Transfer Student

Transfer Student
Kabur



“Kamu kok tahu aku di sini Rey?’’tanya Aleksa ketika Reyfan menjemputnya. Motor yang melaju perlahan itu masih membuatnya merasa tak enak


“Bang Bas nyuruh aku.”


“Dia bilang apa?’’


“Cuma nyuruh jemput.’’jawab Reyfan singkat. Dilihatnya motor Bastian terparkir di depan warung makan pinggir jalan. Reyfan menghentikan motornya tanpa meminta persetujuan Aleksa lebih dulu.


“Bang, sendiri aja?’’tanya Reyfan yang duduk di hadapannya.


Bastian terkejut dengan kehadiran Reyfan. Dilihatnya kakaknya berjalan mengikuti. Bastian masih melahap makanannya. Ia tadi sempat berbasa basi kepada Reyfan, menawarinya makan. Namun Reyfan menolaknya.


“Tumben kamu makan malam Bang.’’cetus Reyfan. Seingatnya Bastian selalu menolak untuk makan makanan berat di malam hari.


“Dari siang belum makan. Lemas Rey.’’ucapnya dengan santai. Aleksa duduk di hadapannya dan di samping Reyfan.


“Lah, pantas. Kirain tadi kak Al bareng bang Bas.’’celutuk Reyfan. Aleksa masih terdiam tanpa suara.


“Enggak ah, aku dari tadi di sini.”bohong Bastian, ia tidak mau membahas masalahnya di hadapan Reyfan, dan sepertinya Aleksa juga berpikiran yang sama.


“Bang.’’Reyfan menunjukkan ponselnya ke Bastian. “Elvis ngajak turing.’’


Mendengar nama itu, Aleksa terbelalak. Ia tidak menduga bahwa adiknya mengenal Elvis ketua geng Omorfis.


“Dih, jelas kamu enggak akan dikasih kakakmu Rey.’’sindir Bastian sambil mencuci tangannya.


“Kamu kok bisa kenal Rey?’’tanya Aleksa membuka suara.


Reyfan menjelaskan bagaimana ia bisa berkenalan dengan Elvis dan teman-temannya. Terlihat jelas bahwa Aleksa tidak menyukai adiknya bergabung dengan Elvis.


“Kamu enggak usah berteman dengan mereka Rey.’’


Reyfan mengernyitkan alisnya kesal. Bastian sudah menduga itu.


“Dengerin itu kakakmu Rey.”sambung Bastian dengan santai. “Kakakmu itu selalu melihat orang dari masa lalunya. Seakan orang selau jahat terus.’’sindir Bastian. Ia tidak peduli dengan Aleksa yang masih bingung dengan kejadian tadi.


“Elvis baik kok. Memang sih kak, dia punya geng. Cuma dia enggak seburuk kayak yang kakak bayangin.’’ucap Reyfan serius.


“Pokoknya enggak boleh.”


Bastian menyunggingkan bibirnya. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya seolah-olah menyetujui.


“Kakak pertamamu itu Rey. Perlu banyak dikelilingkan sama orang-orang yang punya sudut pandang yang berbeda dengannya. Biar dia tahu, suatu hubungan kausal, dan jangan cepat menjudge orang dengan perkataannya.’’ucap Bastian sambil tersenyum tipis. “Sekarang pilihan ada di tanganmu Rey. Kamu bebas memilih, mau jadi orang yang berpikiran luas, atau bertahan dengan persepsimu yang salah.’’nasihat Bastian melanjutkan perkataannya. Ditatapnya Aleksa dengan tajam, seolah ingin menunjukkan bahwa manusia itu bisa berubah kapanpun.


“Bergaulnya sama orang yang tepat Rey,’’timpa Bastian lagi. Ia menarik nafas dalam. “Ya udah gih sana pulang Rey. ‘’titah Bastian.


“Lah, abang ngusir aku?’’Reyfan masih ingin mengobrol dengan Bastian.


“Enggak sih.’’Bastian tersenyum tipis. Ia menopangkan dagunya di kedua tangan yang saling mengepal. Tatapan Bastian masih menatap gadis itu dengan tajam. Ia mengintimidasi Aleksa agar segera menyesali perbuatannya di hadapan teman-temannya tadi.


Menuduh Bastian tanpa bukti yang jelas, menurunkan harga dirinya dalam seketika. Sebagai kekasih, tindakan Aleksa sungguh tidak layak. Ia harusnya berada di tengah, tidak memihak siapapun.


“Kak, kamu kok tumben enggak berisik, biasanya bawel kayak kereta api.’’oceh Reyfan kepada kakaknya.


