Transfer Student

Transfer Student
Pulang



Hari ini Bastian mengikuti apa yang dikatakan mamanya. Ia izin untuk pulang, walaupun terasa berat untuknya namun ia tetap harus meninggalkan wanita itu sendiri. Ia menyalakan motornya meraih kopling kemudian menyelaraskan dengan giginya, motor itu melaju keluar dari gerbang, meninggalkan cinta pertamanya di sana. Ada rasa sedih menyelimuti di tubuh atletis itu, akan tetapi ia tetap harus mencari solusi terhadap masalah ibunya.


Bastian membelokkan motor sport itu ke perusahaan milik ayahnya. Ia ingin tahu, apakah ayahnya berada di sana atau tidak, karena semalaman tidak pulang. Ia tak menyangka ternyata Sella adalah resepsionis perusahaan itu. Ia adalah gadis yang ia temui pada saat mereka menonton konser enam bulan silam, dan sampai sekarang mereka masih berhubungan baik.


“Ya ampun Bastian, sekarang kamu makin ganteng banget sih. Udah lama lost contact sama kamu.’’ujarnya sambil menyuruh Bastian duduk di lobi perusahaan.


“Dih, masih ingat aja sih Mbak. Kirain udah lupa.’’ucap Bastian ramah, ia meletakkan helmnya di sampingnya.


“Gimana aku mau lupa, kan kamu yang berikan tebengan saat aku kemalaman, teman-temanku memang kurang ajar banget.’’


Bastian tertawa mengingat kejadian pada saat itu. Masih teringat jelas, gadis cantik itu kebingungan mencari teman-temannya yang menghilang tanpa pamit pada gadis itu. Melihat betapa galaunya gadis itu, Bastian menawarkan tumpangan untuk dirinya, sehingga dari awal itulah mereka berkenalan, hingga sampai saat ini.


“Hm, kamu mau cari siapa di sini sayang?’’tanya Sella ramah. “Kamu cari aku? Udah putus sama Caya? Makanya kamu baru nyariin aku?’’ledeknya tenang. Sella memang sering menggoda Bastian.


“Enggak usah bahas Caya Mbak. Hubunganku sama dia udah end.’’ucap Bastian sambil mengamati sekelilingnya dengan teliti. “Aku mau ketemu Pak Richard, ada di kantornya enggak Mbak?’’


“Udah buat janji sebelumnya Bas?’’


“Udah Mbak.’’bohongnya. Ia tidak mau mengakui bahwa dirinya anak dari Richard. Bastian hanya ingin lebih tahu bagaimana keseharian lelaki itu.


“Bos lagi di luar sama girlfriendnya Bas.’’ujarnya setengah berbisik. Ia meletakkan jari telunjuknya di bibirnya mengisyaratkan untuk tidak bereaksi secara berlebihan.


“Dih beneran?’’Bastian mencoba tenang mendengar berita itu. Sedari dulu Sella memang tidak bisa menutupi apa yang terjadi di sekitarnya. “Padahal aku udah jauh-jauh datang ke sini buat bertemu.’’


“Sini, nomor handphone kamu biar kalau ada apa-apa aku bisa menghubungi kamu.’’ucap Sella sambil menyodorkan tangannya. Bastian menyerahkan ponselnya setelah membuka kode keamanannya. Gadis itu memasukkan dua belas digit nomornya, kemudian memanggil nomornya agar ia bisa menyimpan nomor Bastian.


“Tolong kabarin ya Mbak. Kayaknya untuk beberapa minggu ke depan, kerjaan kamu, ku gangguin.’’ucap Bastian sambil tersenyum,.


“Aku ikhlas kamu gangguin sayang.’’godanya lagi. “Masih sekolah kan Bas?’’


Bastian mengangguk. Ia menatap gadis itu sembari tersenyum smirk. Tetapi sebelum itu Sella ingin sekali foto bareng dengan Bastian untuk kenang-kenangan.


“Aku mau pinjam foto kamu, buat manas-manasin mantanku Bas, mumpung kamu pakaian biasa kayak gini. ‘’ujar Sella dengan penuh semangat. Ia merapat duduknya dengan Bastian mengambil beberapa jepretan kemudian memotret dari beragam view.


“Mbak pikir mantan Mbak enggak tahu kelakuan childishnya Mbak kayak gini?’’ledek Bastian. Lelaki itu merapikan rambutnya dan jaketnya.


“Bodo amat.’’celutuknya sambil menyimpan ponselnya. “Bas, ini pas jam makan siang, aku traktir di sekitaran sini ya.’’


“Ehm, boleh. Kalau Mbak maksa aku bisa apa.’’candanya untuk mengisi waktu kosong.


Mereka berjalan menuju kafe terdekat. Bastian mengikuti langkah gadis seksi yang mengenakan serba mini itu. Agak berat baginya untuk menelan salivanya karena pandangan estetis yang ia coba untuk mengalihkan pandangan. Beberapa kali Bastian menghela nafas kasar karena pandangan yang mengundang perhatian para lelaki.


