
Sesampainya di rumah Aleksa, Bastian membuka helmnya. Aleksa memberikan ponselnya.
“Nih Bas.’’Aleksa menyerahkan ponselnya.
“Aku langsung balik ya.’’ujarnya datar.
“Tunggu!’’Aleksa mengamati wajah Bastian. “Ini kenapa Bas? Kok agak memar gitu?’’tanyanya bertubi-tubi. “Bas, kenapa?’’
“Kena bola tadi.”
“Turun dulu, sini aku obatin.’’ajaknya membimbing Bastian menuju rumahnya.
“Udah enggak usah Al.’’
“Ayok! Cepetan.’’Aleksa menarik Bastian masuk ke dalam rumahnya. Reyfan keheranan memperhatikan wajah Bastian yang memerah, dan ada goretan luka di pipinya.
“Kenapa kamu Bang?’’tanyanya memastikan. Ia duduk di samping Bastian.
“Rey, ambil handuk kecil sama air dingin.’’titah Aleksa sambil meletakkan tasnya. Gadis itu juga mengambil kotak P3k dari kamar mamanya. “Kamu berantem Bas?’’
“Kena bola tadi.’’jawab Bastian singkat, sebenarnya ia inin sekali merebahkan dirinya, sedari tadi wajahnya seperti mau terbakar.
“Yakin Bas?’’
“Iya loh Al.’’
“Ehm, tapi ini parah, kayak dilempar gitu.’’Aleksa berlutut di hadapan Bastian. Ia ambil handuk kecil yang diberikan Reyfan tadi kemudian memasukkan ke dalam air, dan diperasnya. Ia mengarahkan handuk kecil itu ke pipi Bastian.
“Sssh.’’Bastian kepedihan. Ia menjauh dari Aleksa. “Udah Leks, pedih banget ini.’’
“Diem dulu.’’Aleksa mendekatkan wajahnya lagi. “Ini ada lukanya Bas, bukan hanya bekas bolanya aja. Kamu berantem? Hem?’’tanyanya lagi.
Reyfan yang menyaksikan tingkah kedua kakaknya itu keheranan. Gelagat mereka tidak seperti biasanya. Aleksa terlihat lebih manja kepada Bastian. Gadis itu terus mengobati lukanya.
Plok
Bastian mengetuk jidatnya Aleksa. Ia tahu sedang diperhatikan oleh Reyfan. Bastian menghindari celutukan Reyfan.
“Udah, biar aku aja Leks.”Bastian mengambil alih apa yang dipegang Aleksa, kemudian menekannya di pipinya. “Makasih Leks.’’ucapnya. Aleksa terlihat kesal dengan perlakuan Bastian. Ia duduk menjauh.
Sikap Bastian kembali seperti sebelum mereka menjadi seperti sepasang kekasih. Melihat tingkah kakaknya yang merajuk. Reyfan semakin keheranan. Tapi ia masih fokus dengan Bastian yang benar-benar memerah wajahnya.
“Masih sakit Bang?’’tanyanya sambil mendekatkan dirinya ke hadapan Bastian. “Ini Bang.’’Reyfan menunjuk ke arah pipinya. “Beberapa goretan di sini.’’
“Iya Rey.’’Bastian meletakkan handuk kecilnya. Kemudian membuka kotak P3K, ia cari antiseptic, kemudian mencoba mengoleskannya.
“Sini Bang.’’Reyfan membantunya. Dengan cotton bud, ia mengoleskan antiseptic itu dan memberikan plester di sana. “Lah Bang, makin keren wajahmu pakai ginian.’’puji Reyfan sambil mengacungkan ibu jarinya. “Hm, kayak bad boy, enggg enggak deng, kayak ketua geng yang habis berantem.’’imbuh Reyfan lagi sambil tertawa.
Bastian mengambil ponselnya, membuka aplikasi kamera, dan melihatnya. Ia mengiyakan ucapan adik Aleksa itu.
“Iya-ya Rey, aku ketua gengnya. Kamu wakilnya.’’tambahnya lagi memberikan persetujuan. Mereka berdua tertawa. Sementara itu, Aleksa hanya diam saja di sana mengabaikan kedua laki-laki yang disayanginya. Mereka memang tidak bisa disatukan. Jika sudah ketemu, Aleksa selalu terasingkan.
“Tapi Bang, ini enggak mungkin kena bola biasa.’’ujarnya memperhatikan. “Pasti sengaja ini Bang.’’
Bastian hanya tersenyum. Dugaan Reyfan benar, memang sengaja dilakukan Zacky. Bastian tidak mau mengambil pusing dengan orang yang tidak dikenalnya. Aleksa masih diam seribu bahasa. Ia tidak tahu apa yang terjadi di lapangan. Ia juga membenarkan apa yang dikatakan Reyfan.
“Ini jersey tim kalian Bang? Keren banget!’’puji Reyfan memberikan topik pembicaraan.
