The Reborn Heavenly Swordmaster.

The Reborn Heavenly Swordmaster.
Pelelangan 「Bagian II.



Chapter 15:


「 Pelelangan 」Part II.


Setelah Astel mengatakan siapa nama Masternya. Master penilai terlihat kebingungan dan berpikir, karena dia belum pernah mendengar nama Master tersebut dari barisan master Alkemis yang ada di Annalise Kingdom.


Karena itu dia langsung berpikir kalau Master Alkemis tersebut berasal dari negeri lain, serta hanya itu yang bisa menjelaskan alasan harta seperti ini bisa muncul di kerajaan kecil Annalise.


"Sebelum meninggalkan tempat ini, Masterku menyuruhku untuk melelang pil buatannya sebagai biaya perjalanannya." Kata Astel mengarang sebuah cerita. Tujuannya adalah untuk membuat Master Penilai menjadi lebih percaya kalau dia adalah Murid dari seorang Master Alkemis.


Namun cerita karangannya, tanpa sadar telah menyambungkan imajinasi milik Master penilai. Seketika setelah Astel mengatakan hal itu, semuanya langsung terlihat jelas dari imajinasinya yang liar.


Seorang Master Alkemis yang berasal dari benua lain, yang datang ke benua Stellar. Dan sekarang dia berniat kembali ke benua asalnya, namun dia membutuhkan uang untuk kembali ke benua asalnya. Karena itulah Master Alkemis tersebut menyuruh muridnya untuk melelang pil buatannya.


Itu adalah imajinasi yang ada di dalam kepala master penilai keluarga Astille.


Ketika mereka berdua sedang mengobrol dengan imajinasi yang ada di kepala mereka masing-masing, akhirnya Master Alkemis yang dipanggil telah datang dan terlihat memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Master penilai keluarga Astille.


"Sialan, apa kemampuanmu sudah menumpul sampai-sampai kau harus menggangguku ketika aku sedang meracik obat?!."


"Hey tenanglah, kau akan tahu setelah melihatnya secara langsung." Master penilai keluarga Astille langsung memperlihatkan pil yang dibawa oleh Astel kepada Master Alkemis.


Reaksi dari master Alkemis benar-benar membuat Astel yang sedang duduk dan melihatnya dari kejauhan, tidak habis pikir dia akan bereaksi seperti itu hanya karena sebuah pil. Mungkin itu karena dia mengetahui nilai sebenarnya dari ketiga pil tersebut.


"K-kkau!,, dari mana kau mendapatkan barang seperti ini?!.. Hey cepat jawab aku!." Tanya Master Alkemis.


Setelah itu, Master penilai keluarga Astille langsung menjelaskan dan menceritakannya dari awal kepada Master Alkemis. Setelah semuanya berakhir, sekarang mereka sedang duduk di meja yang sama dengan Astel.


"Jadi bagaimana apa barang tersebut bisa dilelang?." Tanya Astel.


"Tidak ada satupun orang yang tidak menginginkan barang seperti ini. Saya yakin setidaknya satu pil ini bernilai puluhan ribu koin emas." Jawab Master Alkemis.


"Baiklah, jadi kapan barangnya bisa di lelang?." Tanya Astel kembali.


Master Alkemis langsung menatap kepada temannya itu, karena pertanyaan itu ada berada di luar tanggung jawab dirinya.


"Untuk barang berharga seperti ini, kami membutuhkan beberapa persiapan untuk melelangnya. Dan jika anda berkenan, bolehkah kami mendapatkan satu pil untuk keluarga Marquis?, sebagai gantinya kami tidak akan mengambil satu koin emas ketika pil yang lainnya berhasil dilelang. Kami juga akan memberikan satu kapa sihir keluarga Marquis yang bisa digunakan untuk perjalanan anda." Kata Master penilai dengan wajah yang tegas.


Astel dan Master Alkemis keduanya langsung terkejut ketika mendengar perkataan tersebut. Astel tidak tahu harus menjawabnya apa. Sedangkan Master Alkemis terkejut karena seharusnya temannya itu tidak memiliki wewenang untuk mengatakan hal tersebut.


Setelah berpikir sejenak, akhirnya Astel berani untuk memutuskan.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan pergi sekarang." Kata Astel.


