
Chapter 17:
「 Pelelangan 」Part III.
Kembali ke cerita utama.
Callian terlihat saat ini sedang duduk membaca buku sambil melihat cara Amy mengatur orang-orang suruhannya untuk mengangkut tanaman herbal yang ada di dalam rumah Astel, ke penginapan tempat dimana mereka menginap.
Setelah Astel merasa tidak ada lagi yang harus dia bantu, karena Amy benar-benar bisa sangat di andalkan. Dia langsung menghampiri Callian untuk melaporkan kejadian kemarin malam kepadanya.
"Sepertinya kau berhasil." Kata Callian ketika Astel datang menghadapnya. Karena sebelumnya, Callian sempat mendengarkan pembicaraan orang-orang di kota tentang barang ajaib akan yang akan dilelang dua hari mendatang.
Astel menganggukan kepalanya, karena dia memang berhasil mendaftarkan pil yang diberikan oleh Callian untuk di lelang di pelelangan. Namun dia langsung menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Callian, terutama tentang kesepakatan yang dibuat dengan Master Penilai.
"Namun sebagai gantinya dia mengatakan kalau dia tidak akan mengambil potongan untuk kedua pil lainnya, dia juga menambakan salah satu kapal sihir Marquis untuk dia berikan kepada kita." Jelas Astel.
Seketika Callian langsung berhenti membaca, dan menutup buku yang tadi sedang dia baca. Hal itu langsung membuat Astel ketakutan, karena berpikir Callian marah dengan apa yang dia lakukan.
"Aku tidak menyangka kau telah melakukan hal yang begitu besar dan sangat bisa andalkan!. Aku akan memberikan mu hadiah nanti!." Kata Callian sambil tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Astel.
Callian tidak habis pikir, karena Astel berhasil mendapatkan apa yang ingin dia dapatkan. Menurut buku yang dia baca, Keluarga Marquis Astille sangat kuat dengan angkatan laut mereka karena mereka memiliki belasan kapal sihir.
Tentu saja Callian akan dengan senang hati menukarkan satu pil yang bisa dia buat
kapan saja itu, dengan satu kapal sihir milik
mereka. Keputusan Astel itu sudah sangat
tepat, karena tidak ada ruginya juga ketika memilki hubungan dengan keluarga Marquis Astille.
Karena tujuan dan rencana pertamanya sudah tercapai berkat Astel, sekarang dia hanya perlu melakukan rencana keduanya. Yaitu untuk mengumpulkan tentara bayaran.
Namum ternyata itu bukanlah hal yang mudah, karena ketika Callian yang ditemani oleh Astel datang ke Perkemahan tentara bayaran yang ada di kota Crastille, mereka langsung diusir walaupun Callian sudah mengatakan kalau dia datang untuk mempekerjakan mereka.
Karena tidak ada yang percaya dengan perkataan anak kecil, dan dikira bermain-main, Callian langsung di usir bahkan tanpa diperbolehkan masuk terlebih dahulu. Callian yang kesal, melampiaskannya dengan datang ke sebuah tempat yang bukan tempat untuk anak kecil berada.
"Tuan muda?!. Mengapa kita datang ke tempat seperti ini?." Tanya Astel. Karena dia sudah terhitung sebagai bawahan Callian, dia mengikuti cara Amy dalam memanggil Callian.
Disini adalah tempat dimana pertukaran segala informasi dilakukan, hanya dengan uang kita bisa membeli informasi yang kita inginkan. Itulah yang disebut sebagai Asosiasi Informan. Mereka juga bukan hanya menjual informasi, tapi juga membeli informasi.
Dua hari sebelum pelelangan, Callian ingin segera menyelesaikan segala urusannya di kota ini secepat mungkin. Karena itulah dia datang ke tempat ini.
"Tukarlah benda ini dengan informasi tentang kelompok tentara bayaran Crelles sebanyak mungkin." Ucap Callian sambil memberikan satu kantung penuh berisikan koin emas pemberian Amy. Dia berharap kedua pil miliknya segera terlelang dengan harga yang cukup untuk memenuhi segala kebutuhannya.
Setelah mendapatkan segala informasi tentang kelompok tentara bayaran Crelles yang bermarkaskan di kota Crastille. Callian dan Astel langsung kembali ke penginapan karena mereka sudah berjanji kalau mereka tidak akan pergi terlalu lama.
Dan karena tidak ada hal yang bisa Callian lakukan lagi, dia memutuskan untuk beristirahat lebih awal karena ingin memulihkan dirinya secepat mungkin.
Selama seharian penuh, Callian tidak pernah meninggalkan kamarnya bahkan ketika dia sedang makan. Walaupun itu membuat Amy sedikit khawatir, namun karena dia masih bisa berkomunikasi dengan Callian, Amy hanya berpikir kalau Callian hanya mengalami kelelahan saja dan ingin beristirahat.
***
Hari yang telah ditentukan pelelangan telah tiba, namun Callian dan Astel seakan-akan keduanya tidak peduli mengenai hal itu, mereka tetap melakukan rutinitas harian mereka. Apa yang akan terjadi, biarlah terjadi. Begitupula pikir Callian.
"Baik Tuan muda. Apa kita akan kembali ke ibukota menggunakan kereta kuda lagi?." Tanya Amy.
