Transfer Student

Transfer Student
Posesif



“Bas,’’panggil Tere di depan emperan toko sekolah. Terlihat sekali bahwa Tere menunggu Bastian sejak tadi. Namun Bastian melewatinya begitu saja. Ia mengabaikan Tere. “Bas!”panggilnya lagi. Ia menarik tangan kanan Bastian hingga ia terhenti.


“Lepasin.’’sentak Bastian. Ia tidak menoleh sedikit pun. Tere mendekati Bastian.


“Bas, aku minta maaf.’’Tere menyerahkan sebuah bingkisan. Isinya berupa seragam baru, sebagai pengganti seragamnya yang sobek.


“Aku enggak butuh.’’tolaknya. Ia menghempaskan tangan Tere sekuatnya.


“Awww”Tere meringis kesakitan. Ia menatap punggung lelaki itu dengan perasaan campur aduk.


“Kamu enggak apa-apa Tere?’’tanya Angel kepadanya.


“Enggak apa-apa Ngel, aku semakin penasaran sama Baby ku itu.’’ujarnya memberikan julukan baru untuk Bastian. “Sepertinya kamu mau main-main samaku Baby, aku ladeni.’’ujarnya dengan senyum yang merekah di bibirnya.


“Apa rencana kamu Ter?’’


“Ayok kita ikutin dia. Nanti pas sampai di kelas kita. Hadang dia ya Sob.’’pinta Tere. Clara dan Angel segera berlari mengejar Bastian. Sebelum Bastian sampai di kelas mereka. Clara dan Angel berhasil sampai duluan. Dengan nafas yang masih terengah-engah kedua anak buah Tere menghentikan Bastian.


“Bas, tunggu!’’ucap Clara, merentangkan kedua tangannya.


“Minggir!’’titahnya.


“Tunggu bentar Bas.”Angel langsung menarik Bastian ke belakang kelas mereka. Tempat itu jarang dilalui orang.


“Kalian ini apaan sih!’’


“Ehm, Beb.’’Tere mendekati Bastian. “Kamu kenapa nyelonong aja? Main tingalin aku?’’tanyanya ingin tahu.


“Eh Bocil! Hentikan tingkah konyolmu ini! Kamu enggak waras tahu enggak!’’


“Bas. Jangan tunjukin aura kamu yang kayak gini. Aku makin tergila-gila tahu engak.’’ujarnya sambil membelai pipi Bastian lembut.


“Kamu memang gila Tere!’’sentaknya kesal. “Kalian juga mau-maunya jadi suruhan Tere.’’


“Ih, kamu ngegemisn banget sih Bas.’’Tere mengelus surai wajah Bastian. “Aku kangen kamu Bas.”bisiknya di telinga Bastian yang langsung membuang wajahnya.


Sementara tangannya masih di dekap oleh kedua gadis di sampingnya.


“Sayang, kamu nakal ya. Di depan aku kamu berani nyodorin tangan kamu ke ketua OSIS centil itu.”sindirnya mengingat kejadian di atas podium.


“Ter, lepasin! Sebelum aku berbuat kasar kepadamu!’’sentak Bastian kesal. Ia meronta-ronta kepada kedua gadis yang hampir sama kekuatannya dengan laki-laki. Namun ada sedikit yang Bastian lupakan. Demon Chaser memang geng yang paling ditakuti di sekolah, mereka sudah terbiasa bermain, membuli baik laki-laki maupun perempuan. Sehingga apa yang dilakukan sekarang ini bukan hal yang istimewa. Kekuatan kedua wanita itu sudah ditempah sebelumnya.


“Kita bisa kok ngomongin semuanya baik-baik Bas.’’


“Kalian memang perlu dibawa ke psikiater!’’teriak Bastian sekencang-kencangnya. “Woi, tolongin!’’teriaknya kepada beberapa siswa yang lewat. Namun mereka pura-pura tidak lihat.


“Dih, kamu kenapa jadi gusar gitu?’’


“Kamu mau kuhajar Ter?’’tantang Bastian kesal.


Tere tersenyum. “Kamu jangan mancing aku buat kayak gini lagi ya Beb.”Tere memberikan isyarat kepada kedua temannya untuk melepas pegangannya. “Ini peringatan sama kamu yang coba-coba mengabaikan aku.”


