The Perfect Wife

The Perfect Wife
Awal



"Pergi dari kontrakan ku dan jangan berharap aku akan menerimamu kembali. cuih.."


Iliana Sanberra atau Liana menghela nafas atas pengusirannya dari tempat tinggal yang selama ini Liana huni.


bagaimana tidak jika uang sewa kosnya sudah menunggak dua bulan. Liana sempat meminta keringanan dengan meminta waktu satu bulan untuk mencari uang. Namun, ibu kosnya yang seperti nenek lampir itu memiliki hati sekeras beton.


Dengan membawa tas buluk yang berisi pakaian dan beberapa buku cetak yang ia pinjam di perpustakaan. Liana tetap melangkahkan kaki kaki kurusnya itu entah kemana.


Liana hanya melihat kedepan dimana sekelilingnya orang orang berlalu lalang. Ada


yang lagi ngemil Snack, ada yang berkendara bahkan saat Liana berpapasan dengan sepasang kekasih yang saling bergandengan tangan. jiwa jiwa jomblonya berteriak mampus.


"Sabar.. sabar yang single mah.. sejahtera." Liana hanya mengusap dadanya karena nyesek.


Melewati belokan yang berisi jajaran aneka macam makanan dipinggir jalan. Liana berhenti memperlihatkan muka kecutnya. Bagaimana tidak jika didalam kantong roknya hanya tersisa tiga ribu saja.


'Yaelah.. duit gua tak tahu kondisi banget.'


Daripada kelaparan karena perutnya udah koar-koar, Liana bergegas ke salah satu tukang bakso.


'yang dua ribunya bisa beli bakso meski dua biji dan seribunya bisa pake minum air dua gelas harga lima ratus rupiah.. hehe..' *- Batin Liana sambil cengengesan dan dengan riangnya ia ke tukang bakso.


Disana terlihat ramai oleh anak anak dan ibu mereka. sambil mengantri Liana memusatkan perhatiannya pada seorang anak lelaki kira-kira berumur 10 tahun-an. Giliran Liana yang sudah memegang satu tusuk dengan dua bulatan bakso.


"Apa liat liat!?" Gertak anak lelaki kecil tadi pada liana sambil melototi lawannya.


"Ha?" heran Liana pada anak lelaki yang memegang tempat plastik berisi campuran bakso dan siomay.


'enak banget liatnya.. Ampe sisi jahat diri ini mau ngerampok.'


"Dasar Tante nggak punya uang merah." ledek anak lelaki tadi sambil memanas-manasi Liana dengan memakan bakso yang penuh lumuran kecap dan kacang ke mulutnya.


Liana hanya perlu memahat kata sabar dan ikhlas di hatinya. mau melawan entar kena semprot lebih pedih. sepedih ditinggal pacar sama selingkuhannya.


'sadar Lo jomblo lii..'


"ihh.. Adek nggak boleh ngomong gitu nak. dosa dan mama tidak pernah mengajarkan Remal bicara kasar. maka dari itu Remal harus minta maaf!" peringat ibu ibu yang cukup berpakaian mahal. malahan ditempat seperti ini mereka kurang.. yah kurang pas lah untuk ukuran orang orang yang punya duit merah. lihat saja tasnya dan sepatu yang dikenakan terlihat mengkilap.


Anak lelaki yang bernama Remal tadi hanya menunduk dan sesekali melirik ibunya bahkan menatap datar Liana yang disampingnya.


"Remal harus minta maaf pada kakak ini dan.." sambil melihat Liana dengan tatapan lembutnya dan berkata, "saya titip Remal dulu karena saya mau membelikan Remal minuman."


Liana hanya diam dan mengangguk ragu. Tiba-tiba dari arah sejajar ibu anak tadi, terlihat pencopet dan berhasil merampas tas bahkan handphone yang dipegang. alhasil tinggal pakaian dan sepatunya itu.


sebagian orang orang mengejar dan melihat keadaan ibu tadi. Liana dan Remal pun bergegas cepat menuju ibu Remal yang kini sedang terluka di bagian kaki karena terjatuh.


Liana memapahnya ke salah satu tempat duduk dekat taman. Sambil melihat keadaan kaki ibu Remal yang ternyata keseleo.


Liana pun berinisiatif membantu mengurut dengan minyak angin yang selalu ia bawa. mungkin hanya dia yang selalu ke minimarket atau toko-toko membeli sebotol yang bergambar bayi merangkak hanya memakai popok. Berbeda dengan teman sebayanya yang lain mengeluarkan uang merah dan biru untuk membeli bahan-bahan perawatan.


"Nak.. nama kamu siapa?" tanya ibu Remal.


"Iliana Sanberra atau biasa dipanggil Liana Bu."


"ouh.. yah.. Liana bisakah saya meminjam handphone kamu?" ujar Bu Remal.


"em.. buat apa Bu?"


"Mau nelpon orang rumah buat jemput saya dan Remal."


BOOM..


