Transfer Student

Transfer Student
Dilema



Mendung menutupi mentari yang enggan keluar dari persembunyiannya. Rintikan hujan juga turut melindungi mentari tanpa banyak kata. Dalam situasi hujan seperti ini, Bastian dikejutkan dengan kehadiran Aleksa di rumahnya tepat pukul 6 pagi. Ia membuka pintu itu dengan kantuk yang masih bergelayut di matanya.


“Kamu naik apa Al?’’pekiknya kaget. Seketika kantuknya hilang, karena dilihatnya gadis itu basah karena terkena deraian hujan.


Aleksa langsung memegang pipi Bastian, kemudian memeluknya. Ia menangis sejadi-jadinya. Gadis itu tak mampu menahan tangis yang tak tahu sebab akibatnya. Bastian membalas pelukan itu, ia mengajak Aleksa masuk. Bastian membelai surai rambutnya gadisnya lembut.


“Tunggu bentar ya sayang.’’ujarnya menenangkan sambil meninggalkan Aleksa di ruang tamu. Bastian mengambil seragamnya. Tak disangkanya Aleksa membenarkan ucapannya kemarin untuk menemuinya langsung. “Pakai seragam aku dulu.’’Bastian memberikan seragamnya, dan menyuruh Aleksa mengganti seragamnya yang basah. Syukurnya untuk roknya masih aman, karena ia naik go car dan hanya sebatas dari gerbang ke dalam rumah tubuhnya terguyur hujan.


Aleksa mengganti seragamnya di kamar Bastian, sementara itu Bastian langsung mandi mengguyur tubuhnya agar Aleksa tak lama-lama menunggu. Selesai mandi Bastian sudah mengenakan seragam yang sama dengan Aleksa. Ia lihat gadis itu mengenakan seragam yang over size, sehingga ia terlihat berbeda dari seperti biasanya. Bastian membuatkan coklat hangat untuknya.


“Kamu ngapain ke sini Al?’’tanya Bastian ketika Aleksa selesai meminum segelas coklat hangat.


“Hm, kangen.’’jawabnya singkat.


“Tapi ini hujan loh Al.’’


“Habisnya kamu nyuruh aku pergi bareng Reyfan. Kamu mau ngehindari aku kan Bas? Gara-gara di Cafetaria waktu itu?’’tuduhnya kesal.


“Enggak loh Al, aku udah lupain itu”.ucapnya sambil berpindah tempat duduk di samping Aleksa. Ia membelai rambut Aleksa lembut. “Aku mau jumpain teman aku.’’


“Enggak boleh Bas. Kamu harus ke sekolah Bas. Kamu enggak tahu betapa khawatirnya Mama sama kamu? Tiap hari nanyain aku untuk mastiin kamu Bas.’’terangnya sambil menoleh ke arah Bastian.


Bastian mengangguk tersenyum. Ia membelai pipi Aleksa lembut. “Ya udah, aku bersiap dulu ya. Maaf udah buat kamu juga khawatir.’’ujarnya sambil mengambil jaketnya. Ia juga mengambil helm, untuk dikenakannya kepada Aleksa. Ia kenakan juga jaket di bahu gadis itu.


“Udah reda, kita berangkat ya.’’ajak Bastian sambil menggenggam tangan Aleksa membimbingnya keluar dari rumah, setelah selesai mengunci pintu.


Mereka berangkat, walau hujan masih terus merintik mengurangi pasukannya. Aleksa memeluknya erat. Ia menyandarkan wajahnya di punggung Bastian. Beberapa hari ini ia terlalu penat mengurusi kegiatan sekolah, semua pekerjaan di sekolah cukup menguras pikiran dan tenaganya.


“Bas, kepalaku mau pecah rasanya.’’ujarnya di tengah perjalanan. “Kamu enggak ada, aku beneran tertekan enggak ada yang bela aku.’’terangnya mengingat betapa brutalnya ketika pengumuman pemenang berlangsung, mereka menganggap panitia melakukan kecurangan karena kemenangan banyak diperoleh dari kelasnya Aleksa.


