
Memalingkan wajah melihat jam yang menunjukkan waktu subuh, Liana bergegas ke kamar mandi yang satu ruangan dengan kamar tidur.
Sesampainya di sana Liana menggosok gigi sesudah membasuh muka. Liana melihat dirinya di cermin yang besar dan menumpukan kedua tangannya ke wastafel.
"Astaga.. kenapa mikirin lelaki ngga waras itu sih.. Mentang mentang udah dicipok sampai gua mimpi nikah sama Chanyeol dipelaminan lagi. eddahhhh.." Menghela nafas karena bayang bayang kejadian tadi malam masih membekas sekali di ingatan Liana.
Dengan tak tahu malunya lelaki itu mencium pipi Liana. padahalkan Liana sudah mencuci mukanya dengan sabun batang yang dipakai mandi. Sungguh pasti mengandung banyak bakteri yang menempel lagi. kan sayang sabun-nya harus perang lagi sama bakteri.
"Sadar Liana!" Liana menyadarkan dirinya supaya melupakan lelaki mesum itu. ia berniat shalat usai wudhu dan bergegas kabur sebelum lelaki itu menemukannya lagi.
Liana buru-buru memasukkan lagi pakaiannya ke tas yang sudah memudar warnanya. Ia sudah mandi juga usai shalat dan sekarang Liana sudah berada didepan pintu, alias didepan meja rias depan pintu.
Gara-gara si lelaki mesum gua harus olahraga dijam segini dimana orang orang masih berleha-leha atau melakukan yang lain tak menguras keringat.
Dengan sekuat tenaga ia mendorong dan memindahkan meja rias dan lemari pada tempatnya.
Liana menyeka keringatnya sambil membuka pintu untuk keluar. Liana berpikir pasti lelaki itu sudah pergi atau mungkin masih tinggal dan ia tertidur.
mau tidur kek.. mau pingsan kek.. ngga perduli amat. tapi ganteng, err... -batin liana menepuk kepalanya.
Liana melihat kesekeliling ruang tamu tapi tidak ada tanda-tandanya bahwa lelaki itu ada.
"Ternyata hantu cerewet ini masih ada di kepalaku bahkan aku lagi melihatnya. apakah penglihatan ku yang salah atau dia tak tahu dirinya masih dirumah orang!"
Liana kaget mendengar rentetan kata yang keluar dari lelaki mesum itu. Liana berbalik dan menatap tajam pada lelaki itu.
"Heh!.. ngga sadar amat sih pak mesum. Anda yang nyelonong masuk aja rumah orang. seharusnya anda yang bertanya pada diri anda kenapa masih disini!" sungut Liana kesal sambil mencengkram tali tasnya.
"Sekali lagi saya peringatkan kau jangan memanggilku dengan kata mesum. Kamu tidak pernah nonton TV yah? atau tidak pernah liat majalah dan koran?" lelaki itu menatap balik Liana dengan tajam.
"Heh! emang kenapa kalau ngga nonton tv. Mesti yah gua harus nonton. emang anda ada di tv? Ouh.. atau anda jadi pemeran yang lewat lewat saja?"
aelah gimana mau nonton tv kalo duit yang selama ini gua perjuangkan melebihi doi habis bayar kos sampai gua diusir karena duit. -batin liana.
"Cuih.. jangan-jangan kamu ngga punya tv yah? Haha.." Lelaki itu terkekeh mengejek Liana yang sudah memerah menahan amarahnya.
tahu aja lo- batin Liana membenarkan.
"Gini yah... Siapa yang ngga kenal dengan Ragello Oudrino Fragend rajanya pengusaha kaya raya yang memiliki segunung harta melimpah belum lagi yang diluar negeri tersebar dengan banyaknya cabang cabang yang sudah dikenal dunia. Masa saudara mu yang hantu saja kenal." lelaki yang baru saja diketahui namanya itu mengakhiri dengan mengejek Liana.
sial! bener bener mau disemprot nih cowok! -batin liana kesal.
