
Reyfan dan Aleksa masih asyik bersemayam di rumah Bastian. Tanpa sadar matahari terbenam sudah hampir tiga jam yang lalu, namun mereka belum mau beranjak dari sana. Astri juga sudah pamit pulang karena hari sudah larut malam. Reyfan masih sedang ser-serunya bermain game yang baru dicobanya. Hingga akhirnya Bastian menyerah dan menghentikan permainannya. Sementara itu Reyfan masih lanjut.
Aleksa sedang sibuk, mengurusi kegiatan yang akan dilanjutkan besok. Ia terlihat sibuk dengan ponselnya. Jemarinya cukup mahir menari di atas ponsel pintar itu. Sesekali ia terlihat berpikir sebelum mengetiknya.
“Kamu ngapain Al?’’
“Lagi mau nyusun acara.’’
“Ya udah pakai laptopku. Kan payah pakai handphone.”Bastian mengambil laptopnya dari kamar, kemudian menyodorkan kepada Aleksa.
Aleksa membuka laptopnya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat wallpaper Bastian. Ada wajahnya terpampang besar-besar di sana. Ia menatap Bastian hangat, gadis itu tesenyum lebar. Foto candid yang ia ambil saat Aleksa marah kepadanya waktu itu. Foto itu diambil dari view sebelah kiri dengan tangan yang bertopang pada dagu.
Bastian pura-pura tidak tahu. Ia mengalihkan pandangannya, melihat Reyfan yang masih asyik bermain. Aleksa tidak menyangka bahwa lelaki itu memasang wajahnya. Ia masih tersenyum bahagia.
“Hm, Bas, kamu memang selalu bisa membuatku berbunga-bunga terus. Ehm, makin cinta aku sama kamu Bas.’’gumamnya dalam hati.
Aleksa meminta bantuan teman-temannya untuk membantu pekerjaannya. sebenarnya dalam hati Aleksa, ia ingin sekali kelas mereka memenangkan pertandingan, karena hadiahnya lumayan. Namun sebagai panitia, mereka harus merahasiakannya.
Ketika sedang asyik, mengerjakan tugasnya. Aleksa tak sengaja membuka sebuah dokumen berisi perjanjian kerja. Tanpa sepengetahuan Bastian, Aleksa membukanya. Isinya berupa sebuah perjanjian kerja dengan perusahaan yang bergerak dalam bidang literasi, khusunya dalam bidang komik. Dalam perjanjian itu, Bastian harus membuat gambar sesuai dengan cerita yang diberikan perusahaan tersebut.
“Banyak yang enggak ku tahu tentangmu Bas.’’ucapnya dalam hati. “Di usiamu yang segini, kamu bisa menghasilkan uang.’’sanjungnya dalam hati. “Hm, pantas enggak pernah aktif di media sosial. Aku pikir anti sosial, nyatanya kamu luar biasa.’’sanjungnya lagi.
“Kak Al, kita pulang yuk. Udah malam, nanti mama marah.’’ajak Reyfan setelah merapikan apa yang ia gunakan tadi.
“Hm, ya udah.”ucap Aleksa. Ia mematikan laptop Bastian.
Bastian tidak menolak kepergian mereka. Ia ambil jaket untuk Reyfan dan Aleksa. Ia memerintahkan kakak beradik itu memakainya.
“Ayo kuantar.’’ucap Bastian.
“Enggak usah Bang, aku berani kok.’’ucap Reyfan segan.
“Abang tau kamu berani. Cuma Rey, daerah sini rawan. Enggak apa-apa ya Abang antar.’’ujarnya menyodorkan diri.
“Enggak ngerepotin Bas?’’
“Enggak. Daerah sini agak rawan belakangan ini.’’ujarnya lagi.
Mereka pun melaju beriringan. Kali ini Reyfan di depan mereka. Aleksa memeluk hangat, sesekali ia mencubit perut Bastian manja.
“Apaan sih kamu Al?’’
“Bas aku sayang kamu.’’bisiknya.
“Udah tahu.’’jawab Bastian cepat. Ia hadapkan spion kirinya ke wajah Aleksa yang menyandarkan dirinya di bahunya, sehingga wajah mereka sangat dekat.
“Jangan tinggalin aku ya Bas.’’bisiknya manja. “Aku beneran cinta sama kamu Bas.’’
Bastian melirik spionnya. Ia menyugingkan bibirnya. Meledek Aleksa. Pelukan itu terasa hangat untuknya. Ia sangat senang dekat dengan Reyfan dengan Aleksa. Bastian menarik hidung Aleksa.
“Kamu jangan capek-capek ya Al, nanti sakit.”Bastian mengelus tangan Aleksa lembut. “Aku sayang kamu. Maaf, kalau sering buat kamu kesal.’’ujarnya. Ia mengelus kepala Aleksa. “Jangan terlalu keras sama dirimu sendiri. Kalau enggak sanggup enggak usah dikerjain. Sekolah itu bukan cuma punya kamu.’’nasihatnya sambil tersenyum.
