
Chapter 13:
「 Dua saudara yang berbakat 」
Anak laki-laki yang baru berumur enam belas tahun itu bernama Astel. Dia dan adiknya Suisei, adalah anak yatim piatu yang tumbuh besar tanpa kedua orang tua.
Karena kedua orangtuanya telah meninggal akibat tenggelam di laut ketika sedang mencari ikan. Karena dulu mereka adalah sebuah keluarga Nelayan kecil yang harmonis.
Astel sudah mengurus dan merawat Suisei sedari umurnya masih berumur lima tahun, Suisei yang sekarang berumur sepuluh tahun, telah tumbuh dengan racun mematikan di dalam tubuhnya. Astel sudah melakukan berbagai macam cara, namun tidak ada satupun yang dapat menghilangkan racun tersebut. Sekalipun Alkimis yang dikatakan sebagai yang terhebat di seluruh kota.
Karena hal ini jugalah yang mendorong Astel terus menerus melakukan penelitian Alkimia, karena dia ingin membuat obat untuk mengobati racun yang ada di dalam tubuh adiknya.
Setelah menyerahkan pengobatan adiknya kepada Callian, dia sekarang sedang membantu Callian meracik obat untuk menghilangkan racun yang ada di tubuh adiknya.
"Ketika warna air rebusannya sudah berubah menjadi merah, itu sudah bisa digunakan. Namun kau harus menghaluskannya sehalus mungkin." Jelas Callian yang sedang memberikan arahan kepada Astel, yang sedang merebus tanaman herbal.
Dengan wajah yang sangat berkonsentrasi, Astel menganggukan kepalanya sebagai bawahan. Tugas dia hanyalah mendengarkan dan melakukannya sesuai seperti instruksi yang diberikan oleh Callian, Amy yang melihat itu dari kejauhan, benar-benar sangat takjub dan kagum kepada mereka berdua.
Akhirnya setelah beberapa jam berlalu, dengan wajahnya yang sangat berkeringat, Astel tersenyum bahagia karena telah menyelesaikan membuat obat yang diperuntukkan untuk mengobati racun yang ada di dalam tubuh adiknya.
Obat itu berupa sebuah pil yang memiliki warna berwarna biru. Callian langsung mengambil pil tersebut dari tangan Astel, dan langsung menyuruhnya untuk melakukan pekerjaannya yang selanjutnya.
"Amy, belilah beberapa pakaian yang lebih layak untuk mereka berdua. Dan kau, siapkan satu bak berisikan air hangat dan tunggulah di luar dengan tenang." Kata Callian.
Amy langsung mengangguk mengerti.
"Baik tuan Muda."
Walaupun Astel belum menjawabnya secara langsung, namun karena dia telah membantunya dalam membuat pil tersebut. Callian menganggapnya sebagai jawaban setuju dari Astel. Dia tidak akan tinggal diam ketika menemukan bakat-bakat seperti Astel. Dia selalu memiliki keinginan untuk membawa bakat tersebut ke sisinya.
"Kenapa kau masih berdiri disini?!. Saat ini aku akan memulai untuk mengobati adikmu!." Kata Callian dengan nada dan wajah kesal kepada Astel, yang masih berdiri tanpa bergeming dari tempatnya.
Dia sangat khawatir dengan adiknya, dan dia juga masih belum bisa mempercayai Callian sepenuhnya.
"Karena itu!. Sudah sewajarnya aku berada disini!." Balas Astel.
Untungnya ketika Callian semakin kesal dan hampir kehilangan kesabarannya, Suisei langsung membujuk kakaknya untuk keluar. Hanya dia yang bisa mengalahkan kepala batu yang dimiliki oleh Astel.
Sekarang tinggal hanya mereka berdua saja, entah kenapa Suisei merasa jantungnya terasa berdetak lebih cepat dibandingkan biasanya.
"Lepaskan pakaianmu dan berbaringlah disana." Kata Callian.
Suisei benar-benar merasa sangat malu ketika mendengar perkataan tersebut, dengan wajahnya yang memerah seperti tomat yang sudah siap untuk dipetik, dia berusaha untuk menahan rasa malunya itu.
Setelah dia melepaskan seluruh pakaiannya, ketika dia menoleh ke arah Callian, Suisei melihat Callian hanya terfokuskan ke buku yang ada di tangannya, dia sama sekali seperti terlihat tidak tertarik sedikitpun kepada tubuhnya.
Karena jarum itu sudah diselimuti oleh Qi milik Callian, itu lebih terasa seperti di tusuk oleh sebuah belati. Suisei berusaha sekeras mungkin untuk menahan rasa sakit tersebut.
