
Chapter 8:
「 Perjalanan menuju kota Pelabuhan. 」Part II.
Hari sudah semakin gelap, tapi desa yang dikatakan oleh Antoni tidak kunjung terlihat keberadaannya.
Hal itu membuat Antoni dan sang Kusir kereta kuda meresa sangat bingung, karena mereka berdua sangat ingat kalau di daerah sini seharusnya ada sebuah desa kecil.
Petualang Merlin mulai merapalkan mantra sihirnya, dia membuat sebuah bola cahaya yang satu-satunya menjadi penerang bagi mereka.
Menarik. Jadi begitu cara mereka menggunakannya. Aku pikir mereka mirip dengan para Warlock, ternyata sangat jauh berbeda.
Untuk pertama kalinya Callian melihat seorang Mage menggunakan kekuatannya, walaupun dia tidak mengerti secara detailnya, namun dia yakin kalau Mage di dunia ini sangat berbeda dengan apa yang dia bayangkan.
Ketika hutan tiba-tiba saja diselimuti oleh kabut yang sangat tebal, semua orang langsung sadar kalau ada yang aneh dan janggal, karena seharusnya hutan di daerah sini tidak berkabut, dan hanya itu saja yang bisa menjelaskan alasan mengapa mereka tidak kunjung sampai di desa.
"Semuanya tetap waspada!. Lindungi satu sama lain!." Teriak Antoni yang instingnya merasakan kalau ada bahaya yang mendekat.
Amy terlihat sangat khawatir dan cemas dengan situasi yang terjadi, bukan karena dia takut dengan apa yang akan terjadi, dia lebih takut dan cemas karena memikirkan tentang keselamatan Callian. Namun tidak terjadi apa-apa di area berkabut itu, setelah mereka melewati area berkabut itu, Amy akhirnya bisa bernafas dengan lebih lega.
Ketika Antoni mengetuk pintu kaca kereta kuda, Amy langsung membuka pintu tersebut dan mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh Antoni.
"Sepertinya kita sudah telah melewati desanya. Aku juga tidak mengerti alasannya, namun sebaliknya kita beristirahat dan membangun perkemahan disini. Karena para kuda juga sudah terlihat kelelahan." Saran Antoni kepada Amy.
Amy terlihat sedang berpikir. Dia sebenarnya tidak ingin membangun perkemahan yang dekat dengan area berkabut itu, namun sepertinya dia tidak memiliki pilihan lain karena Callian juga langsung keluar dari dalam kereta kuda.
"Tu-tuan muda." Amy memangil Callian yang tiba-tiba saja keluar.
"Disini aman, lagipula kita membawa pengawal. Apalagi yang kau takutkan Amy."
Ucap Callian. Karena dia juga sudah sangat bosan hanya terus-terusan duduk didalam kereta kuda.
Dan dia ingin menyambut sekelompok orang yang sedari tadi mengikuti mereka dengan nafsu membunuh.
"Baiklah.." Balas Amy yang tidak memiliki pilihan lain.
Ketika semua orang sedang sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Callian hanya berdiri diam di dekat api unggun sambil mengawasi sekitarnya. Selain Callian, sepertinya tidak ada satupun orang yang sadar kalau ada yang sedang mengawasi mereka dari kejauhan.
Mereka hanyalah orang-orang yang sudah siap dikirim ke neraka.
Namun tidak ada satupun dari mereka yang melakukan pergerakan. Bahkan ketika Callian dan yang lainnya sedikit lengah karena sedang menyantap makanan mereka.
Semua orang sangat memuji masakan Amy setinggi langit, namun keterampilan Amy dalam memasak memang harus diakui sebagai yang terbaik. Karena Callian hanya bisa memakan makanan yang memiliki kelezatan seperti ini, hanya ketika dia mengunjungi teman baiknya, yaitu Saintess Aprodite di istana Langit.
Namun para tikus akhirnya muncul disaat yang tidak tepat, karena Callian sangat sedang sangat menikmati makannya. Hal itu hampir membuat Callian kehilangan ketenangannya.
