The Owner Of My Last Love

The Owner Of My Last Love
Bab 10:Dingin



"Kalian?" ujar ku yang sambil menatap kedua pria yang sedang tatap menatap dengan dingin itu.


"waduhh mesti di bubarin nih.. bisa-bisa berantem kalo di diemin terus, mereka kan kaya kucing sama anjing" ujar ku dalam hati


"emm udah lama za?" tanya ku sambil menduduk kan bokong ku di samping Eza, kemudian dengan cepat zidan membelah jarak di antara kita, dia duduk di tengah-tengah antar aku dan eza, aku pun menepuk jidat ku sendiri.


"Zidan? kamu ga mau pulang gitu? emang ga bosen?" ujar ku menatap zidan tidak suka


"aku masih aku disini Lea" ujar zidan sambil tersenyum kepada ku


"Zidan.. makasih hari ini kamu udah bantuin aku, dan kamu.. boleh pamit pulang sekarang" ujar ku sambil tersenyum terpaksa


"emm tapi janji ya? besok kamu harus mau aku jemput? ehh ga cuma besok.. se ti ap haarii" ujar nya sambil menatap dalam kedua mata ku


"yaa! udah kan? kamu bisa pergi sekarang.. silahkan" ujar ku sambil menarik tangan nya dan membawa nya keluar dari rumah bibi, saat aku melepaskan tanganku dia menarik lagi tangan ku dengan cepat hingga aku terbentur dada bidang nya


"ahhh! sakit tau!" ujar ku sambil memegangi dahi ku


"jangan genit sama cwok lain! karna mulai sekarang... kamu akan menjadi milik ku saja!" ujar Zidan sambil menangkup kedua pipi ku


"aahh sakit!" ujar ku karna memang benar-benar sakit, dengan cepat dia melepaskan tangan nya dari wajah ku


"aku minta maaf..aku tidak bermaksud "


"iyaa" ujar ku memotong perkataan nya


"kalo kamu di genitin eza jangan mau.. karna dengan mudah aku akan menghabisi eza kapanpun aku mau!" ujar zidan penuh penekanan kedua mata tajam nya itu menatap ke arah eza yang sedang duduk di sofa ruang tamu yang terbuka itu


"yaa..lagian dia ga akan macam-macam..karna kita cuma sebatas teman" ujar ku sambil menarik tangan zidan untuk lebih menjauh lagi dari hadapan Eza.


"good girl! aku percaya pada mu" ujar Zidan sambil mengacak-acak rambut panjang ku


dia kembali menaiki motor ninja H2 Carbon nya, sebelum itu dia menatap ku yang masih berdiri disitu, tangan ku menghempaskan-hempas kan ke arah nya kode agar dia segera pergi, sebelum melanju kan motor nya dia memberikan finger heart pada ku, bak oppa-oppa korea, ahhh rasa nya sangat ilfil sekali melihat nya.


aku kembali masuk ke dalam dan mendapati eza yang tengah sibuk memainkan handphone nya, ku lihat dari layar handphone nya nama wanita yang tertera dengan jelas


sherly wanita itu sedang membalas pesan eza dengan emot love besar berwarna merah. duhh rasa nya sakit sekali melihat itu dengan mata ku sendiri, Eza tersenyum pada ku dan kemudian kembali membalas pesan wanita bernama sherly itu dengan emot serupa.


"cie loo.. udah punya pacar nih" ujar ku mencoba tersenyum kepada Eza, walaupun sebenarnya ingin sekali aku menangis saat melihat nya.


"hehee belum lama kita baru jadian kemarin"ujar eza sambil tersenyum kepada ku


"ohh selamat yaa, semoga langgeng teruss.." ujar ku tersenyum getir, aku sudah susah mengkondisikan mimik wajah sedih ku.


"kaya udah nikah ajaa.. Sampek di do'ain langgeng terus" Jawab eza sambil terkekeh


"ehee ya ga papa dong.. bagus kalo Sampek kalian nikah beneran"


"aamiin semoga aja, hahaa tapi perjalanan kita masih panjang.. ga ada yang tau kedepannya gimana" ujar eza kembali sibuk membalas pesan dari pacar baru nya, aku memalingkan wajah ku dari pada nya, aku takut semakin terluka melihat eza yang sedang kasmaran itu.


"zaa, kaya nya aku mau balik istirahat lagi deh" ujar ku sambil berdiri dari sofa, dia pun ikut berdiri menjajari ku


"baiklah.. cepat sembuh yaa? semangat!" ujar eza sambil tersenyum manis kepada ku, aku hanya membalas senyuman nya dengan senyuman getir yang terpaksa aku perlihatkan.


