Transfer Student

Transfer Student
Di Perpustakaan



Bastian melintas di depan ruang guru, tentu aja kesempatan bu Siska memanggilnya. Ia mengajak Bastian ke perpustakaan. Mereka duduk berhadapan. Ruangan itu begitu hening karena semua siswa sibuk membaca. Bastian menatap hangat ibu Siska yang berpenampilan keibuan seperti itu.


“Bas, tadi ibu dengar kamu berantem ya?’’


Bastian menjelaskan singkat kejadiannya. Sesekali ibu Siska mengangguk, mencermati ucapan Bastian. Siska tahu bahwa Bastian bukan anak yang nakal, bahkan sebaliknya ia justru anak yang aktif baik dalam akademik maupun non akademik. Kepribadiannya juga unik.


“Ya udah, ibu harap kamu jangan terlibat lagi dengan hal-hal kayak gini.’’nasihat Siska. Ia khawatir apa yang mereka siapkan untuk perlombaan itu jadi sia-sia.


“Hm, masalahnya saya enggak tahu salah saya apa bu.’’terang Bastian singkat.


Siska menahan senyummnya. Ia kembali menasihati dan meceritakan sedikit masa lalunya saat ia berusia seperti Bastian. Ia menceritakan bahwa ketika sesorang punya banyak penggemar setiap inci pergerakan selalu diamati, dan tentunya tetap aja ada yang tidak suka.


“Hehe iya Bu. Makasih udah ngasih wejangan ke Bastian.’’ucapnya dengan santun.


Tak lama Aleksa datang menghampiri mereka. “Maaf Bu, saya terlambat.’’ucap Aleksa dengan penuh kehormatan.


“Iya, kamu pasti capek habis rapat kan?’’tanya Siska yang selalu mengerti keadaan muridnya. “Minum dulu.’’Siska menyodorkan air mineral yang sengaja ia beli tadi untuk kedua siswa bimbingannya. Aleksa menurut. “Silakan duduk dekat Bastian Leksa.’’titahnya.


Kembali lagi Aleksa menurut. Bastian menarikkan kursinya agar Aleksa duduk di sampingnya. Melihat perhatian Bastian, Siksa tersenyum simpul, namun pura-pura tidak melihat. Mereka kembali mendiskusikan omongan sebelumnya. Mengenai lomba yang akan mereka ikuti.


“Ini desain Bastian untuk sementara Bu.’’Aleksa menyodorkan kertas yang ditinggalkan Bastian di rumahnya. Bastian meliriknya.


“Mampus’’Ia menepuk wajahnya pelan. ‘’Itukan bukan temanya.’’kekehnya setengah mati. Dengan cepat Bastian menarik kertas itu sebelum sampai ke tangan ibu Siska, “Bu, maaf ini salah.’’ucapnya langsung mengggulung kertas itu.


Aleksa terkejut menyaksikannya. Ia bingung dengan sikap Bastian.


“Itu salah. ‘’jelasnya singkat.


“Ini yang baru Bu, ‘’Bastian mengeluarkan dari sakunya.


Siska membuka lipatan kertas tersebut. “Ehm, drafnya bagus.’’puji Siska


Aleksa menatap Bastian heran. Ia melirik kertas itu, temanya agak berbeda dengan yang ia bawa.


“Ehm, Leks, yang kamu bawa ketuker.’’ucap Bastian agar ia tak salah mengartikan.


“Iya tau, kan aku juga baca syarat perlombaanya.’’jawabnya cuek.


“Ehm,. kalian diskusikan lagi dulu. Ibu mau ngajar sebentar.’’ucap Siska karena ia masuk kelas.


Bastian melirik Aleksa dengan santai. Gadis itu menarik kertasnya dari meja ibu Siska. Ia amati. Dalam waktu beberapa menit hanya kebisuan yang bersemayam di antara mereka.


“Leks, kamu masih marah?’’tanya Bastian dengan ragu. Ia menyerongkan kursinya ke arah Aleksa. Tangan kanannya berpangku meja, kepala Bastian langsung menghadap Aleksa yang masih menatap coretan di mejanya. “Aku enggak betah di sekolah aneh ini.’’ucapnya lagi.


Aleksa meliriknya. Ia kernyitkan kedua alisnya. “Kenapa?’’


Bastian tak menyahut. Ia menutup matanya. Meredakan segala apa yang ia alami hari ini. Ia letakkan kedua tangannya di atas meja, kemudian menelungkupkan kepalanya di atas tangan itu. Aleksa tak mengulangi perkataannya. Ia masih menjaga gengsinya, ia tidak mau berlebihan lagi dengan Bastian.


