
"Nah, sekarang Lo bisa tinggal disini dulu." ucap dinora pada liana setelah memasuki sebuah rumah minimalis. tetapi halamannya luas dipenuhi rumput hijau yang terawat.
"Bagus amat tempat nongkrong lu Din." ucapnya takjub pada ruangan yang baru dimasukinya.
"Ya.. ini tuh hadiah pas gua ulang tahun. dikasihnya sama kakak sepupu gua."
Mereka berdua mengelilingi semua pelosok ruangan. hingga mereka berhenti di tengah hamparan tanah berlapis rumput hijau yang rapi. sebenarnya rumah ini sedikit jauh dari kota. sehingga dikelilingi pemandangan yang menyejukkan mata.
"Liana gua laper!" ujar dinora menatap liana dengan muka yang minta ditampol.
Liana hanya mengiyakan. mereka berdua memasuki dapur yang sudah terisi peralatan masak.
"Kita mau masak apa?" tanya dinora menatap kesamping.
"Masak hati Lo!"
dinora hanya mendengus menatap tajam sahabatnya.
...
"Li.. gua tinggal dulu. mau pulang ke kandang,"
"Mulut lu." Liana hanya menggelengkan kepala melihat dinora yang kata sang ratu dinosaurus rumah bagaikan kandang baginya. karena sebelum mereka lulus dinora harus pulang dan pergi sesuai jam yang ditentukan.
"Jangan rindu yah.."
"Hm.. hati hati."
setelah dinora terlihat meninggalkan tempat kediaman Liana sekarang, ia menutup pintu dan mematikan lampu.
Baru saja ia tidur tetapi didepan rumah samar-samar terdengar pintu yang dibuka paksa.
Liana mengintip di jendela dekat pintu. disana terlihat sesosok lelaki tampan dengan bahu yang dibalut jas silver. lelaki tegap itu terlihat acak acakan. sepertinya ia tengah mabuk dilihat dari racauan bibirnya.
terdengar suara klik yang artinya pintu telah terbuka. buru-buru Liana melarikan diri kekamar. namun, sebelum sampai ia dikejutkan oleh suara serak yang menghentikan langkahnya.
"Si-apa ka-u?" tanya lelaki tadi diambang pintu. suaranya itu loh.. sexy abis.
"Seharusnya saya yang bertanya kepada anda. siapa anda berani-beraninya masuk kerumah orang ditengah malam."
Liana menatap garang pada lelaki itu. ia menaikkan kedua tangannya ke pinggang. seperti ibu ibu yang mengetahui suaminya selingkuh, tapi beda cerita.
"Apakah aku sedang berbicara pada seorang tuyul remaja?.. konyol." lelaki itu hanya terkekeh melihat tubuh perempuan seumuran dengan adiknya.
"Ha?.. beraninya kau berujar kepadaku sepeti itu!!" Geram liana menghampiri tubuh tinggi tegap yang melebihi tubuhnya. mungkin jika dia berdiri disamping lelaki itu hanya setinggi lengan.
"Wah.. wah.. seumur hidupku dibumi baru saja saya bertemu hantu jelek yang begitu berani dan tengah marah marah. ini mustahil!" lelaki tadi hanya menggelengkan kepala sambil terkekeh.
"Dengar yah! aku itu bukan hantu tapi manusia dan satu lagi jangan mengatakan jelek. ngga sadar amat sama wajah mirip wajan hitam. kok bangga?" ejekan itu menciptakan amarah dalam diri lelaki dewasa itu. ia menggeram memperlihatkan buku-buku jarinya.
Liana tertarik paksa oleh tangan kekar lelaki tadi dan membawanya ke ruang tamu yang berisi sofa dan televisi.
