
Chapter 14:
「 Pelelangan 」
Setelah pengobatan Suisei selesai, dan Callian mendapatkan rasa hormat dan terimakasih yang sangat besar dari Astel. Astel langsung mengatakannya secara langsung, kalau dia bersumpah setia dan akan terus mengikuti Callian.
Callian benar-benar merasa sangat bahagia, karena dalam satu kali tarikan dia langsung mendapatkan dua burung. Di satu tempat yang sama, dia mendapatkan dua bakat hebat dalam bersamaan.
Setelah urusannya dengan dua bersaudara itu sudah selesai, Callian akhirnya memiliki waktunya sendiri, di sisa-sisa energi miliknya, dia sekarang berniat untuk membuat pil yang diperuntukkan untuk memperluas lautan Qi miliknya.
Hanya dengan beberapa ratus koin emas, Callian bisa membuat sebuah pil yang bernilai satu kota besar. Dia benar-benar sangat diberkati oleh langit di kehidupannya yang kedua ini.
Callian yang sedang merebus dan mengontrol api di tungku obat, benar-benar terlihat seperti seorang Master Alkemis, melihat dari cara dan teknik yang dia gunakan. Bagaimanapun juga, dia dulunya adalah salah satu dari lima orang yang diterima untuk belajar ilmu alkimia dari God Madicine.
Diluar sana, Amy mulai menunjukan kekhawatirannya karena Callian masih belum juga keluar. Bersama dengan Astel dan Suisei, mereka tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Callian di dalam sana, karena mereka hanya bisa melihat asap dari perapian dan bau obat yang sangat menyengat dari ruangan tempat Callian berada.
Tidak lama kemudian akhirnya pintu itu terbuka, dan terlihat Callian yang keluar dari ruangan dengan wajahnya yang sedikit berkeringat.
"Apa benar di kota ini ada pelelangan?." Tanya Callian langsung kepada Astel.
Amy yang tadi berlari keluar telah kembali dengan membawa pakaian ganti untuk Callian, karena dia melihat pakaian yang Callian kenakan sangat basah karena keringatnya.
"Iya. Itu salah satu yang menjadi daya tarik di kota ini, karena disana akan ada banyak barang berharga yang akan di lelang." Jelas Astel.
Callian mengetahui hal itu dari buku yang dia baca, dan menurutnya, pelelangan bisa menjadi suatu cara cepat untuknya menghasilkan beberapa koin emas. Karena walaupun dengan uang pemberian keluarganya, Callian menduga kalau itu masih belum cukup untuk membeli sebuah kapal.
Benar, tujuan Callian datang ke kota ini adalah untuk membeli sebuah kapal.
Jika bantuan dari jalur darat sudah tidak bisa diharapkan, tapi tidak dengan jalur laut. Dan beruntungnya dari buku yang Callian baca, kota pelabuhan Crastille ini, merupakan markas utama dari salah satu kelompok tentara bayaran yang cukup memiliki nama di Annalise Kingdom.
Callian berniat membawa tentara bayaran sebanyak mungkin menggunakan jalur laut, dan membantu keluarganya yang saat ini sedang di tekan oleh keluarga Purma.
Dan tentu saja, Callian sangat sadar kalau rencananya itu akan membutuhkan banyak sekali uang. Karena itu dia sudah menyiapkan sesuatu yang mungkin akan menggemparkan seluruh Annalise Kingdom.
"Daftarkanlah semua barang yang ada disini dalam pelelangan. Kau hanya perlu mengatakan kalau ini adalah Pil Qi Essence, jika mereka memang memiliki seorang Master Alkemis disana, dia pasti akan tahu nilai dari barang ini. Namun jika mereka tidak mengetahuinya, bawa itu kembali." Kata Callian sambil memberikan sebuah kotak kecil hitam yang di dalamnya berisikan tiga pil berwarna emas.
"Dan pastikanlah kau menyembunyikan identitasmu tanpa diketahui oleh orang lain." Sambung Callian sebelum pergi meninggalkan kedua bersaudara itu bersama dengan Amy.
Walaupun Astel tidak mengetahui nilai sebenarnya dari pil tersebut, namun dari bau obat yang tercium sangat menyengat dari setiap pil, dia tahu kalau ketiga pil ini adalah obat ajaib.
***
Callian dan Amy telah kembali ke penginapan yang sebelumnya mereka sewa.
Tubuh Callian yang sudah berada di batas menahan rasa sakit dan kelelahannya, memaksa Callian untuk segera beristirahat.
Agar tidak membuat Amy merasa khawatir, dia hanya mengatakan kalau dia sedikit mengantuk sebelum mengunci dirinya di dalam kamarnya.
Aku benar-benar berlebihan kemarin malam. Jika begini aku tidak akan bisa menggunakan kekuatanku untuk sementara waktu, jika tidak ingin seluruh tubuhku hancur.
"Aku hanya bisa berharap mereka berdua tumbuh dengan baik. Atau mungkin bertiga?." Kata Callian sebelum berbaring dan memejamkan kedua matanya.