“Leks, kamu sengaja jauhi aku. Itu pilihan kamu. Tapi makasih udah jadi sahabat aku selama ini.’’ucapnya dengan lembut bahkan hampir tak terdengar.


Degg


Seketika luluh lantak ketegangan di hati Aleksa. Ingin rasanya ia menonjok pria yang di sampingnya. Aleksa mati-matian ngungkapin perasaannya tapi cuma dianggap sebagai sahabat. Ditambah lagi ia kena perundungan karena Bastian. Banyak celotehan aneh belakangan Leksa dengar. Penggemar Bastian menjadi musuhnya dan sebaliknya Bastian juga sering kena perundungan teman laki-lakinya, walaupun sebenarnya ia tidak tahu salahnya apa.


‘’Kamu memang enggak pernah peka Bas.’’ucapnya dalam hati. Tak lama ia berinisiatif untuk menyuruh Deren datang untuk menghindari keluarnya emosi Aleksa dikarenakan Bastian. Dengan langkah seribu Deren langsung datang dengan sigapnya. Bastian tertidur.


“Leks?’’sapa Deren lembut. “Ada apa?’’tanyanya ingin tahu namun matanya melirik ke Bastian tak senang.


‘’Temenin aku.’’ucapnya.


“Dengan senang hati.’’ucapnya sambil duduk di hadapan Aleksa. “Kalian bukannya harusnya diskusi? Nih anak kenapa tidur?’’


“Entah.’’jawab Aleksa cuek. Pikirannya sebenarnya masih panas karena cuma dianggap sahabat sama Bastian.


“Kamu udah makan?’’tanya Deren sambil menatap Aleksa hangat.


“Belum.’’Jawab Aleksa singkat. Ia mencoba menambahkan goretan-goretan di kertas yang dibawa Bastian lagi. Bastian terbangun kurang lebih hanya lima belas menit ia ketiduran. Dibukanya matanya, menatap Deren lekat-lekat. Kemudian ia melirik Aleksa yang masih sibuk dengan kertas yang tadi.


“Hm. Kamu udah lama Ren?’’tanya Bastian baik-baik.


Deren mengangguk. ‘’Aku nemenin Leksa di sini.


Kali ini Bastian yang mengangguk-ngangguk. ‘’Iya tahu.’’ucapnya sambil meneguk minumannya. “Sorry aku ketiduran tadi.’’


Aleksa tak menyahut, ia memberikan selembar kertas itu kepadanya. Bastian menerima dan kemudian mengamati. ‘’Slogannya bagus.’’puji Bastian.’’Kamu memang bisa diandalin!’’imbuhnya lagi sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.


‘’Bu Siska masih lama?’’tanya Bastian lagi.


“Ntah.’’jawab Aleksa singkat.


“Aku duluan ya kalau gitu.’’ucap Bastian.


“Eh, jangan seenak perut main pergi tanpa pamit ke ibu Siska.’’nasihatnya dengan nada ketus.


Bastian tak menyahut, namun ia baru menyadari ternyata cukup banyak penghuni perpustakaan. Padahal waku ia datang belum seramai ini. Ia sedikit kebingungan. Namun ia tak menyadari penyebabnya bukan karena siswa tersebut mau membaca tapi mereka hanya ingin menatap wajah Bastian lebih dekat.


“Gimana? Udah nemu ide selanjutnya?’’tanya ibu Siska mengahampiri. ‘’Loh ada Deren juga di sini?’’


“Iya Bu. Tadi singgah bentar. Saya izin pamit ya Bu.’’ucapnya pamit.


Siska menarik kertas yang di hadapan Aleksa. ia membaca slogan yang Leksa buat dengan cermat. ‘’Slogannya keren.’’puji Siska. “Cuma perhatiin EYD ya Leks’’nasihatnya kepada Aleksa. “Hm, kapan bis akita selesaikan ini?’’tanya Siska memastikan.


Aleksa menatap Bastian kemudian secara bergantian menatap ibu Siska. Ia menaikkan bahunya memberikan jawaban ketidakpastian. ‘’Lusa mungkin bu.’’


“Hm tulat Bu, kalau lusa kayaknya aku enggak bisa karena ada jadwal ekskul Bu. Pulangnya malam.’’


“Emang absen sehari aja enggak bisa?’’tanya Aleksa. “Kamu enggak ekskul sehari aja, enggak akan langsung tamat.’’Aleksa menggurui. ‘’Maaf Bu, nih anak kadang enggak ngerti jalan pikirannya. Kalau enggak diketok enggak ngerti Bu.’’adunya kesal.


