
"Ayo.. ikut saya!" terdengar nada perintah dari sang pemilik suara.
....
Suasana pagi hari ini begitu cerah secerah hati Liana yang ditraktir sarapan. Apalagi ditempat murah meriah plus porsinya yang bisa nambah.
Liana melihat sekeliling beberapa orang sudah menempati meja yang tersedia. bahkan hampir semua meja sudah terisi penuh. belum lagi yang masih antre diluar.
Untung yang mentraktir Liana menyesuaikan lidah lidah gratisan atau penikmat makanan tidak mahal plus enak.
"Ma! kenapa sih kita sarapan disini? ngga banget sama selera orang kaya."
Liana hanya menatap Remal si anak lelaki yang punya mulut sepedas cabe sekilo. Omongannya itu membuat calon calon pasien penyakit hati tambah emosi dan stress.
"Sayangnya mama dan papa dimata Allah itu kita semua sama nak! meskipun kita lebih punya dari mereka. apa ngga bosen makan roti dilapisi sayur terus? sekali kali kita menyesuaikan dengan mereka dan juga kamu pasti ketagihan deh.. makan disini nanti. lagian kita lidah Indonesia ini!"
Remal hanya memasang muka masam sesudah diceramahi oleh mamanya. Buktinya anak itu diam tak melakukan apapun. Liana heran sih mamanya lembut gitu tapi kok mulut anaknya tidak ada lembut lembutnya. Apa mengikuti papanya?
"Liana pasti heran kenapa Remal bermulut pedas kan?" tanya mama Remal tersenyum sambil melirik Remal disampingnya.
"Ma!" protes Remal.
"Hehe.. kok tahu sih.. Bu?" Liana cengengesan saat Bu Remal tiba tiba melontarkan pertanyaannya.
Wah.. siapa tahu Bu Remal ada keahlian di dunia dunia gaib dan misteri. Bisa bisanya Bu Remal tahu yang dipikirkan Liana. sampai sampai Remal sudah menatap tajam keduanya.
nih..anak emang titisan cabe pasti! - batin Liana mengiyakan dalam hati.
"Remal tuh ngikutin kakaknya yang kalau kemanapun tidak pernah senyum, kaku, sedikit pemarah tapi bisa kontrol emosi beda dengan anak ini! Nah, satu lagi Remal dan kakaknya itu emang titisan cabe makanya mulut mereka pedas. Heran deh suami saya humble orangnya tapi kok kelakuan dua lelaki ini pingin mama dan papanya masuk rumah sakit jiwa!"
Nah.. apakan Liana pikir Bu Remal emang mempunyai kekuatan yang bisa baca pikiran orang. Satu lagi Bu Remal seakan mengakui kalau Remal itu emang titisan cabe.
"Saya tidak bisa baca pikiran kok."
Astaga.. jika kalian diposisi Liana saat ini kalian heran dan kaget dengan kalimat terakhir yang Bu remal. bagaimana tidak jika sedari tadi pikirannya ditebak. Semisal Liana mikir yang kotor kotor coba?
Mereka kemudian menikmati hidangan sarapan pagi dengan bubur dan nasi goreng telur.
"Ma! aku nggak suka yah sama makanan banyak minyaknya gini." Remal mengoceh terus sampai sampai nasi goreng dan telur goreng yang dipiringnya tandas tak tersisa.
Apakah itu yang dinamakan definisi menolak?
Bu Remal dan Liana hanya geleng-geleng kepala melihat Remal makan begitu lahapnya. sungguh berbanding terbalik dengan ucapannya.
"Sungguh makanan berminyak ini akan membuat tubuhku tidak sixpack lagi!" gerutunya sambil meminum segelas teh hangat.
Apa maksud Remal dengan tubuh sixpack? sungguh diumur yang baru menginjak 10 tahun dia sudah tahu dengan hal hal begitu.
"Ouh iya nak.. ada apa kamu pagi pagi sudah berada di halte? Mau kerja?" tanya Bu Remal.