“Enggak tahu, mereka ngasih ini tadi. Kamu suka pakai yang beginian Rey?’’tanya Bastian menyambut topik yang diberikan.
Reyfan mengangguk.
“Punyaku banyak kayak gini Rey, lebih keren dari ini.’’ujarnya lagi memberikan sambutan.
“Serius Bang?’’
Bastian mengangguk. Ia juga suka mengoleksi jersey. Namun belakangan ia menyadari bahwa sudah kebanyakan sekali jersey itu di lemarinya. Ia kebablasan mengoleksi barang seperti itu.
“Kamu mau? Yuk ke rumah.’’ajak Bastian kepadanya.
Aleksa menoleh ke arah mereka. Bastian memang mampu mencari perhatian Aleksa.
“Sekarang?’’
“Iyalah, mau kapan lagi. Kita main PS nanti di sana Rey. Lagian kamu kan belum pernah ke rumahku? Ayolah.’’ajak Bastian lagi kepadanya, sambil membereskan obat-obatan tadi.
“Tunggu aku pamit dulu Bang.’’Reyfan mengangkati barangnya kemudian pamit kepada Hana ibunya.
Aleksa menatap tajam kepada Bastian. Matanya seperti baru saja menemukan mangsa baru.
“Aku enggak diajak?’’Ia membuka suaranya.
“Enggak muat.’’tolak Bastian. Ia meledek Aleksa yang masih ngambek dengan sikapnya tadi.
Aleksa berpindah tempat di samping Bastian. Ia memijit luka di pipinya.
“Auu.. sakit Al. Tega banget sih.’’Bastian menjauhi Aleksa. Ia mengipasi pipinya yang masih perih.
Reyfan menepuk jidatnya karena Aleksa menggunakan rok, padahal mereka naik motor. Adiknya juga sempat mengatai Aleksa seperti biasanya.
“Rey, kasih kunci motormu ke Aleksa.’’titah Bastian sambil menahan senyum. Reyfan menurut. Aleksa kebingungan. “Yuk kita berangkat. Biar Aleksa bawa motor sendiri.’’ledeknya lagi.
“Ih, kalian jahat banget sih samaku.’’rengek Aleksa kesal, membuat kedua laki-laki itu tertawa terpingkal-pingkal. Aleksa tidak bisa mengendarai motor sendiri.
Akhirnya mereka berangkat, Bastian menggonceng Aleksa, Reyfan mengiringi kedua kakaknya itu. Dilihatnya gelagat Aleksa agak berbeda. Ia memeluk Bastian dan meletakkan kepalanya di pundak Bastian manja. Setahu Reyfan, kakaknya kalau digonceng oleh teman lelakinya selalu menjaga jarak. Kali ini berbeda.
Mereka memasuki rumah Bastian yang terlihat sepi. Hanya Astri yang menyambutnya di sana. Kedua kakak beradik itu masuk. Astri menyajikan mereka minuman, sementara itu Bastian pamit membersihkan diri.
“Kak Al? Perempuan tadi siapa?’’tanya Reyfan sambil memainkan kunci motornya.
“Yang kerja di sini.”jawab Aleksa santai.
“Bang Bas sendirian di sini? Diih, enak banget enggak ada yang ganggu.’’ujarnya iri. Ia menganggap bahwa kebebasan Bastian adalah impian semua laki-laki, tanpa ada kekangan ke sana ke mari. Semua aktivitas dilakukan tanpa ada yang ganggu.
“Enak apanya? Yang ada kesepian. Bingung mau ngapa-ngapin Rey.’’ujar Aleksa. Ia tak pernah habis pikir bagaimana Bastian menghindari kesepian setiap harinya. Bastian juga tidak pernah aktif di media sosial, bahkan apatis dengan media itu.
“Rey, makanin itu.’’tawar Bastian ketika selesai mandi. Ia mengambil jaketnya. Kemudian menutupi rok Aleksa dengan jaketnya. Reyfan tersenyum melihat Bastian yang peduli kepada kakaknya.
“Iya Bang, makasih. Bang, aku bakalan sering ke sini kayaknya.’’
“Ngapain kamu ke sini?’’tanya Aleksa dengan cepat.
“Ngindarin kamu, di sini enak.’’pujinya santai memakan snack yang disajikan.
“Wah, bagus itu. Biar kita main PS sepuasnya.’’sambung Bastian mendukung Reyfan. Ia duduk di samping adik Aleksa. “Hm, jadi gimana? Kamu mau main PS dulu atau pilih jerseynya dulu?’’
“Pilih jersey dulu boleh ya Bang?’’pilih Reyfan dengan polosnya.
“Oke. Gass”ajak Bastian ke kamar yang satunya lagi. Khusus untuk tempat ganti Bastian. Di sana ada berbagai aksesoris yang di koleksinya.
Reyfan memasuki ruangan itu dengan takjub. Ia seperti sedang traveling ke minimarket yang menyajikan berbagai koleksi.
“Bang kamu suka anime juga?’’tanyanya ketika ia melihat berbagi replica anime di dalam lemari kaca.