“Ehm jadi ibu tunggu tiga hari lagi nih?’’


“Lusa Bu.’’jawab Aleksa cepat. “Bas, serius dikit dong. Bu Siska juga udah percaya sama kita.’’ucap Aleksa banyak omong.


Bastian masih tak menyahut.


“Oke Aleksa, ibu percayakan sama kamu. Soal Bastian sepertinya kamu bisa mengurusnya.’’ucap Bu Siska sambil berlalu.


Aleksa menghempaskan rambutnya ke belakang pundaknya. Ia kepanasan.


“Nanti malam kamu ke rumahku.’’titah Aleksa.


“Kamu terlalu serius kali Leksa.’’ucap Bastian tersenyum. Ia berdiri dari kursinya. Kemudian mendekati Leksa. “Oke, aku nanti ke rumah tapi agak lama, karena aku latihan dulu.”


“Prioritaskan dulu mana yang lebih penting bisa enggak sih?’’tantangnya.


Bastian tersenyum. Kemudian ia duduk kembali. Ditariknya kursi mendekati Aleksa lagi kali ini.


“Terus, prioritas mana kesehatan sama pekerjaan? Kamu aja enggak bisa bedain mana yang prioritas.’’nasihat Bastian. ‘’Seharian berpikir, tapi perutnya dibiarin kosong. Nanti kalau maag kamu kumat gimana?’’


“Ini pesanan kamu Kak.’’ucap Vania kepadanya. Ia berikan nasi bungkus yang dipesan Bastian.


“Thanks’’jawab Bastian singkat. ia memberikan ganti uangnya, kemudian menyuruh Vania pergi. Sorotan mata di sekitar juga terus menemani mereka. “Nih makan.’’sodor Bastian ke arah Aleksa.


Aleksa terpelongo melihatnya.


“Nih Leksa. Apa perlu aku suapin?’’godanya sambil tak percaya. Ia buka bungkusan itu kemudian memberikan sendok kepada Aleksa. “Kamu boleh marah sama aku, tapi jangan tolak pemberianku.’’ucap Bastian lagi.


“Engg-nanti aku di marahi sama penjaga perpus kalau makan di sini.’’tolak Aleksa.


“Ya amplop, kaku banget sih kamu. Aku udah izin. Tadi aku bilang kita ada bimbingan jadi belum sempat makan. Ibu perpus juga tahu kok.’’jelas Bastian agar Aleksa mau memakannya. Bastian tahu sekali bahwa Aleksa sangat menaati peraturan sekolah jadi kalau membuat hal yang tidak lazim ia langsung menolaknya.


“Gih,makan.’’suruhnya. “Bu, izin makan ya.’’teriak Bastian lagi mengundang perhatian.


Wanita itu mengacungkan jempolnya menyetujui. Aleksa mulai memasukkan nasi ke perutnya.


“Nah gitu dong.’’puji Bastian. “Biar sejalan tenaga yang masuk dengan yang keluar.’’ucapnya lagi sambil bergerak dari kursinya. “Ehm, aku duluan ya.’’


“Mau ke mana?’’tanya Aleksa menginterogasi.


“Tugas aku kan udah selesai. Mau balik.’’


“Tungguin aku sampai selesai makan. Gara-gara kamu aku makan di perpus.’’pinta Aleksa. “Nanti kalau penggemarmu datang ke sini terus ngajar aku gimana?’ucapnya dengan takut.


Penggemar Bastian memang tidak bisa diprediksi apa maunya. Padahal selama ini dia dekat dengan Aleksa tidak ada masalah, namun entah mengapa belakangan ini mereka menjadi liar. Siapa pun yang dekat dengan Bastian seolah menjadi musuh mereka. Maka Bastian mau tak mau menunggu Aleksa selesai makan.


Tere langsung memberikan pesan kepadanya


Kamu selingkuh ya sayang, nyatanya janjiku kamu nikmati untuk menikmati waktu bersama Aleksa.


Bastian hanya membaca pesan singkat itu saja tanpa membalasnya. Ia melirik Aleksa yang berusaha mengahabiskan nasinya. Ia merapikan mengambil rambut Aleksa yang hampir jatuh ke nasi ke bagian belakang pundak Aleksa, dan juga membuka minuman botolnya agar Aleksa cepat melakukan istirahatnya. Aleksa yang mendapat perlakuan seperti itu menajdi semakin tidak fokus.