
Malam ini Bastian beristirahat di kamarnya. Mengusir penat yang berkecamuk tanpa henti. Sudah lama, ia tidak memanjakan dirinya di kasur empuk dengan minim penerangan. Lampunya sengaja ia buat redup agar ia cepat tertidur. Ia hanya mengenakan kaos berlengan pendek. Matanya tidak mau terpejam padahal ia merasa bahwa dirinya sudah letih sekali.
Drrrr….Drrr
Ponselnya bergetar hebat. Setelah panggilan ketiga Bastian baru mengangkatnya. Panggilan itu berasal dari Aleksa teman sebangkunya.
“Dih, kamu ngapain Bas, remang-remang gitu?’’tanya Aleksa bingung, karena ia hanya bisa melihat Bastian samar-samar
“Mau tidur. Kamu ganggu aja.’’
“Cepet banget.’’omel Aleksa. Ia berupaya untuk tetap tenang, walaupun jantungnya meronta-ronta karena ia ingin menyampaikan sesuatu. Aleksa masih mengamati Bastian yang tidur terlentang sambil memainkan rambutnya.
“Cepetan Leks. Ada apa kamu call aku malam-malam gini’’ucapnya to the point.
“Bas, bantu aku dalam acara OSIS CUP yuk.’’ajaknya dengan ragu.
“Ogah! Aku enggak mau. “Tolaknya spontan. Ia masih memainkan rambutnya.
Aleksa mendelik setengah mengancam. “Ini keputusan rapat Bas.’’tegasnya. Wanita itu sambil mengerjakan tugasnya dari sebrang sana.
“Masih banyak yang lain Leksa. Aku mau tenang. Aku juga enggak akan berpartisipasi dengan kegiatan itu.’’terangnya secara jelas. Bastian menghindari sorotan publik. Ia ingin mengurangi berinteraksi dengan orang banyak. Ia juga ingin lepas dari gadis agresif itu.
“Kamu udah enggak mau bantu aku lagi Bas?’’
“Iya, aku cuma bantu kamu lewat doa aja ya Leks.’’ujarnya lagi. Ia benar-benar konsisten terhadap ucapannya.
“Bas, Please’’rengeknya manja.
Bastian tidak menanggapi. Ia masih terdiam, menatap hangat Aleksa yang masih belajar.
“Hoamm”Bastian menguap. “Udah ya Leks, aku ngantuk.’’
“Bas, tolonglah Bas.”
“Leksa, nanti aku pikirin.’’ucapnya sambil tersenyum. “Kamu fokus dulu sama pekerjaan kamu.”ucapnya dengan lembut. “Aku lagi enggak pengen ketemu sama kakak kelas kamu Tere. Aku masih hindari pandangan publik Leks.’’
“Apa karena kejadian kemarin Bas?’’
Bastian mengangguk. Ia tidak mau tersulut emosi akibat ulah Tere. Cukup sabar ia menahan emosi atas perlakuan Tere kepadanya. Ia tidak mau sampai ada penyesalan karena menghajar seorang gadis.
Apalagi sekarang, Tere terus mencari perhatian Bastian dengan berbagai cara, sehingga semakin muak Bastian menghadapi gadis itu. Tingkah lakunya yang kekanakan membuat Bastian jenuh bukan kepalang.
Aleksa masih belum memutuskan koneksinya. Pikiranya jauh melayang, mengingat Tere yang benar-benar anarkis kepadanya. Menghindar, adalah keputusan terbaik untuk mengatasi tingkah lakunya. Semakin melawan, maka semakin kuat dirinya untuk bertindak semena-mena.
“Ya udah deh Bas, mungkin ini keputusan yang terbaik.”ujar Aleksa.
Tiba-tiba Bastian terperanjat kaget karena ada yang mengetuk-ngetuk pintu rumahnya. Kamera Bastian masih menyala, sehingga terlihatlah seluruh wajah Bastian dengan jelas saat cahaya lampu terang-benderang.
“Kenapa Bas?’’tanyanya heran melihat Bastian panik.
“Ntar Leks.’’Bastian memakai sweaternya. Aleksa mendengar suara perempuan memanggil-manggil Bastian. Lelaki itu mengintip dari daun jendela memastikan siapa yang bertamu malam-malam seperti ini. “Dih, si bocah’’celutuknya kesal. Ia menjauhi daun jendelanya, dan duduk di ruang makan untuk menghindari suara yang terdengar.
“Tere Bas?’’tebaknya. Bastian mengangguk. Kantuknya Bastian hilang seketika. Aleksa tersenyum, karena permintaan Bastian kepadanya. Menutup peluang Tere untuk berinteraksi kepada teman sebangkunya itu.
