
Chapter 27:
「 Kekalahan dan Pembalasan Dendam 」Part 2.
***
Setelah selesai membuat obat, Callian langsung menemani Suisei untuk berlatih dasar-dasar dari ilmu pedang. Seperti; Menebas, Menusuk, Kuda-kuda dan masih banyak lagi.
Ada dua alasan mengapa Suisei harus diajarkan dari yang paling dasar, walaupun memang sudah menjadi hal yang normal ketika hendak mempelajari sesuatu, itu harus mempelajarinya dari yang paling dasar terlebih dahulu.
Namun jika kita melihat kepada Naine, dia sekarang bisa dipastikan bisa mengalahkan semua bawahan Bernard yang ada di kapal ini dengan mudah.
Padahal dalam hidupnya, Naine belum pernah sedikitpun mempelajari tentang dasar-dasar ilmu pedang, bahkan sebelum bertemu dengan Callian dia juga belum pernah menggenggam pedang sama sekali.
Callian bisa memastikan hal tersebut, karena dia tahu segala hal tentang diri Naine. Disaat berada di desa bangsa Plahm pun, Unmei ataupun Luna tidak pernah mengajarkan dasar-dasar ilmu pedang kepada Naine.
Naine yang sekarang, itu murni terbentuk karena instingnya dan Metode latihan yang diberikan oleh Callian.
Kembali ke dua alasan utama Suisei.
Selain karena Suisei yang memang belum memiliki pemahaman apapun tentang ilmu pedang, itu juga karena tubuhnya yang masih belum siap untuk mulai berlatih dengan teknik Pedang dan metode yang Callian berikan kepadanya.
Karena itu Callian memutuskan untuk mengajarkan Suisei mulai dari yang paling dasar terlebih dahulu, sampai tubuhnya itu pulih, sebelum mengajarkan Suisei Teknik Pedang pemberiannya.
"Untuk sekarang kita cukupkan sampai sini, sampai tubuh mu pulih aku akan menemanimu latihan seperti ini setiap paginya." Kata Callian yang melihat Suisei sudah terlihat sangat kelelahan dengan wajahnya yang bercucuran dengan keringat.
Jika latih tanding itu di lanjutkan, ada kemungkinan Suisei bisa saja jatuh pingsan akibat menderita kelelahan.
"Pemahaman anda tentang ilmu pedang benar-benar sudah sangat dalam melebihi orang-orang yang menyebut diri mereka sebagai Master Pedang, dan kemampuan Alkemis anda juga tidak bisa diremehkan." Kata Bernard memuji sambil berjalan menghampiri Callian dengan membawa kain bersih, karena berpikir Callian membutuhkannya untuk mengelap keringatnya.
"Ada apa dengan sikap mu ini?. Katakanlah jika ada ada sesuatu yang kau inginkan, tidak ada gunanya jika kau bersikap seperti ini depanku!." Kata Callian dengan wajah dan sorot mata yang dingin kepada Bernard.
Melihat Bernard yang sedang mencari muka di depannya, hal itu membuat Callian merasa jijik dengan apa yang dilakukan oleh Bernard. Karena Callian tahu, orang-orang seperti Bernard hanya akan melakukan hal seperti itu ketika ada sesuatu yang mereka inginkan.
Senyuman lebar karena senang langsung terlukis di wajah Bernard, ketika Callian mengetahui niatannya tersebut. Dia juga langsung kembali kepada dirinya yang angkuh.
"Aku tidak ingin mengatakannya di depan banyak orang, aku akan menunggu saat yang tepat untuk mengatakannya!." Balas Bernard.
**
Setelah Suisei, Callian sekarang kembali melakukan latih tanding bersama dengan Unmei dan Naine.
Naine yang menjadi lawan pertamanya, karena segan untuk menyerang Callian dengan seluruh kemampuannya, dia dapat dengan mudah dikalahkan oleh Callian tanpa perlawanan.
"Naine, ingatlah satu hal ini. Sekalipun itu adalah rekan ataupun keluargamu, jika dia memang musuh mu kau tidak perlu ragu untuk menghunuskan pedang mu kepada mereka. Dan karena kau sudah jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya, kau boleh mengikutiku sekarang." Kata Callian kepada Naine.
Terlihat dari reaksi Naine, yang mengibaskan ekornya. Callian tahu kalau Naine sepertinya sedang sangat senang sekarang.
Sekarang giliran Unmei yang maju untuk latih tanding bersama dengan Callian. Dan disaat yang sama, Astel, Amy dan Luna juga telah datang karena telah menyelesaikan pekerjaan mereka.
