Transfer Student

Transfer Student
Rumah Sakit



Tere menangis terisak-isak. Didapatinya wanita paruh baya itu terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Wajahnya terlihat pucat pasi, seluruh badannya dingin. Tere merengek-rengek seperti anak kecil. Kali ini Tere terlihat rapuh, tidak seperti biasanya.


“Bangun Bun,bangun.’’rengeknya sambil menggoyang-goyangkan tubuh wanita paruh baya itu.


Bastian merangkul Tere, ia menarik gadis itu untuk menjauhi bundanya.


“Udah Kak, tenangin diri dulu.’’


“Bundaku Bas. Hiks. Hiks.’’Tere memeluk Bastian. Lelaki itu mengusap pundak dan rambutnya secara bergantian. Menenangkan pikirannya.


“Iya, bunda enggak apa-apa. Kamu tenang dikit. ‘’ucap Bastian. “Kamu boleh nangis, tapi jangan di samping bunda kayak gitu. Bunda masih butuh istirahat.’’Bastian mengajaknya keluar ruangan. Mereka duduk di bangku luar. Bastian masih merangkul Tere sambil mengelus-elus rambut Tere memberi ketenangan. “Kita tunggu sampai bunda siuman.’’


“Bas.”Tere memeluk perut Bastian erat. Ia hampir tak bisa bernapas. “Hiks.hiks’’Tere membenamkan kepalanya di perut Bastian.


“Udah keluarin aja dulu semuanya.’’ucap Bastian menyemangati. Walaupun tingkah Tere sudah mengundang banyak perhatian. Di tempat umum seperti itu, tangisan kesedihan silih berganti dirasakan. Maka bagi sebagian orang hal seperti itu bukan hal yang baru lagi.


“Bas, bundaku berjuang mati-matian demi besarin aku. Hiks’’


Degg


Bastian terkejut mendengar kalimat terakhir dari Tere. Ia tidak tahu kalau wanita itu single parent. Ia tidak menyangka kerja kerasnya membuahkan hasil. Bagi seorang ibu berjuang sendirian bukan hal yang mudah. Berperan menjadi orang tua ganda tentu menemukan banyak kesulitan.


“Ayahku selingkuh! Dia pergi meninggalkan bunda!’’keluhnya lagi. Nangisnya semakin menjadi. “Aku di sini cuma punya bunda Bas, aku enggak punya siapa-siapa lagi.”


Bastian mengelus pundaknya. Memberikan ketenangan. Ia seperti sedang menjaga anak kecil yang ditinggal oleh ibunya. Rambutnya berantakan sekarang.


“Ehm, Kak. Aku tahu ini enggak mudah bagimu. Aku tahu, kalau kamu sampai di titik ini. Berarti kamu dan bunda adalah orang yang hebat. Kalian bisa membuktikan bahwa kalian bisa tanpa ayah Kak.’’ucap Bastian mencoba menguatkan. Walaupun ia belum cukup mahir untuk menguatkan orang lain.


Tere menegakkan tubuhnya. Ditatapnya Bastian hangat. Bastian tersenyum. Lelaki itu menyeka air matanya. “Udahan nangis ya. Aku yakin bunda bentar lagi sadar. Nanti kalau bunda tahu kamu nangis, yang ada bunda makin drop.’’


Tere mengangguk menyetujui. Ia menghapus air mata di kedua pipinya, serta merapikan rambutnya.


“Noh, gitukan cakep.’’puji Bastian sambil mengelus pucuk kepala Tere.


Tere tertegun diperlakukan seperti itu, ia menatapnya manja sambil tersenyum.


“Engg.Maaf kak. Aku enggak sopan.’’Bastian baru menyadari bahwa Tere adalah kakak kelasnya.


“Khusus kamu, aku bolehin sering-sering kayak gitu.’’ujarnya sambil tertawa kecil.


“Dih, “ledeknya. Bastian menunduk ke arah bajunya yang basah karena air mata Tere. Bibirnya ikut manyun menunjukkan bajunya. “Udah enggak steril lagi bajuku gara-gara kamu.’’ledek Bastian. Tere tersenyum. “Noh gitu dong senyum. Kamu jauh lebih bersinar kalau senyum. Sedih boleh, tapi jangan larut.”Nasihatnya.


“Keluarga ibu Rita.’’panggil lelaki menggunakan jas putih.


Tere dan Bastian langsung bergegas masuk ke ruang rawat inap itu. Rita tersenyum tipis melihat anaknya datang.


“Neh, kan aku bilang juga apa Bund. Jaga kesehatan dong.’’seketika Tere bisa menyembunyikan raut kesedihannya. Dalam waktu yang singkat Tere bersikap professional seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada dirinya.


