
Tok..
Tok..
“Assalamu’alaikum.. ato.. Oo.. ato..” dinora tak sadar jika suaranya itu bisa saja menganggu pendengaran tetangga.
Maka itu, Liana bergegas cepat ke arah pintu dan membukanya. Terlihat muka dinora yang tinggi kurus melebihi sexy-nya manekin.
“Suara Lo itu menganggu banget tahu!” Kesal Liana sambil menarik dinora masuk kedalam, “Mana lagi Lo panggil gue seperti bocah-bocah botak itu!” Lanjutnya.
Liana dan dinora masuk melewati ruang tengah dan menuju dapur.
“Mana ada tamu langsung disuruh ke dapur.” Sindir dinora mendudukkan pantatnya ke kursi meja makan.
“Gue tahu Lo seneng seneng aja kan langsung diajak makan daripada disuguhkan minuman sambil bercerita ngga jelas.” Ujar liana jelas sambil menyusun piring yang berisi beberapa lauk-pauk.
Mereka berdua menikmati makanan yang Liana hasilkan dari pemaksaan ralat hasil ganti rugi karena ulah Ragello.
“Ee Li.. ceritain dong gimana Lo kabur dari rumah gua dan sekarang Lo bermetamorfosis disini.”
Liana melihat dinora yang melihatnya juga. Tampak jika wajah wajah keponya terlihat.
“Sebenarnya gue malas ceritain kelakuan kakak sepupu Lo itu yang bikin gue sampai hari ini kesel parah!!”
“Maksudnya?” dinora menyerngitkan dahi heran.
“Pertama bertemu gue nilai dia tuh ganteng, berkarisma dan satu lagi sexy abis..” Liana membayangkan saat ia melihat Ragello, “Tapi.. itu semua ngga ada apa-apanya karena dengan beraninya dia melecehkanku gue tahu!! Liat nih pipi gue udah ngga perawan!” tunjuk Liana pada pipinya.
“Gaya lu anak muda.. ee denger yah Liana ku sayang ku cinta. Lo itu harusnya beruntung karena udah ngerasain bibir kak Ragello. Gue aja udah ngga pernah lagi tuh dicium semenjak remaja.” Dinora kembali menyantap tahu bulat dengan saus.
“Malah gue rugi! Asal Lo tahu Din.. gue ngga tidur semalaman mikirin kebejatan dia!” sungut liana.
“Elah.. jadi Lo mikirin kak Ragello nih ceritanya. Apa tadi? Semalaman? OMG.. Liana gue tidak lagi terkontaminasi virus jomblo.” Dinora tertawa terbahak-bahak mengejek Liana yang pipinya sudah memerah.
“Lo tuh yah.. pantes saudaraan sama si mesum yang sombongnya bikin mau ceburin ke got. emang sih dia ganteng plus plus tajir tapi sombong dan cerewetnya itu yang ngalahin semuanya."
"Mana bisa sih.. menurut gue itu kak Ragello itu cuek, pendiam dan emang sih rada-rada pedes bicaranya. tapi, seumur-umur gue jadi embrio sampai gue duduk makan ikan asin ini sekarang, gue ngga pernah liat dan denger dia cerewet." jelas dinora mengingat saat-saat ia masih berkunjung ke rumah bibinya.
"Mana gue tahu.. yang gue tahu dia tuh sombong dan pedes banget bicaranya. Bodo amat lah.. yang penting gue kagak berurusan lagi sama dia."
Dinora hanya mengangguk dan melanjutkan makannya.
...
"Kenapa Lo ngga tinggal aja?"
dinora melihat Liana dimana mereka sedang didepan rumah tepatnya dihalaman luas dekat pagar.
"Anak cewek ngga boleh terlalu malam mainnya."
"Gaya lu dinosaurus. siapa sih yang pernah bilang mau kerjain pr di rumah gue. eh.. tapi dia malah pergi sama pacarnya malam mingguan. udah itu pulangnya kagak pulang kerumahnya sendiri." ejek Liana membuat wajah dinora kesal.
"Mending gue ada pacar daripada Lo jomblo sekarat. sampai sampai dicium sama kakak gue. hahaha."
usai mengatakan kalimat yang membuat Liana kesal, dinora melajukan motor jaman sma kelas satunya.
meski dinora anak orang berduit nol enam. tapi, ia tak pernah pamer. apalagi menggunakan kekayaan orangtuanya dengan sia-sia.