“Rese!’’ Bastian langsung pergi meninggalkan ketiga gadis itu. Ia memegangin tangannya bekas cengkraman Clara dan Angel. “Aku aja laki-laki sesakit ini tangannya menyentuh kulitku. Apalagi Aleksa ya.?’’gumamnya kesal.


“Kok lama kali kamu Bas?’’tanya Aleksa ketika di kelas. Ia tadinya masih berbicara dengan Deren, namun perhatiannya langsung teralihkan.


“Iya enggak apa-apa Leksa”Bastian meletakkan wajahnya di tasnya membelakangi kedua temannya itu. Bastian memejamkan mata indahnya menahan emosi disebabkan Tere dan geng tidak jelasnya itu. Tangannya masih memerah. Kulit Bastian yang putih, langsung jelas terlihat.


“Tumbenan pagi gini kamu badmood?’’tanya Aleksa keheranan. Ia masih menatap punggung Bastian yang membelakangi.


“Hem.’’lak-laki itu menghela nafas panjang. Ia tersenyum. “Aku enggak apa-apa. Cuma ketemu bocil aja tadi.’’


“Siapa?”


“Leksa”Deren memanggil Leksa, namun gadis itu mengangkat tangannya ke atas untuk menyuruh Deren berhenti ngomong.


“Bukan siapa-siapa.’’


“Ngeselin!’’celutuknya.


Bastian berlalu keluar dari kelas. Ia mau minum yang manis-manis pagi ini untuk membalikkan moodnya lagi. Setelah memesan, ia mengambil tempat di pojokan agar tidak banyak yang melihat. Ia mulai menyeduh coklat panas yang dipesannya.


“Dih, sejak minum yang dibuat Aleksa, coklat di sini rasanya enggak nikmat lagi.’’gerutunya sambil menyudahi minumannya. “Hm,aku coba yang lain aja kali ya.’’Bastian memesan cappuccino panas. Ia jauhkan coklat tadi menjauh darinya.


“Kak Bas.’’salah seorang siswi menghampirinya. “Untuk kamu kak.’’ia menyodorkan sebuah bingkisan.


“Lah, aku engga ulang tahun.’’


“Semoga kamu suka memakainya.’’ujarnya. “Kak, aku dari kelas X MIPA 4, hm aku mendukungmu dengan kak Aleksa Kak. Aku juga ngefans sama Kak Aleksa. Boleh enggak kakak juga memberikan ini kepadanya.’’Gadis itu memberikan bingkisan berwarna pink.


“Mendukung apa? Dan kenapa kamu enggak menyerahkan langsung kepada Aleksa?’’


“Untuk jadian kak. Hehe. Kakak dengan Kak Aleksa cocok.”


Bastian tersenyum. “Dih, ya udah nanti aku sampein ya. Makasih cantik. “ucap Bastian santai. “Kamu enggak mau minum dulu? Aku traktir deh, sebagai ucapan terima kasihku kepadamu.’’terang Bastiam.


“Makasih Kak. Lain kali aja. Aku mau masuk kelas.’’tuturnya sambil pamit pergi.


“Masih banyak juga orang baik ya.’’pujinya sambil tersenyum. “Tuh anak balikin moodku pagi ini.’’ujarnya sambil memainkan handphonenya. “Hm, tapi gimana jadinya kalau aku beneran jadian sama Aleksa si bawel itu ya? Hm, apa makin enggak tentram nih sekolah.’’gerutunya dalam hati.


“Saaayaaanggg’’panggil Tere.


“Cih, si bocah udah datang.’’hardiknya menahan emosi. “Mau ngapain lagi kamu ke sini? Masih punya muka? Buat keributan di sini?’’sarkasnya.


“Lah, jangan emosian gitu dong Beb.’’ujarnya sambil duduk di hadapan Bastian.


“Hm, enggak usah kayak bocah Tere. Kamu itu kekanakan sekali.”ujarnya sambil menyeruput cappuccino miliknya. “Kalau kamu buat keras kepala kamu. Aku juga bisa.’’tantang Bastian.