Benturan demi benturan kedua pedang kayu milik mereka terus-terusan terjadi dengan sangat intens, itu menghasilkan suara yang berirama dengan suara ombak dilautan.
Dia malah dikejutkan dengan hasil akhir pertarungan tersebut. Callian yang dapat mengalahkan Unmei, membuatnya sangat kebingungan dan tidak percaya karena Unmei yang sangatlah kuat itu, bisa dikalahkan oleh Callian.
"Tu-tuan muda?!." Tanya Amy Dengan raut wajah terkejutnya.
"Ada apa Amy?. Aku hanya sedang berolahraga." Jelas Callian sambil mengambil pedang kayu milik Unmei yang tadi sempat terpental, karena beradu dengan pedang kayu miliknya.
Melihat Unmei yang sedang meratapi kekalahannya itu, membuat Callian langsung tersenyum, namun bukan karena dirinya yang merasa senang.
"Walaupun ini adalah latih tanding biasa, jangan pernah bermimpi untuk bisa mengalahkan ku. Karena jika kau ingin mengalahkan ku, kau harus menjadikannya sebagai sebuah tujuan bukan hanya sebatas sebuah mimpi!." Bisik Callian kepada Unmei sambil memberikan pedang kayu miliknya.
Bukannya merasa terhina atas perkataan tersebut, perkataan Callian itu malah mendorong hasrat Unmei untuk menjadi lebih kuat, semakin menjadi-jadi. Setelah menerima kembali pedang tersebut, Unmei langsung membungkuk hormat kepada Callian.
"Baik Master!." Jawab Unmei dengan tegas.
Unmei langsung kembali pergi berkultivasi setelah mengatakan hal itu, dia sekarang benar-benar menetapkan tujuan untuk menghancurkan tembok besar yang bernama Callian itu.
**
Saat Callian sedang di hujani berbagai macam pertanyaan oleh Amy, yang kebingungan dan menginginkan jawaban mengapa Callian bisa menjadi sangat kuat.
Callian tidak pernah menjawabnya dengan serius.
Ketika mereka sudah hampir akan sampai di wilayah Axell, rombongan kapal mereka itu tanpa sengaja bertemu dengan kapal milik Count Purma, yang juga baru saja kembali dari ibukota.
Tentu saja Putra pertama Count Purma yang ada di kapal tersebut, langsung melaporkan temuannya itu kepada ayahnya setelah kapal mereka sampai di dermaga kota Purma.
**
"AYAH!." Dia membanting pintu ruangan itu dengan keras.
Setelah pintu ruangan itu terbuka, terlihat seorang pria paruh baya yang memiliki perawakan kurus kecil, yang sedang ditemani oleh beberapa perempuan di ranjangnya.
Pria kurus kecil tersebut tidak lain adalah Count Purma.
"Ada apa?. Apa kau tidak bisa melihat kalau ayah sedang bersenang-senang sekarang." Jawabnya sambil membelai perempuan-perempuan yang ada di sampingnya.
"Saat dalam perjalanan kembali dari ibukota, aku melihat kapal sihir Marquis Astille dan belasan kapal yang memiliki bendera kelompok tentara bayaran Crelles sedang berlayar menuju wilayah Axell!." Kata Putra pertama Count.
Count Purma langsung terkejut setelah mendengar hal itu, padahal dia sudah menutup semua jalan-jalan ke kota lain dengan sangat rapat, untuk mencegah adanya perwakilan dari keluarga Axell meminta bantuan.
Dia tidak percaya kalau keluarga Axell masih bisa mendatangkan bantuan dari luar, terlebih bantuan tersebut sekarang adalah salah satu kelompok tentara bayaran terkuat di seluruh kerajaan.
"Apa yang harus kita lakukan ayah?." Tanya putra nya tersebut kepadanya.
"Tidak perlu khawatir, sekalipun Marquis membantu mereka atau siapapun. Mereka tidak akan berani menyerang kita setelah menandatangani perjanjiannya. Kemungkinan Marquis Astille memberikan bantuan hanya untuk melindungi mereka sebagai sesama Fraksi netral, jika kita memiliki pangeran pertama kita masih menang!." Jelasnya.
Count Purma merasa kalau kemenangan masih berada di pihaknya, kedatangan tentara bayaran Crelles ke wilayah Axell hanya membuat ambisinya untuk mendapatkan seluruh wilayah Axell hanya harus di tunda, sampai dia kembali melihat adanya kesempatan lain.