Setelah memesan menu makanan, Bastian melahapnya tanpa basa-basi yang membuat Sella tertawa tanpa jeda. Gadis itu keheranan, karena Bastian tidak menjaga image di hadapannya. Cukup lama ia mengenal brondong di hadapannya, Bastian memang tidak pernah menjaga gengsinya di hadapan siapapun.


Bastian meraih ponselnya yang terletak di atas meja, dilihatnya beberapa panggilan dari orang yang dikasihinya. Di antaranya Aleksa dan Mamanya. Jika diperkirakan dalam perjalanan, Bastian tentunya sudah sampai saat ini.


“Ehm, ntar aja Mbak.’’elaknya sambil menonaktifkan nada dering ponselnya. Ia melanjutkan makanannya. Tempat ini menjadi terasa asing baginya karena begitu banyak perubahan. Semasa kecil ia memperoleh banyak kenangan dari tempat ini. Ayah dan mamanya selalu bertemu di tempat ini saat jam makan siang.


“Mbak, aku butuh informasi tentang girlfriendnya Bosmu Mbak.’’ucap Bastian penuh semangat.


“Lah, kamu mau ngapain?’’tanyanya mulai serius. Gadis itu meletakkan kedua alat makan di samping piringnya.


“Urgent. Mbak bisakan?’’ucap Bastian masih merahasiakan. Sella hanya menyetujui tanpa banyak tanya lagi. Ia tidak mau mencampuri urusan Bastian lebih dalam lagi. Tetapi ia sempat mengatakan bahwa jangan sampai menghancurkan pekerjaan, maka ia akan dengan senang hati berbagi informasi kepada Bastian.


Untuk kesekian kalinya Bastian ditelepon oleh ibundanya, ia angkat telepon untuk dan ia menjawab bahwa ia singgah di rumah temannya, agar ibunya berhenti khawatir. Begitu juga dengan Aleksa, ia menjawab hal yang sama.


Setelah sejaman lebih ia bersama dengan Sella, Bastian izin pamit. Ia melanjutkan perjalanannya dengan santai. Bastian menikmati perjalanannya kembali dengan hati yang hampa. Pergi dengan hampa, kembali dengan sunyi. Raganya rapuh mendengar kabar yang tak indah. Bastian terhempas dalam lubang kegelapan yang tak terduga bahkan dihindari.


Perkiraan tentang keluarga yang baik-baik saja nyatanya cuma ada di film. Betapa malunya ia, jika teman-temannya tahu bahwa ayahnya tukang selingkuh, penggila perempuan. Ditambah dia anak laki-laki yang notabenenya keturunan tunggal Richard, duplicate dari ayahnya. Darahnya mengalir deras di tubuh Bastian, tentunya dampaknya akan kepada dirinya juga.


Terasa perih namun tak berdarah. Luka tapi tak terlihat. Sakit tetapi tak tersikat. Bastian hanya bisa pasrah, namun ia harus melakukan satu hal untuk ayah yang selama ia banggakan. Ayah yang memberikan kehidupan besar kepadanya.


Sesampainya di kotanya, Bastian langsung menuju rumah Astri untuk meminta kunci rumahnya kemudian pulang ke rumahnya. Selesai memasukkan motor, Bastian segera membersihkan diri dan beranjak tidur di kamarnya. Teleponnya kembali berdering.


“Kok lama kali nyampainya Bas?’’


“Tadi jumpa teman bentar Al. Kamu kok belum tidur?’’


Gadis itu menghempaskan nafas kasar. Ia kesal karena sedari tadi khawatir dengan Bastian.


“Enggak ngabarin, terus kamu malah mainnya sama teman kamu. Egois banget! Mikirin kesenangan sendiri.’’ocehnya tanpa henti. Bastian tak menanggapi.


“Ya udah, gih sana tidur. Besok kamu telat.’’


“Abaikan aja terus khawatirnya aku ya Bas, anggap sepele aja. Enggak usah terlalu dipikirin Bas. Hem. Jahat banget.’’


“Maaf Aleksa, aku salah, aku khilaf, ada yang penting banget tadi yang aku harus omongin.’’


Aleksa tak menjawab pernyataan itu. Ia mengalihkan pandangannya. Terlihat sekali gadis itu sedang merajuk kepada kekasihnya. Bastian meletakkan handphonenya.


“Besok kamu tetap pergi bareng Reyfan ya.’’titahnya sambil tersenyum. Ia meletakkan handphonenya. Kemudian memilah baju di lemarinya.


“Oh, jadi kamu enggak mau pergi bareng aku lagi?’’


“Hehe, enggak Al, besok ada yang mau kupastikan Al.”


“Enggak-enggak, besok aku ke rumah kamu. ‘’’