
Chapter 6:
** Dingin dan kehampaan yang abadi 」
**
Keesokan Paginya.
Callian yang baru saja terbangun itu, langsung bergegas turun ke lantai satu penginapan karena perut kecil miliknya telah menuntut dia untuk memberikan persembahannya.
Orang-orang yang ada dilantai satu terdengar sedang meributkan sesuatu, itu tidak lain adalah tentang mengenai insiden kebakaran yang terjadi ditempat pedagang budak kemarin malam. Ketika Amy melihat Callian sudah duduk di kursinya, dia langsung datang menghampiri Callian sambil membawa hidangan yang memang sudah siap disajikan untuk Callian.
"Selamat pagi Tuan muda Ian." Sapa Amy
"Pagi Amy. Orang-orang disini terdengar sedang meributkan tentang kebakaran, apakah terjadi sesuatu?." Tanya Callian.
Pria paruh baya yang duduk didekat Callian itu, tanpa sengaja mendengar perkataan Callian. Dengan keadaannya yang setengah mabuk itu, dia langsung menjelaskan insiden kebakaran yang terjadi kemarin malam.
"Kemarin malam salah satu tempat pedagang budak yang ada di ibukota ludes hangus terbakar oleh api, kala itu aku berada di tempat kejadian secara langsung dan membantu para penjaga kota memadamkan api. Namun seberapa keras pun kami mencobanya, bahkan para penyihir dari Istana pun tidak mampu untuk memadamkan api tersebut. Dan keanehan itu tidak berhenti sampai situ, api yang merembet kebangunan lain sama sekali tidak membakar bangun-bangun lain.
Karena itu orang-orang dikota banyak yang membicarakannya karena keanehan-keanehan yang terjadi." Jelas pria paruh baya tersebut.
"Sepertinya ketika kebakaran itu terjadi kita terlalu terlelap sampai tidak menyadari insiden tersebut." Ucap Amy menambahkan.
"Sepertinya begitu." Callian menjawabnya sambil menyatap hidangan yang dibawa oleh Amy.
"Sudah sewajarnya anak seusia mu beristirahat lebih banyak dibandingkan orang dewasa, dan sekalipun kau mengetahui insiden kebakaran tersebut tidak ada hal yang bisa dilakukan oleh anak-anak sepertimu." Kata Pria paruh baya tersebut yang perkataannya terlihat membuat Amy sedikit merasa tersinggung dan kesal, walaupun perkataan tersebut tertuju kepada Callian.
Setelah menghabiskan makanannya, Callian langsung kembali naik dan masuk kedalam kamarnya. Sepertinya Amy masih mengingat perkataannya kemarin, karena terlihat barang-barang miliknya telah dikemas sangat rapi oleh Amy. Mereka berdua sudah siap untuk pergi kapanpun dari penginapan ini.
Tidak lama berselang, terdengar suara ketukan pintu diluar, dan Amy langsung masuk kedalam kamar setelah diijinkan untuk masuk. Dalam hatinya dia masih sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang dicari oleh Callian.
"Amy, aku akan berterus-terang saja kepada dirimu. Aku berniat mencari bantuan untuk membantu keluargaku. Walaupun Kakak menyuruhku untuk hidup dengan tenang di ibukota, aku tidak bisa melakukan hal tersebut ketika keluargaku sedang mengalami kesulitan!." Kata Callian.
Tanpa diduga dan disengaja, Amy menetaskan air mata kebahagiaan, Callian yang dia lihat saat ini benar-benar telah berubah dan lebih dewasa dibandingkan sebelumnya. Amy secara tegas mendukung rencana Callian.
"Baik Tuan muda, saya juga pasti akan berusaha agar bisa berguna untuk tuan muda. Lalu kemana tujuan kita akan pergi Tuan muda?." Tanya Amy.
Tujuanku kali ini adalah kota Pelabuhan Crastille, dan Marquis Astile.
Untungnya dia telah membaca buku-buku tentang para bangsawan yang ada di Annalise Kingdom, jika tidak dia tidak akan mungkin bisa terpikirkan rencana tersebut. Bagaimanapun juga, dengan tubuhnya sekarang, Callian tidak akan leluasa mengeluarkan segenap kekuatan miliknya untuk melawan pasukan Count Purma. Karena itu dia membutuhkan bantuan kekuatan dari pihak lain.
Jarak antara ibukota Alise dengan kota pelabuhan Crastille bisa memakan waktu selamat satu hari jika menggunakan kereta kuda. Dan akan jauh lebih cepat jika menunggangi kuda secara langsung.
Namun tubuh sialan ini pasti akan mengalami masalah jika aku terlalu lama menuganggi kuda.
Dan pada akhirnya pilihan yang pertamalah yang akan dipilih. Setelah mereka berdua berpamitan dengan pemilik penginapan, mereka berdua langsung berjalan ketempat penyewaan kereta kuda.
"Amy. Carilah kereta kuda yang nyaman, karena kita akan berpergian lumayan sangat jauh. Dan aku akan pergi untuk membeli beberapa buah-buahan." Kata Callian menyuruh Amy.
Amy mengangguk setuju, karena melihat toko buah-buahan berada tidak jauh dengan tempat penyewaan kereta kuda.
Kenyataannya itu hanyalah sebuah alasan Callian agar dia bisa pergi secara diam-diam ke sebuah gudang terbengkalai yang ada didekat toko buah-buahan.
"Jadi kau sudah sadar. Bagaimana kondisimu sekarang?. Apa kau sekarang merasa lebih baikan?." Tanya Callian.