Ketika kedua Master tersebut sebenarnya berniat mengantar Astel sampai ke pintu, namun karena dia tidak ingin menjadi pusat perhatian lagi, dia menolaknya dengan tegas.


"Apa kau pikir Marquis akan menyetujuinya?." Tanya Master Alkemis.


"Aku bersumpah kalau pil ini memang benar-benar pil ajaib." Jawab Master Alkemis dengan tegas dan raut wajahnya yang serius.


"Karena itu aku berani mengambil keputusan seperti itu, karena aku percaya dengan temanku."


Perkataannya itu membuat Master Alkemis merasa bahagia dan terharu, ketika dia ingin memeluk temannya itu karena kepercayaan tinggi yang dimilikinya kepadanya, Master penilai terlihat sedang bersiap-siap untuk pergi.


"Aku akan pergi ke kediaman Marquis sekarang, untuk menceritakan hal ini kepadanya. Kau tunggulah disini dan bantu aku menilai barang lainnya."


***


Ke esokan harinya.


Amy dan Callian kembali datang ke rumah Astel. Namun seberapa keras pun Callian mengetuk pintu rumah tersebut, baik itu Astel maupun Suisei tidak ada satupun dari mereka yang kunjung keluar.


Seorang pria paruh baya yang sedang menarik roda berisikan gandum, yang melihat itu, langsung datang menghampiri Callian dan Amy. Dari pakaian yang anak itu gunakan, Pria itu langsung tahu kalau anak itu berasal dari keluarga berdarah biru.


"Apa anda sedang mencari Astel?." Tanya pria tersebut.


Amy langsung mengambil alih, karena dia berpikir Callian masih belum terbiasa berkomunikasi dengan orang tua.


"Benar, karena kemarin kami telah membeli tanaman herbal miliknya. Hari ini kami berniat untuk mengangkutnya dan membawanya ke tempat kami." Jawab Amy.


"Aah. Jadi begitu."


Pria tua tersebut langsung teringat dengan cerita Astel yang kemarin malam menceritakan kalau ada seseorang yang membeli semua tanaman herbal miliknya, dia tidak menyangka kalau kedua orang inilah yang dimaksudkan olehnya.


Karena itu dia juga langsung membawa Callian dan Amy ke rumahnya, yang itu tidak jauh dari rumah Astel, dan karena Astel dan Suisei sekarang ini sedang ada berada di rumahnya.


Callian sudah bisa melihat keberadaan Suisei yang sedang mengumpulkan sayuran di pertanian yang ada di depan rumah, ketika mereka datang, Suisei langsung berjalan menghampiri mereka.


"Nak, bukannya sudah aku bilang jangan terlalu banyak bergerak. Beristirahatlah saja di dalam." Ucap pria tersebut kepada Suisei, terlihat kalau dia memang benar-benar mengkhawatirkan Suisei.


"Sudah aku bilang Paman, kalau aku sudah sembuh sekarang." Balas Suisei.


Mereka langsung masuk ke dalam rumah itu, melihat Astel yang baru terbangun, Callian hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang kecewa. Walaupun itu karena semalam Astel tidak bisa tidur, karena dia terus-terusan memikirkan hal-hal yang telah dia lalui terutama ketika datang ketempat pelelangan.


"Aku sudah menyiapkan beberapa orang untuk mengangkutnya tempat ku, kau juga bersiaplah karena mulai dari sekarang kau akan tinggal bersama denganku." Kata Callian sebelum dia keluar dari rumah tersebut bersama dengan Amy.


Sebelum menyusul Callian, Astel terlebih dahulu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Pamannya itu. Mulai dari kesembuhan Suisei, dan sejumlah uang yang berhasil dia dapatkan dari penjualan tanaman herbal miliknya.


Sebenarnya Astel juga mengajak pamannya itu untuk ikut bersama dengan mereka, namun pamannya itu menolaknya dan hanya berharap Astel bisa tumbuh dan menjadi orang yang sukses di masa depan.


Setelah berpamitan, dan memberikan beberapa koin emas miliknya kepada Pamannya sebagai rasa terimakasihnya, karena selama ini pamannya telah banyak membantu Astel dan Suisei ketika dalam kesulitan.


Astel dan Suisei langsung pergi menyusul Callian. Karena hari ini mereka berdua telah resmi terdaftar sebagai pengikut Callian.