“Maaf ya Bas, tante jadi ngerepotin kamu.’’ujar Rita mengabaikan celotehan anak gadisnya.


“Engg, enggak ngerepotin kok Tante. Tante cepat sehat ya Tan.’’tutur Bastian lembut.


“Makasih Bas, Ter, tolong ambilin bunda minum.’’pinta wanita itu. Terlihat jelas bahwa ia masih lemas.


Dengan segera Tere mengambilkannya minum, ia duduk di tepi ranjang, membantu ibunya untuk meneguk air yang ia beri.


“Kata Dokter, untuk malam ini bunda belum bisa pulang.’’


“Ehm, kalau boleh tau tante sakit apa ya?’’tanya Bastian ingin tahu. Ia mendekati kedua wanita itu.


“Kecapean Bas, maklumlah udah tua. Hehe.’’


“Duh tan, Kalau gitu tante harus banyak istirahat nih. Tante udah makan?’’


Wanita itu menggeleng.


“Kalau gitu biar aku beliin bentar ya tan. Mau makan apa Tan?’’tanyanya lagi.


“Udah biar aku aja Bas.’’tolak Tere.


“Tan?’’Bastian mengabaikan Tere, Rita tersenyum. “Yakin kamu mau beliin tante?’’


Bastian mengangguk.”Tante pasti laparkan? Yuk tan, biar aku beliin.’’


Rita tertawa melihat tingkah Bastian yang perhatian kepadanya. Bastian memang tahu bertingkah laku dengan orang tua harus bagaimana. Rita menyebutkan makanannya. Bastian pun pergi pamit. Ia sempat menolak ketika Tere ingin menemaninya.


“Itu baju Bastian kenapa Tere? Kok basah gitu?’’


“Engg, ketumpahan minuman tadi Bun.’’bohongnya sambil memeluk bundanya. “Kan aku udah bilang, kalau capek, bunda berhenti. Jangan dilanjutkan Bund.’’


“Iya. Besok bunda udah pulang kok.’’ujar Rita santai. “Baik benar adik kelasmu itu.’’sanjung Rita setengah meledek. Ia memperhatikan raut wajah anaknya yang malu-malu.


“Iya Bun, Bastian memang baik. Makanya banyak yang suka.’’


“Ibu Rita, untuk makanan dibebaskan ya Bu. Ibu cuma kelelahan.’’ujar salah satu perawat dari balik pintu.


“Terima kasih suster.’’jawab Rita sambil tersenyum.


Sementara itu Bastian berjalan kaki mencari makanan yang dimaksud. Ia mencari makanan yang tidak jauh dari rumah sakit. Rita tadi memberi arahan di mana membelinya. Bastian juga sempat membelikan buah untuk Rita sebagai buah tangannya menjenguk orang tua Tere.


“Tan, sesuai aplikasi ya. Hehe’’ujar Bastian sambil tersenyum. Ia meletakkan bungkusannya di meja dekat kepala Rita. Wanita itu tersenyum.


“Bas, kamu beli dua makannya?”tanya Tere setelah mengecek bungkusan yang ia buka.


“Iya, kan kakak juga belum makan.’’ujarnya sambil tersenyum. “Tan, aku juga beliin buah buat tante, maaf kalau tadi jenguknya enggak bawa apa-apa Tan.’’


“Enggak repot kok tan.’’Bastian membantu Tere untuk membuka bungkusan tersebut.


“Kamu enggak makan Bas?’’tanya Tere.


“Aku enggak makan malam Kak.’’


“Diet Bas?’’


“Enggak Tan. Cuma memang udah kebiasaan aja Tan.’’ucap Bastian. Ia duduk menjauhi ranjang tersebut, agar Tere dan bundanya leluasa untuk makan.


“Serius Bas?’’


“Iya loh Kak. Makanlah.’’perintahnya. Ia mengambil handphone kemudian memainkan game. Dilihatnya Reyfan sedang log in. Mereka pun main bareng. Sementara itu Tere sedang menikmati waktu kebersamaan ini. Ia lirik Bastian yang fokus pada gawai di tangannya. Bajunya masih basah. Tere baru menyadari bahwa semengerikan itu tadi ia menangis. Di dekat Bastian ia di luar kendali. Tapi entah mengapa, tepukan di pundak yang dilakukan Bastian memberikan kenyamanan pada dirinya dan masih membekas hingga sekarang.


Tak disangkanya Bastian sedewasa itu, padahal sehari-harinya ia terus mengajak ribut kepadanya. Sulit baginya untuk melunakkan hati Bastian. Lelaki paling popular di sekolah, yang terus jadi trending topic.