"Makanlah, dan isi perutmu terlebih dahulu. Ngomong-ngomong apa kau tidak keberatan jika aku melihat ingatanmu?." Tanya Callian.
Perempuan Demihuman Serigala itu benar-benar terlihat seperti dirinya ketika ingatannya masih tersegel, dia benar-benar sangat pendiam dan hanya bisa mengangguk dan menggelengkan kepalanya ketika berkomunikasi dengan Callian. Sampai sekarang Callian belum pernah mendengar satupun kata yang keluar dari mulutnya.
Karena itu untuk mengorek informasi dari dirinya, dia tidak memiliki pilihan lain selain melihat ingatannya secara langsung karena dia sangat sulit untuk berbicara. Dan seperti tanpa mengetahui makna dari arti ucapan Callian, dia langsung menganggukan kepalanya dan menatapnya dengan wajahnya yang datar.
"Baiklah, mungkin ini akan terasa sedikit pusing." Kata Callian sebelum menyentuhkan jarinya ke kening perempuan tersebut, dan menyerap ingatan miliknya menggunakan sebuah teknik terlarang di dunianya.
Alasan mengapa teknik ini sangat dilarang untuk digunakan adalah karena teknik ini mengambil keseluruhan informasi tentang orang tersebut mulai dari yang terkecil sampai ke yang terbesar.
Walaupun teknik ini tidak bisa digunakan tanpa persetujuan dari lawannya, akan tetapi untuk beberapa orang yang sudah berada ditingkataan tertinggi dapat dengan mudah mengakali hal tersebut.
Karena itu teknik ini dianggap sebagai salah satu teknik yang tabu dan dilarang digunakan.
Ketika berbagai informasi tentang perempuan tersebut masuk kedalam kepala Callian, tanpa sadar Callian menetaskan air matanya karena telah melihat sesuatu yang menurutnya sangat menyedihkan. Dia tidak habis pikir ada seseorang yang telah melalui hal-hal yang sangat menyedihkan seperti itu.
Callian tanpa sadar juga langsung memeluknya dengan erat, dan membisikan sesuatu ke telinga perempuan tersebut. Sayangnya author pun juga tidak mengetahui apa yang sebenarnya dibisikkan oleh Callian kepada perempuan itu, yang pasti setelah kalian membisikan kata-kata tersebut, sorot mata milik perempuan itu menjadi terlihat lebih hidup dibandingkan sebelumnya.
"Apa kau bersedia mengikutiku?." Tanya Callian. Dengan tegas dan cepat, perempuan itu langsung menganggukan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu, mulai dari sekarang kau adalah salah satu orangku. Dan mulai dari sekarang, namamu adalah Naine Solf. Yang artinya adalah rasa dingin dan kehampaan yang abadi." Kata Callian.
Dia memberikan nama tersebut karena melihat dari hal-hal yang telah dilalui olehnya. "Naine.. Naine Solf." Dan sepertinya perempuan itu sangat menyukai nama yang diberikan kepadanya karena mengulang nama tersebut sambil menganggukan kepalanya.
"Sepertinya kau juga sangat menyukai nama tersebut. Untuk sekarang kita akan kembali berpisah lagi." Jelas Callian.
Perkataannya itu membuat raut wajah perempuan tersebut seketika langsung berubah, sepertinya dia tidak ingin untuk kembali berpisah dengan Callian. Karena hanya ketika berada di dekat Callian, dia merasakan rasa nyaman dan aman lebih dari tempat gelap manapun.
"Naine, aku akan mengajakmu jika kau sudah menjadi jauh lebih kuat dibandingkan sekarang. Kemarilah, aku memberikanmu sebuah kekuatan yang itu hanya bisa digunakan oleh mu!." Kata Callian.
***
Predators Swordsmanship Tecnique.
Adalah sebuah teknik pedang yang sangat kasar yang memiliki kekuatan penghancur yang sangat besar. Ini adalah sebuah teknik yang diciptakan oleh salah satu rekannya.
Yang dipanggil sebagai Perempuan gila dari Kuil Suci Surgawi.
Hanya orang-orang tertentu saja, yang memiliki insting seorang predator yang dapat menggunakan dan melatih teknik pedang ini. Dari sejak pertama bertemu dengannya, Callian sudah bisa merasakan insting seorang predator dalam diri Naine.
Callian langsung mentransfer teknik pedang tersebut kedalam kepala Naine, bersamaan dengan metode kultivasi yang sama yang dia diberikan kepada Unmei.
**
Sampai Naine benar-benar telah menyerap kedua teknik tersebut, Callian menunggunya dengan santai walaupun di luar sana Amy sedang sangat mencemaskan dirinya karena tidak kunjung menemukan keberadaannya.
Melihat Naine yang telah selesai menyerap teknik tersebut, Callian langsung berdiri dan memberikan beberapa pesan terakhir kepada Naine sebelum dia meninggalkannya.
"Pergilah kebagian selatan hutan, untuk mencari seorang perempuan berambut putih yang hanya memiliki satu tangan kiri. Setelah kau menemukannya, langsung katakan saja nama 'Master' kepadanya. Sampai saat itu, kau harus dengan rajin berlatih di tempat perempuan tersebut." Kata Callian.
Setelah itu dia memberikan sebuah jubah kepada Naine dan memberitahukan rute rahasia agar bisa keluar dari dalam kota dengan aman. Sebelum benar-benar pergi meninggalkannya.