Liana terhempas kasar dan ia memegang pergelangan tangannya yang memerah. sungguh lelaki yang sedang berdiri didepannya emang tampan tetapi jika dikalikan dengan nol wajahnya tak berarti apa apa.
lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Liana. sehingga jika berjarak hanya lima sentimeter. kayak film aja.
lelaki itu menahan kedua tangan Liana ke belakang. mengunci rapat dan terus menatap iris mata kehitaman Liana.
cantik dan begitu mempesona- batin lelaki itu.
lelaki tadi semakin memajukan wajahnya ke wajah Liana yang terlihat memerah. kedua mata mereka memandang meresapi suasana hati dan keadaan sekarang.
tercium bau alkohol yang menyengat di hidung mungil Liana. sungguh ini baru pertama kalinya ia mencium minuman itu.
ouh.. tuhan.. dia benar benar sudah tak waras. memperlakukan gua dengan kasar.-batin Liana.
"berhenti. kumohon.." rintihan Liana tak digubris oleh lelaki itu malahan ia dengan setengah sadarnya senang melihat wajah kesakitan Liana. siapa suruh mengatakan wajah tampannya seperti tadi. bahkan tak ada wanita yang bisa menolak pesona dari seorang pria kaya raya.
Liana memalingkan wajahnya saat bibir lelaki itu ingin mengecupnya. alhasil hanya pipi Liana yang terkena bibir tebal nan menggoda itu.
Ais kenapa bibir itu menggoda iman- batin lelaki tadi.
"Sial.. ada apa denganku yang bisa terpengaruh oleh wanita penggoda dan murahan sepertimu!" Lelaki itu menatap tajam usai dirinya menyesal apa yang telah diperbuat. bagaimana mungkin ada wanita yang dengan beraninya telah berhasil menggodanya. biasanya hanya wanita yang datang padanya.
Plak.
"Lelaki kurang ajar. Tak tahu sopan santun dan lembut pada wanita. seharusnya kamu yang bertanya pada dirimu berani-beraninya kau hampir melecehkanku!" Hardik Liana marah sambil menunjuk dengan jari telunjuknya pada wajah sombong itu.
Usai mengatakan itu Liana bergegas ke kamar yang sudah menjadi tempat tidurnya. mengunci pintu rapat-rapat, takut jika lelaki sakit jiwa itu tahu-tahu menyelonong masuk tanpa diketahui.
Liana mengedarkan pandangannya ke semua pelosok kamar. sekuat tenaga mendorong lemari yang sejajar kesamping dekat pintu. usai itu ia juga mendorong kuat meja rias.
Bodo amat dengan tubuh kurusnya. Liana hanya berpikir bagaimana ia menghindari lelaki kurang ajar itu.
Liana juga berpikir nanti sesubuh mungkin ia akan membereskan semua pakaiannya untuk kabur.
Kalian pasti berpikir mengapa Liana tak kabur saja sekarang?
sorry yah.. gua juga mau tidur di kasur empuk. sekali kali keluarin sifat norak gua. kapan lagi? dan satu lagi gua ngga mau membahayakan diri gua juga buat jadi santapan tengah malam para berandalan diluar sana. serem... apalagi jika dimintain duit sama mereka. kan kalian tahu sendiri! -batin Liana.
Liana bergegas tidur dan menutupi sebagian kepalanya sampai dibawah mata. takut-takut jika mendengar lagi suara maka matanya itu senantiasa akan terbuka. kayak hati mantan yang hatinya gampang terbuka kemana-mana demi sebuah cinta.
elah.. curhat neng!
Liana hanya berdoa semoga Tuhan memberi ia keselamatan dunia dan akhirat. dimana sekarang hatinya tak karuan memikirkan lelaki yang dengan beraninya telah merebut ciuman pipinya.
Ini baru pipi yang dicium. gimana jika bibir sexy-nya yang..
'Arghh'
Liana buru-buru menghilangkan pikiran laknatnya. sungguh pikiran itu dengan mudahnya masuk dipikirannya.
sementara itu diluar kamar Liana tepatnya lelaki tadi menggeram frustasi atas kelakuan yang begitu tergoda dengan gadis berwujud hantu kecil itu. bisa-bisanya ia melakukan kesalahan itu dikarenakan kekasihnya telah pergi tanpa memberitahukan dirinya.
Hanya gara-gara cinta dirinya sampai mabuk. Jangan sampai keluarganya tahu bahkan media pun begitu. jika terjadi hancur sudah reputasi seorang Ragello Oudrino Fragend.
...
komentar dan dukungan Anda saya tunggu.