kita sering chatingan?’’tanyanya balik.


“Hm”Aleksa menyerahkan kembali handphone Bastian. Jawaban atas pertanyaannya tidak sesuai ekspetasi. Gadis itu ingin mendengarkan jawaban bahwa ia sepesial, atau lain-lainnya. Namun Bastian tidak memberikan jawaban sesuai ekspetasinya. “Yuk, kita pulang Bas.’’


Bastian menurut. Sesampainya di rumah, mama Aleksa dan Reyfan berada di teras. Reyfan juga baru pulang sekolah. Anak laki-laki semata wayang itu masih baru selesai membuka sepatunya.


“Wop beli piala dari mana kamu Kak?’’ledek Reyfan ketika kakaknya baru turun dari motornya Bastian.


“Enggak usah ngajak ribut kamu Rey!’’celutuknya sambil menunggu Bastian memarkir motornya, namun Bastian masih stay di atas motor yang masih menyala. “Singgah dulu Bas.’’bisiknya pelan.


“Hah?’’sedari tadi Bastian memang tak ada niat untuk singgah. Aleksa menatapnya tajam. Setengah mengancam.


“Bas, singgah dulu.’’ulangnya sekali lagi. Ibunya Aleksa mendengar ucapan anaknya dan mendukung dengan pernyatan yang sama sehingga Bastian mau tak mau mengikuti tuan rumah itu. Ia memasukkan motornya ke dalam gerbang.


“Ini hasil proyek yang kalian kerjakan itu?’’tanya wanita itu yang langsung mengambil piala di tangan anaknya. Ia mengamati setiap sisinya.


“Iya dong Ma, emang kayak… yang tahunya ngomong doang.’’sindirnya ke arah Reyfan.


“Hm, selamat ya Nak, Bas.’’mamanya langsung memeluk Aleksa bangga. Ia mengelus rambut Aleksa lembut. Bastian mengalihkan pandangannya.


“Duhh, si anak mama si paling berprestasi. Makan-makannya dong.’’ledek Reyfan.


“Iya dong, emang kayak kamu?’’


“Iya, aku emang enggak berprestasi tapi enggak beban. Tahunya kalau enggak nebeng, ya minta jemput.’’sindir Reyfan balik. Langsung membuat Aleksa terdiam seribu bahasa. Bastian tersenyum melihat kedua adik kakak itu.


“Kalian ini, enggak malu ada Bastian di sini?’’lerai mamanya. “Udah makan kalian Bas?’’


“Udah tan, tadi barengan sama ibu Siska.’’jawab Bastian tenang. Ia memainkan helm di tangannya.


“Ya udah, ayo masuk dulu Bas, di luar panas.’’ajak wanita itu sambil masuk ke dalam. “Biar tante buatin minum dulu ya Bas.’’


Bastian hanya tersenyum. Sementara itu ketiga remaja itu mengikuti langkahnya. Aleksa pamit sebentar mengganti bajunya sedangkan Reyfan menemani Bastian di ruang tamu.


“Bang, selamat ya! Kalian keren!’’pujinya setelah Aleksa menuju ke kamarnya. Bastian tertawa melihat Reyfan yang gengsi mengakui kemampuan kakaknya.


“Kalau kamu bilang di depan kakakmu Rey, dia pasti senang dengarnya.’’ujar Bastian. Ia masih tak bisa menahan tawanya.


“Dih, ogah Bang, dia itu paling enggak bisa dipuji.”Reyfan memegang piala mereka. “Keren kali pialanya Bang.’’


“Iya, itu piala kakakmu!’’ucapnya sambil tersenyum


“Bang, fotoin.’’ujarnya dengan antusias. “Cepetan ya Bang, jangan sampai tahu Aleksa.’’


Lagi-lagi Bastian terkekeh melihat tingkah Reyfan. Bastian menurut, ia mengambil foto Reyfan dengan kamera. Berbagai pose dibuatnya untuk memamerkan hasil karya kakaknya.


“Bang, ini kak Al yang presentasi ya?”Reyfan meletakkan kembali pialanya di tempat semula.


“Iya, dia yang speak’’jawab Bastian singkat.


“Berguna juga mulut bawelnya.’’pujinya implisit. “Kita log-in yuk Bang!’’


“Gih, makan dulu! Ntar kita nanggung mainnya.’’


“Ya udah, aku ganti baju dulu ya Bang, makan bentar juga.’’


