
Liana memandang ke depan tepatnya dipekarangan rumah yang baru beberapa detik sudah sepi sejak ditinggal oleh mobil Bu Remal.
Ia menutup pintu dan berjalan menuju ruang tengah dimana tas yang selama ini selalu menyimpan pakaiannya tergeletak nyaman di sofa berwarna coklat tua.
Ia menyusuri setiap rumah dengan matanya melihat ada beberapa pajangan foto bunga dan beberapa hiasan seperti vas keramik dan jam dinding bundar terpaku di dibalik tembok kokoh berwarna biru langit.
Liana berpikir betapa beruntungnya hari ini bertemu Bu Remal yang sempat ditolongnya pernah saat diusir dari kontrakan lamanya akibat uang sewa menunggak.
Mungkin dengan bekerja giat ditoko Bu Remal nanti ia akan membalas Budi biarpun dirinya tak digaji.
Menduduki kasur putih yang belum diganti dengan seprai baru, Liana melihat Kedinding bahwa hari sudah menjelaskan siang.
Bergegas ke dapur siapa tahu di kulkas tak ada bahan makanan yang bisa diolah. Ternyata dugaan Liana tak melesat bahkan didalam kulkas hanya ada satu tangkai kangkung layu.
Mungkin dengan berbelanja ke pasar yang Liana tempuh hanya sekitar sepuluh menitan akan sampai apalagi jika Bu Remal memberikan uang tunai sebesar dua ratus ribu.
Sebenarnya Bu Remal ingin memberi lebih tapi berhubung hanya uang Dua ratus ribu yang ada di dompet orang bermoney red yang lainnya pasti kalian tahu sendiri.
Liana bahkan tak enak sudah ditraktir sarapan meski harus kuatkan hati saat mendengar nada ketus Remal dan rumah yang sekarang adalah tempat tinggalnya bahkan bu remal memberikan ia uang untuk keperluannya seperti sekarang.
Daripada merenungi nasibnya hidupnya sendiri. Liana bergegas ke kamar untuk mengambil uang dan berjalan keluar rumah setelah mengunci pintu.
Liana takut kecolongan maling maka sedari tadi dia selalu memutar ulang kunci ke posisi awal dan mengunci lagi. Begitu seterusnya sampai Liana capek sendiri dengan tingkahnya.
Namanya juga jaga-jaga kalau ada maling. Tapi kalau malingnya dihati sih.. kagak apa-apa apalagi gebetan sendiri. Lumer deh gue- batin Liana.
Tak perlu waktu lama karena sekarang ia sudah mendapat bahan makanan untuk beberapa hari kemudian. Sambil menunggu ojek yang lewat ia sesekali melihat isi kantongan plastik siapa tahu ada yang kelupaan mumpung masih disekitar pasar.
Tiba-tiba ada sebuah mobil hitam mewah yang begitu menyilaukan mata jelata Liana membelalak. Bukan karena terpesona atau kagumnya pada mobil itu. Tapi, keadaannya yang sekarang terlihat seperti anak kecil baru terjatuh di got.
Bakal gue kasih setimpal Ama Lo!
Tak ingin membuang waktu, Liana segera mengambil beberapa tomat dan melemparkannya ke mobil itu sambil berlari mengejar. Liana mengabaikan tatapan orang-orang yang melihat aksinya.
Mobil itu berhenti dan Liana juga berhenti malahan ia dengan beraninya menendang ban mobil dan melemparkan tomat lagi ke kaca pengemudi.
“Sial! Mungkin gadis itu mau bermasalah dengan Ragello Oudrino Fragend.”
Liana membulatkan matanya saat orang yang mengemudikan mobil bikin sakit mata dan hati bagi kaum jelata seperti Liana meronta ingin memilikinya juga.
Ternyata lelaki mesum ini yang telah mencimpratkan bekas air hujan yang sudah kotor itu dipinggir jalan. Kemarahan Liana sudah level pedas tingkat teratas. Begitupun dengan Ragello yang sudah muak dengan gadis hantu cerewet yang berada didepannya sedang berdiri dengan beraninya seperti superhero.
“W-O-W.. wow.. lihat siapa yang tergambar di mata jernih gua ini. Sungguh membosankan bertemu anda lagi tuan mesum!” ujar Liana ketus.
