
Chapter 16:
「 Desa tersembunyi Bangsa Plahm 」
Sementara itu beralih ke Desa tersembunyi bangsa Plahm yang terletak di dataran rendah perbatasan Annalise Kingdom.
Terlihat Unmei yang sedang melatih para pemuda dari bangsanya, sampai-sampai membuat wajah mereka dipenuhi oleh memar, walaupun mereka berlima bekerjasama untuk mengalahkan Unmei, bahkan sehelai rambut Unmei pun mereka tidak berhasil untuk menyentuhnya.
Disana mereka sadar, kalau Unmei yang merupakan salah satu penjaga di desa ini, telah bertambah lebih kuat sampai mereka benar-benar bukan lagi tandingannya. Begitupun juga dengan perempuan yang sedari tadi sedang mengawasi dari kejauhan.
"Untuk sekarang kita cukupkan sampai sini. Kembalilah dan rawat luka-luka kalian." Kata Unmei. Setelah itu dia langsung berjalan menghampiri perempuan yang ketika dia memandang dirinya, perempuan itu langsung tersenyum sambil melambaikan-lambaikan tanganya kepada Unmei.
Dia adalah Luna Plahm, pemimpin yang memimpin semua bangsa Plahm yang ada di desa ini, sekaligus teman masa kecilnya.
"Unmei, sepertinya kau telah bertambah sangat kuat sampai-sampai membuat mereka tidak bisa menyentuhmu sama sekali." Kata Luna kepada Unmei.
Unmei pun berpikir demikian, walaupun ini bahkan belum sampai seminggu ketika dia mulai berlatih menggunakan teknik yang diberikan oleh Callian. Namun dalam kurun waktu tersebut, dia telah berhasil menghancurkan dinding besar yang ada di dalam dirinya, yang selama bertahun-tahun menjadi penghambat perkembangan dirinya.
Itu menunjukkan seberapa luar biasanya teknik tersebut. Namun sampai sekarang, Unmei belum menceritakan tentang Callian kepada Luna. Dan dia merasa, kalau sekarang adalah waktu yang tepat untuk menceritakannya kepada Luna.
"Sebenarnya aku -"
Belum selesai menjelaskan penjelasannya kepada Luna. Salah satu orang yang seharusnya memiliki tugas untuk menjaga gerbang masuk ke dalam desa, tiba-tiba saja datang dengan berlari ke arah mereka berdua. Unmei langsung menghentikan perkataannya, karena berpikir telah terjadi sesuatu.
"Nona Luna!, Nona Unmei!. Kami menemukan penyusup!." Ujarnya melaporkan apa yang dia temui kepada Luna dan Unmei.
Setelah Luna dan Unmei mengeceknya secara langsung, ternyata penyusup yang dimaksudkan itu adalah seorang perempuan Demihuman yang berasal dari Suku Serigala. Ketika anak panah di arahkan ke arahnya, dia sama sekali tidak bergeming sedikitpun.
"Kami sudah berkali-kali bertanya kepadanya, namun dia tidak pernah menjawabnya, kami sempat berpikir kalau dia tidak bisa bicara." Jelas salah satu penjaga gerbang desa kepada Unmei dan Luna.
Luna menganggukan kepalanya. Dia juga langsung keluar dan meminta semua orang untuk menurunkan busur mereka.
"Dia bukan manusia, dia juga sama seperti kita. Ada kemungkinan kalau dia tersesat, aku sendiri yang akan pergi menemuinya." Kata Luna.
Unmei langsung memperlihatkan penolakannya atas rencana Luna tersebut, karena dia merasa kalau itu terlalu berbahaya, terlebih Luna adalah pemimpin di desa ini.
"Itu terlalu berbahaya, sekalipun dia Demihuman kita masih tidak tahu tujuan dia. Ada kemungkinan kalau ini juga adalah jebakan." Jelas Unmei.
"Mata ku ini mengatakan kalau dia bukanlah orang yang harus di waspadai. Namun jika kau masih tidak bisa mempercayai mataku ini, tolong kawal aku dengan baik." Balas Luna sambil tersenyum kepada Unmei.
Unmei hanya bisa mengangguk setuju, dan menemani Luna untuk pergi keluar menemui perempuan Demihuman Serigala yang ada berada di luar gerbang.
Perempuan Demihuman tersebut tidak lain adalah Naine. Setelah mengikuti setiap bau kehidupan yang ada di hutan ini, dia sekarang berakhir di depan sebuah gerbang. Disini dia memang menemukan orang-orang yang memiliki rambut berwarna putih, namun tidak ada yang sesuai dengan ciri-ciri yang dikatakan oleh Callian.
