
Liana dan Ragello tetap berjalan bersisian melewati orang-orang yang berlawanan arah ditempat yang membuat Ragello ingin muntah saja.
Bagaimana mungkin seorang Ragello menginjakkan kakinya pertama kali ke tempat yang membuat ia secepat mungkin ingin ke toilet.
Mereka berdua sebenarnya berada di tempat penjual ikan. Ada banyak jenis ikan kecil sampai besar berjejer lurus dengan pembeli yang bahkan antri untuk jenis ikan yang murah dan mudah diolah atau dimasak.
“Ayo kita pergi dari tempat bau ini!” Ragello memegang lengan Liana sambil tangan satunya menutup rapat-rapat hidung mancungnya.
Liana menoleh dan menggeleng kearah Ragello yang wajahnya bahkan sudah mau mati saja. Berlebihan!
“Dengar yah tuan ragello. Saya ingin membeli ikan dulu dan mending kita pergi disana?” Liana menunjuk tempat ikan yang menurutnya sungguh enak jika dimasak dan ia berujar kembali, “Ayo! Jika anda ingin cepat pergi dari sini.”
Dengan keadaan terpaksa dan hati dongkol, Ragello tetap mengikuti kemanapun Liana pergi. Liana juga merasa iba dengan Ragello tapi dia harus melakukan ini demi dirinya dan perut karetnya itu.
Bagaimana ia mau pulang jika bahan makanan saja tak ada untuk dimasak. Jadi, ia menggunakan uang Ragello yang sombong tidak tahu tempat.
Ini juga memberikan Ragello pelajaran jika mencari uang itu susah harus dengan kerja keras tidak sama jika menghamburkan uang seperti dirinya.
Bahkan Liana tak tahu Ragello bekerja apa. Ia hanya tahu Ragello orang kaya yang kaya.
“Mas! Saya beli ikan ini saja.” Tunjuk Liana pada ikan yang cukup besar untuk dirinya seorang.
“Baik, neng!” si mas penjual ikan itu mengedipkan matanya kearah Liana.
Ragello hanya membatin bisa-bisanya si penjual menggoda ditempat ini yang bahkan dirinya sudah tak tahan.
“Cepat kerjakan ikan itu! Dasar.” Ragello tak sadar bahwa ucapannya membuat Liana mengerutkan dahinya bingung.
“Neng, pacarnya marah tuh . Nanti bujukin aja yah.. neng. Emang gitu sih cowok yang kalau lihat pacarnya digituin cemburuan. Hehe..” usai penjual ikan itu berujar, Liana dan Ragello hanya terdiam tak menjawab atau menyangga pernyataan tadi.
Setelah membayar dan keluar dari tempat penjual ikan yang membuat Ragello ingin muntah, mereka berdua menyusuri lagi pasar yang semakin hari semakin ramai saja.
Entah mengapa setelah pernyataan Abang penjual ikan itu. Liana dan Ragello hanya diam tanpa berbicara sedikitpun. Mungkin diam lebih baik daripada malah bertengkar ujung-ujungnya.
Mereka melanjutkan membeli kebutuhan Liana hingga tak terasa semua bahan masakan Liana lengkap dari yang pertama saat tak ada Ragello.
Memikirkan Ragello membuat Liana mendongak menatap wajah tampan Ragello yang terkena sinar matahari.
“kalau gitu saya pergi dan terimakasih..” usai berujar liana membalikkan tubuhnya namun..
“sama-sama dan anggap saja tadi saya kasihan pada orang orang seperti dirimu!”
Hah! Apa katanya tadi? Kasihan? Orang-orang seperti dirimu? Ouh.. Liana dia sedang mengejek dan merendahkan dirimu. -batin Liana.
Baru saja ingin membalas tapi Liana sudah melihat lelaki itu menaiki mobilnya dan sudah melaju kearah jalan raya.
Menyebalkan!
...
Sesampainya dirumah Liana memasukkan semua bahan masakan pada kulkas. Sesudah itu ia menuju kekamar dulu untuk men-charge baterai ponselnya yang mati total.
Pasti dinora menghubungi dirinya yang sudah pergi belum sehari di rumah yang membuat ia mengingat Ragello lagi.
