The Owner Of My Last Love

The Owner Of My Last Love
Bab 3: seperti ini



puas menangis aku pun tertidur hingga menjelang maghrib


tok tok tok tok


"leaa.. keluar le, udah mau maghrib ini" teriak bibi dari balik pintu


"astaghfirullah.. kok udah mau maghrib aja sih" ujar ku yang lanjut beranjak bangun dari tempat tidur.


"iya bi.. lea udah bangun kok"


"cepatan siap-siap.. udah di tunggu eza nih di ruang tamu"


"hah? eza? ya ampun" ujar ku seorang diri, dengan aku masuk kamar mandi dan membersihkan tubuh ku.


ceklek


....


"Lea? kamu betah banget di kamar" ujar bibi yang memang sudah menunggu ku di depan pintu kamar ku


"hehee lea ketiduran bi"


"ohh pantesan.. ya udah sana berangkat ke masjid, udah di tungguin eza dari tadi tau"


"iya bi, assalamualaikum" ujar ku sambil menyalami bibi


"wa'alaikum salam.. hati-hati"


Eza tersenyum kepada ku, dan aku memandang wajah nya yang masih lebam akibat bogeman dari zidan


"udah ga papa.. aku baik-baik aja jangan khawatir yaa" ujar eza sambil tersenyum


"pasti sakit ya? ujar ku sambil memegangi pipi nya yang lebam


"yahh batal dong leaaa" ujar eza dengan kesal


"ahh iyaa aku lupa.. maaf" ujar ku tersenyum


kami pun berangkat ke masjid berjalan kaki, karna memang masjid nya tidak jauh dari rumah kami.


"oh yaa.. tadi kamu ga di apa-apain kan le? tanya Eza khawatir


"engga kok.."


"aku terpaksa berbohong maaf eza" ujar ku dalam hati


"coba sini aku lihat" ujar eza memegang kedua bahu ku dan di arah kan ke muka nya, dia memandangi wajah, yang jelas sudah membuat muka ku memerah pasti nya.


aku pun mengalihkan pandangan mu agar dia tak menyadari bahwa aku sedang salah tingkah


"kenapa?" tanya eza penasaran


"ga papa kok.. ayo jalan lagi, aku aku denger suara adzan kamu yang merdu" ujar ku kembali berjalan mendahului eza


Eza pun mengejar ku dan menyamai langkah kaki ku, dia tersenyum manis kepada ku.


terkadang aku berfikir kalau dia juga mencintai ku, namun rasa nya itu tidak mungkin.


"hei? kenapa bengong sih?" tanya nya lagi menghambur kan lamunan ku


brumm brummm brummm


Suara gas motor yang terdengar jelas dari belakang kami, sontak membuat ku dan menoleh ke belakang.


yaa siapa lagi kalau bukan pemilik Motor ninja H2 Carbon.


"hah, dia lagi" ujar ku dengan kesal


"kaya nya dia tertarik sama kamu deh le" ujar eza menatap kedua mata ku dengan lekat


"bodo amat.. aku ga peduli"


"kamu yakin?" tanya Eza


"udah lah ayo kita lari ajaa" ujar ku sambil menarik tangan eza dan membawa nya lari.


Zidan masih membuntuti kami hingga sampai ke masjid, dia memang sudah memakai sarung,peci, dan koko putih.


penampilan nya sangat memukau sontak membuat para remaja masjid putri menatap nya tak berkedip.


namun mata tajam nya masih setia menatap tangan ku yang masih menggenggam tangan eza.


"Lea, aku adzan dulu yaa"


"emm iyaa" ujar ku sambil melepaskan cekalan tangan ku.


"wahhh tumben si ganteng jama'ah ke masjid" ujar kak uci salah satu remaja masjid putri di kompleks kami


"iya kak.. lagi ngawal tuan putri" ujar zidan yang beralih menatap ku


"wah? tuan putri? siapa itu?" tanya kak uci penasaran


"tuh" ujar zidan sambil menunjuk ke arah ku


"alea?" tanya intan yang berdiri tak jauh dari ku


"iyaa" jawab zidan dengan santai, aku malas mendengar omongan kosong pria ga jelas itu. akhirnya aku memilih pergi dan yaa pasti setelah ini banyak yang kepo mengenai hubungan ku dengan pria menyebalkan itu.


aku mengambil air wudhu dan kemudian kak uci,intan, nabila,dan salwa mendekati ku


"bukan nya iri ya, ehh tapi emang iri sih..hahah aku cuma mau bilang kalo dia tu orang nya gampang bosenan.. pasti ga lama lagi kamu bakal di putusin" ujar kak uci lagi


"iya lea.. kamu yang sabar ya?" ujar intan menimbali


"hahah.. aku ga pacaran sama orang edan itu kok kak.. najis banget deh"


"najis? cowok seganteng dia siapa sih yang ga mau le?" tanya Nabila


"engga..duluan ya kak.. lihat tuh udah mau iqomah" ujar ku sambil berlalu pergi


"dia normal ga sih?" tanya kak uci keheranan


mereka bertiga pun dengan serempak mengangkat kedua bahunya


usai menunaikan ibadah shalat maghrib, aku dan eza kembali pulang berdua berjalan kaki.


lagi dan lagi, Zidan masih setia membuntuti kami menggunakan motor nya.