“Jaga bicaramu hantu cerewet! Aku Ragello Oudrino Fragend adalah orang terpandang dan kau hanya gadis tak tahu apa-apa sudah menghina diriku. Dengar yah.. gara-gara tomat busukmu itu mobilku kotor dan itu karena dirimu!” Ragello menunjuk Liana dengan jari telunjuknya.
Memang benar semua bahan yang dibeli Liana tadi sudah tak bisa diolah karena terjatuh saat mengejar mobil Ragello. Bahkan yang tersisa hanya beberapa tomat yang melekat di mobil Ragello.
“Wah.. wah.. dengar yah bahkan perusahaan yang memproduksi mobil seperti ini bisa saya beli dengan uang. Dan itu tak ada bandingannya dengan pakaian murahan mu itu!” ucap Ragello datar dengan tatapannya tak meleset sedikitpun dari Liana.
“Ouh.. benarkah itu tuan ragello? Kalau begitu anda ikut saya!”
Liana menarik paksa tanpa persetujuan Ragello. Mereka berdua berjalan menuju pasar dengan Ragello yang selalu berusaha melepaskan tangan Liana. Tetapi nihil hasilnya dan dengan terpaksa ia mengikuti Liana yang sudah bersama dirinya di depan sana sudah banyak orang yang melakukan transaksi jual beli.
“Lepaskan tangan saya dari tangan motormu itu!”
“Ouh.. tentu jawabannya tidak tuan ragello yang terpandang! Anda harus menemani saya membeli segala kebutuhan yang sudah saya beli tapi karena anda dan mobil itu terpaksa saya harus menjadikan anda uang berjalan.” Kata Liana tersenyum licik dan itu membuat Ragello mengerang frustasi karena tingkah gadis yang ia bahkan tak mengetahui namanya.
Mereka dulu ke penjual sayuran dan sampailah Liana dan Ragello yang didepannya terdapat banyak jenis sayuran hijau.
“Bu saya beli dua kangkung ikat.” Ujar liana sambil memberikan sayuran itu pada penjual ibu-ibu.
“harganya enam ribu neng!”
“Murah sekali Bu ini!” bukan Liana yang berkata tapi Ragello yang memasang wajah heran dan bingung dengan harga sayuran yang sudah dikantongi.
“Justru itu mahal buat kami yang membeli. Biasanya harga sayuran ini bahkan tidak cukup lima ribu saja.” Jelas Liana pada ragello disampingnya.
“Lagian kenapa kamu membeli sayuran yang belum tentu higie..” belum sempat Ragello meneruskan pembicaranya, Liana sudah menutup mulutnya dengan tangan gadis itu.
Liana menatap Ragello dan mengisyaratkan membayar. Bahkan seumur-umur Ragello ia tak pernah diperlakukan seperti ini bahkan kekasihnya saja hanya bersikap layaknya wanita feminim. Beda dengan gadis aneh ini.
“Sekali lagi kata kata asammu itu keluar saya tak segan-segan akan langsung memasukkan gumpalan cabe rawit ke mulutmu itu!. Jadi diamlah dan lakukan saja pembayaran.”
“Hei hantu cerewet! Kau kira siapa dirimu dengan beraninya melawan dan memaksaku untuk menuruti segala keinginan konyolmu itu!” ucap Ragello tajam.
“Manusia! Dan kamu juga manusia. Bukankah kita diajarkan untuk selalu membantu sesama. Apalagi katanya seorang Ragello adalah orang kaya dan terpandang ini memiliki banyak uang. Jadi, apa salahnya jika kau membantuku!” Setelah mengatakan itu Liana pergi meninggalkan Ragello yang menatapnya emosi.
Bukan Liana namanya jika ia tak memberi ganjaran pada lelaki tampan tapi sombong itu sebuah pelajaran hidup. Biar dia tahu bahwa seberapa kaya seseorang tetap Dimata sang tuhan kita semua sama.
Ragello memang kaya tapi tak seharusnya ia berbicara kasar dan merendahkan orang seperti tadi. Malahan ia dicap sebagai orang sombong tak tahu sopan santun dalam berbicara meski usia Liana muda dari umurnya.
Tunggu pelajaran selanjutnya tuan ragello- batin Liana menyeringai tipis yang tersapu dibibir mungilnya.
...
Terima kasih telah mnikmati karya saya.