“Dih, kamu belum kenal brengseknya aku Ter. ‘’celutuknya sambil menyugingkan bibirnya.


“Hm, kamu enggak boleh dekat dengan Aleksa!’’larangnya dengan tatapan tajam. “Maka semua aman.”


“Dia temanku. Lagian kamu siapa ngelarang-ngelaranga aku?’’Bastian memancing emosi Tere.


Gadis itu terdiam. “Kamu harus dengerin aku. Sebelum menyesal Bas.”


“Dih, takut.’’ledeknya sambil meninggalkan Tere.


“Sob, bawa dia ke belakang.”titah Tere.


Angel langsung menurut. Bastian mereka tarik dengan paksa ke belakang kantin.


“Woii gila kalian ya.’’teriak Bastian kesal mengundang perhatian pengunjung lainnya. Angel menghempaskan Bastian ke dinding.


“Jangan main-main sama kami Bas. Jangan karena Tere suka sama kamu, kamu jadi semena-mena sama kami.”ancam Angel kesal.


“Eh, awal mula memag aku enggak kenal kalian. Kalian sampah!’’sarkas Bastian kesal. Angel menampar pipi Bastian keras.


“Kamu brengsek banget ya Bas.’’Angel begitu marah kepadanya.


“Kalau kalian laki-laki udah habis kalian kubuat.’’Bastian semakin meninggikan suaranya. Ia meronta-ronta ingin menghajar ketiga gadis itu.


“Hm, Beb, bisa enggak kamu nurut? Kamu ngegemesin banget kalau kayak gini.’’Tere membelai lembut rambut Bastian.


Bastian menggeliat melepaskan cengkraman kedua gadis itu.


“Ini kedua kalinya aku memperingatkanmu Bas.’’


Bastian tertawa. “Hm, bodo amat”


“Kita nanti pulang bareng!”ujarnya memerintah.


“Dih.’’Bastian mengejeknya. “Motorku bukan ojek ya Neng.’’ledeknya sambil berlalu.


Tere tersenyum dengan celutukan Bastian yang mengabaikannya. Ia semakin tertarik dengan lelaki itu. Ia langsung mengklaim di fanspage yang ia bentuk, bahwa saat ini Bastian hanya miliknya. Saling menyahutlah mereka di grup karena walaupun Tere ketuanya, tetapi jika ia mengkalim seperti itu, sangat tidak adil bagi yang lainnya.


Bastian kembali ke kelas, dilihatnya Aleksa masih bersama Deren di bangkunya. Bastian tidak mengganggu, ia duduk bersama Shiren.


“Ren, aku di sini bentar ya.’’ucap Bastian ramah. Ia menatap Shiren yang sibuk memainkan handphonya.


“Engg, iya Bas.”


“Makasih buat kemarin.’’ujarnya sambil tersenyum.


“Iya sama-sama Bas.’’Shiren tersenyum. Suatu kebanggan baginya laki-laki popular duduk bersamanya. Ia tidak melewatkan kesempatan itu, Shiren mengabadikannya, kemudian membuat postingan di akun media sosialnya.


[ Bastian memang humble ]


Aleksa yang menyaksikan itu langsung melihat ke arah tempat duduk Shiren. Ia terbakar api cemburu. Namun Bastian tidak tahu akan hal itu, malah dengan asyik ia berbincang dengan gadis itu. Ia membelakangi Aleksa dengan Deren.


“Kenapa Leks?’’tanya Deren heran karena pandangan Aleksa tak pernah berhenti menatap ke arah temannya.


“Enggak apa-apa Ren.’’jawabnya singkat. Ia mencoba memfokuskan dirinya lagi kepada percakapan Deren.


“Bas, kamu sekarang beneren milik kak Tere?’’tanya Shiren di tengah-tengah pembicaraan.


“Aku hanya milikku sendiri.’’jawabnya singkat.


Shiren menunjukkan postingan Tere di fanspage, banyak juga komentar yang kurang setuju dengan hal itu. Bastian mengabaikannya, baginya ancaman Tere, dan perlakuan Tere yang tidak wajar itu hanyalah ciri-ciri gadis yang ingin diperhatikan. Ia tidak peduli.


