
Chapter 22:
「 Kembali ke wilayah Axell 」 Part III.
Karena hari sudah mulai gelap, Amy mulai mengkhawatirkan keadaan Astel lebih dari adiknya Suisei. Karena Suisei tahu kalau tidak akan ada hal yang buruk terjadi kepada Kakaknya.
Amy juga langsung lebih tenang, setelah ditenangkan oleh Callian. Sekarang dia sedang memasak meninggalkan Callian dan Suisei di dek kapal.
Selain berlatih kultivasi, Suisei juga mulai berlatih mempraktikan langkah kaki dan teknik pedang yang diberikan oleh Callian kepadanya, dengan Pedang kayu yang ditemukan di ruang penyimpanan. Callian yang secara langsung mengawasinya, membuat dirinya menjadi sangat gugup dan berakhir melakukan banyak kesalahan.
Ketika mereka berdua mendengar suara auman binatang, Suisei langsung menghentikan latihannya dan menyusul Callian yang sedang mengecek sumber suara auman tersebut.
Suara Auman tersebut ternyata berasal dari seekor Harimau yang memiliki ukuran tubuh lumayan besar. Harimau tersebut sedang mencoba untuk naik ke atas kapal, namun serial upayanya itu selalu berakhir dengan kegagalan.
Apa-apaan hewan buas di dunia ini. Mereka terlalu lemah dan tidak di anggap sebagai ancaman oleh universal detection ku, bahkan aku tidak bisa mendeteksi ketika dia mendekati kapal.
"Tuan muda, apa kita harus menerbangkan kapalnya?. Harimau itu bisa saja naik keatas sini jika dia meloncat dari pohon itu." Jelas Suisei. Dia juga bertanya apakah dia harus menerbangkan kapal atau tidaknya karena keberadaan Harimau tersebut.
"Tidak perlu, sebelum sampai di lautan lepas kita harus menghemat daya sihir kapal ini sehemat mungkin. Berikan saja pedang kayu itu padaku, aku akan memberikan mu pelajaran tambahan." Jawab Callian, dia juga meminta pedang kayu yang sedang dipegang oleh Suisei.
Dengan senang hati Suisei langsung memberikannya, dia sedikit terkejut ketika melihat Callian yang naik dan berdiri di tepian dek kapal, Karena pemandangan itu terlihat seperti Callian akan meloncat turun kebawah.
"Ada banyak cara untuk memanfaatkan energi spiritual, namun yang lebih banyak diketahui oleh orang-orang hanya ada tiga cara. Yaitu Kekuatan, Kecepatan, dan Ketahanan. Perhatikanlah dengan baik, aku akan menunjukan cara menggunakan ketiganya secara bersamaan." Jelas Callian.
Setelah dia meminta Suisei memperhatikan hal yang akan dia lakukan dengan baik, Suisei langsung mengangguk sebelum dirinya hampir terjatuh karena hembusan angin yang tiba-tiba saja muncul mengelilingi tubuh Callian, atau lebih tepatnya dari pedang kayu yang sedang Callian pegang.
Pedang kayu itu juga secara misterius tiba-tiba saja di selimuti oleh aura berwarna emas, Suisei langsung tahu kalau aura berwarna emas itu adalah energi milik Callian. Karena itu terasa familiar dengan energi yang menghilangkan racun di tubuhnya.
Melihat Suisei yang menatapnya dengan tatapan kagum dan takjub, membuat Callian langsung tersenyum, karena masih terlalu awal untuk memuji dirinya, disaat pertunjukan yang sebenarnya masih belum di mulai.
"Nah jika kau berlatih dengan rajin, kau juga bisa melakukan hal seperti ini!." Kata Callian kepada Suisei, sebelum melemparkan pedang kayu yang sedang dia pegang sedikit ke atas.
Hal itu awalnya membuat Suisei kebingungan dan bertanya-tanya mengapa Callian tidak melemparkan Pedang kayunya langsung kebawah, ke arah Harimau tersebut berada dengan sekuat tenaganya.
Karena pedang kayu itu, tanpa dilemparkan ataupun disentuh sedikitpun oleh Callian, pedang itu langsung melesat dengan sangat cepat menuju ketempat dimana Harimau tersebut berada, tepat ketika pedang kayu tersebut dilemparkan ke atas oleh Callian.