“Hm, Bas, Reyfan kamu kasih jersey sebanyak itu. Samaku mana?’’tagih Aleksa manja.
“Tuh, sama kamu jaket yang kamu pakai sekarang.’’ucapnya dengan santai.
“Aku mau ini.’’Aleksa menarik hoodie yang dikenakan Bastian.
“Lah, ini udah kupakek berapa hari Al. Bau keringet udahan.’’ucapnya.
“Enggak apa-apa. Biar kalau kangen kamu, aku bisa ngerasain bau kamu Bas.’’terangnya sambil tersenyum.
“Dih, kan kalau kangen tinggal ketemu.”
Bastian terdiam. Ia tak menyahut.
“Kangen kamu itu candu banget loh Bas. Aku susah ngendaliin.’’
Bastian membelai lagi rambut Aleksa. Ia tersenyum mendengar pengakuan itu. “Ya udah, nanti kamu pakai yang ini ya.’’ucap Bastian memegang hoodienya.
Sesampainya di rumah. Reyfan langsung memasukkan motornya. Sementara itu Aleksa dengan Bastian masih di depan gerbang. Bastian membuka hoodienya, kemudian memberikan kepada gadisnya.
“Kamu pakai ini ya.’’Aleksa menyerahkan jaket jeans Bastian.
“Iya sayang, gih sana masuk.’’ucapnya santai.
Aleksa mengecup pipi Bastian, kemudian berlari masuk ke dalam.
“Hati-hati ya Bas, kabarin kalau udah sampai.’’ucapnya sambil tersenyum.
Bastian masih memegangi pipinya. Ia terkejut setengah mati Aleksa melakukan itu kepadanya. Ia melekungkan kedua tangannya membentuk love dan mengarahkannya ke Aleksa.
“Daa sayang.’’ucap Bastian tanpa suara. Ia hanya mengisyaratkannya saja.
Tak lama Reyfan menghampiri. “Udah pulang Bang Bas Kak?’’tanyanya.
“Udah, yuk masuk.’’Aleksa tersenyum.
Setelah membersihkan diri, Aleksa masuk ke kamarnya merebahkan diri. Ia memeluk hoodie Bastian. Terukir senyum indah di wajahnya. Wajah Bastian terlukis jelas di pandangnnya. Harumnya parfum Bastian juga menyerbak di ruangan itu.
Aleksa benar-benar bahagia hari ini. Lelahnya cukup hilang, Ditambah lagi Bastian yang memanjakan adiknya semakin terpesonalah ia dengan Bastian. Kehadiran Bastian mampu mengisi hati Aleksa yang kosong.
Drrr… drrr
Ponsel Aleksa bergetar hebat. Ia lihat panggilan dari Bastian. Lelaki itu sudah sampai di rumahnya. Ia juga sudah selesai bersih-bersih.
“Aku udah nyampe ya Al.’’
“Iya Sayang. Amankan tadi?’’Aleksa memastikan.
“Aman Al. Cuma pipiku aja yang enggak aman Al.’’ledek Bastian.
“Skip Bas.’’ucap Aleksa malu. Bastian mengaktifkan panggilan video. Aleksa setengah mati mau mengangkat panggilan itu. Bastian siap meledeknya.
“Angkat Al.’’titahnya.
“Enggak-enggak mau.’’tolaknya. Bastian tertawa.
“Dih, gimana sih Al.’’ucapnya meledek. Bastian merapikan kamarnya. Bersiap-siap merebahkan diri. “Angkat Al’’pintanya lagi.
Aleksa masih menolak panggilan itu. Ia menahan malu. Entah apa yang ada dipikirannya sehingga ia melakukan itu kepada Bastian. Ia benar-benar sulita mengendalikan dirinya.
Bastian masih berusaha mengganggu Aleksa. Tiba-tiba dia mengingat label yang diberikan Reyfan kepada Aleksa.
“Oii kakak pertama !!!’’ teriaknya.
“Dih, jahil banget sih Bas”Aleksa menyerah. Ia menerima panggilan video dari Bastian.
Bastian menge-zoom pipinya. “Al, udah sembuh ini.’’Bastian menunjuk pipinya. Ia tertawa.
“Bas, kuhajar kamu ya kalau ngeledek terus.’’
Bastian tersenyum, ia menghentikan ledekannya. “Selamat bobo kakak pertama. Sampai ketemu di sekolah. “Bastian melambaikan tangannya ke kamera. Aleksa tersenyum.
Bastian memutuskan sambungan teleponnya, dan meletakkan ponselnya di atas meja belajar. Kemudian langsung memejamkan matanya. Sudah pukul 22.15 WIb. Ia takut terlambat besok. Maka tanpa banyak kata lagi. Bastian tertidur dengan lelapnya. Begitu juga dengan Aleksa di sebrang sana, yang sudah terlelap karena aktivitas yang padat.