"Ng.. sebenarnya Bu saya mau cari kerja. Ya itung-itung cari pengalaman dan..." Ujar Liana tersenyum.
emang benerkan kalau Remal itu rajanya cabe sekilo?
...
"Nih.. kunci rumahmu sekarang."
Liana menatap kunci rumah itu dengan mata berbinar bahkan air matanya menggenang di pelupuk mata.
"B-u.. i-ni..?" ucapnya terbata.
"Iya sekarang kamu tinggal di sini. ibu tahu kok kamu lagi cari tempat tinggal kan?"
"Darimana ibu tahu. bahkan saya tidak pernah memberitahukan ibu." Liana berujar sambil melihat rumah minimalis yang suasananya asri sekali.
Dipandanginya samping rumah memiliki halaman yang cukup luas dan belum ditanami bunga atau sejenisnya. hanya pohon mangga saja yang tumbuh di depan rumah.
"Hm.. saya tanya deh! apa ada orang yang membawa tas sebesar ini dipagi hari? belum lagi kita pernah ketemu dengan keadaan kamu yang membawa tas ini juga. jadi, ibu simpulkan bahwa kamu lagi cari tempat tinggal." jelas Bu Remal tersenyum sambil membelai rambut Liana dengan sayang. andai ia memiliki anak perempuan pasti dirumah tidak akan kebosanan dengan para pria dirumah megahnya.
memikirkan Remal, ia tadi diantar oleh Liana dan Bu Remal di kesekolah. sekolah yang membuat Liana ingin kembali ke masa kecil saat seusia Remal. tak perlu memikirkan uang untuk bertahan hidup diumur yang baru menginjak 18 tahun.
bahkan saat Liana melamun, Remal menyela dan mengatakan dengan mulut cabenya, "ngga usah ngeliat school gua kayak mau ngerampok. cukup masa kecilmu yang susah dan sekarang ikuti saja mamaku."
"saya ngga tahu mau bilang apa lagi Bu. saya berterimakasih kepada ibu yang begitu baik kepada saya. saya bahkan tidak pernah melakukan apapun buat ibu. apalagi kita baru beberapa hari ini bertemu." ujar Liana sungkan.
"Kamu lupa ya nak.. kamu kan sudah pernah nolongin ibu dan Remal waktu itu. bahkan ibu tahu keadaan ekonomi kamu yang tanpa ragu langsung membelikan minuman buat Remal."
Liana benar benar menundukkan kepalanya saat Bu Remal mengungkapkan uang tiga ribunya.
Ah ya.. dia lupa bahwa ia tak memiliki uang sepeserpun sekarang. Liana pun memikirkan harus cepat mendapatkan pekerjaan demi kebutuhan hidupnya. mungkin ia akan melamar kerja di toko-toko atau warung makan saja.
"Apa yang kau pikirkan? hm.." tanya Bu remal.
"Anu Bu.. saya lagi memiliki saya akan melamar kerja saat sudah beres-beres rumah." jelas Liana
"Ouh.. kalau itu sih ibu sudah memikirkan bahwa kamu tidak usah repot-repot cari kerja. Liana maukan kerja di toko kue ibu?" tanya Bu Remal sambil menarik tangan Liana untuk masuk kedalam rumah.
"Bu.. biarkan Liana cari kerja aja deh.. bahkan semua bantuan yang ibu berikan lebih cukup untuk orang yang baru kenal seperti kita." ujar Liana.
Bu Remal dan Liana sedang duduk di sofa yang terasa empuk. bahkan saat mengontrak dulu jangankan sofa yang ada kulkas pun tak ada untuk menyimpan bahan makanan.
"Nak.. ibu tak suka yah jika kamu menolak pemberian ibu terus. pokoknya ibu tak terima penolakan kamu yang akan bekerja di toko ibu!"
Apa ada yah.. seorang pemilik usaha seperti Bu Remal memaksa orang lain bekerja tanpa melihat data dirinya?
Huh.. sungguh pagi ini sarapan hati betul!!
...
Terima kasih sudah menikmati karya Saya. tolong beri penilaian dengan memberikan komentar dan vote.