The Owner Of My Last Love

The Owner Of My Last Love
Bab 8: Terimakasih



Zidan membawa ku keluar dari mall, dia berdiri bersama ku tepat di depan bangunan kokoh itu, sesaat kemudian mobil Alphard berwarna putih menghampiri kami.


pria berbadan tegap berbaju serba hitam pun keluar dari arah kemudi, dia membuka kan pintu mobil untuk kami


"ayo naik" ujar zidan menggenggam tangan ku ketika pintu itu terbuka


"ini mobil siapa?" tanya ku menarik tangan zidan untuk keluar lagi


"ini mobil sopir ku" ujar nya sambil menarik kembali tangan ku dan membawa nya masuk ke dalam.


"kenapa diem aja?" tanya zidan sambil kembali menggenggam telapak tangan ku


"Zidan lepas" ujar ku sambil melepaskan genggaman nya


"kamu ngantuk ya lea?" ujar zidan menatap lekat kedua mata yang sayu, jujur saja badan ku terasa pegal-pegal semua, perut ku juga sakit. setelah aku ingat-ingat ini sudah masa nya aku ke datangan tamu bulanan.


"kamu pucat banget lea? kamu sakit ya? apa nya yang sakit? kita ke rumah sakit ya?" Zidan memberondongi ku dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat ku semakin pusing.


"perut ku sakit zidan" ujar ku sambil memegangi perut ku dengan kedua tangan ku


"kamu lagi dapet ya?" ujar nya dengan perlahan karna takut terdengar oleh sopir, aku hanya mengangguk kan kepala ku


"mungkin iyaa.."


" David! jalan lebih cepat lagi!" ujar zidan dengan tegas


"baik tuan muda"


"haduhh dia apain ya? emm biasa nya kalo sakit dia apain? di pijat?" tanya zidan dengan khawatir


"jangan.. malah tambah sakit"


"terus gimana?" Zidan pun menaruh kepala ku di dada bidang nya, dia mengelus rambut ku dengan lembut menciumi kening ku berkali-kali, aku tak bisa melakukan pemberontak kan karna aku sedang tidak beradaya.


"kita mampir ke rumah sakit aja ya?"


"ga usah.. pulang aja" ujar ku dengan lemas, hari itu nyeri yang ku rasa tidak seperti biasanya entah mengapa rasa nya sakit sekali entah kenapa aku juga tidak tau.


sesampai di rumah bibi zidan menggendong ku turun dari mobil


"David! ketuk pintu nya" ujar zidan dengan nada tinggi


"baik tuan"


tok tokk...


"permisi" ujar david


"ahh lama sekali, cepat buka saja pintu nya"


"di kunci tuan bagaimana ini?"


"dobrak lah pake tanya!"


bruakk!


aku masih lemas di gendong zidan, dia membawa ku masuk ke dalam kamar ku dan menyuruh david keluar, dengan perlahan dia merebahkan tubuh ku ke kasur


"aku telpon dokter ya?" tanya nya lagi


"ga usah.. tolong ambilin obat nyeri haid aku di laci meja rias itu" ujar ku sambil menunjuk ke arah yang ku maksud.


"ini.. cepat minum lah" ujar Zidan sambil menyerahkan kapsul dan air putih di tangan nya


"masih sakit?" tanya nya lagi


"iyaa"


"ahhh kenapa obat nya tidak manjur! aku akan belikan obat terbaik untuk kamu ya?"


"ga usah.. obat juga butuh waktu untuk berkerja" ujar ku sambil menahan tawa, bisa-bisa dia menyalah kan obat yang baru saja di minum


"Kenapa? apa sakit nya terlalu sampai kamu ingin tertawa" ujar nya dengan khawatir, terkadang aku berpikir sikap nya yang berlebihan begitu membuat nya semakin bodoh!