“Bas, beneran sesuai aplikasi ini ya.’’ledek Rita sambil meneguk minumannya. Ia baru selesai makan.


Bastian melog-outkan permainananya. “Kan tan, benar. Ini sesuai permintaan. Hehe.’’Diliriknya jam di kamar inap itu yang telah menunjukkan pukul 22.48 WIB


“Makasih ya Bas, tante beneran ngerepotin kamu.’’


“Enggak kok Tan, cuma Kak Tere yang ngerepotin. Tante enggak.’’canda Bastian lagi.


“Hm, bagus.’’sahut Tere kesal.


“Tan, udah malam. Aku pamit ya.”


“Aku antar kamu ya Bas, kamu kan tadi bareng aku.”sodor Tere yang tak enak hati.


“Enggak usah kak, aku bisa naik ojol.’’


“Bas, kalau enggak bawa aja mobil Tante, besok kamu ke sini lagi.”


“Waduh, enggak usah tan, itu bukan barang murah, nanti kalau ada apa-apa Bastian enggak bisa gantinya. Hehe.’’tolakya sambil Bersiap-siap.


“Bawa aja Bas, besok kamu ke sini lagi.”titah Rita yang percaya dengan anak itu.


“Saya naik ojol aja tan’’tolak Bastian lagi. “Enggak apa-apa Tan, aku lakik, enggak usah khawatir.’’ucap Bastian sambil menyalam tangan Rita. “Cepat sembuh ya Tan. Aku balik.’’


“Ehm, hati -hati kamu ya Bas, kasih tahu Tere kalau udah nyampe.’’


“Siap tante.’’


Tere mengiringi langkah Bastian. “Udah sampai sini aja.’’ucap Bastian ketika di depan pintu kamar Rita. “Udah sunyi, nanti kamu baliknya enggak berani.’’


Tere tersenyum, Bastian selalu memperhatikan hal kecil yang terkadang sepele namun mengesankan. “Makasih ya Bas, maaf aku jadi ngerepotin kamu.’’


“Iya sama-sama. Kamu wanita hebat, dan udah bertahan sampai sejauh ini. Lanjutkan! Aku tahu kamu kuat.’’tuturnya penuh semangat. “Aku balik Kak, kunci mobilmu aku letakkan di atas meja tadi.’’


“Iya Bas, makasih.’’


Sesampainya di rumah, Bastian langsung mengirimkan fotonya. Ia berpose dengan menaikan alis dengan jari telunjuk dan jempolnya ia letakkan di bawah dagunya.


Bocil, aku udah nyampe ya. Makasih udah traktir aku nonton. Maaf tadi sempat ketiduran


Tere langsung menelepon Bastian. Ia tertegun ketika Bastian bersikap manis kepadanya.


“Yuu, dengan Bastian di sini?”


“Sok kegantengan banget ngirimin foto kayak gitu.”hardiknya. “Udah nyampe Bas?’’


“Dih, kan dasar bocil. Tadi kan da kubilang aku udah nyampe.’’


“Hm”Tere berdengus kesal. “Nih anak bisa enggak sih pura-pura enggak tahu? Bisa enggak sih merespon basa-basi enggak kayak gitu.’’ucapnya dalam hati. “Tinggal jawab aja loh Bas.’’


“Udah dijawab Kak.”


“Nyolot terus kayak kereta api.”


Bastian tertawa.


“Bas.’’


“Hm’’


“Mengenai yang tadi, aku harap kamu enggak cerita ke mana-mana.”


“Dih, aku itu pelupa Kak. Santai aja kali, aman Kak. Udah, gih sana istirahat Kak, kamu juga capek. Di bawah kasur ada selimut, ada yang nitip tadi.’’bohongnya.


“Kamu beli?’’


“Dapet, banyak amat pertanyaannya. Engg, tapi jangan lupa dipulangin sama suster berambut pirang, itu temanku.’’


“Iya Bas, makasih Bas.’’ucapnya senang.


“Ya udah ya Cil, aku mau besih-bersih dulu.”


Bastian langsung memutuskan teleponnya. Tere tersenyum riang mendapat perlakuan yang terkesan cuek tetapi perhatian. Lelaki itu benar-benar bisa act to service pada orang terdekatnya.


“Ehm, bau parfum kamu masih terasa Bas.’’ia mengendus bajunya. “Masih melekat di sini.’’ujarnya sambil mengambil selimut yang ada di bawah ranjang bundanya. “Kayaknya malam ini, malam yang indah buatku.’’ucapnya sambil memejamkan matanya.