“Diem !’’sentaknya sambil masuk ke kamarnya.


Sementara itu di lantai 1, mama Aleksa menemani Bastian. Mereka membicarakan bagaimana proses lombanya, dan bagaimana caranya menjawab pertanyaan juri, dan hal-hal lainnya sambil menunggu anak-anaknya kembali ke lantai 1.


“Bas, soal Reyfan dan Aleksa, kamu maklum ya, kadang mereka enggak lihat situasi kalau adu mulut.’’


“Hehe, iya Tan, enggak apa-apa. Jadinya ramai Tan. ‘’


“Iya Bas, cuma berdua, tapi Tante kayak punya anak sekampung.’’


Bastian tertawa. Ia meneguk minuman yang disajikan. Ia melihat sertifikat yang terletak di atas meja.


“Kalau tim gini, berarti semua dibagi dua ya Bas.’’


“Iya Tan, tapi mengenai hal itu. Kami udah sepakat, semuanya biar untuk Aleksa Tan.’’ujar Bastian yang tak ingin meribetkan semuanya.


“Kenapa gitu Bas? Itukan milik bersama. Kamu juga punya hak untuk memilikinya.’’


“Enggak apa-apa Tan. Aleksa lebih perlu itu. “ucap Bastian singkat.


“Benar kata Reyfan, anak ini hebat.’’puji mamanya dalam hati. “Kamu yakin?’’


“Yakin Tant!”Bastian tersenyum. Ia kembali meneguk minuman yang disajikan Hana. “


Tak lama kedua kakak-beradik itu datang hampir bersamaan. Aleksa terlihat fresh karena baru mandi. Tak hentinya Reyfan terus meledek kakaknya itu.


“Bang yok log-in”aja Reyfan. Bastian tersenyum mengikuti.


“Eh, enggak ada main-main game di rumah ini. “Aleksa melarang. Ia langsung mengambil handphone Reyfan dengan Bastian dan menyembunyikannya di balik punggung Aleksa.


“Ma, kak Al rese.’’adu Reyfan ke mamanya.


“Hm, yang dibilang kakak kamu benar, ‘’dukung Hana sembari pergi untuk beristirahat. “Tante tinggal dulu ya Bas.”


“Eh iya Tan.”


“Kak Al? Enggak seru!’’


“Leksa, siniin. Itu lagi proses loh.’’bantu Bastian. Reyfan mendekati mencari-cari letak handphone milikinya.


“Udah tenang aja dulu kalian! Bisa enggak tanpa gadget sebentar aja?’’


Bastian dengan Reyfan saling lirik. Mereka duduk berdampingan. “Minggir!’’Aleksa menggeser duduk mereka berdua, menengahi kedua laki-laki itu. Kemudian ia menggandeng kedua lengan mereka sambil tersenyum senang.


“Kita cerita aja ya, ada yang ingin kutanyakan sama kalian berdua.’’ucapnya sambil mencengkram lengan mereka.


“Is, rese! Ganggu kesenangan orang!”


“Bas, Rey. Urusan kita waktu itu belum selesai.’’Aleksa mengingat kembali kejadian yang ia dtinggalkanketika Aleksa Bersiap-siap mau ikut waktu itu.


“Kenapa waktu itu kalian ninggalin aku?’’tanyanya mengintimidasi.


“Dih, udah Kak, enggak usah ribet. “Reyfan berupaya melepaskan diri dari Aleksa. Begitu juga dengan Bastian.


Reyfan menggigit lengan Aleksa kesal.


“Auuu pekikknya kesakitan. Awas kamu ya Rey!’’teriaknya kesal melihat adiknya yang langsung lari ke dalam.


“Oii Rey, tunggu aku dong, kamu main lari-lari sendiri!”Bastian juga ingin menyelamatkan diri, akan tetapi gerakan Aleksa lebih cepat dari Bastian, ia menarik laki-laki itu hingga terduduk kembali.


“Sini!’’titahnya. “Kalian itu sama aja. “


“Dih, kamu ini!’’Bastian menjauhi Aleksa.


“Bas, “pangilnya manja. “Makasih ya.’’


“Untuk apa?’’


“Makasih selama ini udah mau kurepotin.’’lanjutnya lagi.