Sepulang sekolah Bastian langsung dihadang dengan Tere yang menunggunya dari tadi. Lagi-lagi Bastian mengabaikannya. Ia membelokkan motornya menjauhi Tere. Dengan segera ia menancap motornya. Semua mata melihatnya, dengan seketika Tere dijadikan tontonan sementara.


Aleksa juga ikut menyaksikan kejadian itu, ia tersenyum puas dengan perlakuan Bastian. Aleksa kembali ke ruang OSIS untuk membicarakan kegiatan yang akan diadakan setiap tahunnya, yakni berupa OSIS CUP. Deren tadi menyarankan untuk menyelenggarakan kegiatan yang berkaitan dengan olahraga. Setiap kelas bertanding untuk memperebutkan piala bergilir OSIS.


Beberapa anggota juga setuju dengan hal itu, membawa nama baik kelas, serta berkompetisi saling mensupport satu sama lain. Selain itu juga akan diadakan kegiatan bazar, berupa bazar makanan. Raka mendekat dengan Aleksa, ia memberikan beberapa saran untuk pelaksanaannya.


“Dik, kalaupun kegiatan ini berlangsung, alangkah baiknya beberapa perwakilan dari kelas harus menjadi panitia. Mereka harus kita jadikan wasit.”


“Ehm, kenapa gitu Kak?’’Aleksa masih kurang mengerti.


“Contoh nih, dari kelas kamu. Ada beberapa yang mahir di bidang olahraga. Ini menjadikan kelas, tidak sportif, kita bisa prediksi kalau kelasmu yang megang juaranya.’’ungkap Raka dengan logis.


“Ehm, tapi itu bukan jaminan Kak. Ada juga beberapa teman kita yang tidak mengikuti kegiatan ekskul, tetapi mereka mahir.’’


“Setidaknya kita mengurangi hal yang seperti itu Leksa.’’


Aleksa mengambil voting untuk keputusan ini. Ternyata banyak yang setuju dengan Raka. Namun hal itu membuat Aleksa dilema, ia harus memilih siapa temannya yang dijadikan panitia. Terlintas dibenaknya, bahwa Bastian dapat dijadikan panitia. Bastian tidak suka terikat seperti itu, tentunya ia akan menolak langsung ajakan Aleksa.


Tapi hasrat untuk bersama Bastian lebih kuat, ia tidak ingin menjadikan Bastian sebagai wasit, tetapi panitia. Panitia yang bisa selalu bersamanya. Sepanjang perjalanan pulang, tak henti-hentinya Aleksa berpikir untuk menciptakan alasan yang tepat untuk mengajak pemuda itu bekerja sama dengannya.


“Diam-diam aja kamu kak Al. Kemasukan apa?’’ledek Reyfan ketika di atas motornya.


“Hm, aku ingin Bastian jadi panitia kegiatan OSIS CUP, tapi dia enggak suka hal-hal terikat kayak gini.’’jelas Aleksa.


“Atas dasar apa kamu ingin bang Bas jadi panitia?’’tanya Reyfan ingin tahu.


“Dia punya potensi, dan sebenarnya dia itu kreatif, ide-ide baru pasti bisa dia munculin.’’ucapnya jujur. Namun yang menjadi alasan utamanya bukan itu, ia hanya ingin bersama Bastian.


“Yakin? Enggak ada alasan lain?’’duga Reyfan yang mengetahui jalan pikiran kakak smeata wayangnya itu.


Aleksa tak menyahut, ia tidak mau melayani ucapan Reyfan kali ini. Ia masih berusaha untuk menyembunyikan alasan utamanya. Pikirannya jauh melayang, karena setiap ada kegiatan rutin seperti ini, maka peluang siswa untuk berlaku sesukanya terbuka lebar. Ia terlalu khawatir dengan hal itu, ia takut itu menjadi peluang besar Tere untuk mendekati Bastian.


“Hm, kenapa aku jadi posesif kayak gini. Semakin hari aku semakin takut kehilangan Bastian.’’gerutunya dalam hati. “Aku beneran baper dengan perlakuan Bastian, sampai-sampai aku enggak mau dia melakukan hal yang sama dengan orang lain.”