Bastian masih tidak habis pikir dengan tindakan nekat Tere yang datang untuk alasan yang tidak penting. Di rumah Bastian hanya seorang diri, jadi ia tidak mau melawani aksi nekat Tere malam ini. Ia pasti akan berlaku sesukanya.
“Beb! Sayang! Kamu di dalam kan?’’teriaknya. “Keluar dong Bas.’’
Aleksa mendengar jelas suara itu. Hatinya cemburu. Ia mendengus kesal. Bastian mengarahkan telunjuknya ke bibirnya memberikan isyarat agar Aleksa tidak berbicara. Tere juga berulang kali menghubungi Bastian, namun Bastian mengabaikannya.
“Beb, Bas, keluar dong. Aku mau ngomong sama kamu Bas.’’
Lagi-lagi Bastian mengisyaratkan Aleksa untuk diam. Bastian memegangi kepalanya yang tak sakit. Ia merasa tidak nyaman dengan kehadiran Tere di rumahnya. Aleksa masih mendengus.
“Cewek ganjen.’’gerutu Aleksa kesal.
“Diem’’ titah Bastian tak bersuara. Ia masih bingung menghadapi Tere yang nekatnya luar biasa. Bukan karena ia tidak berani, namun Bastian lagi malas menghadapi tingkah konyolnya.
“Dia kok bisa tahu alamat rumah kamu sih Bas?’’
Bastian menaikkan kedua pundaknya menandakan ia tidak tahu mengapa gadis itu bisa tahu alamatnya. Ia memijit-mijit kedua alisnya untuk menenangkan dirinya.
“Leks, apa aku usir aja ya?’’tanyanya dengan setengah berbisik.
“Jangan Bas, dia itu nekat. Lagian enggak ada orang di rumah kamu. Nanti dia bisa berbuat di luar nalar kamu Bas’’nasihat Aleksa yang khawatir dengan Bastian.
Ia takut Bastian dijebak oleh Tere. Diperlakukan aneh-aneh. Gadis yang super nekat itu tidak pernah memikirkan resiko atas tindakannya. Menyalurkan hasratnya adalah yang utama baginya.
Aleksa sudah lama mengenal Tere dan gengnya. Tere selalu melakukan di luar nalar. Hal kecil dibesar-besarkannya, dan begitu sebaliknya hal besar semakin dibesar-besarkan. Pernah di suatu waktu, ia melucuti pakaian adik kelasnya hanya karena ia bercanda kepada gadis itu. Adik kelasnya itu diikat di tiang voli dengan seragam sekolahnya sebagai pengikatnya, sepatu dan kaos kakinya di sangkutkan di ring basket. Tidak ada satupun yang berani menolongnya, termasuk Aleksa.
Siapapun yang menentangnya, akan dijadikan korban selanjutnya. Aleksa dan Bastian sudah pada tahap itu sekarang, Mereka berdua adalah sasaran empuk Tere untuk saat ini. Aleksa yang memberontak, dan Bastian yang suka menghakimi membuatnya semakin tertarik dengan hubungan ini.
“Leks, untuk sementara, kita di sekolah enggak usah berhubungan dulu ya. Aku enggak mau makin runyam dibuatnya. Kalau memang kamu butuh bantuan. Coba Deren aja ya.’’saran Bastian kepadanya.
“Hm, ya udah deh.”ucapnya dengan berat hati. “Tapi jangan coba-coba kamu enggak balas pesanku ya Bas. Aku hajar kamu.’’ancam Aleksa kesal.
“Lah, kalau sempat kubalas.”
“Harus sempat. Aku butuh ide kamu.”pinta Aleksa lagi.
“Kalau bisa aku bantu.”jawab Bastian. “Tapi aku lagi pengen menghindar dari publik besok Leks.’’terangnya dengan jujur. “Tere beneran mengincarku.’’
“Lah kok baru nyadar. Dia itu suka sama kamu, dan ambisi sama kamu.’’
“Iya aku baru nyadar Leks. Aku hampir gila dibuatnya.’’adu Bastian lagi. “Bisa gila aku Leks.’’
Aleksa tertawa. Ia tak mendengar lagi suara Tere memanggil-manggil.
“Makanya jadi cowok peka loh Bas.”
Bastian menghembuskan nafas kasar. Ia tidak tahu harus peka yang bagaimana lagi. Rasanya semua yang ia lakukan benar, dan tidak ada maksud membuat orang lain terbawa perasaan kepadanya. Masalah fans, juga ia tidak mengharapkan hal itu ada. Jikalau mereka merasa Bastian layak dikagumi, itu adalah perbuatan yang salah, karena ia hanya siswa biasa yang masih banyak kekurangan dan tak layak untuk menjadi sorotan publik.