Sampai ketika gebang dibuka, Naine melihat ada dua orang perempuan yang memiliki warna rambut berwarna putih sedang mendekat ke arahnya. Dan salah satu dari dari mereka, hanya memiliki satu tangan. Itu sesuai dengan ciri-ciri yang dikatakan oleh Callian.
"Siapa namamu?. Mengapa bisa kau berakhir di desa kami? apa kau tertinggal dari kelompok mu?." Tanya Luna.
Namun Naine sama sekali tidak menanggapinya, Dia hanya menatap tajam kepada Unmei. Unmei yang tidak mengerti mengapa dia di tatap seperti itu, hanya menatap balik perempuan tersebut untuk mencari tahu tujuannya.
"Master." Kata Naine.
"Hah?." Unmei sama sekali tidak mengerti.
Begitupun juga dengan Luna. Naine kembali memastikan kalau Unmei adalah orang yang selama ini sedang dia cari, dengan melihat kalau Unmei memang hanya memiliki satu tangan saja.
"Master!." Ucap Naine dengan tegas dan sedikit dengan nada yang tinggi.
Hal itu membuat Unmei kesal, namun ketika dia berpikir kalau Naine memiliki masalah dengan dirinya, dia akhirnya teringat kalau dia juga memanggil Callian dengan sebutan Master. Mulai dari situlah Unmei mulai mengerti dengan situasi yang sebenarnya terjadi.
Setelah Unmei menanyakan beberapa pertanyaan kepada Naine tentang ciri-ciri Callian, dia akhirnya dapat memastikan kalau Naine juga merupakan salah satu pengikut Callian. Karena dia dengan tepat bisa menebak ciri-ciri Callian.
"Jadi apa kau datang kesini karena Master menyuruhmu?." Tanya Unmei kepada Naine.
Percakapan mereka berdua, walaupun Naine tidak mengatakan apapun, dia hanya mengangguk dan menggelengkan kepala ketika menjawab pertanyaan Unmei. Itu membuat Luna tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan, terutama tentang 'Master' yang disebut oleh mereka berdua.
Naine kembali menganggukan kepalanya, karena Callian memang menyuruhnya untuk datang menemui Unmei.
"Apa ada sesuatu?." Unmei kembali bertanya.
"Berlatih." Balas Naine singkat dengan wajahnya yang datar.
Akhirnya setelah sekian lama, mulut itu kembali digunakan oleh Naine. Unmei benar-benar heran mengapa dia jarang menggunakan mulutnya itu untuk berbicara.
"Jadi, kau datang menemuiku untuk berlatih. Apa benar begitu?." Tanya Unmei.
Naine menganggukan kepalanya, sambil memakan buah apel yang tadi sempat diberikan oleh Luna kepadanya.
"Baiklah aku mengerti." Kata Unmei. Melihat Luna yang sedari tadi sedang mencoba untuk memahami situasi, Unmei langsung berterus-terang kepadanya, karena sebelumnya dia juga memang berniat untuk menceritakannya.
Unmei langsung menjelaskan bagaimana cara dia bisa bertemu dengan Callian, begitupun juga dengan sumpahnya kepada Callian, dan sumpah Callian kepada bangsa Plahm. Dia menceritakan itu semua kepada Luna, karena menurutnya Luna memang seharusnya mengetahui hal tersebut.
"Jadi begitu. Dan itu juga yang menjadi alasan mengapa kau bisa tiba-tiba bertambah menjadi sangat kuat. Karena Master yang kau katakan sudah bersumpah seperti itu, dan sepertinya dia juga memang melindungi bangsa lain yang seperti kita, aku akan percaya kepadanya jika kau juga percaya kepadanya." Jelas Luna sebelum meninggalkan Unmei, karena dia ingin mengajak Naine untuk segera masuk kedalam desa.
Pertanyaan itu seketika membuat Unmei kembali terpikirkan dan termenung, dia kembalilah berpikir apakah dia memang benar-benar memercayai Callian atau tidak.
Namun satu hal yang pasti, dia tidak akan pernah mengkhianati sumpahnya sendiri. Dan yang paling penting bagi dirinya, adalah semua orang yang ada di desa ini terutama Luna. Dia akan melakukan apapun untuk tetap bisa melindungi mereka semua.
Dan jika dengan mempercayai Callian bisa membuat semua orang yang ada disini tetap terlindungi, dia dengan senang hati akan memberikan seluruh kepercayaannya kepada Callian.