"engga.. udah kamu ga usah rempong, nanti juga sembuh"


"sebentar yaa.. kamu di sini dulu" aku pun beranjak dari kasur ku, aku berdiri di depan kaca yang aku melihat rok baik belakang dan yaa! dugaan ku benar! darah haid ku sudah tembus ke sampai keluar


"ya ampun.. maluuu, Zidan tau ga ya? tadi dia kan gendong aku.. berati tangan nya?!" ujar ujar sambil menutup mulut ku dengan kedua tangan ku


ceklek


"hei.. sudah ku bilang jangan kemana-mana" ujar Zidan yang tiba-tiba masuk tanpa permisi, dengan cepat aku membalikkan badan ku mengarah ke pada nya agar dia tidak melihat noda merah di rok ku"


"kamu kenapa?" ujar zidan mendekati ku


"jangan mendekat! stop!" dia pun menghentikan langkah nya, aku berjalan miring hingga menuju kamar mandi


"dia kenapa?" ujar Zidan seorang diri


aku pun membersihkan noda itu dari rok ku, namun bodoh nya aku kenapa tadi aku tidak membawa rok ganti, aku menepuk jidat ku sendiri


"Zidan! kamu pergi sana.. aku mau ngambil rok"


"emm oke.. ada yang perlu ku bantu?" ujar zidan dengan senyuman licik nya


"ga perlu!" dia pun keluar dari kamar ku, aku mengambil rok ganti di lemari sekaligus mencari pembalut, namun setelah ku cari dan ku cari lagi pembalut ku ternyata tidak ada alias kehabisan stok!


"oh my god... apes banget sih!" ujar ku dengan kesal


"masa iya aku nyuruh zidan buat beliin pembalut"


"aahhh maluuu"


tok tok...


"apa!" teriak ku dengan kesal


"tadi aku beliin kamu pembalut.. buka pintu nya"


"hah? dia beli pembalut? ihhh ga malu apa?"


tok tokk.


"Lea? kamu udah punya ya?" tanya zidan dari balik pintu, aku pun membuka sedikit pintu kamar ku, namun hanya tangan ku saja yang keluar dia menyerahkan benda empuk itu kepada ku, dengan cepat aku kembali menutup pintu kamar ku.


duar!


"santai Lea, ga usah malu" ujar zidan dengan suara khas menahan tawa


setelah selesai mengganti semua kebutuhan kewanitaan ku, aku keluar dan mendapati zidan yang masih duduk di sofa.


"gimana? udah mendingan?" tanya nya sambil berdiri dan mendekati ku


"udah, kamu pulang aja"


"jadi aku di usir?"


"aku mau istirahat"


"ya udah ga papa.. istirahat ajaa, aku jagain kamu di sini"


"ga usah.. kamu balik aja ke sekolah"


"hahahh ya ga mungkin lah.. kan udah bolos"


"ya udah lah terserah kamu"


"ya udah sana istirahat, kalo butuh apa-apa kamu ngomong aja sama aku, oke?"


"Hem"


aku masuk ke dalam kamar ku dan merebahkan tubuh ku di kasur, jujur saja aku masih malu bila mengingat hal-hal tadi.


"aaaa kenapa harus ada dia sih" ujar ku seorang diri, setelah beberapa jam aku mengurung diri di kamar akhir aku memutuskan untuk keluar, mungkin saja Zidan sudah pulang mana mungkin dia betah berlama-lama sendirian begitu.


ceklek...


ternyata dugaan ku salah, ku kira dia sudah pulang ternyata dia masih di sofa itu dengan posisi tidur telentang.


"Zidan.. bangun" namun dia tak bergeming


"bangun.. ini udah siang, kamu ga mau pulang apa?" ujar ku sambil menggoyangkan tangan nya, dengan cepat dia menarik tangan ku dan sontak membuat ku terjatuh tepat di atas badan nya, tangan nya merangkul badan ku dan mata kami bertemu.


"ihh lepasin!" ujar ku sambil berdiri


"sorry.. reflek" ujar zidan tanpa dosa


"dasar mesum! pulang sana"


"kamu gimana? udah mendingan kan?"


"udah"


"bener nih ga papa aku tinggal?"


"iyaaa"


"ya udahh, kalo ada apa-apa telpon aku ya?" ujar nya sambil menaruh kartu nama nya di meja.


"baik-baik ya?" ujar nya sambil mengacak rambut ku


"Hem"


"Zidan!" teriak ku yang sontak membuat nya membalikkan badan nya


"terimakasih" dia hanya tersenyum dan kemudian berlalu pergi


to be continued


hai guys jangan lupa untuk like komen dan vote nya yaa 🙏😍 terimakasih, dukungan kalian sangat berguna sekali bagi othor 😌🙏🙏