"Jika kau kehilangan kesadaranmu, nyawa kita bisa terancam. Jadi tahanlah sedikit lagi." Ucap Callian yang sedang menyerap racun di dalam tubuh Suisei ke dalam tubuhnya.
Setelah tusukan jarum yang ke sepuluh, akhirnya Callian bisa bernafas lega karena racun yang ada di dalam tubuh Suisei sudah sepenuhnya menghilang. Namun vitalisnya yang menghilang dan memburuk karena racun tersebut, tidak bisa dikembalikan, untuk itulah kegunaan pil yang tadi dibuat oleh Callian bersama Astel.
Untuk mengembalikan vitalis Suisei, dan memulihkan vitalisnya.
"Telanlah pil nya. Dan jangan membuka mulutmu sampai aku suruh." Kata Callian.
Dia langsung duduk bermeditasi setelah memberikan pil itu kepada Suisei. Karena dia harus berurusan lagi dengan racun yang ada di dalam tubuhnya.
Karena Qi yang ada di dalam tubuhnya itu kuat, Qi miliknya langsung merespon ketika racun itu mulai masuk ke dalam tubuhnya. Karena penolakan yang dilakukan oleh Qi yang ada di tubuhnya, Callian dapat dengan mudah mengeluarkan racun-racun tersebut menjadi uap udara dan muntahan darahnya.
Melihat Callian yang tiba-tiba saja memuntahkan darah dari dalam mulutnya, membuat Suisei menjadi sangat khawatir, namun anehnya dia melihat kondisi Callian seperti terlihat baik-baik saja, seakan-akan itu bukan hal yang berdampak ke tubuhnya.
"Aku akan memberikan mu dua pilihan." Kata Callian sebelum melanjutkan pengobatan Suisei ke tahap yang terakhir.
Suisei hanya diam, karena Callian tadi menyuruhnya untuk tidak membuka mulutnya sampai dia menyuruhnya.
"Pilihan yang pertama. Aku bisa saja langsung menyembuhkan mu dengan kekuatan ku, dan itu tidak akan terjadi apa-apa kepada dirimu. Kau hanya akan langsung sembuh dan akan menjalani kehidupan yang normal bersama dengan kakak mu." Itu untuk pilihan yang pertama.
Sebelum mengatakan pilihan yang kedua, Callian sedikit menghela nafas karena dampak yang dia terima dari penggunaan kekuatannya yang berlebihan di pertarungan kemarin malam, kembali terasa walaupun Callian sudah berusaha menahannya.
"Untuk pilihan yang kedua, kau sendirilah yang akan akan menyembuhkan dirimu. Namun sebagai gantinya, kau akan menjalani kehidupan yang jauh dari kata normal yang dipenuhi dengan bahaya. Tapi imbalannya, kau akan menjadi kuat." Kata Callian.
Suisei masih tidak mengerti dengan maksud dari pilihan yang kedua. Namun jika dia memilih pilihan yang pertama, dia akan kembali menjadi orang yang sangat bergantung kepada kakaknya. Dia merasa, sudah cukup baginya untuk tidak lagi merepotkan kakaknya itu.
Karena dengan pilihan yang kedua, jika dia memiliki kekuatan, dia bisa melindungi satu-satunya keluarganya tersebut. Dia tidak ingin menjadi terus-terusan yang di lindungi. Karena itu dengan keteguhannya, Suisei memilih pilihan nomor dua, dengan mengacungkan dua jari tangannya.
Callian sangat menghormati pilihan tersebut. Ini kembali mengingatkannya ketika dia berkeliling dunia hanya untuk mencari seorang murid.
"Baiklah. Kau akan berada dalam pengawasanku mulai sekarang, dan kau juga adalah salah satu orangku." Kata Callian.
Setelah itu Callian langsung mentransferkan Teknik latihan dan kultivasi yang cocok untuk tubuh Suisei. Setelah lumayan lama berpikir, akhirnya Callian memutuskan untuk memberikan Teknik Pedang dan Teknik Kultivasi yang dulu sengaja dia ciptakan hanya untuk murid pertamanya.
Penyerapan dan pemahaman Suisei benar-benar sangat mengejutkan Callian, karena hanya dalam kurang dari satu setengah jam, dia telah sepenuhnya menyerap teknik tersebut.
Unmei yang berasal dari bangsa Plahm yang dikatakan memiliki vitalis sangat besar, dia saja membutuhkan waktu satu jam lebih. Begitupun juga dengan Naine yang berasal dari Suku Serigala Salju, yang dikatakan memiliki tubuh dan indera yang sangat kuat.
Sepertinya aku tanpa sengaja telah menemukan seorang jenius. Keluarga kecil ini, benar-benar sangat mengejutkanku.