Suisei langsung mengerti, tiga pemanfaatan kekuatan energi yang tadi ditunjukan oleh Callian kepadanya.
Ketika Callian melemparkan pedangnya, sambil mempertahankan energi miliknya yang ada di pedang tersebut, Callian kembali mengeluarkan enegi miliknya untuk menjadi daya dorong dari Pedang tersebut, agar bisa melesat dengan sangat cepat. Hal itu termasuk pemanfaatan Energi menjadi jenis Kecepatan.
Dan terakhir, Callian yang melapisi dan memasukan energi miliknya ke pedang kayu, membuat pedang kayu tersebut memiliki kekuatan yang sama seperti pedang yang terbuat dari baja. Karena tidak hancur ketika menabrak batu yang besar, itu malah membuat batu tersebut yang hancur.
Setelah pertunjukan itu, mereka berdua langsung kembali ke ruang kendali karena Amy juga telah menyelesaikan masakannya.
Setelah memakan masakan Amy, terlihat Suisei mulai sedikit demi sedikit kehilangan kesadarannya. Walaupun dia mencoba untuk mempertahankannya, pada akhirnya Suisei tetap tertidur lebih awal karena seluruh tubuhnya merasa sangat kekalahan hanya karena sedikit latihan.
Itu menunjukkan seberapa lemah tubuhnya saat ini. Bahkan tubuhnya itu jauh lebih lemah jika dibandingkan dengan anak-anak yang seumuran dengannya.
Ketika sedang membaca buku, dengan ditemani oleh Amy. Callian merasakan ada beberapa hawa keberadaan manusia yang sedang mendekat ke arah kapalnya, yang salah satunya tidak lain adalah hawa keberadaan Astel. Karena itu Callian langsung menekan tombol yang menurunkan tangga yang ada di kapal kebawah.
Astel yang dibawa secara kasar oleh Bernard, dengan digendong di punggungnya. Benar-benar membuatnya merasa sangat mual, dan menjadi memiliki trauma serta ketakutan kepada Bernard.
Walaupun itu terjadi karena dirinya yang tidak bisa menunggangi Kuda. Oleh karena itu Bernard harus menggendong Astel sambil memacu kuda yang dia tunggangi secepat mungkin.
Namun Bernard langsung menurunkannya ketika dia sudah melihat sebuah kapal sihir yang sempat dijelaskan oleh Astel kepadanya, itu mengakhiri penderitaan yang di alami oleh Astel.
"Ketua!. Bukannya ini kapal ini milik Marquis?!. Apa klien kita adalah Marquis?, tapi kenapa kita harus jauh-jauh datang ke ibukota." Tanya salah satu bawahan Bernard kepadanya.
Astel yang sedang mencoba menstabilkan dirinya itu, setelah dirinya cukup merasa lebih baik, dia langsung membantah perkataan pria tersebut.
"Tidak, kapal ini adalah milik tuanku." Ujar Astel.
"Apa maksudmu bocah?!. Orang manapun pasti langsung tahu kalau ini adalah kapal milik Marquis karena lambang yang ada dikapal!." Balas pria tersebut dengan nada sedikit tinggi dan membentak kepada Astel.
Pria itu memang sedari awal sudah bersikap seperti ini kepadanya sejak dari ibukota.
"Aku tidak keberatan dengan sikap mu ini, namun kau harus bisa menjaga sikap mu ini ketika berada di depan tuanku. Kapal ini memang milik Marquis, namun dia telah memberikannya pada kami!." Jawab Astel dengan tegas sebelum pada akhirnya meninggalkan Bernard dan ketiga bawahannya, naik ke atas kapal lebih dulu.
Sementara itu Bernard yang sedang teralihkan karena mayat seekor harimau yang dia temukan, akhirnya merasa puas setelah melihat pedang kayu yang tertancap di tanah. Seakan-akan jawaban yang dia cari sedari tadi, sudah dia temukan.
"Ben, bawakan pedang kayu yang ada disana. Dan jagalah sikapmu!." Kata Bernard dengan nada membentak dan raut wajah yang kesal kepada pria yang tadi sedikit berdebat dengan Astel.
Sebelum pada akhirnya dia naik keatas kapal untuk menyusul Astel yang sudah lebih dulu naik.