"Mau pengusaha, dokter, artis kek.. gua ngga perduli amat dan satu lagi gua bukan hantu. mata anda katarak yah atau buta, segini aja ngga tahu bedain manusia sama hantu! Mending periksa deh ke dokter mata sekalian keluarin tuh duit lu dari gunung. siapa tahu gunung itu bisa berubah menjadi gunung berapi. Boom!! hancur dah duit lu jadi lava panas. Hahaha.." usai mengucapkan itu Liana melambaikan tangannya dan tersenyum mengejek. Liana muak dengan lelaki sombong itu makanya ia memakai lo-gue.
Benar-benar Ragello ingin memasukkan hantu cerewet itu ke gunung berapi. bisa bisanya Ragello disebut katarak dan buta. satu lagi disuruh periksa lagi sekaligus Mengeluarkan uang digunung. Apa apaan ini beraninya dia menginjak harga diri seorang Ragello Oudrino Fragend.-batin Ragello.
...
Dilain tempat Liana berjalan membawa tasnya lagi. Keadaan sudah terik di pagi hari sampai rasanya Liana ingin pingsan saja dan ditemukan oleh orang-orang yang lewat dan dibawa ke rumah sakit. kan bagi pasien ada jatah makanan yang teratur. tapi, Liana berpikir lagi jika itu terjadi siapa yang akan membayar?
Ia duduk di halte sambil sesekali menyeka keringat dan yah.. Liana belum makan sejak pagi tadi. Saking sibuknya bertengkar dengan lelaki yang memiliki uang segunung itu.
Liana mengalihkan pandangannya ke beberapa orang disampingnya. tampaknya mereka semua sibuk dengan memakai pakaian kerja yang begitu rapi. seandainya saja ia seperti itu pastilah hidupnya tidak seperti ini. luntang-lantung di jalan mencari tempat tinggal.
Ini semua gara-gara si mesum Ragello. Mungkin ia masih tinggal di rumah dinora.
Ah.. ya kenapa ia melupakan sahabatnya dinora. Astaga.. dengan bodohnya juga kenapa malah membiarkan si mesum Ragello tinggal di rumah yang sudah dinora percayakan padanya. Habislah ia nanti jika dinora tahu kalau ada orang sakit jiwa yang kabur dan tinggal berleha-leha di rumah dinora.
Bagaimana kalau dinora datang dan mencarinya. dengan otak pelupanya Liana juga tidak menghubungi dinora saat insiden tengah malam itu. dimana pria mesum itu mencium pipinya.
Mau menelpon tapi ponselnya lowbat. percuma juga kalau menyala tidak ada pulsanya.
'tinn.. tinn.. tin..'
Siapa sih yang pagi pagi sudah membuat kuping berdenging. -batin Liana menatap sungut ke arah mobil mewah hitam yang tepat didepannya.
Liana menyipitkan matanya saat sang pengemudi keluar. Tampaknya ia sopir karena memakai atribut seorang sopir dari keluarga kaya raya.
"Nona disiruh masuk oleh Nyonya kami." usai sopir itu berucap datar. tas yang diletakkan Liana di samping tubuhnya diambil tanpa meminta izin orangnya.
"Pak! apa apaan ini.. jangan seenaknya yah mengambil punya orang lain. pak mending pergi ke mall atau pasar deh beli tas baru. jangan ambil satu satunya tas yang saya punya meski tas saya sudah buluk."
Liana menahan tasnya yang masih ditangan sang sopir. Ia berusaha menarik paksa tasnya tapi percuma sang sopir itu tak mengindahkan.
"Pak saya beri tahu yah.. didalam tas itu hanya berisi baju selusin, celana dan rok yang jika dihitung hanya empat dan pakaian dalam yang sudah bolong bolong. Idih.. masa bapak masih mau mengambil tas saya. apalagi di tas ini pak ngga ada duit merahnya sampai duit logam." Ucap Liana dengan menjelaskan detail tasnya.
sang sopir hanya menggelengkan kepalanya. tiba tiba pintu mobil disamping tubuh Liana terbuka dengan anggunnya. emang cuma manusia aja yang bisa anggun?
"Ayo.. ikut saya!" terdengar nada perintah dari sang pemilik suara.
...
Bersambung.
komentar dan vote yah!