"kurang kerjaan banget sih" ujar ku kesal, eza hanya tersenyum miring kepada ku


"mampir zaa" ujar ku yang berhenti tepat di dekat gerbang utama rumah bibi, rumah Eza dan rumah bibi ku memang berhadapan sehingga kami dengan mudah selalu bertemu.


Zidan ikut berhenti dan memandangi ku dari jarak yang lumayan jauh, aku masih tampak acuh, sampai akhir dia mengikuti ku yang berjalan masuk ke rumah.


dia memakir kan motor nya di halaman rumah bibi, dan mengikuti langkah ku hingga masuk ke dalam rumah.


"ngapain sih kamu ngikutin aku terus?" tanya ku dengan kesal


"aku cuma mau mastiin tuan putri baik-baik aja"


"tuan putri tuan putri.. nama ku alea bukan putri!" ujar ku dengan nada tinggi, bukan marah justru dia tersenyum manis kepada ku, aku memutar bola mata ku dengan malas


"udah lah pergi sana" ujar ku sambil berjalan masuk ke kamar, dia pun berhenti dan memilih duduk di sofa ruang tamu.


aku mengunci pintu kamar ku lagi, karna malas di ganggu.


"Lea? kamu ngapain di dalam? jangan lama-lama ya? aku mau ngobrol sama kamu" ujar zidan yang berdiri tepat di depan pintu kamar ku, bibi ku mendengar suara zidan kemudian datang menghampiri zidan


"ya ampun leaa.. kalo marah jangan lama-lama kasihan pacar kamu" ujar bibi


"hah? pacar? kok bibi bilang zidan pacar ku" ujar ku kebingungan


"leaa keluar sayang" ujar bibi lagi


..


dengan terpaksa aku membuka pintu kamar ku


"apa sih bi, dia tuh bukan pacar Lea" ujar ku berjalan menuju sofa dan kemudian menduduk kan bokong ku di sofa itu, zidan pun ikut duduk tepat di dekat ku.


aku menggeser posisi duduk ku agar tidak terlalu dekat.


"Lea.. buatin minum kek" ujar bibi kepada ku


perintah bibi seakan menciptakan ide gila dari otak ku, aku ku langsung ke dapur dan mengambil kopi bubuk original dan ku tambahkan garam 5 sendok.


Ku suguh kan kopi itu kepada zidan yang terus memandangi ku


"nih.. abisin pokok nya, kalo ga di abisin besok ga usah bertamu lagi" ujar ku sambil duduk kembali di dekat nya


"aku tau kopi ini asin, tapi tenang aja kalo kamu disini dan aku memandang wajah kamu aku yakin kopi ini pasti berubah menjadi rasa yang sangat luar biasa manis nya" ujar mu sambil menyeruput kopi itu tanpa merasa keasinan sama sekali.


aku pun meringis sendiri melihat nya, aku juga heran kenapa dia bisa tau kalo aku tambah kan garam banyak di kopi nya. ohh mungkin dia memang sering di kerjai orang seperti itu, ah sudah lah tidak penting, yang lagi-lagi membuat ku heran adalah dia menghabiskan kopi dalam satu kali tegukan.


aku merasa kasihan melihat nya, aku pun kembali pergi ke dapur dan membawa kan nya air putih


"nih" ujar ku sambil menyodorkan gelas bening berisi air putih itu


"thanks" ujar nya sambil tersenyum dan terus memandangi ku


"kamu ga keasinan apa?"


"apapun yang kamu buat, pasti akan aku nikamati alea" ujar nya dengan lembut yang sontak membuat ku memutar bola mata ku dengan malas.


"alah buaya.. emang kamu pikir aku bakal luluh apaaa, ga! ga usah ngarep"


"seperti ini yang aku mau" ujar nya sambil tersenyum


"idihh ga jelas"


othor mau kasih lihat visual sebagai pemeran dari novel othor yaa.. yang lain nya nanti bisa nyusul


Zidan Firmansyah



Alea maharani



Eza faldiano



to be continued


hai guys 😍 jangan lupa like komen dan vote nya yaa 😍🙏 terimakasih 🤩 dukungan kalian sangat berguna untuk membantu othor terus semangat up 💪😌