...
"Arrgghh"
suara erangan marah mengisi ruang bercat hitam putih. bantal berserakan beserta selimut. pecahan kaca dan vas bunga. bahkan bingkai foto dijadiin pelampiasan juga oleh ragello.
ragello benar benar frustasi disebabkan pacarnya yang bernama Racella Orine pergi membawa bayi yang dikandungnya ke Bali.
entah apa yang dipikirkan Racella padahal kurang lebih dua bulan lagi dia melahirkan buah cinta mereka.
Ragello ingin menyusul Racella tapi banyak pertemuan dari berbagai perusahaan menawarkan kerjasama. belum lagi meeting untuk proyek pembangunan yang dipantaunya.
Meski mempunyai orang kepercayaan tapi ia harus berhati-hati. Apalagi ini perusahaan besar yang sudah dipegang olehnya saat masih kuliah dulu.
tok.
tok.
tok.
"Masuk!" ucapnya tegas.
"ijin memberitahukan tuan." Ragello hanya mengangguk tanpa mengalihkan kertas kertas didepannya.
"Beberapa hari ini orang yang saya suruh mengawasi nona Racella di Bali ternyata melihat nona Racella sedang duduk disebuah cafe bersama seorang lelaki." jelas Liu.
Liutam Reo. salah satu orang kepercayaan ragello yang sudah bekerja semenjak Ragello masih SD. ia dulunya sudah mengabdi pada papanya Ragello.
Ragello mengambil sebuah amplop coklat berisi foto Racella yang sedang tertawa dan tersenyum saat lelaki yang difoto itu melancarkan kalimatnya.
selama ini ia hanya sesekali melihat Racella tertawa begitu. bahkan wajah Racella saat bertemu dan berkencan dengannya selalu manyun dan kesal. mungkin kesal karena sifat Ragello yang cuek dan selalu mementingkan pekerjaannya.
Tapi selama menjadi kekasih Racella, Ragello selalu menyempatkan waktu untuk bertemu dan makan bersama meski Ragello lagi sibuk-sibuknya sebagai pemimpin.
"Halo sayang?" Ragello akhirnya menelpon Racella meski ia tahu pasti Racella akan segera mengakhirinya. katanya sibuk
"Hm.. Ragello kau tahukan aku lagi ngga mau diganggu. aku lagi.." belum selesai Racella berbicara. Ragello memotongnya.
"Sibuk kencan dengan lelaki lain?"
skak matttt
"Darimana kau tahu?" bukan mengelak Racella bahkan menanyakannya.
"Tak perlu kau bertanya siapa yang disuruh mengawasi mu." ucap Ragello datar.
"Kau selalu saja posesif. dengar yah.. aku lagi liburan dengan teman teman model ku. kami banyak kok kalau kamu khawatir nggak ada yang jaga aku." Racella berdecak sebal karena sang kekasih selalu mengekangnya selama hamil.
Hei! Dia lagi hamil bukan wanita berpenyakitan yang selalu harus diawasi.
"Racella kita ngga tahu bagaimana sifat asli orang itu didalamnya. apalagi kau lagi hamil besar dan bepergian tanpa izin terlebih dahulu denganku. wajar jika aku khawatir dengan kekasihku." ujar Ragello.
"Kekasih kan? bukan seorang istri dari Ragello sang pria pengusaha kaya raya. memiliki orang tua yang tak merestui hubungannya dengan kekasihnya sendiri. bahkan kekasihnya lagi hamil!" Racella menekan disetiap katanya.
"Huh.. Racella kau tahukan aku sudah berusaha bahkan sebelum kau hamil. kamu tenang saja aku akan selalu membujuk orangtuaku. lalu kita akan menikah dan bermulan madu dimana pun kau inginkan." tulas Ragello lembut.
"Ck.. sudah ah. aku mau tidur capek hati dan pikiran."
tutt
Ragello mendesah frustasi dengan hubungannya. berusaha mencari cara agar orangtuanya setuju dengan ia menikahi Racella dan hidup bahagia dengan bayinya nanti.
Tapi, itu hanya khayalan Ragello. nyatanya Racella mulai goyah dengan janji-janji yang Ragello utarakan. bahkan Racella didalam hatinya tak ingin memiliki hubungan serius dengan seorang pria. ia hanya memanfaatkan hanya demi popularitas pekerjaannya.
..
Terima kasih telah membaca.