"Udah yaa? aku balik dulu..daa" ujar eza sambil mengacak rambut ku dan kemudian keluar dari rumah bibi.


aku berjalan lunglai menuju kamar ku, dengan lemas aku merebahkan tubuh ku di kasur empuk itu, aku mencari bantal dan menangis sekencang-kencangnya di dalam bantal tersebut.


"seharusnya aku tidak banyak berharap, tidak mungkin Eza menyukai ku hikkss hikks" ujar ku terus menangis.


malam itu aku malas keluar kamar, sampai-sampai bibi mengantar makanan ke dalam kamar ku, aku juga mengirim pesan kepada eza untuk tidak datang menjemput mu berjamaah di masjid, aku masih tidak ingin melihat wajah nya, karna itu semakin membuat ku sakit hati.


telpon ku berdering panggilan dari pria menyebalkan itu lagi, Zidan! yaaa siapa lagi kalo bukan dia, aku pun mengangkat telpon itu Karna jujur saja aku ingin mengalihkan pikiran ku dari eza


"hallo?" ujar ku dengan nada malas


"hallo lea.. gimana? udah mendingan belum?" yang zidan


"syukurlah.. kalo gitu kamu harus istirahat lebih awal supaya besok bisa pulih kembali"


"zidan.. sekarang kamu lagi dimana?"


"emm ya udah deh ga jadi"


"heii.. ada apa Lea? katakan"


"tadi nya aku mau keluar sama kamu.. terserah lah mau di bawa kemana, yang penting di balikin lagi" ujar ku setengah memperingati


"baiklah, aku akan menjemputmu sekarang jugaa"


"ehh ga usah.. nanti temen-temen kam"


"udah ga papa, lagian mereka mau pulang kok"


"kok nongkrong nya cepet banget.. biasa kan cwok kalo nongkrong lama banget Sampek-sampek ada yang ga pulang juga"


"ngusir mereka tuh gampang Lea! oke.. aku jemput kamu sekarang ya?"


"emm kamu yakin? kamu ga takut temen-temen kamu nan"


"udah.. mereka ga bakal mikir yang aneh-aneh kok"


"emm ya udah deh aku siap-siap dulu"


tutt tuttt


aku mematikan telpon kami secara sepihak, kemudian dengan cepat aku mengganti baju ku dengan shirt putih polos serta celana jeans, ku ikat rambut panjang ku,aku tidak suka berpoles aku hanya memakai beda tabur dan lipstik berwarna samar.


tok tok...


"permisi... assalamualaikum" ujar Zidan dari balik pintu, dengan cepat aku membuka pintu itu, dia tersenyum melihat ku tiba-tiba dia menarik ikat rambut ku dan membiarkan rambut ku terurai.


"nahh kaya gini lebih kelihatan cantik" ujar nya sambil merapikan rambut ku


"aku pamit bibi dulu ya? semoga aja boleh" ujar ku sambil beranjak pergi namun dia menarik tangan ku


"aku aja yang izin.. kan aku yang bawa kamu pergi, jadi aku yang akan tanggung jawab nanti nya" aku pun hanya mengangguk kan kepala ku, bibi ku sedang asyik menonton tv di temani om ku lewat Vidio call om ku memang sedang ada pekerjaan di luar kota.


"permisi bi.." ujar zidan dengan sopan aku mengikuti nya dari belakang


"ehh ziidann" ujar bibi sambil tersenyum kepada Zidan


"bi.. saya izin membawa ponakan nya keluar sebentar boleh?" tanya Zidan tanpa banyak basa-basi


"ohh boeleehh silahkan.." ujar bibi sambil tersenyum


"yang penting jangan terlalu malam ya? sebelum jam 12 harus sudah di kembali kan"


"siap bi!" jawab zidan dengan lantang bibi ku tersenyum melihat nya


"beneran boleh bi?" tanya ku keheranan


"boleh dong.. bibi kan juga pernah muda" aku pun tersenyum dan menyalami bibi ku, Zidan pun melakukan hal yang sama.


Malam itu cukup dingin, dia mengendarai motor nya dengan perlahan.


"kamu kedinginan ga?atau kamu mau pake jaket aku aja?" tanya Zidan


"ga usah.."


"bener ga kedinginan?" tanya lagi memastikan


"iyaa" sebenarnya aku berbohong malam ini sangat dingin sudah bisa dipastikan kalau aku juga kedinginan apalagi dengan shirt pendek ku, aku memeluk tubuh Zidan Karna memang sangat dingin, aku tidak tahan dia memegang tangan ku yang melingkar di perut nya, kali ini aku tidak memprotes nya


"aahhh bodo amat lah, abis dingin banget" ujar ku seorang diri


to be continued


hai guys jangan lupa untuk like komen dan vote nya yaa πŸ™πŸ˜ terimakasih dukungan kalian sangat penting untuk menambah semangat author ☺️