Pertanyaan itu seketika langsung mengingatkan Callian dan Astel dengan kapal sihir yang di janjikan untuk diberikan kepada mereka.
"Tidak, kita akan menggunakan kendaraan yang lebih nyaman." Balasnya.
Amy kembali menganggukan kepalanya, sebelum pada akhirnya dia pergi dari penginapan bersama dengan Suisei untuk membeli persediaan. Setelah Amy dan adiknya pergi, Astel langsung datang menghampiri Callian.
"Benar juga, harus dibagaimanakan kapal itu?." Tanya Astel kepada Callian.
Callian juga masih belum memutuskannya, karena jika bisa, dia masih ingin menyembunyikan identitas Astel untuk kepentingannya di masa depan.
"Apa kau tahu suatu tempat yang jarang didatangi orang. Jika ada tempat seperti itu mintalah mereka untuk menyimpan kapalnya disana tanpa ada satupun orang, bersama dengan uang hasil pelelangannya. Dan berikanlah ini kepada Marquis, katakan kalau aku sangat berterimakasih dengan niat baiknya." Kata Callian.
Setelah kembali mendapat tugas.
Astel langsung kembali ke rumahnya yang lama, dan kembali menggunakan pakaian dia yang sebelumnya dia kenakan ketika menemui Master Penilai keluarga Astille.
Dalam perjalanannya menuju rumah pelelangan, dia sempat berpapasan dengan Amy dan adiknya Suisei, Suisei secara sadar langsung tahu kalau orang yang berpakaian serba hitam dan menggunakan topeng itu, tidak lain adalah kakaknya.
"Ada banyak sekali orang aneh yang berlalu lalang di kota hari ini." Kata Amy yang sambil memasukkan daging yang hendak dia beli ke keranjang yang dibawanya.
"Apa Nona pelayan tidak tahu?. Malam ini dikatakan kalau akan ada barang ajaib yang akan di lelang di rumah pelelangan milik Lord kota. Semua bangsawan besar di kerajaan selalu mengirimkan orang-orang suruhan mereka untuk mendapatkan barang tersebut, itu sebenarnya sudah biasa terjadi ketika ada barang berharga yang akan di lelang. Namun kali ini sepertinya skalanya jauh lebih besar jika dibandingkan dengan yang sebelum-sebelumnya." Jelas perempuan paruh baya yang merupakan pemilik dari toko daging ini.
***
Kembali dengan Astel yang sudah sampai di rumah pelelangan, dia langsung di sambut oleh dua orang berbadan kekar yang menjaga pintu masuk rumah pelelangan. Kedua pria berbadan kekar itu hanya mengatakan kalau Marquis sudah menunggu dirinya. Karena itu Astel hanya berjalan mengikuti mereka dari belakang.
Astel dibawa ke sebuah ruangan, di tempat itu juga terlihat keberadaan master penilai, master Alkemis, dan dua orang pria paruh baya yang salah satunya adalah Marquis Astille. Astel langsung mengetahuinya karena sebelumnya dia memang pernah bertemu secara langsung dengan sang Marquis.
"Oh tuan Murid!. Selama datang, kami sudah menunggu kedatangan anda." Kata Master Penilai menyambut kedatangan Astel.
Astel sedikit tidak nyaman dengan cara dia memanggil dirinya, namun tidak ada hal yang bisa dilakukan oleh Astel untuk mengubah panggilan tersebut.
Karena itu dia hanya langsung ikut duduk bersama dengan keempat pria paruh baya tersebut.
"Pelelangannya akan di mulai malam ini, apa Master anda akan berkenan untuk datang?." Tanya Master penilai keluarga Astille kepada Astel.
"Maafkan aku, sepertinya Masterku tidak akan bisa datang begitupun juga dengan diriku karena ada beberapa hal yang harus kami lakukan sebelum pergi dari sini. Namun dia secara langsung mengatakan kalau dia sangat berterimakasih dengan niat baik Marquis, karena itu dia telah menyiapkan hadiah kecil untuk Marquis." Kata Astel. Dia benar-benar mencoba untuk mendalami peranannya sebagai murid dari Sang Master Alkemis.
Marquis Astille tersentak karena perkataan tersebut, dia juga melihat sebuah botol kecil yang berisikan cairan berwarna kuning yang tiba-tiba saja di keluarkan.
"Ini adalah obat khusus yang dibuat oleh Master saya untuk menekan penyakit kulit putri sulung anda." Kata Astel kepada Marquis.
Semua orang disana langsung terkejut ketika mendengarnya, terutama Marquis Astille. Karena tujuannya berada disini, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk meminta bantuan Sang Master Alkemis memeriksa dan mengobati penyakit yang diderita oleh putrinya.
Namun sekarang dia langsung mendapatkan apa yang dia inginkan itu, bahkan tanpa harus memintanya, seakan-akan Sang Master Alkemis itu sudah menebaknya.
"Ron, tolong panggil Yoona kemari." Kata Marquis yang tidak bisa mengontrol raut wajahnya.
Astel baru mengetahui nama asli sang master penilai keluarga Astille, padahal sebelumnya dia berpikir kalau dia hanyalah salah satu karakter figuran saja karena author tidak kunjung memberikan nama kepadanya.