Bastian mengabaikan perkataan Aleksa. Ia mengambil handphonenya kemudian menunjukkan foto Reyfan tadi sambil memegang pialanya. Aleksa tidak bisa berkata apa-apa. Ia pegang handphone milik Bastian, ia scroll foto-foto adiknya. Aleksa tersentuh. Adiknya yang selalu usil kepadanya, ternyata sangat menyayanginya. Walaupun ia tidak pernah mengatakan.


“Kalian itu beda tipis. Sama-sama gengsi mengakui.’’ujar Bastian yang melihat Aleksa yang sedang asyik dengan telepon genggam miliknya.


“Bukan kalian, tapi kamu.’’goda Aleksa kepadanya. Bastian tak menggubris. “Aku juga udah mengakui sama kamu. Tapi kamu enggak ada respon sama sekali dengan perasaanku.’’sindirnya dengan tetap menggoda.


“Kamu ngomong apa sih?”


“P-e-k-a sedikit dong.’’ejanya. Ia memperlambat ucapannya.


Bastian menghela nafas panjang. Dialihkan pandangannya menjauh dari Aleksa.


“Menurut kamu, aku cantik enggak Bas?”tanyanya ingin tahu.


“Dih, Leksa, skip ganti pembahasan.”


“Jawab dulu,”


“Ya kamu gimana ngerasanya?”’


“Aku maunya kamu yang jawab Bas.”


“Cantik, pintar, mandiri, energik, rajin menabung, rajin membuli”ledek Bastian mengalihkan.


“Hm, enggak pernah serius.’’ Aleksa setengah mengambek. Ia kesal karena tidak bisa mengetahui gimana sebenarnya pandangan Bastian terhadapnya.


“Aku pulang ya Leks, udah sore.’’ucapnya sambil melihat jam dinding di sebelah Aleksa.


“Cepet banget!’’


“Dih, jadi maksudnya aku mau sampai jam berapa di sini?’’


“Bentar lagi Bas,”tahannya. Ia masih ingin berlama-lama dengan laki-laki itu. Walaupun setiap hari di sekolah mereka bertemu, ia tidak bisa sebebas ini dengan Bastian. Di sekolah ia tidak bisa bebas menatapnya, bergurau dengannya. Di sekolah, Bastian milik orang-orang yang menyukainya.


“Kita udah seharian ketemu, masih kurang gelutnya ?’’tanya Bastian setengah menantang. “Yuk gelut!”ajaknya sambil mengacungkan tangan kanannya.


“Si kurang peka ini.”Aleksa mencubt pipi Bastian lembut. “Kamu ngegemesin banget sih Bas?’’


“Dih, kamu ini!”Bastian mengelus bekas cubitan pipi Aleksa. Diliriknya notifikasi yang muncul di handphone Aleksa. Layar itu menyala, dan muncul wallpaper foto mereka berdua waktu makan di café dan resto waktu itu.


Aleksa mengambil handphonenya, ia tersenyum karena Bastian memperhatikan walpapernya. Ia semakin mengacungkannya ke arah Bastian. “Manis kan Bas?’’


“Hm, kamu nakuti tikus di rumah ini. Kalau kamu pasang wajahku di situ.”


“Ih, kamu enggak terima?’’


“Terima Leksa. Itukan handphone kamu.”


“Nah gitu dong. “Aleksa tersenyum. Ia masih menatap wallpaper di handphonenya.


“Si paling bawel.’’Bastian mengetuk bahu Aleksa berkali-kali. “Reyfan ke mana sih? Tega banget ninggalin aku di sini.’’ujarnya gelisah.


“Hm, kamu suka sama Reyfan? Iyakan?’’tanyanya mengitimidasi. Bastian tertawa.


Plok!!


Bastian mengetuk jidat Aleksa geram. “Aku normal Leksa.”


“Apa buktinya kamu normal? Banyak yang suka sama kamu, tapi kamu abaikan Bas, jahat banget sih.’’ucapnya kesal.


“Kamu, ngomong apa sih Leksa?”


“Skip!’’


“Hm, aku pamit ya.”ujar Bastian. Wajahnya terlihat sudah mulai letih. “Aku mau latihan!”


“Hm, kamu itu udah kecapean banget loh Bas, masa mau latihan lagi?’’Aleksa kesal karena Bastian mau pergi dari rumahnya.


“Hehe. Bye. Aleksa”ujarnya sambil pamit dengan ibu Hana dan Reyfan ia pun berlalu pergi mengabaikan perhatian Aleksa. “Jangan lupa, besok dibawa pialanya.’’