Hancur sudah hidup Liana. Dentuman drum dihatinya membuat ia tak karuan. alhasil Liana selalu menggeser duduknya karena bingung.


Liana cemas sekaligus tidak tahu mau meminjamkan atau tidak. sedangkan pulsa di handphonenya tertulis pas terakhir kali ia mengecek nol rupiah.


'aelah.. gimana mau isi pulsa kalau duit gua cuman tiga ribu.'


Dengan sangat rela ia meminjamkan pada Bu Remal. Berharap pulsanya ada keajaiban bertambah.


"Ma.. Haus!" Remal merengek memegang lehernya.


"Remal tahukan kalau mama lagi ngga punya duit?"


Remal yang ditanya seperti itu merengut tak suka.


"Bu.. biar saya yang beliin minum dulu." Nah, kesempatan ini digunakan Liana untuk kabur sementara.


"Emang kakak punya uang?" Tanya Remal dengan muka yang meremehkan.


"Ada. meski seribu yang penting bisa beli minum buat kamu." usai Liana berujar ia bergegas pergi meninggalkan anak dan ibu itu yang memandangnya sampai tak terlihat tubuh Liana.


Menenteng satu kantong plastik berisi dua air mineral gelas ia bergegas menghampiri ibu dan anak itu.


"Nih.. buat kamu." Ucap liana. dengan sangat terpaksa Remal meminumnya tanpa mengucapkan terima kasih.


"Maaf Nyonya.. saya disuruh tuan menjemput Nyonya." tiba tiba datang seorang lelaki dewasa berkumis tebal. setebal hati jika ditolak terus sama gebetan.


"Nak.. terimakasih sudah membantu saya dan anak nakal ini. Nih.. ponsel mu saya kembalikan."


Bu Remal menyerahkan handphone liana pada pemiliknya.


"Ya iyalah dikembalikan. ponsel segitu cuman buat getaran ponsel orang yang ditelpon."


'nih anak pedes amat bicaranya. pasti titisan cabe sekilo nih!'


"Kalau Liana lagi membutuhkan bisa hubungi nomor yang sudah saya simpan."


Liana hanya mengangguk mengiyakan dan melihat kearah Bu Remal dan Remal sendiri sudah menjauh. masuk kedalam mobil mewah tidak sebanding dengan harga dua ginjal Liana.


...


Liana memandang miris ponselnya yang dipegang. Mau menelpon tapi pulsa udah malu-maluin. ditambah sebentar lagi mau masuk Maghrib.


Kakinya membawa ia ke arah dimana segala keluh kesah bisa tersalurkan dan membuat hati tentram.


Usai menunaikan kewajiban ia memandang ponsel lagi. Mencari kontak sahabatnya yang sedang berkuliah di luar kota.


ya, Liana udah lulus sekolah menengah atas. Sebenarnya Liana mau melanjutkan kuliah tapi keadaan ekonomi yang membatasi. maka dari itu ia berpikir untuk mencari kerja dan menabungnya.


Tapi pertama ia harus mencari tempat tinggal apalagi udah malam. Mencoba menelpon meski suara operator yang mengatakan bahwa pulsa Liana tinggal nol rupiah.


'ngga usah diperjelas juga kali neng!'


Nah, nama sahabatnya sudah tertera di layar ponsel Liana. buru-buru Liana memencet hijau dan mengangkatnya. meski ponselnya tidak memiliki pulsa yang penting bisa memiscall orang.


"Halo Li?"


"Aaa.. akhirnya dinosaurus gua menelpon!!" teriak Liana sehingga orang yang berlawanan dengannya melihat kelakuan ajaibnya.


"Yaelah.. Lu tidak bisa apa teriak saat nelpon dan satu lagi jangan ucapkan kata dinosaurus saat memanggil nama gua. nama gua itu di-no-ra!!"


"Yaya.. maaf maaf. Din gua butuh bantuan. lagi sekarat nih!" rengek Liana dengan muka polosnya.


"Mana ada orang sekarat yang lagi nelpon?" ejek dinora dengan terkekeh.


"Bukan gitu ra.. gua lagi butuh banget bantuan Lo. soalnya tadi siang gua diusir dari kontrakan sama ibu kos dan sekarang gua lagi di pinggir jalan."


"bilang dong dari tadi jangan kayak orang susah aja lu. cukup gebetan gua yang bikin pusing!"


"Dinora gua memang orang susah dan lu perjelas lagi. sayang emang!"


"Hehe.. sorry keceplosan. Nah, kebetulan gua lagi perjalanan pulang soalnya gua libur. Nanti gua SMS Lo aja yah daripada lewat sosmed Lo kan kagak punya kuota." Usai dinora mematikan telpon sepihak. Liana hanya bersabar karena kelakuan sahabat karibnya itu.


Begitulah mereka meski berbeda kasta tetapi persahabatan mereka utuh sampai sekarang.


...


selamat membaca dan beri komentar yah.