Kata-kata terakhirnya itu merujuk kepada Unmei dan Naine, begitupun juga dengan Merlin. Sampai dirinya benar-benar bisa menggunakan kekuatannya tanpa berdampak ke tubuhnya, dia berharap ketiga orang itu bisa sedikit meringankan beban dan membantunya ketika dia dalam kesulitan.
****
Setelah mengantarkan Suisei ke rumah pamanny. Astel langsung menuju ke toko pakaian karena Callian menyuruh dirinya untuk menyembunyikan identitasnya, disana dia membeli sebuah jubah hitam dan sebuah topeng putih polos.
Ketika hari sudah gelap, dia langsung bergegas menuju ke tempat pelelangan yang di jalankan langsung oleh Marquis Astille dengan seluruh tubuhnya yang tertutupi. Tentu saja penampilannya itu menarik perhatian begitu banyak orang.
Sesampainya di tempat pelelangan, ini baru pertamakalinya Astel memasuki tempat mewah seperti ini dalam hidupnya. Seketika dia langsung teringat dengan Suisei dan ingin mengajaknya ke tempat ini. Namun dia langsung tersadarkan kalau dia saat ini sedang menjalankan tugas pertamanya, karena itu dia harus melakukannya sebaik mungkin.
Astel langsung berjalan ke tempat resepsionis pelelangan berada. Walaupun tatapan dari orang-orang lainnya sangat menganggu dirinya, Astel tetap berjalan dan mencoba untuk tetap tenang tanpa menunjukkan ketakutannya.
"Apa disini ada Master Alkemis?. Aku berniat melelang sebuah pil." Kata Astel yang langsung berterus-terang kepada wanita resepsionis.
"Maaf Tuan. Untuk barang-barang yang akan dilelang biasanya akan kami serahkan ke Master Penilai keluarga Marquis, namun jika dia tidak bisa menilai barang tersebut, barulah kami akan meminta bantuan dari luar." Jelas resepsionis tersebut kepada Astel.
Astel menganggukan kepalanya, setelah itu dia langsung memberikan kotak kecil berwarna hitam kepada wanita resepsionis. Dalam sekilas dia sempat takut kalau barang milik Callian itu akan dibawa lari oleh dirinya.
"Silahkan duduk terlebih dahulu Tuan, saya akan membawa barangnya ke Master Penilai." Kata Resepsionis tersebut.
Astel langsung mencari tempat duduk, untuk menunggu pil tersebut berhasil di nilai. Tidak membutuhkan waktu lama, dan resepsionis tersebut telah kembali, namun dia kembali bersamaan dengan seorang pria tua yang dilihat darimanapun dia adalah master penilai tempat pelelangan ini.
Semua orang yang ada di dalam langsung menjadi ribut, karena master penilai keluarga Astille yang dikatakan sangat sulit untuk ditemui itu, tiba-tiba saja keluar dari tempatnya.
"Maaf Tuan, akan membutuhkan sedikit waktu untuk Master Alkemis yang kami panggil sampai disini. Jika anda berkenan, apa anda ingin minum teh dengan tenang di atas?." Kata Master penilai yang mengajak Astel untuk berbicara.
Astel tidak memiliki pilihan lain selain menyetujuinya, dan langsung mengikuti Master penilai naik ke lantai atas dari belakang. Tentu hal ini membuat semua orang menjadi lebih ribut, bahkan beberapa dari mereka yang bekerja untuk suatu keluarga bangsawan langsung kembali untuk mengabarkan berita tersebut. Karena mereka berpikir barang yang sangat berharga sudah muncul di pelelangan.
Astel dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan, yang disana terdapat banyak sekali berbagai macam barang, mulai dari senjata ataupun perlengkapan lainnya. Termasuk pil milik Callian, yang itu ada di atas meja.
Astel langsung duduk ketika Master penilai menyuruhnya untuk duduk, walaupun dia sedikit tidak enak dengan sikap master penilai yang sangat sopan kepada dirinya, yang bahkan menuangkan langsung teh ke gelas miliknya. Karena dia berpikir orang yang seharusnya yang mendapatkan perlakuan ini, adalah Callian bukan dirinya.
"Jika anda tidak keberatan, bolehkah saya bertanya siapa nama Master anda." Tanya Master penilai kepada Astel.
Astel langsung tersedak karena terkejut mendengar perkataan tersebut. Namun master penilai menganggap kalau Astel merasa tidak nyaman dengan pertanyaan yang dia ajukan kepadanya. Disanalah, Astel menyadari kalau master penilai sepertinya memiliki kesalahpahaman dengan dirinya.
Dia tidak tahu jawaban yang harus dia berikan untuk pertanyaan tersebut, karena dia sendiripun masih belum mengetahui nama Callian. Dia hanya tahu nama dari Pelayan yang mengikutinya saja.
Karena itu terlintas sebuah nama yang menurutnya cocok untuk menjawab pertanyaan tersebut.
"Bintang biru." Jawab Astel.
Yang jawabannya tersebut, mengacu dari bagaimana cara dia melihat sosok Callian. Bagi dirinya, Callian adalah sebuah bintang yang telah memberikan sinar baru di kehidupannya, dan karena Callian memiliki warna rambut yang berwarna biru.