Aleksa mengetukkan jemarinya seperti biasa. Ia terus berpikir terus tanpa henti. Penyesalan bersemayam di dada dan pikirannya. Semudah itu ia menuduh Bastian tanpa bertanya baik-baik terlebih dahulu.


“Rey, ayuk kita pulang.’’ajak Aleksa. Ia tidak mencoba meminta maaf, karena tempat ini tidak cocok untuk mengatakan hal itu.


Reyfan menurut, mereka pamit saat Bastian belum menyelesaikan perbincangannya melalui telepon.


“Hati-hati Rey.’’pesan Bastian kepadanya. Gadis itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. “Ma, besok Tian ke sana ya.’’ujarnya masih bersahutan dari seseorang yang dari seberang sana.


“Memangnya kamu besok enggak sekolah?’’tanya wanita itu dari seberang telepon.


“Besok masih ada kegiatan di sekolah Ma, enggak datang pun enggak apa-apa. Aku rindu masakan Mama.’’ucapnya sambil menahan rindu.


“Iya udah, besok Mama tunggu di rumah ya. Kamu pulanglah Nak, jangan lama-lama di luar.’’


Bastian menurut, ia menutup sambungan tersebut, dan bergegas pulang. Malam ini ia merasa seperti tak enak di hatinya. Seperti ada yang mengganjal, hampa, ada luka yang tak terlihat namun sangat terasa perihnya.


Keesokan harinya sesuai dengan perkataan Bastian, ia pergi menjumpai ibunya. Jarak tempuhnya lumayan jauh, kalau naik motor mencapai kurang lebih 3 jam setengah. Cukup jauh, sehingga Bastian memutuskan untuk lebih pagi berangkat agar tidak terkena macet.


Udara pagi membuat pikirannya melayang jauh. Semilir angin yang mampu menembus helmnya membuat Bastian semakin bersemangat untuk pulang ke rumah ibunya. Bahu ibu, adalah sandaran ternyaman baginya. Cinta pertama, dari seorang anak laki-laki adalah ibunya.


“Cepat banget kamu sampai sini Nak?’’sambut Mamanya sambil memeluk Tian anaknya. Ia hanya membawa tas ransel dan berupa makanan kesukaan mamanya.


“Hm, iya Ma.’’ia memasuki rumahnya kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa. Ia masih menggunakan rompi tadi malam.


”Tian, sarapan dulu yuk. Mama udah masakin nasi goreng kamu tuh.’’


Bastian dan Diana menyantap makanannya. Aroma rumah seperti ini memang sudah lama tidak ia rasakan. Sejak Bastian pindah, ia jarang sekali pulang untuk menemui Diana.


“Kakekmu itu, nyuruh kamu tinggal di sana, tapi dia malah ngurusi bisnisnya di luar kota. Hem.’’keluh Diana kesal. Ia kecewa anaknya tidak ada yang mendampingi di sana. Bastian hanya tertawa melihat wajah ibunya.


“Dih, Tian udah gede Ma. Lagian kakek kalau enggak kerja, kakek sakit terus kulihat. Jadi lebih baik kakek berbisnis.’’ucapnya sambil menyuapkan masakan ibunya.


“Hm, iya, tapi kamu jadi enggak keurusan kayak gini. Noh lihat rambutmu, udah mulai panjang. Mama enggak mau tahu, kamu nanti sebelum pulang dari sini potong rambut dulu.’’


Bastian tertawa, melihat ibunya yang memperlakukannya seperti anak kecil. Ia berharap bisa memanjangkan rambutnya, tetapi ibunya tidak menyukai karena anak semata wayangnya itu terlihat seperti tidak ada yang mengurus.


“Papa mana Ma?’’tanyanya heran.


“Sudah berangkat ngantor dari tadi. Tian, cepat habisin. Setelah itu, gih sana istirahat. Itu pipi kamu kenapa? Kamu berantem?’’


“Enggak Ma, di sekolah ada pertandingan, enggak sengaja kena bola.’’terangnya dengan tenang.


Drr….Drr…Drrr


Ponsel Bastian bergetar, panggilan dari Aleksa, namun ia membuat mode senyap, tidak mau mengangkatnya. Ia memasukkan ponselnya di sakunya. Setelah selesai makan, Bastian membersihkan diri, kemudian memasuki kamarnya untuk merebahkan diri. Masuk lagi pesan singkat dari Aleksa. Menanyakan keberadaan Bastian.


Lelaki itu masih mengabaikannya. Ia masih belum mau bersoal-jawab kepada Aleksa mengenai perkataannya tadi malam. Ditambah lagi Bastian merasa dipermalukan di depan teman-teman Aleksa. Ia merasa gadis itu belum bisa memahami, dan mengatur emosinya sendiri.