“Maaf ya Al.’’ucap Bastian dari bibirnya.


“Ehm, emang kamu mau ke mana hari ini Bas?’’tanyanya memastikan perkataan Bastian tadi malam.


“Mau jumpai teman.’’


“Aku ikut!’’


“Enggak jadi.’’tuturnya mengalihkan.


“Bohong! Siang nanti kamu mau ketemu di Enos kan?’’tebak Aleksa, karena ia tidak sengaja melihat catatan kecil di kamar Bastian tanggal pertemuan yang sebenarnya ia tidak tahu apa sebabnya.


Bastian tak menyahut. Ia lupa belum membuang catatan kecil di kamarnya.


“Intinya aku ikut. Awas kalau kamu kalau ninggalin aku.’’ancam Aleksa ketika mereka sampai di parkiran.


Bastian tak menyahut, ia membantu Aleksa membuka strap helm yang ia kenakan. Siska guru mereka menyaksikan hal tersebut dan tertarik untuk mendekati siswa yang pernah ia bimbing sebelumnya.


“Aduh, mesra banget sih.’’ledek Siska.


Aleksa terkejut setengah mati. Ia langsung mendorong tubuh Bastian menjauh darinya karena ia takut Siska mengetahui hubungan mereka.


“Eh, Selamat pagi Bu.’’sapa Aleksa ramah.


Bastian yang hampir tersungkur, menjaga keseimbangannya. Siska yang mengamati hal tersebut, justru fokusnya beralih ke Bastian. Siska tersenyum.


“Enggak apa-apa Bas?’’


“Hm, kalian ada hubungan spesial makanya bareng terus?’’tanya Siska ingin tahu.


“Kami cuma temenan Bu.’’jawab Aleksa cepat. Ia tidak mau guru mereka mengetahui hubungannya. Bastian membelalakan matanya mendengar perkataan itu.


“Bas?’’Siska memastikan.


Bastian tersenyum, ledekan Siska memang tidak bisa dihindari. Setelah pamit kepada Siska, Bastian memasuki area sekolah duluan, meninggalkan Aleksa.


Langkahnya terhenti, ketika Tere dan gengnya mengahalangi Bastian tanpa celah sedikit pun. Gadis itu menunjukkan sebuah tiket berupa hadiah dari stand miliknya.


“Bas, ini hadiah untuk kamu.’’ucapnya dengan senang.


Bastian mengabaikan, ia meminggirkan ketiga bahu itu dan melanjutkan langkahnya. Tere mengikuti tanpa berontak sedikit pun, namun ketika Bastian tepat melewati kelasnya, Tere menarik tangan Bastian ke arah belakang kelasnya, ia langsung mengalungkan tangannya ke leher Bastian, menatapnya dengan tersenyum. Aleksa menyaksikan itu, ia menghentikan langkahnya, mengamati dari kejauhan. Terlihat jelas Bastian mencoba mengelak.


“Kenapa kamu menghindari aku Bas?’’telisiknya, raut wajahnya mencoba menggoda Bastian.


“Awas!’’sentaknya sambil mencoba menjauhi. Ia menggeliat, agar Tere melepaskan cengkramannya.


“Beberapa hari ini aku terus nyariin kamu, mau ngasih tiket kemenangan ini.’’Tere menunjukkan tiket masuk pagelaran musik.


“Ehm, aku enggak tertarik.’’Bastian segera mengelak. Namun dengan cepat Tere menarik tas Bastian kuat, hingga ia kembali mendekat ke arah Tere.


“DIh, kamu terus jual mahal samaku ya Bas.’’


Bastian menepis tangan Tere. “Bocah! Ini masih pagi, enggak usah ngerusak moodku!’’sentaknya kasar. “Cukup main-mainnya!’’dengusnya kesal. Ia berjalan meninggalkan. Teriakan Bastian mengundang perhatian beberapa orang di sana. Ia sempat melihat mata Aleksa yang menunjukkan protes kepada Bastian, akan tetapi ia berusaha menghindari tatapan itu.