"Siapa kau?!." Bentak Antoni. Dia dan anggota party nya langsung berdiri dan mengacungkan senjata mereka ke pria yang terlihat tenang namun memiliki aura yang kuat.
Namun bahkan sebelum pria tersebut menjawab pertanyaan itu, lambang yang ada di pakaian dan sarung pedang miliknya langsung menjawab siapa dia sebenarnya.
"Tunggu!. Lambang itukan, lambang dari korps kesatria kerajaan!." Kata Yoon terkejut ketika mengetahui hal tersebut. Begitupun juga dengan rekan-rekannya yang lain, tapi tidak dengan Amy dan Merlin yang masih terlihat waspada dengan pria tersebut.
Insting mereka mengatakan kalau ada yang aneh dengan pria tersebut, sekalipun dia adalah salah satu kesatria kerajaan.
Tikus dari kerajaan ya, sepertinya ada sesuatu disini.
Callian yang tiba-tiba saja tersenyum menyeringai itu, membuat pria itu merasakan ngeri dan hawa dingin dilehernya.
"Maaf-maaf. Apa aku mengejutkan kalian?." Tanya pria tersebut sambil tersenyum ramah.
"Aku Damian Silver, namun biasanya orang-orang lebih mengenalku sebagai Silver Sword." Sambungnya.
Nama tersebut langsung membuat semua orang menjadi lebih terkejut. Karena tidak ada satupun orang yang ada di ibukota, tidak mengetahui nama tersebut.
Namun Amy yang memang tinggal di kota pedalaman Axell. Tidak mengetahui siapa orang tersebut, dan masih merasa sangat curiga kepada orang tersebut.
"Kenapa aku harus mempercayai mu?." Tanya Amy.
Terlihat pertanyaan yang dilontarkan oleh Amy itu, langsung membuat anggota party Red Eagle bereaksi, karena menurut mereka itu adalah tindakan yang tidak sopan kepada seorang kesatria kerajaan.
"Maaf Tuan Damian, mereka tinggal di pedalaman jadi mereka tidak tahu siapa anda." Kata Yoon yang kata-katanya tersebut jelas menghina Amy dan Callian secara tidak langsung. Terlebih dia mengatakannya dengan nada yang sedikit tinggi.
Antoni langsung mencoba menengahi situasi, dia juga sadar perkataan Yoon sedikit kurang sopan kepada orang yang telah memperkerjakan mereka. Namun tindakan Yoon itu didasari karena dia sangat bermimpi untuk menjadi bagian dari korps kesatria kerajaan.
Karena itu Antoni langsung membawa Amy dan Callian untuk menjelaskan kalau pria tersebut dapat dipercaya, bahkan pria itu menunjukkan token keanggotaannya.
Akhirnya setelah pria tersebut terindentifikasi sebagai Kesatria kerajaan yang memiliki nama cukup terkenal, semua orang yang awalnya waspada berakhir bercengkrama dengan ramah, terutama Yoon yang bahkan rela menuangkan minuman ke gelas pria tersebut.
"Tolong maafkan perkataannya, dia begitu karena dia sangat mengidolakan para kesatria." Jelas Yoon kepada Amy.
Amy mengangguk mengerti, dia juga sebenarnya tidak terlalu memikirkan hal tersebut, tapi tidak dengan Callian.
"Jika kau tidak ingin ada yang kehilangan kepalanya, bersikaplah dengan sopan." Kata Callian dengan nada dan raut wajah yang dingin menatap kepada Antoni.
Setelah itu dia langsung pergi meninggalkan mereka berdua dan masuk kedalam kereta kuda. Amy yang masih terkejut karena Callian berkata seperti itu, langsung mengikuti Callian ke dalam kereta kuda.
Antoni sudah sangat sering mendapatkan ancaman secara langsung, namun dia belum pernah mendapatkan ancaman yang membuatnya benar-benar merasa terancam.
Itu hanyalah ancaman yang keluar dari mulut seorang anak kecil, namun itu terasa benar-benar sangat berbahaya.