Bastian hanya tersenyum, ia membuka lemarinya yang berisi jersey semua, ada berbagai jenis di sana. Mulai berlengan pendek hingga panjang. Bastian membiarkan Reyfan memilihnya sendiri. Ia kembali ke ruang tamu bersama Aleksa.
“Al, passwordnya ini apa?’’ia menunjuk ke arah ponselnya. “Kamu buatin password untuk apa sih?’’
“Passwordnya namaku.’’ujarnya sambil tersenyum.
Bastian mengacungkan bibirnya. Tersenyum kecut. Secara bergantian ia menyunggingkan bibirnya. “Biar apa gitu?’’
“Hm, kalau suatu saat nanti dalam keadaaan apapun hubungan kita, kamu tetap mengingatku dengan baik, jadi niatmu untuk ninggalin aku kamu pikir baik-baik lagi.’’terangnya sambil tersenyum. “Lagian password itu penting Bas, biar enggak sembarangan orang buka ponselmu.
Bastian menghela nafas panjang. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tidak pernah membuat privasi di ponselnya. Karena baginya ponsel cuma barang formalitas yang wajib dimiliki. Ia kurang tertarik berinteraksi di sana.
Tak lama Reyfan membawa tiga setel jersey. Ia menunjukkannya ke arah Bastian sambil tersenyum malu.
“Bang? Aku ambil tiga ya?’’cetusnya malu-malu.
“Rey, banyak banget. Kamu ini!’’larang Aleksa.
“Cukup tiga’’tanya Bastian tak mengindahkan larangan Aleksa.
“Lebih dari cukup ini Bang.”ucapnya sambil tertawa. “Tapi Bang, ada yang kuambil, cuma ada nama abang di sini. Enggak apa-apa Bang?’’tanya Reyfan lagi. Ia menunjukkan jersey yang bernomor punggung sebelas.
Bastian tersenyum, “Lah, kamu yang enggak apa-apa? Ada namaku di situ, makainya enggak apa-apa?’’
“Justru memang sengaja Bang, keren. Siapa tau aku bisa kayak Abang.’’pujinya sambil membuka bajunya dan langsung memakainya. Ia berbalik arah menunjukkan punggungnya ke Bastian. “Kerenkan Bang, kalau nama Abang yang kupakai. Biar orang tahu, aku adiknya Abang.’’jelasnya dengan bersemangat.
Aleksa tertawa melihat tingkah konyol adiknya. Reyfan memang mengagumi Bastian, bahkan ada beberapa gaya terkadang dengan sengaja Reyfan menirunya. Ketika bertemu dengan Bastian ia merasa seperti ketemu saudara kandung yang sudah lama tidak bertemu. Reyfan merindukan sosok kakak lelaki yang sejalan dengannya.
“Haha oke. Kamu udah kulabelin jadi adikku.’’Bastian mendukung Reyfan sambil menepuk-nepuk pundak Reyfan. “Nanti kita beli jersey yang sama ya Rey, ada nama kita dua.”
“Haha, serius Bang?’’
“Iyalah, biar orang tahu kalau kita kembar.’’ucap Bastian lagi menaikkan percaya dirinya. “Nanti di dadaku nama kamu, terus di punggung namaku. Biar orang bingung lihatnya.”
Reyfan tertawa, ia mendukung ide gokil Bastian. “Aku juga gitu ya Bang.’’
“Kamu mau nomor berapa? 10 aja ya Rey, nanti aku nomor 11.’’saran Bastian.
Reyfan menyetujui dengan senang. Begitu juga Aleksa. Bastian memang sungguh pandai menyesuaikan diri. Sejak bertemu dengan Bastian, adiknya sedikit berubah, ia sudah tidak terlalu malu-malu lagi seperti dulu. Bahkan kepercayaan dirinya meningkat.
“Haha, iya Bang. Jadinya Abang anak pertama. Kak Al, anak kedua, aku anak terakhir.’’canda Reyfan sambil melipat seluruh jerseynya.
“Dih, mana mau aku anak pertama. Biarin Al anak pertama, aku kan kembarannya sama kamu. Bukan sama Al.”Bastian menyambut celutukan Reyfan.
“Haha, eh iya ya Bang. Mulai sekarang Abang manggil dia kakak pertama ya.’’
“Dih, ide bagus itu.’’Bastian semakin mendukung. Ia tertawa mendengar celutukan Reyfan. “Ya udah yuk kita main.’’ajak Bastian memainkan Playstation 5 miliknya.
Aleksa hanya senyum-senyum saja menyaksikan candaan mereka. Adik semata wayangnya itu jarang-jarang bisa bermanja dengan orang lain selain ibunya. Walaupun Reyfan terlihat berani menyampaikan isi hatinya, namun itu hanya kepada orang tertentu saja, ia termasuk anak introvert, yang malas berinteraksi dengan orang lain. Hanya pada orang tertentu Reyfan bersikap apa adanya.