Sesampainya di kelas, mereka dihebohkan dengan hadiah untuk traveling ke pantai sekelas. Bastian duduk tanpa mempedulikan itu. Sejak awal ia juga tidak terlalu peduli dengan pertandingan itu.


Ia menelungkupkan kepalanya di atas meja dengan menumpu pada kedua tangannya. Tak lama Aleksa datang, teman-temannya bersorak sorai atas kehadiran Aleksa, karena hadiahnya cukup membuat mereka terpuaskan. Saran dari Aleksa dituruti pembina OSIS, karena ia memberikan alasan yang kuat. Ia ingin teman-temannya merasakan bahwa pertandingan itu tak hanya melulu tentang piala, tetapi bisa juga diberikan dengan hal-hal lain yang dapat memuaskan hati dan pikiran secara bersama, menciptakan kenangan yang lebih banyak lagi.


Teman-temanya mengetahui hal itu, ketika di hari pengumuman, pembina OSIS memberitahukan ide gila Aleksa kepada teman-temannya secara kronologis. Seketika mereka bertepuk tangan atas pemaparan Aleksa yang keluar konteks. Mereka yang haus hiburan hanya butuh traveling. DItambah lagi aktivitas yang padat, yang dijejali mata pelajaran membuat seluruh siswa merasa butuh penjernih pikiran. Walaupun sebelumnya ia mendapat pro dan kontra dari kelas yang lain, namun pada hari ini ia merasa bahwa usahanya tidak sia-sia.


“Leksa, makasih ya. Kamu udah memberikan surprise untuk kelas kita.’’ujar Deren mendekati. Ia mengambil bangku, dan duduk di samping Aleksa.


“Eh iya Ren. Sama-sama. Tapi ini kerja keras panitia kok. Bukan aku aja.’’ujar Aleksa sambil tersenyum. Ia melirik ke arah Bastian yang acuh tidak acuh dengan keadaan. “Dan makasih juga udah bantu aku ya Ren.’’


Bastian masih berupaya tidak membuka suara. Ia kemudian menoleh ke arah kiri, menatap ke arah Deren dan Aleksa yang mencoba membangun sebuah topik pembicaraan.


Aleksa menatapnya kembali dengan perasaan campur aduk, akan tetapi terbesit di pikirannya untuk membalas tingkah Tere, dan menjadikan Deren pelampiasan kecemburuannya.


“Ehm, aku mau nerima ucapan terima kasih kalau kamu mau nongkrong malam ini bareng Aku Leks.’’


Aleksa tak menyahut. Bastian membuang mukanya membelakangi kedua temannya itu. Ia tak ingin mendengar percakapan mereka lebih lanjut. Aleksa masih terus mengobrol dengan Deren yang merasa memiliki kesempatan yang besar untuk mendekati Aleksa.


Tiba-tiba Sella membuat panggilan video, sehingga mata Aleksa tertuju kepada layar ponsel Bastian yang ia letakkan di atas meja dengan disandarkannya di bangku depan mejanya.


“Lagi sekolah kamu Bas? Udah nyampai kemarin kenapa enggak ngabarin aku?’’tanya Sella setengah menggoda.


Aleksa memasang telinga mendengar percakapan itu. Ia lihat seorang gadis seksi dari kejauhan sana sedang asyik menatap kekasihnya dengan genit.


“Kamu lagi enggak ada kerjaan Mbak? Dih, ganggu aja. Aku tunggu kabarnya ya Mbak, jangan lupa. Ya udah ya, gak usah ganggu.’’Bastian langung mematikan ponselnya. Deren dan Aleksa yang menyaksikan itu bertanya-tanya siapa gadis itu.


Bastian pura-pura tidak tahu. Ia kembali menenggalamkan kepalanya ke dalam tangannya. Sebenarnya hari ini Bastian memang menunggu kabar terbaru dari Sella. Namun tak menyangka bahwa gadis itu akan menimbulkan kesalahpahaman baru.