Saat baterai ponselnya sudah penuh ia akan memiscall dinora. Biar dinora yang menghubungi Liana yang tak punya pulsa.
Sambil menunggu ponselnya, Liana memasak dan sesudah itu membersihkan dirinya.
Tak menunggu lama nama kontak 'Dinosaurus' terpampang jelas di layar ponsel Liana.
Buru-buru mengangkat dan ia menjauhkan lagi karena suara teriakan dinora sudah membuat telinganya sakit.
“Salam dulu napa? Malah teriak kaya bebek tak dikasih makan Lo!” ujar Liana kesal.
“He! Temenan Ama bebek. Bisa-bisanya Lo yah... Tak memberitahu gue tentang Lo yang entah kemana-kemana.. dimana.. ku harus mencari..” belum selesai dinora menyanyi diakhir kalimatnya. Liana sudah memotong.
“Stop! Suara Lo terlalu indah jika disuarakan.”
“Lo mengungkap fakta atau opini?” tanya dinora kesal juga. Acara nyanyinya diganggu oleh Liana.
“Bohongan! Udah ah.. jangan bahas itu. Mending gue tanya kenapa Lo nelpon gue?” tanya Liana yang tak sadar memancing kekesalan dinora.
“Lo oon atau oon banget sih? Emang siapa sih yang tadi miscall gue tadi?” ejek dinora dengan nada mengejek.
“iye.. iye.. gue yang hubungin Lo. Puas?”
“Hehe.. ngegas wae yang pulsanya tak lebih dari nol. Eh.. Li! Gue mau nanya sekarang Lo dimana sih? Lo tahu nggak gue itu kerumah pagi-pagi tahu dan cuman kakak sepupu gue yang ada disana.” Tanya dinora beruntun.
Tunggu.. apa maksud dinora? Kakak sepupu?
Jangan katakan jika dinora dan tuan mesum yang bernama Ragello itu sepupu? Pantes dinora bermulut cabe seperti Ragello. Mereka ternyata sedarah.
Bahkan selama bersahabat dengan dinora yang ia tahu hanya kedua orang tua dinora yang ia kenal saat masa-masa sekolah dulu.
“Dan kakak sepupu Lo itu yang buat gue pergi dari sana!” Liana memutar bola matanya harus mengingat perlakuan dimana pipinya dicium.
“bagaimana bisa Li? Setahu gue saat disana kak Ragello cuman melengos aja tanpa bicara.” Jelas dinora.
“Ya Allah.. bagaimana Lo tahu kronologinya jika dia tak bicara apa-apa dinora!” gerutu Liana kesal sambil mencengkram ponselnya kuat.
“Hehe.. iya Li! Lo dimana sih.. mending kita ketemuan aja. Jadi kita bebas bicara tanpa ada jarak yang menciptakan rindu diantara kita.” Ujar Dinora puitis.
“Bucin.”
“Ee.. Liana kau tak tahu saja jika hatiku benar-benar sakit saat memikirkan dirimu entah dimana.. kau tahu? Rindu ini perlu kita tuntaskan dengan saling sapa dan pelukan. Karena aku sungguh menyayangimu Liana..” ujar dinora yang berpuitis lagi.
“lo mau tahu dimana gue atau malah ngajakin lomba puisi gini sih!” ujar Liana kesal karena dinora yang selalu berujar tak jelas ditelinganya.
“iya..iya.. mending Lo sebutin alamatnya aja. Dan gue akan terbang menggapai tempat kerinduan ini. Hehe..”
Liana hanya menggelengkan kepalanya terlalu malas untuk meladeni ulah dinora. Mending ia memberitahukan dengan cepat agar menutup telponnya.
Mungkin dengan tidur siang yang jarum jam kecil sudah menunjuk pada pukul satu siang lewat ia gunakan untuk merilekskan tubuh yang seharian ini harus terus mengeluarkan emosi yang harus ditahan.
Sungguh hari ini Liana mengetahui fakta jika sahabat dan lelaki sombong itu sedarah lagi. Huh.. entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
...
Terimakasih telah menikmati karya saya. Tolong beri komentar dan vote. Agar saya terus semangat dalam menulis part selanjutnya.
Bye.